Pernikahan Di Atas Kertas

Pernikahan Di Atas Kertas
Awal Penderitaan


__ADS_3

*Pernikahan Di Atas Kertas*


Pukul 16:20 Nasyila terbangun dari tidurnya, dirasakannya ada sesuatu yang berat menindih perut ratanya. Alangkah terkejutnya Nasyila, ketika mengetahui tangan suaminya melingkar indah di perutnya.


"Dasar mesum, berani-beraninya dia melecehkan aku!" gumam Nasyila sambil melempar tangan suaminya dengan keras.


"Awh" rintih Kenzo.


"******, rasain" ucap Nasyila menyumpah.


"Dasar gadis dungu, kenapa kau membuat kesalahan!" seru Kenzo.


Nasyila tak menghiraukan suaminya, ia memilih untuk membersihkan dirinya. Secepat kilat Nasyila sudah berada di kamar mandi, ia berendam lama di bath up agar terasa rileks.


Selesai mandi Nasyila melaksanakan shalat Ashar, lalu ia melanjutkan aktivitas memasak.


Di dapur sudah ada bi Ina yang sibuk memasak untuk makan malam. Nasyila menghampiri bi Ina dan membantunya.


"Selamat sore bi" sapa Nasyila ramah.


"Sore juga non Syila" jawab bi Ina.


"Gak usah panggil non bi, saya bukan siapa-siapa di rumah ini" ucap Nasyila sadar diri sekaligus sadar posisi.


"Gak bisa begitu dong non, non kan istri sah nya den Kenzo, itu artinya non juga majikan saya" jelas bi Ina.


"Majikan yang tidak diharapkan kan bi?" ucap Nasyila.


"Non gak boleh bicara seperti itu, walau bagaimana pun non tetap orang besar di rumah ini" jelas bi Ina menyemangati.


"Haha itu kan kata bi Ina, bagiku rumah ini adalah awal penderitaan bi" ucap Nasyila seadanya.

__ADS_1


"Non yang sabar, semua takdir yang Tuhan gariskan pasti ada tujuan nya non" jelas bi Ina.


"Iya bi, makasih ya" ucap Nasyila.


Bi Ina adalah pembantu di rumah tuan besar Keynes Reinaldi, ia sudah mengabdi selama 20 tahun tepatnya saat itu tuan muda baru berusia 4 tahun. Bi Ina memiliki 2 orang anak di kampung, dan ia adalah seorang janda.


.


Mereka pun melanjutkan aksinya memasak, kali ini Nasyila akan memasak makanan kesukaan nya. Sementara bi Ina ia akan memasak beberapa menu spesial kesukaan majikan besarnya siapa lagi kalau bukan tuan besar Keynes Reinaldi, nyonya Marissa Alena, dan tuan muda Kenzo Reinaldi.


.


Di meja makan papa Keynes, mama Alena, dan Kenzo sudah duduk rapi menanti makan malam.


Nasyila lebih memilih membantu bi Ina mempersiapkan segala sesuatunya, daripada berleha-leha. Apalagi Nasyila memang gadis yang rajin, ia sudah terbiasa melakukan segala keperluan dengan sendirinya. Jauh berbeda dengan suami sombongnya itu, yang semuanya harus serba di persiapkan lebih awal oleh tangan orang lain.


Lelaki manja! itulah julukan yang pantas diberikan untuk Kenzo Reinaldi.


Tiba-tiba keheningan memudar karena Kenzo melontarkan pertanyaan kepada istrinya karena penasaran.


"Apa yang kau makan itu?" tanya Kenzo penasaran.


"Ah bukan apa-apa, ini hanya makanan untuk orang miskin seperti saya!" jelas Nasyila dengan malas.


"Haha, kasihan sekali...Aditya Syahab telah membuat putri kecilnya serba kekurangan!" seru tuan Keynes Reinaldi.


"Saya tidak butuh di kasihani tuan besar, saya memang sudah terbiasa kekurangan" ucap Nasyila menyunggingkan senyum kecut di bibirnya.


"Itu semua karena kesalahan ayahmu!" bentak Keynes pada Nasyila.


"Saya tahu, kesalahan ayah saya memang selalu di ingat bahkan tak akan pernah terlupakan oleh orang besar di rumah ini" jawab Nasyila kesal.

__ADS_1


"Sudah, sudah... kenapa malah bertengkar sih?" tanya nyonya Alena berusaha menghalangi sikap buruk suaminya.


"Kau benar-benar merusak makan malam ku!" ucap tuan Keynes menunjuk ke arah Nasyila , dan berlalu pergi meninggalkan meja makan.


Nasyila diam tak bersuara, ia pun tak mampu menatap Kenzo yang sedari tadi memperhatikan perdebatan antara papa Keynes dan Nasyila.


Kenzo meletakkan sendok nya dengan keras, lalu pergi meninggalkan meja makan.


Kini hanya ada nyonya Alena dan Nasyila yang tersisa di meja makan.


"Maafkan saya nyonya" ucap Nasyila gugup.


"Tidak apa-apa, kamu tidak melakukan kesalahan" jelas nyonya Alena.


"Tetap saja, aku biang masalah di rumah ini" ucap Nasyila rendah hati.


"Sudahlah, semua ini hanyalah kesalahpahaman" jelas nyonya Alena sembari memeluk menantunya.


"Terimakasih atas perhatian nyonya" ucap Nasyila yang mulai terisak.


"Mulai sekarang panggil saya, mama! walau bagaimana pun kamu adalah menantu saya" ucap Alena.


"Saya merasa tidak pantas nyonya" ucap Nasyila.


"Jika kamu menganggap saya adalah mertua mu, maka hormati saya dengan sebutan mama" jelas Alena.


"Iya baiklah, nyonya... maksud saya mama Alena" jawab Nasyila.


"Ya sudah, sebaiknya kamu istirahat" ucap mama Alena.


"Baik ma, mama juga istirahat... jangan kecape'an" jawab Nasyila dengan senyum mengembang.

__ADS_1


Nasyila sangat beruntung, di tengah teriknya matahari masih ada hujan yang turun membasahi buminya meskipun air itu berasal dari cuaca yang panas.


__ADS_2