
Hari berlalu terasa seakan cepat, hari ini adalah tepat hari di mana pertunangan Merry dan Dion akan segera dilaksanakan.
Balutan gaun putih panjang yang menutupi tubuh mungil Merry, nampak membuatnya terlihat begitu cantik. Polesan make up sederhana namun membuat dirinya tampil begitu pangling.
Pelaksanaan acara dilakukan di depan rumah tantenya Merry, yang memang mempunyai halaman rumah yang indah dan luas. Taman hijau itu kini sudah di hias dengan panggung altar untuk acara resmi pertukaran cincin nanti. Kursi-kursi putih yang terbuat dari kayu dan dihias sedemikian rupa ikut memenuhi pelataran ini.
"Merry, kau terlihat begitu cantik," ucap Momy Merry yang dua hari lalu sudah iba di Indonesia bersama dengan suaminya, untuk menghadiri pesta pertunangan anak tunggalnya itu.
"Momy... a-aku takut," rengek Merry berbalik menghadap Maminya.
"Tenang sayang, semuanya akan berjalan dengan lancar." Maminya pun mengelus pelan puncak kepala Merry dengan begitu lembut.
Keadaan di rumah hari ini sangatlah ramai, kerabat dan sebagian teman-teman tante maupun paman Merry ikut hadir untuk menyaksikan acara pertunangan hari ini.
Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 14.00 siang, yang artinya satu jam lagi, keluarga Dion akan segera sampai dan acara akan segera berlangsung.
Sementara itu, di kediaman rumah Bara. Fira, Bara, Alex dan Moly sedang bersiap untuk pergi ke acara pertunangan Merry dan Dion.
Fira masih disibukkan dengan memilih pakaian yang akan dikenakannya. Ia begitu bingung karena kita baju-bajunya sudah tak muat lagi di badannya yang sudah memelar itu.
"Fira,, cepatlah. Pakai baju yang sekiranya nyaman saja," tutur Bara yang sudah mulai kesal karena sudah menunggu istrinya itu bersiap sejak setengah jam yang lalu.
"Iya, iya, cerewet sekali!" gerutu Fira. Ia pun segera menyambar salah satu gaun ibu hamil yang berwarna peach.
^
"Assalamualaikum," ucap Lisa ketika memasuki rumah Bara, Alex dan Moly yang tengah duduk di ruang depan, menjawab salam dari Lisa.
"Wah... udah siap juga Dek Lisa," ujar Moly, saat Lisa menyalaminya takzim bergantian keada Alex.
"Iya, sepulang dari kampus buru-buru dandan, takut ketinggalan. Oh iya, Kak Bara sama Kak Fira mana?" tanya Lisa.
"Oh, mereka masih bersiap di kamar," jawab Alex.
Kurang lebih 15 menit Lisa menunggu bersama Alex dan Moly. Akhirnya Fira dan Bara pun keluar dari kamar mereka dan segera mengajak semua orang untuk pergi ke tempat pertunangan Merry.
Kini mereka pun sampai, Bara terlebih dahulu memarkirkan mobilnya di tempat kosong yang memang di khususkan untuk parkir mobil. Suasananya terlihat cukup ramai, sudah ada beberapa tamu yang hadir termasuk Selly.
"Hai Selly," pekik Fira segera menghampiri Selly yang tengah berdiri di dekat meja minuman, di ikuti oleh Bara dan Lisa. Sementara Alex dan Moly mereka langsung mengobrol dengan beberapa tamu yang memang dikenalnya.
"Udah dari tadi ya?" tanya Fira. Selly menganggukkan kepalanya.
"Kak Selly sendirian aja apa sama gandengannya nih?" tanya Lisa.
"Gandengan apa kau ini. Aku kemari dengan Damas," ujar Selly, sambil menyeruput segelas air berwarna merah.
"Nah itu dia, biar aku kenalkan kepada kalian," ujar Selly saat melihat Damas yang baru saja keluar dari rumah Merry, karena tadi ia izin ke toilet. Fira, Lisa dan
"Oh ya Mas, perkenalkan ini teman-temanku," ucap Selly kepada Damas.
Damas pun menyalami Bara dan Lisa namun tidak dengan Fira, yang memang Fira hanya mengatupkan kedua tangannya agar tak bersentuhan dengan yang bukan mahramnya.
__ADS_1
Setelah perkenalan itu Bara mengajak Damas untuk duduk mengobrol di salah satu bangku yang tersedia di sana. Sementara Selly, Fira dan Lisa mereka masuk ke dalam rumah untuk menemui Merry, namun sebelumnya mereka menyapa tantenya terlebih dahulu sekaligus izin masuk ke kamarnya Merry.
