
Bara keluar dari kamar, dan ketika ia menuruni anak tangga, ia melihat Merry yang tengah sibuk membersihkan lantai.
"Ada apa?" tanya Bara, melihat ke arah serokan yang berisi pecahan beling.
Merry mendongakkan kepalanya, menatap Bara. "Hah? Oh, ini tadi Selly menumpahkan sup," jawab Merry. Bara menganggukkan kepalanya. Kemudian ia segera berlalu menuju dapur mengambil makanan untuk Fira.
Dan ketika Bara hendak kembali ke atas, ia dan dokter Andre berpapasan di tengah anak tangga. Membuat Bara sedikit heran.
"Dokter masih disini?" tanya Bara heran, karena yang ia tahu sedari tadi dokter Andre sudah pergi.
"Iya, tadi ada sedikit masalah," jawabnya, sedikit tersenyum.
Bara mengerutkan kedua alisnya. "Masalah? Masalah apa dok? Apa kendaraan dokter bermasalah?" tanya Bara, berpikiran kalau motor yang digunakan dokter Andre bermasalah.
"Tidak, bukan itu. Tadi saya tidak sengaja menumpahkan sup panas pada salah satu gadis yang ada di villa ini," ucapnya.
"Jadi saya tadi, membantu mengobati lukanya terlebih dahulu," sambung sang dokter. Bara pun menganggukkan kepalanya pelan. Dan setelah itu dokter Andre pun berpamitan untuk kedua kalinya. Sebelum ia benar-benar pergi.
^
Bara membawa semangkuk sup ayam hangat untuk Fira.
"Ayo, makan dulu," ucap Bara, mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang di samping Fira.
"Tapi aku tidak berselera Mas," keluh Fira.
"Sayang... kamu harus makan, kasihan nanti anak kita kelaparan kalo kamu gak makan," bujuk Bara begitu lembut. Berusaha agar istrinya itu mau makan. Fira pun sejenak berpikir akan janin yang ada di dalam perutnya. Mau tak mau ia pun harus memaksakan diri untuk makan sup itu.
Bara pun akhirnya menyuapi Fira, dengan begitu sabarnya. Ia memperhatikan sang istri yang melahap tiap sendok dari sup yang diberikannya. Hingga satu mangkuk sup ayam buatan Merry ludes dalam waktu cepat.
"Anak baik, cepat tidur," ucap Bara, sambil mengelus kepala Fira. Namun, Fira sepertinya tidak suka jika disebut seperti itu oleh Bara.
"Aku bukan anak kecil Mas!" serunya, sambil mencebikkan bibir manisnya.
"Siapa juga yang menganggapmu anak kecil, aku bilang anak baik itu sama anak kita bukan sama kamu," sangkal Bara, sambil mengelus pelan perut Fira. Dan hal itu membuat Fira tersenyum malu, bahkan kedua pipinya sudah terlihat memerah, karena menahan malu pada suaminya.
***
Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 08.00 pagi, keadaan di ruang tengah terlihat sedikit ramai. Karena kedatangan tiga orang tamu, yang membawa barang cukup banyak. Bahkan koper yang mereka bawa pun terlihat sangat besar sekali. Dan hal itu membuat Merry dan Selly yang tengah berada di dapur, seakan terkejut.
"Eh Selly... siapa tuh?" tanya Merry sambil melihat penampilan ketiga orang itu, yang terlihat seperti orang berkelas. Selly menggelengkan kepalanya pelan, karena ia pun tidak tahu siapa mereka.
"Apa mereka penghuni baru di villa ini? Tapi kita kan pulang nanti sore, bukan sekarang," cetus Merry.
"Entahlah, ayo kita ke depan, temui mereka," ajak Selly, Merry pun menurut.
"Pagi Om, Tante ...." Selly menyapa dengan begitu ramah.
"Kalian berdua pasti sahabatnya Fira ya?" ucap Wina tiba-tiba, melebarkan senyuman manisnya.
Merry dan Selly pun saling bertatap muka karena heran, kenapa wanita itu bisa mengenali mereka berdua.
