Pernikahan Di Atas Kertas

Pernikahan Di Atas Kertas
Perfect Marriage - Bab 2 Pilihan Sulit


__ADS_3

Siang itu, seorang gadis cantik terlihat tengah menggoda kakaknya yang sedang selonjoran di sofa. Gadis itu tak lain ialah Mayang, adiknya dokter Andre, Mayang terlihat sudah rapi dan cantik untuk bersiap pergi keluar.


"Abang, please anterin dong, masa tega sih biarin adik sendiri jalan naik taksi, kalau aku diculik gimana?" rengek Mayang kepada Andre.


"Gak bakalan ada yang mau nyulik cewek cerewet kayak kamu. Ayang kan bisa pergi pake taksi, kenapa nyuruh-nyuruh Abang sih!" gerutu Andre yang tak ingin di ganggu dan ingin menikmati hari liburnya.


"Abang... ini tuh kesempatan bagus buat Abang biar bisa jalan bareng sama Kak Selly," ujar Mayang berusaha membangkitkan semangat Kakaknya.


Andre masih tak menggubris perkataan adiknya itu.


"Abang coba Abang bayangkan saja, kalau misalkan dokter Damas gak jadi ikut dengan Kak Selly hari ini, itu artinya Abang ada kesempatan buat deketin Kak Selly, ayolah Abang!"


"Kau ini, memangnya Abang ini PHO apa!"


"PHO? ... Apa itu PHO?" tanya Mayang tak mengerti.


"PHO itu kepanjangan dari perusak hubungan orang," jawab Andre menjelaskan.


"Aih... Abang ini bagaimana sih! Ya beda cerita atuh! Kan Abang niatnya cuma nemenin Adik Abang yang cantik ini. Kalau Kak Selly benar-benar datang sendiri nanti, ya itu bonus buat Abang bisa jalan bareng Kak Selly, iya gak?" ucap Mayang yang masih berusaha membujuk Abang kesayangannya itu agar ikut pergi dengannya.


Karena tak ada habis-habisnya Mayang terus mengganggunya, akhirnya Andre pun terpaksa mengiyakan ajakan adiknya itu.


Setelah selesai bersiap dengan pakaian serapi mungkin, Mayang dan Andre berpamitan kepada Neneknya.


"Nenek kita berangkat dulu ya, Nenek baik-baik di rumah, nanti sore kita pulang lagi kok Nek," ucap Andre sambil menyalami Neneknya.


"Iya, kalian hati-hati ya," ucap Nek Yuni.


"Nenek, do'a-kan juga, semoga kencan Abang hari ini berjalan dengan lancar," bisik Mayang sambil menyalami tangan Neneknya.


Nek Yuni hanya tersenyum mendengar bisikan dari cucunya itu.


"Iya, Nenek doakan biar rencana kamu berjalan lancar," ucap Nenek. Mereka berdua pun segera keluar dari apartemen mereka.


***

__ADS_1


Sementara itu, sambil mengendarai mobil Damas terlihat sedang sibuk menelepon seseorang.


"Maafkan aku Selly, tapi barusan aku ada urusan mendadak di luar, aku tak bisa menemanimu hari ini. Kau tidak apa-apa kan?" tanya Damas sambil terus fokus menyetir.


"Baiklah, tidak apa-apa aku bisa jalan sendiri. Lagi pula nanti aku akan bertemu dengan temanku juga kok," suara Selly dibalik ponsel.


"Siapa? Perempuan atau laki-laki?"


"Perempuan, namanya Mayang," jawab Selly di sebrang sana.


"Baiklah kau hati-hati, nanti jika sempat, aku akan menjemputmu," ucap Damas sebelum ia mengakhiri obrolannya dengan Selly kekasihnya.


^


Jalanan siang ini cukuplah ramai, bahkan di beberapa titik Damas sejak tadi terjebak macet. Dan kini Damas telah sampai di tempat tujuannya. Yaitu untuk menemui seseorang yang cukup penting bagi hidupnya.


"Mas Damas," ucap seorang wanita yang tampak begitu bahagia saat melihat kedatangan Damas.


Wanita itu pun mengajak Damas untuk duduk di sebuah bangku yang ada di taman belakang butique itu.


"Em... baik," jawab Dinda, wanita yang begitu penting bagi Damas.


"Semalam Gerry bilang, kau ke rumah sakit? Apa semalam terjadi sesuatu?" tanya Damas curiga.


Dinda pun menarik nafasnya begitu dalam dan menghembuskannya perlahan. Ada rasa sesak yang tiba-tiba menyeruak di dadanya, ketika mengingat perkataan Damas kemarin sore saat di rumah sakit.


