Pernikahan Di Atas Kertas

Pernikahan Di Atas Kertas
Perfect Marriage - bab 25


__ADS_3

Sepulangnya dari taman tadi siang. Selly kini mengistirahatkan tubuhnya di atas tempat tidur. Ia pulang ke kost-an-nya.


Suasana hatinya masih terasa begitu kalut, anatara marah, sedih dan kecewa. Jika di bilang ia patah hati, sepertinya tidak  juga, karena Selly juga sadar bahwa dirinya belum begitu mencintai Damas. Terlebih Selly adalah orang yang cukup sulit untuk jatuh hati.


Pikirannya kembali teringat akan kata-kata Mayang saat dia menjelaskan semua hal sampai dia ikut terbawa masalah tadi. Bahkan Selly cukup tercengang dengan alasan Mayang yang sampai begitu peduli kepadanya.


"Kak Selly maafkan aku, aku tak bermaksud membuat keadaannya menjadi sekacau ini. Aku hanya tak ingin melihat Kak Selly menikah dengan lelaki yang salah," ucap Mayang begitu khawatir.


"Kenapa kamu begitu peduli kepadaku Mayang?"


"A-aku menyayangi Kak Selly seperti Kakakku sendiri, aku sudah menganggap Kak Selly sebagai bagian dari keluargaku, bahkan aku berharap kalau Kak Selly bisa menjadi Kakak iparku," ujar Mayang kebablasan.


Selly hanya mengernyit seolah bingung dengan apa yang dikatakan Mayang.


"Eh, ma-maksudnya a-aku ... aku sudah menganggap  Kak Selly seperti aku menganggap Bang Andre, bagiku kalian adalah Kakak terhebat untukku," ujar Mayang gelagapan, meskipun alasan yang sekarang ia ucapkan pun masih tak bisa Selly pahami.


Setelah duduk beberapa lama dengan perasan dan pikiran yang kacau Selly pun memutuskan untuk pulang. Awalnya Mayang ingin mengantarkannya, namun Selly menolaknya, karena ia ingin menyendiri dulu.


^


Dering telepon terdengar bergetar dari dalam tas milik Selly, ikut membuyarkan lamunannya akan perihal tadi.


Selly pun segera meraih ponsel yang terselip di tas sling bag-nya itu.


Ternyata satu panggilan masuk dari ibunya. Selly pun segera menerima panggilan itu dan mendekatkan benda pipih berwarna gold itu di dekat daun telinga kanannya.


"Hallo Assalamualaikum bu," ucap Selly.


"Wa’alaikumussalam, Selly ini ibu sama bapak baru saja sampai di apartemen bibimu. Ibu barusan sudah mengirimkan alamat apartemennya lewat line kepadamu," suara bu Ningsih dari balik ponsel.


"Hm, iya bu ... tapi bu, Selly sekarang ada tugas mendadak, jadi sepertinya Selly gak bisa bertemu ibu sekarang." Selly mau tak mau harus berbohong, ia sebenarnya ingin sekali untuk bertemu dan melepas rindu dengan kedua orang tuanya. Namun, pikirannya yang terasa begitu kacau seakan menyuruhnya untuk beristirahat terlebih dahulu.


"Oh, begitu... ya sudah tidak apa-apa. Lagi pula besok kita kan ada pertemuan keluarga bersama orang tuanya Nak Damas. Besok kamu jangan lupa ya, acaranya sore."

__ADS_1


"Hm, baiklah bu, gimana besok aja."


"Loh, kok malah gimana besok. Pokoknya kamu harus datang, masa sama calon mertua kamu gak mau datang."


"Iya bu, Insya Allah besok Selly datang, sekalian ada hal yang mau Selly bahas," ujar Selly sambil menatap kosong lurus ke depan.


"Ya sudah kalau begitu ibu tutup teleponnya ya, ibu sama bapak mau istirahat dulu."


"Iya bu." Mereka berdua pun saling mengakhiri obrolannya dan kembali mematikan ponselnya.


Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 13.20 siang. Selly baru tersadar kalau dirinya belum melaksanakan solat zuhur. Selly pun segera masuk ke kamar mandi untuk mengambil wudu. Lalu setelah itu ia segera menunaikan kewajibannya.


***


Damas terlihat begitu frustrasi. Ia baru saja sampai di rumah sakit, tepat di ruang kerjanya. Meskipun pikirannya masih kalut akan perkara tadi. Tapi mau bagaimana pun, ia tetap harus menjalankan tugasnya sebagai seorang dokter yang profesional.


Setelah menangani beberapa pasien. Damas berniat untuk mengajak Selly makan bersama sore itu. Namun, sesampainya Damas di ruang kerja Selly ia tak bisa menemukan keberadaan calon istrinya itu. Di sana hanya ada dua orang wanita yang memang sedang bertugas sesuai jadwalnya.