"I-iya, maaf Tante siapa ya?" tanya Selly, sedikit ragu.
"Saya Wina, Mamanya Bara dan Fira," ucapnya memperkenalkan diri, sambil menjulurkan tangannya.
Selly dan Merry pun kembali beradu pandang, sambil membulatkan kedua mata mereka. "Orang tua Tuan Bara," batin Merry.
Mereka berdua pun seketika langsung menyalami tangan Wina dan Hito secara bergantian, sekaligus menyapa Lisa, gadis cantik berwajah jutek. Namun wajah juteknya seketika sirna, ketika mengulaskan senyuman untuk Merry dan Selly.
Merry pun mempersilahkan mereka semua untuk duduk di sofa.
"Om, Tante," panggil seseorang yang baru saja menapaki kakinya di anak tangga paling bawah.
Mereka semua yang duduk di sofa seketika mengalihkan pandangannya ke arah sumber suara.
"Dion," ucap Hito. Dion pun segera menghampiri mereka.
__ADS_1
"Om dan Tante kapan kemari?" tanya Dion begitu ramah, sambil menyalami tangan Wina dan Hito bergantian.
"Baru saja sampai," jawab Wina.
Mereka pun saling mengobrol, sedangkan Merry dan Selly mereka kembali ke dapur untuk membuatkan jamuan untuk mertua sahabatnya itu.
"Selly apa kau tahu? Aku sungguh terkejut mengetahui kalau itu mertuanya Fira. Lihatlah penampilan mereka... benar-benar terlihat sangat berkelas sekali," tutur Merry pelan, sambil sibuk menyiapkan minuman.
"Iya, aku malah lebih terkejut, kenapa mereka bisa datang kemari ya?" gumam Selly terheran-heran.
"Iya ya, benar juga, kenapa mereka bisa kesini?" timpal Merry.
Kemudian mereka berdua segera kembali ke ruang tengah, sambil membawa beberapa gelas minuman dan camilan. Kemudian menyuguhkannya di atas meja.
"Oh ya Fira dan Bara masih di atas ya?" tanya Wina, yang sedari tadi menunggu.
"Iya Tante, masih di atas, sebentar saya akan panggilkan," ucap Merry hendak berdiri dari duduknya. Namun Wina menahannya.
"Tidak usah dipanggil, biar saya langsung temui mereka di kamar saja," ucap Wina, Merry pun menganggukkan kepalanya. Kemudian mengajak Wina ke lantai atas menuju kamar Fira, di ikuti oleh Lisa dari belakang yang ingin cepat-cepat bertemu dengan sahabat sekaligus kakak iparnya itu.
Sebelum Wina mengetuk pintu, Bara terlebih dahulu membukakan pintu kamar.
"Mama!" Bara terlihat sedikit terkejut saat melihat Mama dan Adiknya sudah berada di hadapannya.
"Dimana Fira?" tanya Wina, sambil menerobos masuk ke dalam kamar.
"Fira sayang...." Wina menghampiri Fira yang tengah menyisir rambut panjangnya, karena ia baru selesai mandi.
"Mama," ucap Fira, melihat pantulan mertuanya lewat cermin. Ia langsung berbalik, dan dengan cepat Wina memeluk menantu kesayangannya itu.
"Kak Fira!" teriak Lisa, ia pun masuk melewati Bara begitu saja, tanpa menyapa Bara sedikit pun.
Lalu, Merry yang masih berdiri di depan pintu kamar ia dan Bara sejenak beradu pandang. Sebelum Merry menundukkan kepalanya dengan cepat kemudian ia hendak pergi, namun Bara menahannya.
"Nona Merry," panggil Bara, yang masih diam di ambang pintu. Merry pun menyahutinya dan berbalik.
"Iya Tuan, memangnya kenapa?" tanya Merry, yang masih menunduk.
"Emh... saya dan Fira tidak akan pulang hari ini, tapi kalau kalian mau pulang hari ini nanti biar Dion yang menemani kalian pulang," tutur Bara.
