Pernikahan Di Atas Kertas

Pernikahan Di Atas Kertas
Perfect Marriage 3


__ADS_3

Keadaan di Mall siang ini cukuplah ramai, setelah tadi mendapat telepon dari Damas karena tak bisa menemaninya untuk pergi ke mall bersama, akhirnya Selly memutuskan untuk pergi sendiri saja menaiki taksi.


Dan kini, Selly tengah duduk di kursi tunggu di lobi bioskop XXI. Dirinya sedang menunggu seseorang yang tak lain ialah Mayang.


Tak lama kemudian, terlihat seorang gadis cantik yang memakai mini dress selutut berwarna mocca dengan bandu kain coklat di kepalanya, dengan memasang wajah cerianya, menghampiri Selly.


"Mayang, Pak dokter," ucap Selly begitu melihat kedatangan keduanya.


"Nah kan lagi," ucap Andre sambil tersenyum malu.


"Lagi? ... Lagi apa?" Selly mengernyit heran.


"Lagi-lagi kamu memanggilku Pak dokter," jawab Andre.


"Oh... iya maaf Pak dok ... eh, maksudnya Andre he he."


Mayang celingukan melihat ke sekitar untuk memastikan kehadiran seseorang. "Em... Dr.Damas gak kemari?" tanya Mayang.


Selly menggelengkan kepalanya. "Katanya ada urusan mendadak di luar, jadi gak bisa ikut nonton bareng," jawabnya.


Mayang mengulaskan senyuman penuh makna. Ada rasa senang di hatinya begitu tahu bahwa kekasih Selly, tak hadir.


"Apa aku bilang," bisik Mayang kepada Andre. Andre hanya tersenyum kaku mendengar bisikkan adiknya itu.


"Bagus, mungkin ini salah satu pertanda bahwa Abangku dan Kak Selly, memang berjodoh ha ha," batin Mayang kegirangan sendiri.


Mereka pun segera memesan tiket untuk menonton, pilihan film kali ini adalah film romantis action. Tentunya yang membayar camilan dan tiket nonton adalah Andre sendiri.


Kini mereka bertiga pun segera memasuki ruangan bioskop setelah mendengar pengumuman untuk segera masuk ke ruang tonton. Mayang sengaja memberikan kursi tengah untuk Andre agar Abangnya dengan Selly bisa duduk bersampingan.


Film pun mulai di putar. Sesekali Selly ketakutan saat melihat baku hantam di film. Dan sesekali Selly tersenyum ikut terhanyut dalam romantisme adegan film tersebut.


Andre pun sesekali melirik ke arah Selly. Entah kenapa hatinya seakan berdebar, bisa duduk bersampingan seperti ini dengan waktu yang cukup lama.


"Di hari dan tanggal ini aku tak akan melupakan momen di mana aku bisa duduk bersamamu selama 130 menit, dan bisa melihat senyuman dan rasa takutmu sedekat ini," batin Andre, tersenyum menatap Selly.


Selly yang baru sadar, merasa ada yang memperhatikannya ia pun menoleh ke arah Andre yang memang ternyata sedang melihat ke arahnya.


"Ada apa Andre?" tanya Selly, sontak membuat Andre terkejut, karena dirinya ketahuan sedang memperhatikan Selly.


"Hah? Ti-tidak, a-aku hanya melihat sepatu wanita itu," ucap Andre mencari alasan dengan mengalihkan tatapannya ke arah sepatu seorang wanita, yang tengah duduk di kursi ujung.

__ADS_1


Selly pun melirik ke arah sepatu yang ditunjukkan oleh Andre.


"Kau ingin membelikan sepatu wanita buat siapa?" tanya Selly pelan.


"Buat kamu, eh salah maksudnya bu-buat Mayang," jawab Andre begitu gugup. Selly pun memanggut-manggutkan kepalanya.


"Menurutmu bagaimana filmnya?" tanya Selly.


Andre seketika mengalihkan sejenak matanya ke arah layar film. "Em... bagus, seru, keren deh pokoknya," jawabnya, yang sebenarnya sedari tadi ia tak begitu memperhatikan filmnya.


"Benar, film ini benar-benar keren. Apalagi dengan tokoh utama prianya. keren, romantis dan gagah," ucap Selly sambil menatap lurus ke depan dan sesekali melahap popcorn yang ada di tangannya.


Andre hanya tersenyum mendengar setiap perkataan Selly.


"Gimana? Senangkan bisa menatap Kak Selly sedekat itu," bisik Mayang kepada Andre.