"Iya, terjadi sesuatu kepadaku dan bayi ini," jawabnya sambil menatap kosong lurus ke depan.


"Apa?" Damas seakan terkejut tak menyangka.


"Semalam, aku ingin bunuh diri," ucap Dinda sembarangan dengan suaranya yang lemah.


"Apa! Apa kau gila hah!"


Dinda seketika menoleh ke arah Damas, ditatapnya kedua mata lelaki itu dengan tatapan begitu tajam. "Iya! Aku memang gila! Gila karena kau yang tak mau bertanggung jawab dengan keadaanku saat ini!" seru Dinda, matanya mulai berkaca-kaca penuh emosi, tangannya mengepal kuat dan sedikit bergetar. Ingin rasanya ia memukul lelaki tak bertanggung jawab yang ada di hadapannya kini, namun apalah daya, rasa cintanya yang begitu besar tak mampu membiarkan lelaki itu tersakiti olehnya walaupun sedikit saja.

__ADS_1


"Dinda aku kan sudah bilang, aku akan mengurus bayinya jika nanti bayi ini sudah lahir!" seru Damas, kembali membahas soal bayi yang ada di kandungan Dinda.


"Tidak! Aku tidak mau seperti itu, aku ingin kau bertanggung jawab atas apa yang telah kau perbuat kepadaku dan menikahiku. Bukan mengambil anakku!"


"Dinda! Kau tahu sendiri kan, aku sudah dijodohkan. Aku tak bisa menolak semua rencana kedua orang tuaku! Dan sebentar lagi perekahanku akan di laksanakan. Aku tak bisa membatalkan semua itu hanya demi dirimu dan anak ini," jawab Damas.


Kini cairan bening kembali lolos dari kedua sudut mata Dinda. Hatinya kembali merasakan sesak yang begitu menyakitkan. Dirinya tak habis pikir, lelaki yang selama ini begitu ia cintai, tega membiarkannya menghadapi masalah ini sendirian.


"Apa sebegitu tak berartinya aku dan anak ini di hidupmu Mas?" tanya Dinda dengan suara paraunya.


Andre menggelengkan kepalanya, menatap kedua mata sembab wanita yang ada di hadapannya kini.


"Dinda, kau berarti dalam hidupku, anak ini juga berarti bagi hidupku. Tapi aku tak bisa memprioritaskanmu untuk menjadi pilihan pertama. Aku janji Dinda, aku janji akan mengurus kau dan bayi ini nanti," ucap Damas sambil menghapus buliran air mata yang membasahi pipi Dinda dengan kedua ibu jarinya secara perlahan.


"Lalu? Bagaimana jika nanti kekasihmu tahu masalah ini? Kau tak mungkin jujur akan anak ini kan?"


Damas terdiam, mulutnya seakan terkunci karena ia pun tak mempunyai jawaban atas pertanyaan yang baru saja Dinda lontarkan padanya.


"Bodohnya aku, masih saja terus berharap kepada lelaki tak bertanggung jawab sepertimu. Bahkan, gara-gara kau aku harus pergi dari rumahku, dan bekerja jadi pelayan di butique ini!" seru Dinda sambil membuang wajah ke sembarang arah.


"Dinda, aku akan mengurusmu dan mengurus bayi ini, tapi aku tak bisa memberikan status pernikahan padamu!"


"Apa menikah siri pun tak bisa kau lakukan Mas?" Dinda kembali menatap dalam kedua manik mata Damas yang berwarna hitam kecokelatan itu.


Damas terdiam, lalu ia pun perlahan merangkul Dinda, dan menarik tubuh wanita itu ke dalam pelukannya. Membuat Dinda semakin tak bisa menahan tangisannya. Hingga air matanya pun ikut membasahi kemeja bagian dada milik Damas.


"Menangislah, maafkan aku Dinda," bisik Damas, sambil mengeratkan pelukannya kepada Dinda. Perasaannya kini terasa begitu kacau, di lain sisi ia sekarang sudah menyayangi Selly, tapi di lain sisi ia juga tak bisa melepaskan rasa cintanya kepada Dinda, terlebih setelah ia tahu bahwa Dinda sedang mengandung anaknya.


Rasa kesal, bingung, marah dan menyesal seakan bercampur aduk menjadi satu. Damas seakan dihadapkan dengan dua pilihan yang begitu sulit, namun tetap saja dirinya tak bisa memilih salah satu dari dua pilihannya itu.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


Mau lanjut gak nih?


__ADS_2