"Hah? Kenapa tidak ikut pulang?" tanya Merry mendongakkan kepalanya, melihat ke arah Bara.
"Kondisi Fira masih belum stabil, jadi aku dan Fira akan tinggal disini untuk satu minggu ke depan," ujar Bara.
"Tolong beritahu juga kepada temanmu yang satu lagi ya," pinta Bara, Merry pun mengangguk. Dan Bara pun kembali menutup pintu kamarnya.
"Satu minggu disini? Ah... aku juga masih ingin disini," gumam Merry di dalam hatinya seakan merengek berharap bahwa sore nanti ia pun tak akan pulang.
^^^
"Kak Fira, aku senang sekali mendengar kabar hamil kakak, aku sudah tidak sabar menantikan calon keponakanku nanti," ucap Lisa begitu semangat, sambil terus bergelayut di sebelah lengan Fira. Mereka bertiga pun duduk di tepi ranjang. Dengan Fira, yang sudah selesai memakai hijabnya.
"Mama juga sangat senang sekali, sebentar lagi Mama akan punya cucu," ucap Wina sambil mencium sebelah pipi Fira, dengan begitu haru. Ia tak menyangka bahwa dirinya sebentar lagi akan menjadi seorang nenek.
"Apa Papa juga datang kemari?" tanya Fira, yang baru menyadari. Wina pun mengiyakannya.
"Tapi kenapa Mama mendadak sekali datang kemari? Padahal nanti sore Fira sama Mas Bara akan pulang," ucap Fira.
"Hah? Pulang? Kata Kak Bara kalian akan tinggal disini selama satu minggu ke depan." ujar Lisa.
Fira mengerutkan dahinya dan menatap tajam ke arah Bara. Bara pun menghampirinya.
"Iya, jadi semalam kata dokter Andre, selama satu pekan ke depan kamu gak boleh pergi-pergi jauh dulu, gak boleh kecapek-an, makanya semalam aku menelepon Mama, dan bilang kalau kita akan tinggal disini selama satu minggu lagi," ujar Bara menjelaskan dengan jujur.
"Mama juga disini akan ikut menjaga kamu sama calon cucu Mama," ujar Wina tersenyum.
"Mama mau menginap disini?" tanya Fira, melebarkan kedua matanya. Lisa mengiyakannya ia pun ikut menimpali bahwa dirinya akan ikut tinggal disini untuk menjaga kakak ipar sekaligus calon keponakannya itu.
__ADS_1
"Tapi, Merry dan Selly?" tanya Fira kepada Bara.
"Tadi aku sudah memberitahunya, mereka akan pulang bersama Dion," jawab Bara. Fira sedikit tercengang. Karena baru mengetahui semua ini.
"Ya sudah, sekarang ayo kita ke bawah, kita sarapan bersama. Mama membawa banyak makanan buat kamu," ucap Wina. Fira tersenyum mengangguk. Dan mereka pun segera bergegas ke lantai bawah, dengan Fira yang digandeng oleh Bara secara hati-hati dan begitu pelan ketika menuruni anak tangga.
^
Kini semua orang yang ada di villa sedang duduk di meja makan, untuk sarapan pagi. Sebelum itu Pak Dori yang menyiapkan meja dan kursi tambahan untuk mereka, sehingga mereka bisa makan satu meja panjang bersama-sama.
Semua orang terlihat sangat ceria sekali, sambil menikmati berbagai macam makanan yang dibawa oleh Wina. Bahkan tak jarang Wina memperhatikan menantunya itu, yang terlihat pilih-pilih dalam makan.
"Aku mau rollalde, tapi gak mau telurnya," ucap Fira, meminta kepada Bara. Bara pun dengan sabar menurutinya, memisahkan antara daging dan telur yang menggulung di rollalde itu.
Kemudian Fira pun segera melahapnya, dan ia juga menambahkan begitu banyak kecap di atas dagingnya itu. Membuat semua orang yang melihat menggidikkan bahu. Bukankah daging rollalde jika di tambah kecap terlalu banyak akan enek jika di makan. Namun tidak dengan Fira yang lahap memakan semua itu.
