Pernikahan Di Atas Kertas

Pernikahan Di Atas Kertas
Perfect Marriage - Bab 35


__ADS_3

"Ternyata kau lebih cantik jika terbuka seperti ini," ujar lelaki itu. Semakin mendekatkan wajahnya dengan wajah Selly.


Tiba-tiba ....


Bugh ....


Andre datang begitu saja dan memukul pundak lelaki jahat itu dengan pukulan lima jari yang mematikan.


"Sialan! Berani-beraninya kau!" Lelaki i berbalik dan meluncurkan pukulannya mengenai wajah Andre.


Selly yang sudah lemas terkulai karena shock, kepalanya tiba-tiba pusing, pandangannya memudar dan semakin lama semakin menggelap, hingga akhirnya ia tak sadarkan diri.


"Berani-beraninya kau menyentuh wanita itu!" Andre menyerang balik dengan pukulan keras di wajah lelaki jahat itu, bahkan sampai lelaki itu mengeluarkan darah dari hidungnya, masker yang ia kenakan pun hampir terlepas dari tempanya. Namun, dengan cepat lelaki itu kembali membenarkannya.


"Siapa kau berani-beraninya ikut campur dengan urusanku!"


"Kau yang siapa? Apa hubunganmu dengan Selly hah? Kenapa kau berbuat jahat padanya!" Andre kembali melakukan pukulan di wajah lelaki itu.


Bugh, bugh, bugh. Kepalan tangan itu mendarat beberapa kali di wajah lelaki misterius itu. Dan tanpa pikir panjang Andre pun menarik paksa masker yang dikenakan oleh lelaki itu. Hingga Andre dapat melihat jelas rupa dari wajah lelaki tersebut.


"Brengsek!" Lelaki itu menatap tajam ke arah Andre. Terlihat sekali guratan-guratan urat di kening dan tangannya. Lelaki itu begitu emosi ketika Andre berhasil membuka maskernya. Dan ia pun melarikan diri begitu saja meninggalkan vila itu.


Dengan emosi yang masih menggumpal di dada, dan kedua tangan yang dikepal erat masih menggantung di udara. Andre hendak menyusul lelaki itu untuk menangkapnya, tapi ia lebih khawatir dengan keadaan Selly.


"Selly." Andre pun berbalik, dan segera berlari menuju dapur. Dilihatnya Selly yang sudah terkapar tak sadarkan diri di bawah meja.


"Selly." Andre langsung menggendong Selly membawanya ke ruang tengah dan membaringkannya di atas sofa.


"Selly bangun Selly." Andre mencoba menepuk-nepuk kedua pipi Selly dengan pelan. Hatinya semakin tak karuan, ia begitu khawatir dan cemas.


"Mayang ... aku harus menelepon Mayang," ujarnya panik. Andre pun mencoba mencari ponselnya di saku celana dan bajunya. Tapi ia tak menemukannya, karena ia memang tidak membawa ponsel.


"Ah ya ampun, aku lupa tidak membawa ponselku." Ia mengacak rambutnya dengan kasar. "Bagaimana ini? Aku harus mencari bantuan kepada siapa?" gumamnya.


Andre menjongkokkan tubuhnya di samping kursi. Ia memandangi Selly yang masih tak sadarkan diri.


"Jilbabnya, di mana jilbabnya?" Andre berlari ke dapur untuk mencari kerudung Selly yang tadi sempat ditarik paksa oleh lelaki misterius itu. Tapi ia tak menemukannya.

__ADS_1


Andre pun mencoba untuk mencari minyak kayu putih untuk menyadarkan Selly dari pingsannya tapi ia tak tahu harus mencarinya di mana.


"Aku harus keluar menemui Paman Dori," gumamnya. Ia melangkahkan kakinya hendak keluar, tapi niatnya ia urungkan karena khawatir jika meninggalkan Selly sendirian takut lelaki itu kembali dan mencelakai Selly.


"Tapi tidak aman jika aku membiarkannya sendirian di sini," gumamnya lagi. Andre pun mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Ia pun berniat untuk membawa Selly ke kamarnya yang ada di lantai atas.


"Maafkan aku Selly, bukannya aku tidak sopan, tapi sebaiknya aku membawamu ke kamarmu," gumam Andre. Ia pun menggendong Selly dalam pangkuan tangannya dan membawanya ke lantai atas menuju kamar.


