
Setelah mendapat telepon dari Gerry, Damas yang merasa tidak tenang, ia langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju apartemen Dinda.
"Sialan!" umpatnya ketika mendapati lampu merah. Ia sejenak harus menghentikan mobilnya terlebih dahulu.
Sambil menunggu lampu hijau menyala, ia memutuskan untuk menelepon Dinda terlebih dahulu untuk bertanya apakah keadaannya baik-baik saja, atau tidak.
Namun sialnya, nomor ponsel Dinda tidak aktif. "Ke mana dia ini, kenapa ponselnya tidak aktif," gerutu Damas.
Ia pun kembali fokus memerhatikan jalanan, dan saat lampu hijau sudah menyala, ia pun langsung menginjak pedal gasnya dengan kencang.
^
Sesampainya di sana, Damas langsung masuk ke dalam lift menuju unit apartemen Dinda. Dan begitu lift terbuka, sampai dilantai gedung yang dituju, ia langsung melangkahkan kaki panjang nya itu menyusuri lorong apartemen. Dan karena ia sudah tahu pin pintu apartemennya, Damas langsung masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
Dan betapa terkejutnya Damas begitu mendapati Dinda yang tengah berdiri di ambang pintu menuju balkon sambil menatap kosong ke arahnya, dengan sebilah pisau tajam yang ada di tangannya.
Kedua mata Damas membulat dengan sempurna. "Dinda apa yang kamu lakukan," ucapnya berjalan mendekati Dinda.
"Berhenti! Jangan mendekat!" seru Dinda, dengan mata yang memerah, sedikit bengkak seperti habis menangis.
Damas pun terhenti begitu mendengar seruan Dinda, terlebih ia terhenti begitu Dinda mengasongkan pisau itu padanya sambil menatap tajam.
"Dinda! Lepaskan pisau itu sekarang juga!" seru Damas, sambil tetap tegas mengawasi kedua sorot mata Dinda. Namun Dina tak mengaraukannya, air matanya kini kembali berjatuhan membasahi kedua pipi tirusnya itu.
"Tidak! Aku tidak mau!" teriak Dinda.
Damas kembali melangkahkan kakinya mencoba mendekati Dina, namun Dinda lagi-lagi berteriak padanya
"Jangan mendekat! Atau pisau ini akan membunuhku dan juga anak yang ada di dalam kandunganku ini!" ancam Dinda. Sebilah pisau itu ia dekatkan ke pergelangan tangan kirinya, dengan tangan yang bergetar hebat. Karena ini adalah sebuah tindakan paling nekat yang ia lakukan.
__ADS_1
"Oke, oke aku tidak akan mendekat. Tapi, please ... lepaskan pisau itu Dinda," ujar Damas begitu lembut, berharap Dinda akan menurutinya.
"Aku capek Mas," ucapnya parau, dengan tatapan mata yang mulai kuyu.
"Aku capek terus bersembunyi, aku capek menahan segala pedih sendirian, aku capek Mas! Aku capek menderita seperti ini!" teriaknya frustrasi, penuh emosi antara marah dan sedih. Air matanya pun semakin berhamburan membasahi pipinya itu.
"Dinda tenanglah ... ayo kita bicarakan semua ini baik-baik," bujuk Damas, sambil selangkah mencoba mendekat.
"Orang tuaku, saudaraku, kamu! ... Semuanya tak ada yang menginginkan kehadiranku!" seru Dinda, dengan isakan tangis yang mulai memberat.
"Dinda, jangan berbicara seperti itu Sayang. Aku ... aku tetap menginginkanmu, ayo lepaskan pisau itu Sayang," ucap Damas begitu pelan, mencoba membujuk. Kedua tangannya mencoba meraih lengan Dinda, namun Dinda malah semakin memundurkan langkahnya keluar, memijak lantai balkon.
Hati Damas seakan tak karuan, ketika melihat wanita yang ia cintai, bisa senekat itu, bahkan ini baru pertama kalinya Damas melihat Dinda yang sebegitu menyedihkan, ia juga dapat melihat betapa frustrasinya Dinda dengan kehidupan yang tengah ia jalani sekarang.