Andre seketika menoleh ke arah adiknya itu, sambil menajamkan kedua matanya. "Diam anak kecil!" seru Andre dengan nada suaranya yang begitu pelan.


Mayang hanya terkekeh melihat Abangnya yang tengah tersipu malu itu.


***


Setelah selesai menonton kini mereka bertiga mampir terlebih dahulu ke sebuah restoran. Andre memesan tiga pizza medium dan tiga minuman serta beberapa camilan untuk Selly dan Mayang.


"Parah sih keren banget, apalagi pas adegan kissing di hamparan kelopak mawar hitam, keren deh," ujar Mayang begitu heboh.


"Iya benar, seru tuh adegannya. Eh tapi emang ada ya mawar hitam? Setahuku mawar warnanya kan cuma merah sama pink," ujar Selly.


Andre yang mendengar pun ikut nimbrung. "Ada kok, selain merah, ada mawar warna hitam, putih sama kuning."


"Benarkah? Tapi aku ko belum pernah lihat ya," ujar Selly heran.


“Wah kode bagus nih,” batin Mayang.


"Eh Kak Selly, Kak Selly pernah di kasih bunga gak dari seseorang seperti pacar atau mungkin sahabat?" tanya Mayang kepo.


"Em... belum," jawabnya sambil berpikir terlebih dahulu.


"Belum?" tanya Andre merasa tak percaya.


"Wah, kesempatan bagus buat Abangku nih, nanti aku akan menyuruh Abang buat ngasih bunga ke Kak Selly ah," batin Mayang tersenyum penuh maksud.

__ADS_1


"Iya, seingatku belum pernah," ucap Selly sambil mengingat-ingat kembali apakah pernah ada orang yang pernah memberinya bunga atau belum.


"Hm... begitu."


"Eh, pernah, pernah iya aku baru ingat pernah ada yang memberiku bunga," ucap Selly begitu mengingat momen saat wisuda waktu itu.


"Siapa?" tanya Mayang begitu penasaran.


Namun sebelum Selly menjawab, tiba-tiba dering ponselnya menyita perhatian mereka semua.


Sebuah panggilan masuk datang dari ibunya. Selly pun izin sebentar untuk mengangkat telepon ibunya itu.


“Hm... siapa ya, apa mungkin pacarnya Kak Selly? Atau mungkin gebetannya? Wah... bahaya nih kalau Kak Selly pernah di kasih bunga sama cowok lain. Nanti, kalau aku nyuruh Abang buat ngasih bunga, gak bakalan spesial lagi dong,” batin Mayang berpikir keras.


***


Sementara itu, setelah mengobrol panjang lebar bersama Dinda kini Damas berpamitan, karena waktu pun sudah sore.


"Mas, apa minggu depan kau ada waktu?" tanya Dinda dengan memasang wajah penuh harap.


"Kenapa memangnya?"


"Aku ingin kau menemaniku untuk cek kehamilan ke rumah sakit," jawab Dinda. Damas sejenak terdiam.


"Baiklah, tapi jangan di rumah sakit tempatku bekerja, periksanya di rumah sakit lain saja," jawab Damas.


Dinda pun tersenyum penuh bahagia. Akhirnya setelah beberapa bulan, kini ia bisa mengontrol kehamilannya bersama ayah dari anaknya itu.


"Baiklah, aku akan mencari rumah sakit lain untuk pemeriksaannya," jawab Dinda.


Sebenarnya Dinda pun tidak tahu kalau kekasih dari Damas itu bekerja satu rumah sakit dengan Damas. Yang Dinda tahu, kekasih Damas hanyalah wanita rumahan yang tidak bekerja.


Sebelum pergi Damas terlebih dahulu memberikan ciumannya di kening Dinda.


"Apa di butique ini hanya kamu sendirian yang tinggal?" tanya Damas. Dinda pun menganggukkan kepalanya.


"Hm... apa kamu tak ada niat untuk menyewa kost atau apartemen?"


"Mau sih, tapi aku gak tahu ada tempat sewa yang dekat dengan butique ini," ucap Dinda.


"Kalau begitu, kapan-kapan kita cari penyewaan kost atau apartemen untukmu ya." Dinda pun tersenyum mengiyakan. Seketika hatinya seakan kembali berbunga mendapat perhatian dari Damas.

__ADS_1


Lalu Damas pun segera keluar dari butique itu. Keadaan butique hari itu memang sedang libur, jadi ketika Damas ke sana tak ada siapa-siapa kecuali Dinda seorang, yang memang berjaga sekaligus menempati mess butique itu.


__ADS_2