
Kini Bara berhasil mendapati keberadaan istrinya. Namun seketika amarah di dadanya memuncak, ia seakan tak suka melihat Fira yang sedang berdiri dengan seorang lelaki. Bahkan ia dapat melihat dengan jelas, Fira begitu asyik mengobrol dengan lelaki itu. Namun Bara tak dapat melihat dengan jelas siapa lelaki itu, karena lelaki itu berdiri membelakanginya, dengan sebagian tubuhnya yang terhalangi oleh orang lain, yang berdiri di dekatnya.
Bara mengepalkan lengannya, dan segera berjalan mengmpiri Fira.
Semakin Bara mendekat, semakin jelas siapa lelaki itu. Ia merasa, kalau lelaki itu tidak asing lagi baginya.
"Mas Bara," panggil Fira, yang melihat Bara menghampirinya.
Lelaki yang sedang mengobrol dengan Fira pun berbalik, mencari keberadaan Bara.
Bara mengerutkan dahinya. "Kau!"
"Fira aku mencarimu! Dan kau malah di sini bersama dia?" Bara mendelik tak suka ke arah Susanto. Lelaki bertubuh gemuk, semampai itu mengerucutkan bibirnya, saat melihat tatapan tak suka dari suami sahabatnya itu.
Fira tersenyum manis, sambil menarik lengan Bara. "Maaf, tadi aku keluar dari mobil, karena aku ingin membeli ini," ucap Fira menunjuk ke arah stand pedagang yang ada di sampingnya.
"Aku juga tak sengaja bertemu dengan Susanto keb–"
"Susanti Fira... bukan Susanto," potong Susanto.
"Iya, iya, tadi aku bertemu dengan Susanti karena memang tak sengaja, jadi kita bisa mengobrol terlebih dahulu," tutur Fira.
"Kita bertemu kembali, mungkin karena jodoh," ucap Susanto dengan genit, melirik ke arah Bara. Namun Bara mengalihkan pandangannya ke sembarang arah.
"Kenapa harus bertemu dengan dedemit ini lagi sih," gerutu Bara dalam hati.
"Apa sudah selesai?" tanya Bara, kepada Fira.
"Belum Mas Bara... sabarlah, masih harus menunggu," tutur Susanto begitu lembut.
Bara memelototkan matanya ke arah Susanto, ia seakan tak suka mendengar suara sayu dari lelaki aneh itu. "Aku bertanya pada istriku, bukan kepadamu!" seru Bara. Membuat Susanto kembali mengerucutkan bibirnya.
"Nona, ini pesanannya," ucap lelaki muda penjual egg roll itu. Sambil memberikan bingkisan yang berisi egg roll itu kepada Fira. Fira segera menyahutnya, dan membayarnya.
"Sudah selesai," ucap Fira dengan riang.
"Susanti, aku pergi duluan ya, kau berhati-hatilah, di sini banyak mata jahat," ucap Fira, mengecilkan suaranya di akhir kalimat.
"Ya sudah, kalian hati-hati ya. Terutama Mas Bara, hati-hati ya bawa mobilnya," tutur Susanto sambil melambaikan sebelah tangannya kepada Bara dan Fira. Bara hanya menggidikkan bahunya. Kemudian segera mengajak Fira untuk pergi, kembali ke mobil.
***
Kini Bara dan Fira sudah sampai di apartemen mereka. Fira segera membuka bingkisan yang berisi egg roll dan bingkisan surabi. Ia sedikit kebingungan, harus memakan yang mana dulu.
"Mas," panggil Fira.
Bara yang berada di kamarnya, sedang berganti baju segera keluar, dan menghampiri Fira.
"Kemari, duduk bersamaku," pinta Fira. Bara menuruti dan mendudukkan tubuhnya di samping Fira.
"Ayo, coba ini." Fira menyodorkan satu kue surabi rasa strowberry untuk Bara.
"Aku tidak mau, kau saja yang makan." Bara menjauhkan wajahnya dari jangkauan tangan Fira.
