Pernikahan Di Atas Kertas

Pernikahan Di Atas Kertas
Perfect Marriage - Bab 12


__ADS_3

"Wah, Merry... kau cantik sekali, uh... gemas, gemas, gemas," pekik Selly sambil menghampiri. Merry hanya tersenyum tersipu malu.


"Loh, Pak dokter lagi fiting baju buat nikah juga ya?" tanya Merry yang melihat penampilan Andre.


"Hah? Bu-bukan, tadi Adikku menyuruhku buat mencoba tuksedo di sini," jawab Andre sedikit terbata.


"Merry," panggil seseorang dari belakang. Siapa lagi, kalau bukan Dion, kekasihnya.


Dion sudah berdiri di dekat Merry, dengan tuksedo hitam lengkap dengan pita di lehernya, membuat penampilan lelaki itu tampak begitu gagah dan lebih berwibawa.


"Kapan kamu kemari?" tanya Merry.


"Tadi, pas kamu lagi di ruang ganti. Sekalian aja aku juga pake," jawab Dion tersenyum sambil mengusap puncak kepala Merry. Dion semakin terpesona melihat keanggunan calon istrinya itu.


"Wah, udah pas nih, kedua calon mempelai tinggal dinikahkan saja," ujar Salwa terkekeh, sembarangan.


Salwa memang terkadang suka berbicara sompral, tak peduli dengan siapa, entah itu orang baru atau orang yang sudah lama dikenalnya.


"Eh iya, benar juga. Kok, bisa kebetulan ya, Selly sama Pak dokter sama-sama serba putih gitu," ujar Merry menimpali.


Selly dan Andre, masing-masing merasa kurang nyaman mendapat godaan seperti itu dari mereka.


Merry bahkan terlihat begitu happy, ia menggandeng lengan Dion, dan melihat pantulan dirinya dengan Dion di dalam cermin.


"Lihatlah, kita serasi sekali ya, aku jadi tidak sabar menunggu hari pernikahan kita. Pasti nanti akan sangat menyenangkan dan meriah," ujar Merry begitu semangat. Dion pun mengiyakan sambil tersenyum menatap calon istrinya itu.


"Eh iya, bagaimana kalo kita foto," usul Merry kepada Dion. Dion pun dengan semangat mengiyakan ajakan Merry.


Merry meminta tolong kepada Mayang untuk memfoto-kan mereka berdua. Mayang pun dengan senang hati melakukannya.


Setelah beberapa potret foto berhasil di ambil dengan gaya yang berbeda-beda, kini Merry juga mengajak Selly dan Andre untuk foto bersama.


Awalnya Selly menolak, karena merasa tak enak kepada Andre. Namun, tetap saja sahabatnya itu memaksa untuk berfoto bersama. Dan tentunya Andre pun di paksa oleh Mayang untuk ikut ajakan Merry. Akhirnya mau tidak mau mereka pun berfoto bersama. Layaknya dua pasang pengantin, Merry berpose mesra dengan Dion, dan Selly berpose canggung dengan Andre.


"Abang sama Kak Selly tangannya gandengan dong, biar lebih bagus hasilnya," perintah Mayang. "Tuan Dion juga, coba pinggul Kak Merry-nya di rangkul, biar lebih terlihat romantis," sambung Mayang.


Mereka pun berpose sesuai arahan Mayang. Meskipun mayang bukan ahli fotografer, tapi gambar yang dihasilkannya cukup bagus.

__ADS_1


"Eh, Salwa, foto-in aku sama Abangku dong," bisik Mayang kepada sahabatnya itu.


"Abang, aku ikut foto sama kalian ya, sama Kak Selly juga," ucap Mayang begitu bersemangat.


"Mayang kamu ini ap—" Andre hendak protes. namun, lebih cepat Mayang sudah menyempil di anatara mereka, sambil menggandeng lengan Selly dan Andre.


Sedangkan Merry ia memilih untuk foto selfi berdua bersama Dion.


Akhirnya Salwa pun hanya memotret Selly, Mayang dan Andre.


"Wah, Mayang, cemistery kalian benar-benar bagus, sudah seperti satu keluarga saja, dan kau jadi adik paling menyebalkan," ujar Salwa terkekeh sambil melihat hasil jepretannya.


"Kau ini!" Mayang segera mengambil alih ponselnya dari tangan Salwa, sambil sedikit menyenggol bahu sahabatnya itu, karena barusan sudah mengatainya.


Mayang menatap senang ponsel di tangannya. Ada tiga foto yang cukup bagus untuk ia cetak nanti.


"Perfect," gumamnya tersenyum.


"Selly, maafkan adikku ya. Maaf kalau membuatmu tidak nyaman," ujar Andre merasa tidak enak hati. Selly pun mengangguk.