"Dinda, aku mencintaimu, aku menyayangimu, jangan kau bertindak seperti ini Dinda. Ingatlah anak kita di dalam rahimmu itu," ujar Damas, masih mencoba membujuk, hatinya semakin tak karuan, melihat air mata wanita yang dicintainya, terus keluar dari kedua bola mata berwarna cokelat itu.
Sebenarnya Damas, begitu menyayangi Dinda, jika ia bisa memilih mungkin ia akan memilih Dinda dari pada Selly, namun karena tekanan batin yang ia alami selama ini, Damas pun sebisa mungkin harus bisa menyayangi Selly, sebagaimana yang di harapkan oleh kedua orang tuanya.
"Dinda, percayalah... jika aku bisa memilih, aku akan memilihmu dan anak kita ini," ucap Damas sambil terus waspada akan pergerakan Dinda.
"Hah?" Kedua mata Dinda menatap layu. Sambil tersenyum getir seolah tak percaya. "Benarkah? ... Kalau begitu nikahi aku Mas!" pintanya, Damas pun hanya terdiam, tak bisa menjawab permintaan dari kekasihnya itu.
"Lihatlah, diammu itu sudah menjawab semuanya, ucapanmu itu hanya omong kosong Mas!" sambung Dinda, sambil membuang muka. Lalu membalikkan badannya membelakangi Damas. Hatinya seakan kembali sakit dan perih, bagai di sayat-sayat oleh silet tajam. Ia memejamkan kedua matanya, sambil mengatur nafasnya, yang semakin terasa begitu berat. Buliran air di kedua ujung matanya kian tak tertahankan. Semakin basah, membasahi pipinya.
Dan ketika Dinda berbalik itulah, Damas langsung bertindak, merebut pisau yang ada di tangan Dinda lalu membuangnya ke sembarang arah. Dan menyeret Dinda agar masuk ke ruang tengah.
Dinda terus memberontak dan berteriak minta dilepaskan. Namun sekuat tenaga Damas terus memeluknya, mendekapnya ke dalam tubuh kekarnya itu.
"Lepaskan aku Mas, lepaskan!" teriaknya, tangisannya kembali memecah seisi ruangan dengan ringisan sakitnya.
__ADS_1
"Dinda tenanglah, kau jangan seperti ini. Aku juga tak menginginkan semua ini, tapi aku tak bisa memilih Dinda," tutur Damas, sambil terus memeluk erat tubuh Dinda, yang sedang menangis sesenggukan.
"Kau tak pernah menginginkanku Mas, pergilah, dan nikahi wanita yang bernama Selly itu. Pergi ...." Isakan tangisnya semakin memberat dan semakin pecah tak tertahankan. Tenaganya seakan hilang, tubuhnya mulai terasa begitu lemas, dan hatinya kembali luluh, begitu ia berada dalam dekapan hangat lelaki yang dicintainya itu.
"Menangislah Dinda, menangislah ... maafkan aku Dinda maafkan. Aku sangat mencintaimu," ucap Damas sambil mencium pucuk kepala Dinda. Dengan kedua tangannya yang terus mengelus-elus punggung Dinda, mencoba menenangkannya. Dinda hanya bisa membenamkan wajahnya itu dada bidang kekasihnya itu, ia benar-benar merasa tak mempunyai harapan lebih, selain harapan dari cintanya Damas.
Hening .... hanya ada suara tangis sengguk dari Dinda yang terdengat.
Namun, tanpa disangka, tiba-tiba, suara seorang perempuan terdengar begitu jelas memanggil nama Damas.
"Mas Damas," panggil Selly tak percaya, dengan ujung suara yang tercekat seakan berat. Ia begitu tak percaya, atas apa yang baru saja ia lihat di depan matanya sendiri.
Sontak Dinda dan Damas saling menjauhkan tubuhnya, ketika mendengar suara yang tak asing di telinga mereka berdua.
Mereka begitu terkesiap saat mendapati Selly yang kini sudah berdiri di ambang pintu unit apartemennya.
"Selly," ucap Damas pelan seakan tak bertenaga.
Hening ....
Dunia terasa di putar balikkan, seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya, Selly hanya bisa mematung, dan terdiam dalam beberapa menit setelah melihat semuanya.
"S-Selly, a-aku bisa menjelaskan semuanya," ucap Damas terbata.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung....
Geregetan gak haha?