__ADS_1
"Ayo Mas, coba sedikit saja ya...." bujuk Fira. Akhirnya Bara mau tak mau, memakan kue surabi, yang sebelumnya tak pernah ia memakannya. Bahkan ketika ia melahap satu gigitan dari kue itu, lidahnya merasakan rasa yang cukup aneh baginya. Ia tak terbiasa makan-makanan kue seperti itu. Bahkan mengetahui kue surabi saja baru kali ini.
"Bagaimana enak?" tanya Fira, memasang ekspresi antusiasnya.
"Em... lumayan, tidak terlalu buruk," ucap Bara sambil mengunyah.
Kini giliran Fira yang mencoba kue surabi itu, dan ketika satu gigitan ia kunyah, Fira mengembungkan mulutnya. Dan dengan cepat pergi ke dapur.
Fira memuntahkan kue surabi yang ada di dalam mulutnya ke wastafel. Ia segera membasuh mulutnya dengan air. Kemudian kembali menghampiri Bara.
"Kau kenapa?" tanya Bara heran, sambil melahap kue surabinya yang tadi.
"Surabinya terasa aneh." Fira meraih selembar tisu yang ada di meja, dan segera mengelap mulutnya yang basah terkena air.
"Aneh gimana? Aku coba-coba, rasanya lumayan enak," tutur Bara.
"Kau tadi makan yang rasa apa?" tanya Bara.
Fira kembali mendudukkan tubuhnya di samping Bara. "Tadi aku makan rasa strowberry, sama kayak punya Mas," jawabnya.
Bara mengerutkan dahinya. "Kalau begitu, ini cobalah rasa yang ini." Bara menyodorkan satu surabi rasa abon kepada Fira. Fira menyahutnya dan segera memakannya dengan begitu lahap.
"Wah... enak sekali, apa masih ada?" tanya Fira dengan semangat.
"Ini, tinggal satu lagi." Fira kembali mengambil kue surabi itu dari tangan Bara, dan segera melahapnya hingga tak tersisa. Rasanya memakan dua surabi saja tidak cukup baginya. Lidahnya masih menginginkan surabi dengan rasa yang sama.
"Mas... aku masih pengen surabi abon," rengeknya.
Bara semakin heran, dan mengernyitkan dahinya. "Kau sudah memakannya dua, aku saja makan satu, yang ini belum habis."
"Lihatlah, egg roll yang kamu beli juga belum di makan. Kau makan lah dulu egg roll nya, besok kita beli surabinya lagi ya...."
Fira seakan enggan untuk memakan egg roll yang ada di atas meja itu. Sepertinya ia sudah tidak berselera lagi.
"Gak mau ah, Mas saja yang makan egg rollnya," tutur Fira, sambil berlalu ke kamarnya.
Bara menggelengkan kepalanya. Melihat semua makanan yang masih tersisa banyak di atas meja.
"Huft... ada apa dengannya hari ini, tak biasanya dia membiarkan makanan tersisa seperti ini," gumam Bara. Ia segera mengemasi makanan itu dengan begitu rapi. Kemudian Bara keluar dari apartemennya hendak memberikan makanan yang masih banyak itu ke pos satpam yang berjaga malam.
Ketika Bara kembali ke kamarnya, ia mendapati Fira yang tengah memilih baju tidurnya. Dengan hanya menggunakan handuk yang di lilitkan di sebagian tubuhnya, karena baru selesai mandi.
Bara tersenyum kikuk, menutup rapat-rapat pintu kamarnya, tanpa menimbulkan suara. Ia berjalan perlahan mendekati Fira. Lalu memeluk Fira dari arah belakang.
"Mas," rengek Fira, karena ia begitu merasa gerah, apalagi saat Bara memeluknya begitu erat.
Bara menyusupkan wajahnya di leher Fira. Mencium wangi khas aroma tubuh istrinya itu.
"Mas, lepaskan, aku gerah," rengek Fira, sambil menutup pintu lemarinya.
Bara melepaskan pelukannya, dan membalikkan tubuh Fira agar menghadapnya. "Kau gerah?" tanya Bara. Fira menganggukkan kepalanya. Fira hendak melangkahkan kakinya, berniat kembali ke kamar mandi untuk berganti pakaian.