"Ayo sayang buka mulutmu," ucap Fira, menyendokkan satu rollalde yang penuh dengan kecap. Bara menggelengkan kepalanya.
"Tidak sayang, kau saja yang makan," tolak Bara.
"Ayo Mas, makan sedikit saja," paksa Fira. Namun Bara tetap tidak mau.
"Sayang ini anak kamu yang mau nyuapin, ayo sekali saja, ini enak ko," bujuk Fira. Bara sejenak menyapukan pandangannya ke arah Dion. Dion yang melihat wajah melas Bara, ia hanya bisa menahan tawa, sambil melipat kedua bibirnya.
"Haha, rasakan itu," batin Dion, tertawa melihat penderitaan Bosnya.
Dan akhirnya dengan terpaksa Bara melahap suapan rollalde penuh kecap itu. Ia mengunyahnya secara perlahan. Lidahnya seakan menolak dan meronta karena rasa sebal yang mulai menyeruak. Bahkan mata Bara terlihat sedikit berair, ketika ia harus menelan dengan paksa makanannya.
"Bagaimana? Enak kan?" tanya Fira, melebarkan senyumannya.
Bara hanya tersenyum mesem, sambil menganggukkan kepalanya.
"Tahu begini, lebih baik aku makan biji pare saja, daripada harus memakan daging menyebalkan ini," umpat Bara dalam hati.
Merry dan Selly yang memperhatikan Bara, mereka seakan ikut merasakan betapa eneknya memakan daging itu.
"Eh Selly, kau tahu? Ini untuk pertama kalinya aku melihat orang rela melakukan hal bodoh demi cinta," bisik Merry, kepada Selly.
"Iya benar, bahkan aku tidak menyangka kalau Tuan Bara, bisa seperti itu karena cinta," timpal Selly berbisik.
"Selly, aku juga ingin punya suami yang rela melakukan apapun demi istrinya," celetuk Merry. Selly seketika menjauhkan tubuhnya dari Merry, sambil melirik tajam ke arah sahabatnya itu, dan ia pun kembali melahap makanannya.
Dan ketika Merry hendak mengambil sate udang yang tinggal satu tusuk, ia dan Dion, secara tidak sengaja, mengambilnya secara bersamaan. Sehingga kedua tangan mereka saling bersentuhan, dengan tangan Dion yang ada di atas tangan Merry. Tentunya hal itu membuat keduanya saling beradu pandang sejenak. Dan dengan cepat Merry mengambil sate udang itu. Sehingga membuat Dion membulatkan kedua matanya.
"Wanita rakus," umpat Dion dalam hati. Ia tak menyangka kalau Merry tak mau mengalah. Namun tiba-tiba, Merry memberikan setengah dari isi sate udang itu ke atas piring Dion, membuat Dion terheran-heran.
"Kita bisa berbagi, makanlah. Aku memisahkannya dengan garpu lain," ucap Merry, sambil menundukkan pandangannya ke arah piring.
Dion yang duduk di sampingnya hanya mengerutkan kedua alisnya. "Berbagi?" batin Dion.
"Terima kasih," ucap Dion dengan dingin.
.
.
.
Bersambung.
Temen-temen semangatin author dong, dengan cara like dan vote. Author itu suka heran, yang baca tiap episode bisa sampe puluhan ribu, tapi ko yang like, mentok-mentok di angka seribu doang.
Please dong, kasih like nya, ini novel gratis loh... cuma ngandelin kuota doang. Seenggaknya buat kalian yang baca, hargai karya author dengan kasig like di setiap episodenya.
Apalagi kalo kalian vote pake koin, seneng banget rasanya. Tapi gak apa-apa gak vote juga. Yang penting like nya jangan ketinggalan. Komen juga dong, jangan jadi silent reader.
*sekedar unek-unek aja 🤣
__ADS_1
like, komen vote pokonya yang banyak.