Belum juga sampai di tempat tidur, tapi ... tiba-tiba lampu ruangan mati begitu saja. Membuat Andre sedikit terkejut dan memperlambat langkah kakinya untuk sampai di tepi tempat tidur.


***


Sementara itu Ningsih dan juga Setyo baru saja sampai di dermaga. Sejak kejadian tadi sore saat menerima surat kaleng yang entah dari siapa, yang mengabarkan mengenai ancaman kepada Selly. Membuat Setyo dan Ningsih tak bisa tinggal diam.


Mereka langsung pergi ke Pulau Seribu untuk menyusul Selly. Sebelum sampai ke Vila, mereka berdua bertemu dengan Pak Dori yang memang kebetulan baru pulang dari acara pengajian masjid.


"Pak Setyo, Bu Ningsih," panggil Dori begitu melihat mereka berdua yang terlihat sedang jalan terburu-buru.


"Pak Dori," ujar Setyo.


"Pak Dori, apa Selly baik-baik saja?" tanya Ningsih begitu khawatir.


"Pak Dori, ikutlah bersama kami. Saya khawatir dengan keadaan anak saya. Nanti saya ceritakan alasannya. Ayo." Dori pun mengangguk. Mereka pun bergegas pergi menuju vila.


Namun, sesampainya di sana keadaan vila begitu gelap gulita tak ada penerangan.


"Wah sepertinya ada yang mematikan listriknya di belakang. Saya ke belakang dulu Pak untuk menghidupkan listriknya kembali," ujar Dori. Ningsih dan Setyo pun mengangguk.


***


Selly merasakan tubuhnya seakan melayang di udara. Perlahan ia membuka matanya. Tubuhnya terasa menyentuh sesuatu yang empuk, seperti ada orang yang membaringkan tubuhnya.


Sontak Selly ingat akan kejadian tadi. Namun, ketika ia membuka matanya lebar-lebar ia tak bisa melihat apa-apa, semua begitu gelap gulita, ia hanya bisa merasakan adanya seseorang yang berada tepat di sampingnya, bahkan Selly dapat merasakan hembusan nafas dari orang itu.


"Tidak, jangan menyentuhku!" Teriak Selly. Teriakan dari Selly sontak begitu mengejutkan Andre. Sontak Andre menjauhkan tubuhnya dari Selly.


"Tolong!!!" Selly berteriak sekencang mungkin. Membuat Andre begitu panik.

__ADS_1


"Selly tenanglah, ini aku Andre," ujar Andre. Namun, karena Selly tak mendengarkan ucapan Andre ia masih terus berteriak histeris.


^


Mendengar teriakan Selly dari dalam. Sontak membuat Setyo dan Ningsih langsung masuk ke dalam rumah, meskipun keadaan masih gelap. Mereka berdua begitu takut dan semakin khawatir akan keadaan putri kesayangannya itu. Setyo dan Ningsih menaiki tangga secara perlahan karena keterbatasan penglihatan.


^


"Selly tenanglah," ucap Andre mencoba mendekati.


"Jangan menyentuhku! Kumohon, jangan menyentuhku!" Selly kembali terisak menangis ketakutan.


"Selly tenanglah, ini aku Andre, Andre temanmu," ujar Andre mencoba meyakinkan sambil memegang kedua tangan Selly yang masih terasa begitu gemetar.


Dan tiba-tiba ... lampu kembali menyala, membaut Selly begitu terkejut ketika melihat Andre yang sudah duduk di tepi ranjang di dekatnya.


"Selly tenanglah," ucap Andre sambil memegang salah satu bahunya.


Selly masih tercengang, menatap Andre dengan penuh keheranan.


Tapi, tiba-tiba ....


"Selly!" Gelegar suara seorang lelaki yang tak asing terdengar jelas di telinga Selly.


"Bapak," ucap Selly saat melihat kehadiran kedua orang tuannya yang sudah ada di dekat pintu kamar.


.


.


.


Bersambung.


Jazakumullah khoiron katshiro buat teman-teman semua yang sudah mau baca cerita ini, terima kasih buat yg rajin like, komen dan vote. Author sayang kalian❤️


Gimana nih??? lanjut gak???

__ADS_1


Kira-kira apa yang akan terjadi selanjutnya ya?


__ADS_2