Tapi tiba-tiba, Bara melepas handuk yang Fira kenakan dalam satu tarikan. Bahkan hal itu membuat Fira terkejut. Dan segera menutupi dada dan area sensitifnya menggunakan baju piyama yang di pegangnya.
__ADS_1
Bara segera menarik pinggul Fira, melekatkannya dengan tubuhnya, sambil tersenyum miring. Fira sudah tahu apa yang di inginkan oleh suaminya. Bayangan berbagai macam gaya sudah menguasai pikiran Bara.
"Mas kau–" Mulut Fira seketika di bungkam oleh bibir Bara. Tangannya mulai menggeranyam menyentuh bagian tubuh Fira. Menggiringnya perlahan ke atas tempat tidur. Dan segera melancarkan aksinya malam ini.
Entahlah, rasa candu Bara terhadap Fira, semakin hari semakin tidak bisa di tahan. Apalagi ketika mencium aroma khas tubuh istrinya itu, ia seakan di buat mabuk. Karena tak lama, setelah mencium wangi tubuh Fira, ia pasti akan melancarkan aksi selanjutnya.
Fira dan Bara terengah-engah, dengan rasa nikmat yang sudah memuncak. Dan secara bersamaan mereka melepaskan hasrat klimaks mereka. Di tutup dengan pelukan dan ciuman yang begitu lembut.
Kini mereka berdua berbaring bersama dalam satu selimut di atas tempat tidur. Fira menenggelamkan wajahnya di dada bidang Bara.
"Fira," panggil Bara pelan.
Fira mendongakkan kepalanya, melihat ke arah wajah suaminya.
"Kau tahu? tubuhmu semakin hari semakin sexy loh," bisik Bara, tersenyum miring.
"Dan sekarang tubuhmu, terlihat lebih berisi," ucapnya pelan.
"Kau mengatai aku gendut!" ucap Fira, mengerucutkan bibirnya.
"Tidak, kau tidak gendut."
"Kau barusan bilang kalau sekarang aku jadi gendut!" seru Fira.
"Tidak Fira... aku tidak bilang kamu gendut. Aku hanya bilang kalau tubuhmu sekarang semakin berisi," ujar Bara, menjelaskan.
"Sama saja, itu artinya kau mengatai aku gendut!" Fira mengerucutkan bibirnya. Kemudian membalikkan badannya membelakangi Bara.
Bara di buat bingung dengan tingkah istrinya itu. "Kenapa jadi seperti ini," gumam Bara, sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu.
Bara mencoba merayu Fira, agar tidak marah padanya.
"Sayang, aku tidak bilang kamu gendut. Malah sekarang tubuhmu jauh lebih bagus, dan lebih sexy," bisik Bara, di dekat daun telinga Fira.
"Sayang?" batin Fira, tersenyum malu mendengar kata sayang yang di ucapkan Bara untuk pertama kalinya.
Fira membalikkan tubuhnya, menghadap Bara. Dengan senyuman lebar Bara menatap wajah cantik istrinya itu.
"Kau tadi memanggilku sayang?" tanya Fira seakan malu.
"Benar, memangnya kenapa kau tak suka?"
"Tidak, aku s ... suka sekali," ucap Fira, sambil memeluk Bara.
"Huft... mood nya mudah berubah sekali. Aku harus lebih berhati-hati padanya," batin Bara, sedikit merasa lega. Saat mengetahui kalau istrinya sudah tidak marah lagi padanya.
"Sudah malam, ayo tidurlah," ucap Bara, sambil terus mengelus-elus kepala Fira dengan lembut. Namun ia tak mendapat respons apa pun dari istrinya itu.
"Sudah tidur ternyata," ucap Bara tersenyum, menatap wajah cantik Fira. Ia kembali menciumi wajah cantik istrinya itu dan mengeratkan pelukannya, hingga mereka terlelap tidur bersama.
Bersambung...
Hayooo udah baca sampe sini, jangan lupa like, komen dan vote nya ya... 😊
__ADS_1
Love you readers ku😘