Pintu kamar Merry terlihat terbuka, mereka bertiga pun segera masuk untuk menemui Merry. Dan betapa senangnya Merry begitu mengetahui sahabat-sahabatnya itu datang menghadiri acaranya.
"Selamat Merry sayang ...." Mereka pun saling berpelukan dengan Merry secara bergantian sambil mengucapkan selamat.
"Gimana udah deg-degan belum?" tanya Lisa sambil terkekeh mengejek, karena ia dapat melihat dari raut wajah Merry yang begitu tegang.
"Jangan ditanya lagi, ini mah bukan deg-degan lagi tapi jantungku udah kejang-kejang. Gila... kenapa bisa sehoror ini ya," ujar Merry yang semakin terlihat panik ketika suara MC sudah terdengar. Itu menandakan bahwa Dion beserta sederet keluarganya sudah datang.
"Tenang saja Mer... jangan gugup seerti itu," ucap Fira, Selly pun membenarkan, sebagai pengalamannya satu bulan yang lalu.
"Kita pasti bantuin Kak Merry kok," ucap Lisa tiba-tiba.
"Bantu apa?" tanya Merry penasaran.
"Apa lagi kalau bukan do'a," jawabnya terkekeh.
"Aih... bocah satu ini!" Merry mengacak rambut Lisa yang tergerai bebas itu dengan gemas. Namun Lisa sesegera mungkin menghindar, karena kalau tak menghindar bisa-bisa riasan rambutnya bisa acak-acakan.
Kini Tante Merry datang menghampiri mereka semua, dan meminta Merry untuk segera pergi keluar menemui calon tunangannya. Merry pun keluar dengan di temani oleh ketiga sahabatnya itu. meskipun dengan perasaan gugup, ia memberanikan diri untuk melangkahkan kakinya keluar dari rumah.
Semua orang memandang ke arahnya, membuat langkah kaki Merry seakan gemetar karena grogi. Selly mengantarkan Merry untuk duduk di kursi yang di khususkan untuknya. Sementara Fira dan Lisa kini sudah duduk di dekat Bara dan Damas, disusul oleh Selly dari belakang.
Acara demi acara pun dilaksanakan dengan begitu lancar. Di tengah sesi pertukaran cincin. Tiba-tiba seseorang dari samping mendudukkan tubuhnya di kursi yang tersedia di dekat Selly, orang itu tak lain ialah Andre. Selly pun menoleh. Dan menyapa Andre dengan begitu hangat. Andre pun menyapa balik Selly dan yang lainnya termasuk Bara dan Damas.
"Hai Pak dokter," sapa Lisa yang baru saja kembali setelah mengambilkan dua piring kecil buah segar untuk Fira dan dirinya.
Setelah selesai sesi pertukaran cincin, kini waktunya untuk menikmati jamuan dan hidangan yang sudah tersedia di meja yang berjajar di pelataran taman ini.
Sebagian orang ada yang memilih untuk berfoto ria dengan kedua calon mempelai itu. Ada juga yang asyik mengobrol dan ada juga yang sibuk berburu makanan. Termasuk Lisa, yang sekarang sedang sibuk berburu makanan.
"Pak dokter, apa kemari sendirian?" tanya Bara, di tengah menikmati makanan bersama.
"Tidak, saya kemari bersama .... Lah... ngapain dia kesini," ucapnya seakan terkejut ketika melihat seorang wanita berpakaian rapi dan anggun, bahkan balutan gaun berwarna dusty yang melekat di tubuhnya membuat penampilan wanita itu begitu cantik, wanita itu pun menghampiri Andre yang tengah duduk menikmati makanan bersama Bara, Damas, Selly, Fira dan Lisa.
"Abang!" rengek wanita itu, ia langsung berdiri di balik punggung Andre.
"Kenapa kemari? Bukannya sudah aku bilang tunggu di mobil," ucap Andre sedikit berbisik sambil memutar sedikit kepalanya ke belakang.
"Waktunya sebentar lagi, cepetan. Aku tidak mau ketinggalan acaranya!"
"Ya udah duduk aja dulu sini," perintah Andre, namun wanita itu marah bersingut kesal.
"Ayang mau gak buah ini?" tawar Andre, menyodorkan sekotak buah segar kepada wanita itu.
"Gak mau, ayo cepetan jangan sampai aku ketinggalan acaranya!" rengek wanita itu.
Sementara Fira dan yang lainnya hanya menatap heran kepada Andre dan wanita yang berdiri di dekatnya. Wanita itu terlihat seumuran dengan Fira. Bahkan wajahnya pun ada sedikit kesamaan dengan Andre.