"Maaf Bu, apa Selly hari ini tidak masuk?" tanya Damas kepada dua wanita itu.


Sambil menikmati segelas teh hangat, Damas terlihat melamun. Ia bingung tak bisa menghubungi Selly, karena ponselnya yang dirampas oleh Gerry. Kalau pun minjam ke orang lain, ia bahkan tak hafal nomor ponsel calon istrinya itu. Akhirnya, Damas pun hanya bisa merenung, memikirkan hubungan dia dengan Selly kedepannya.


"Apa dia akan benar-benar membatalkan pernikahan ini?" gumamnya sambil sesekali menyesap air teh itu.


"Lalu bagaimana dengan Dinda? ... Apa harus aku meninggalkan Dinda demi Selly? Tapi aku sadar, Selly ... jelas seperti tak menginginkanku lagi." Damas menatap kosong lurus ke depan. Sampai seseorang menepuk bahunya dari belakang. Orang itu tak lain ialah rekan kerjanya, dokter yang sama-sama bertugas di rumah sakit itu.


***


Waktu berlalu terasa semakin cepat. Lagi-lagi Selly masih meminta izin untuk tidak masuk. Jika kemarin karena alasan sakit, maka hari ini ia tak masuk karena memang ia sudah mengambil cuti dari dua minggu sebelumnya.


Seharian ini Selly tak pergi ke mana-mana. Tak berinteraksi dengan siapa pun, kecuali dengan ibunya yang mengingatkannya untuk hadir di acara pertemuan dua keluarga nanti di salah satu restoran privat bintang lima.


Setelah selesai merias diri, memakai baju serapi dan sesopan mungkin. Kini Selly sudah bersiap untuk pergi ke restoran, untuk acara pertemuan keluarga.

__ADS_1


Namun, sebelum itu, Selly pergi terlebih dahulu ke apartemen bibinya, untuk menemui ibu dan bapaknya.


Sesampainya di sana, seperti biasa sebagai anak dan orang tua mereka saling melepas rindu. Lalu setelah semuanya siap, mereka pun pergi bersama dalam satu mobil. Di dalam mobil. Selly terlihat begitu gelisah.


"Selly, kamu kenapa?" tanya Ningsih (Ibunya Selly).


"Kok wajah kamu kelihatan makin pucat, kamu sakit Nak?"


Selly tersenyum lemah, sambil menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak Bu, aku baik-baik saja."


Kini, Selly melirik ke arah punggung Bapaknya, yang duduk di kursi depan, samping sopir.


"Kenapa? Ada yang mau kamu tanyakan sama Bapak?" tanya Ningsih, begitu melihat anaknya yang sedari tadi terus melirik ke arah Bapaknya.


"Bu ... Ibu sama Bapak, dulu sebelum nikah, pas menjelang pernikahan pernah ragu enggak, atau ada keinginan buat batal nikah gitu?" tanya Selly, ragu dengan perasaan waswas takut Ibu atau Bapaknya marah.


"Oh, ya pernah dong. Itu salah satu bentuk godaan ketika kita mau nikah. Memangnya kenapa? Kamu ragu buat nikah sama nak Damas?" tanya Ningsih, spontan. Seolah ia sudah ada feeling.


Selly masih terdiam, tak bergeming sedikit pun. Dengan tatapan yang memelas sambil memandang wajah Ibunya, seolah menyiratkan suatu hal yang ingin ia ucapkan, bahwa Damas bukanlah lelaki baik-baik.


Tapi apalah daya, Selly begitu takut kalau ia bilang yang sejujurnya. Ia takut akan amukan Bapaknya nanti. Tapi, jika tak diberitahu sekarang, lalu bagaimana nasib pernikahan mereka nanti.


Selly memilih bungkam tak menjawab pertanyaan Ibunya itu. Ia hanya bisa menggelengkan kepalanya begitu pelan.


Sesampainya mereka di restoran Akira Back. Mereka segera menuju ke ruang makan privat, yang sudah di booking oleh orang tua Damas sebelumnya.


Sesampainya di ruangan itu, mereka segera masuk. Dan di sana sudah ada Ayah Dirga, Mama Elin dan Damas. Semua orang sudah hadir di sana, menyambut kedatangan keluarga Selly dengan begitu sopan dan ramah.


Tapi ... sepasang mata elang, tak lepas memperhatikan Selly. Sang pemilik mata itu, tak lain ialah Damas. Damas mencoba bersikap untuk terlihat baik-baik saja. Namun, tidak dengan Selly yang terlihat menonjolkan sikap tidak senang.


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2