"Tidak apa-apa. Em... kalau begitu aku akan kembali ke ruang ganti," ujar Selly kemudian berlalu menuju ruang ganti. Begitu pun Andre, ia juga bergegas untuk kembali mengganti pakaiannya.


"Ayang, ayo kita pulang," ajak Andre, karena naungan suara azan magrib sudah terdengar dari jauh.


"Abang pulang duluan aja, nanti aku sama Salwa aja pulangnya," jawab Mayang, sambil menyikut lengan Salwa, agar anak itu ikut menjawab.


"Ah, iya, Bang Andre pulang duluan aja, nanti Mayang bakalan aku antar pulang kok, aku mau traktir Mayang dulu buat nonton," tutur Salwa.


Andre pun tak bisa memaksakan kehendak adiknya itu, meskipun terasa aneh sekali datang ke butique hanya untuk mencoba tuksedo lalu pulang lagi, tapi apalah daya semua sudah terjadi. Dan Andre pun memilih pulang, tentunya ia pamit terlebih dahulu kepada Selly dan Dion yang memang sedang berada di dekatnya.


"Kalian gak solat?" tanya Selly, ketika melihat Mayang dan Salwa yang masih sibuk memilih gaun yang akan jadi di beli sahabatnya itu.


"Hah? ... enggak, kita lagi berhalangan Kak. Kakak mau solat?" tanya Mayang. Selly menggelengkan kepalanya. Karena ia pun sama sedang berhalangan bulanan.


Tak terasa jam di ponsel sudah menunjukkan pukul 19.00 malam. Setelah disibukkan dengan dilema memilih gaun, akhirnya Salwa pun memutuskan untuk membeli dua gaun yang sempat dicobanya tadi, yaitu gaun berwarna biru muda dan gaun berwarna baby peach.


Setelah selesai melakukan pembayaran, Salwa dan Mayang pun segera pergi dari butique itu.

__ADS_1


Sementara Merry, Selly dan Dion, mereka memutuskan untuk meminta design sendiri untuk gaun pernikahan mereka, begitu pun dengan Dion yang meminta design sendiri untuk tuksedonya.


Setelah selesai berkonsultasi dengan desainernya. Mereka pun masing-masing memberikan DP terlebih dahulu.


"Nona Selly, tunggulah sebentar. Saya ada sesuatu buat Nona," ucap Dinda, begitu Selly dan Merry menuruni anak tangga. Akhirnya Selly pun menunggunya di ruang tunggu lantai bawah.


"Sell, pacarmu gak jemput kesini?" tanya Dion yang mendudukkan tubuhnya di samping Merry.


"Dia, lagi tugas malam, jadinya gak bisa ikut buat fiting baju."


"Ya... harusnya ambil cuti lah, masa sebentar lagi mau menikah, masih sibuk sama kerjaan," timpal Dion.


"Hm ... iya sih, tapi gak apa-apa lah, nanti juga kan mau fiting lagi. Buat lihat hasil gaun pesananku nanti," jawab Selly.


Tak lama, Dinda pun kembali membawa stu paper bag berwarna hitam, bertuliskan GUCCI.


"Nona Selly, ini saya ada sesuatu buat Nona. Ini bukan apa-apa, saya hanya ingin mengucapkan terima kasih karena Nona waktu itu sudah menolong saya," ujar Dinda, ambil mengaitkan tali paper bag itu di lengan Selly.


"Apa ini?" tanya Selly, Merry pun ikut kepo.


"Buka saja," jawab Dinda tersipu malu.


Selly pun perlahan membukanya. Dan ia tak menyangka begitu ia lihat isi di dalam paper bag itu ternyata sebuah tas sling bag, berwarna mocca dari brand yang cukup terkenal, yaitu GUCCI.


"Nona Dinda, ini terlalu berlebihan," ujar Selly merasa tidak enak hati.


"Tidak apa-apa, saya hanya ingin memberikan itu saja. Tidak ada maksud lain. Syukur-syukur kalau kamu suka."


"Wah, gak naif sih, suka banget aku," jawab Selly terkekeh.


"Wah, hari ini rezeki nomplok ya Sell, tadi siang di kasih tas sama Damas, sekarang sama Nona ini," ucap Merry ikut heboh melihatnya.


"Damas?" Kini kedua mata Dinda baru di sadarkan akan tas berwarna dark grey yang tengah di pakai Selly.


"Tas itu .... Kenapa tas itu mirip sekali dengan tas yang aku pilihkan kemarin sama Mas Damas. Dan ... siapa Damas yang dimaksud oleh Nona Selly," batin Dinda menerka-nerka. Ia sedikit curiga, ketika melihat tas yang digunakan Selly, terlebih ketika Merry menyebutkan nama Damas.


Bersambung....

__ADS_1


Mohon dukungan like dan ramaikan kolom komentarnya ya mentemen😊🙏


__ADS_2