"Kak Fira, apa itu pacarnya Pak dokter?" bisik Lisa bertanya. Fira hanya mengangkat kedua bahunya, memberi tanda tak tahu.
__ADS_1
"Bisa jadi, kau dengar saja tadi pak dokter menyebutnya dengan panggilan Ayang," bisik Fira kepada Lisa. Lisa mengangguk membenarkan.
Karena rengekan dari wanita itu, akhirnya Andre pun berpamitan kepada Fira dan teman-teman yang lainnya. Namun terlebih dahulu, ia berniat untuk menemui Dion dan Merry untuk memberikan ucapan selamat.
"Yang, ayo ikut," ujar Andre mengajak wanita itu untuk pergi dengannya menemui Dion. Namun wanita itu menggelengkan kepalanya, tidak mau.
"Ya sudah tunggulah di sini," ujar Andre kemudian segera pergi.
"Hai Nona, duduklah," ujar Lisa begitu ramah. Wanita itu pun mengangguk tersenyum, sambil menyelipkan rambutnya ke belakang telinga dan mendudukkan tubuhnya di kursi yang tadi di duduki oleh Andre.
"Perkenalkan aku Lisa." Lisa menyodorkan tangannya.
"Mayang," ucap wanita yang bernama Mayang itu sambil menyambut baik uluran tangan Lisa.
Lisa pun lanjut memperkenalkan Fira, Bara dan Selly. Lisa pun mengangguk tersenyum mendapat keramahan dari mereka.
Sejenak Selly memperhatikan Mayang dengan curi-curi pandang. "Kenapa wanita ini terlihat mirip dengan dokter Andre ya? Apa dia pacarnya? Atau mungkin istrinya? Eh, tapi dokter Andre kan pernah bilang kalau di belum menikah. Eh, tapi bisa jadi juga sih, aku dan dokter dokter itu kan sudah lama tidak ketemu," batin Selly.
Andre pun kembali, dan mengajak Mayang untuk segera pergi.
"Pak dokter, ini pacarnya ya? Mirip banget," tutur Lisa begitu saja. Sontak kedua bola mata Mayang dan Andre melebar secara bersamaan.
"Abang!" rengek Mayang pelan.
Andre pun tiba-tiba terkekeh, karena entah yang ke berapa kalinya ia mendapat pertanyaan yang sama. Semua orang yang belum mengetahuinya pasti selalu menyangka kalau Mayang itu pacarnya.
"Bukan, dia bukan pacar, tapi ..."
Belum selesai Andre berbicara Mayang terlebih dahulu memotongnya. "Ayo, cepat! Tanggung jawab kamu kalau sampai aku telat!" ujar Mayang, menarik lengan Andre. Akhirnya Andre pun kembali berpamitan kepada mereka semua. Dan segera berlalu pergi bersama Mayang.
"Kak Fira ada yang aneh gak sih dengan perkataan wanita itu?" tanya Lisa heran. Fira hanya menggelengkan kepalanya. "Apa?"
"Barusan Nona Mayang bilang, kalau dia telat dokter Andre harus bertanggung jawab katanya," ujar Lisa dengan pikirannya yang sudah berkeliaran ke mana-mana.
"Hus... gak boleh mikir macam-macam eh!" protes Bara kepada Lisa.
Namun Lisa mengacuhkan peringatan Kakaknya itu. "Eh, Kak Selly aneh juga gak sih?" tanya Lisa.
Selly sejenak terdiam kemudian menganggukkan kepalanya. "Sudahlah, lagi pula tidak ada hubungannya dengan kita kan," ujarnya seakan cuek. Damas yang berada di sampingnya menatap seakan penuh tanda tanya.
"Bukannya lelaki itu yang mengantarmu waktu malam itu?" ujar Damas dengan nada bicaranya yang dingin. Selly pun menganggukkan kepalanya membenarkan ucapan Damas.
"Kenapa memasang ekspresi seperti itu?" bisik Damas di dekat daun telinga Selly. Membuat Selly mengernyit heran.
Selly menghembuskan nafasnya dengan kasar. Ia seolah mengerti maksud pertanyaan Damas. Karena lelaki ini begitu mudah curiga dan cemburu padanya. Padahal Selly sendiri merasa biasa-biasa saja akan hal itu. Tapi entahlah, sifat Damas kepada Selly memang bisa terbilang terlalu posesif dan curigaan yang kadang membuat Selly merasa terkekang dan tak nyaman.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen dan votenya ya.