Pernikahan Di Atas Kertas

Pernikahan Di Atas Kertas
Tumpahan Sup Panas


__ADS_3

Dokter Andre dan Bara, berdiri mengobrol di luar kamar.


"Tuan, lebih baik Anda beserta istri, tinggal dulu di sini untuk beberapa hari ke depan. Tak baik jika besok kalian pulang, dengan keadaan istri Anda yang masih lemah," tutur dokter Andre. Bara hanya menganggukkan kepalanya.


"Tapi dokter, apa keadaan bayi dan istri saya baik-baik saja?" tanya Bara kembali meyakinkan.


Dokter Andre menganggukkan kepalanya. "Iya ... Tapi, dilihat dari kondisi Nyonya Fira, kemungkinan kandungannya lemah. Jadi N jangan sampai Nyonya Fira kelelahan, dan jangan biarkan dia terlalu banyak bergerak."


Bara kembali menganggukkan kepalanya, menandai dirinya mengerti akan perkataan sang dokter.


"Dan ... untuk dua minggu ke depan, lebih baik jangan dulu berhubungan badan dengan istri Anda Tuan," ujar Dokter Andre. Bara seketika membulatkan matanya mendengar perkataan sang dokter.


"2 minggu? ... Kenapa lama sekali?" tanyanya spontan, memasang wajah polosnya.


"Ini demi kebaikan istri dan calon anak Anda Tuan," tutur dokter Andre, sambil menyiratkan sebuah senyuman. Bara menelan salivanya dengan berat. Entah apa yang akan terjadi, jika ia harus menahan hal itu selama dua minggu lamanya. Mungkin ini akan menjadi ujian baginya. Tapi tetap, bagaimanapun ia harus memikirkan kondisi Fira beserta calon anaknya itu.


Dokter Andre pun berpamitan untuk pulang. Dan Bara hendak mengantar dokter Andre ke depan, namun dokter Andre menolaknya, dan malah menyuruh Bara agar kembali menemani Fira.


^


"Kemarikan, biar aku membawanya ke kamar Fira," ucap Selly bersemangat, sambil mengambil nampan yang berisi semangkuk sup ayam buatan Merry.


"Hati-hati membawanya, sup nya masih panas," ucap Merry, sambil melepas celemek yang menempel ditubuhnya.


Selly pun dengan berhati-hati melangkahkan kakinya, hendak menaiki anak tangga. Namun, tiba-tiba.


Prak ....


Mangkuk sup yang dibawanya jatuh, dan menumpahkan semua isinya di atas l Bahkan pecahan dari mangkuk itu terlihat berserakan. Ia tak sengaja menabrak dokter Andre. Dan dokter Andre pun ia merasa bersalah, karena ia menuruni anak tangga sambil memainkan ponsel di tangannya. Sedangkah Selly ia tak melihat, karena terus fokus, memperhatikan keseimbangan nampan yang dibawanya.


"Ya ampun maaf, maaf," ucap dokter Andre begitu panik, tumpahan sup itu mengenai sebelah kaki Selly, sehingga membuatnya kesakitan karena menahan rasa panas dikakinya.


"Kakiku...." Teriak Selly, menahan sakit dan panas yang terasa menjalar ditubuhnya. Merry yang berada di dapur, sontak berlari menghampiri sahabatnya yang berteriak kesakitan itu.


"Ya ampun Selly! Kakimu." Merry membekap mulutnya dengan kedua telapak tangannya, ketika melihat kaki Selly yang sudah memerah, dan terlihat sedikit melepuh.


"Merry... kakiku sakit," rengek Selly memegang bahu tangga, dan ia sudah tak bisa menahan rasa sakitnya itu, hingga membuatnya menangis karena tak kuat akan rasa sakit, pedih dan panas di kakinya.


Dokter Andre pun menjatuhkan tas kerjanya begitu saja, ia tanpa segan memboyong tubuh Selly, dan membaringkannya di atas sofa, di ruang TV.

__ADS_1


Kedua mata wanita itu, kini sudah dipenuhi air mata. Dokter Andre pun, meminta Merry untuk mengambilkan tas kerjanya. Merry pun menurut, dan segera mengambilkan tas yang tergeletak di dekat tangga itu, kemudian memberikannya kepada dokter Andre.


Dokter Andre mengangkat kaki kanan Selly ke atas pangkuannya. Ia segera mengeringkan kaki Selly menggunakan sapu tangan bersih yang ada di tasnya. Ia juga membersihkan kaki Selly dengan sebotol air mineral yang ia ambil dari tasnya. Selly pun sedikit menjerit ketika dokter Andre membersihkan kakinya itu.


"Merry...." Selly terus merengek kesakitan, ia membenamkan wajahnya diperut Merry, yang berdiri di hadapannya.


Merry yang melihat, hanya bisa mengusap-usap kepala sahabatnya itu, mencoba menenangkannya.


Tak lama kemudian Dion datang, ia baru saja pulang dari rumah Pak Dori. Dion segera menghampiri mereka yang sedang berkumpul di ruang TV. Mendengar suara tangisan dari Selly, membuat lelaki ini penasaran atas apa yang terjadi.


"Ada apa?" tanya Dion kepada Merry.


"Kaki Selly terkena tumpahan sup panas," jawab Merry. Seketika Dion, melihat ke arah kaki Selly yang tengah ada di pangkuan sang dokter.


"Maafkan saya Nona, saya benar-benar tidak sengaja," ucap Andre, merasa cemas dan bersalah, sambil membalutkan perban di kaki Selly. Selly tak menjawab, ia masih membenamkan wajahnya di perut Merry. Namun kini tangisannya sudah mulai berhenti.


"Nona, maafkan saya Nona," ucap Andre, benar-benar tidak enak hati.


"Apa lukanya begitu parah?" tanya Dion, tiba-tiba.


Andre seketika menoleh ke arah Dion. Ia menggelengkan kepalanya pelan, sambil membenarkan kaca mata yang dipakainya.


Ia pun segera mengambil satu botol obat parasetamol. Dan memberikannya kepada Selly.


"Nona, untuk 3 hari ke depan minumlah ini, agar mengurangi rasa sakitnya." Selly pun akhirnya menoleh dan menjauhkan wajahnya dari perut Merry, ia segera mengambil alih obat itu dari tangan dokter.


"Nona maafkan saya, saya janji akan bertanggung jawab untuk semua ini," ucap Andre.


"Iya tidak apa-apa," lirih Selly, yang masih sesenggukan.


"Besok saya akan kemari lagi, untuk mengecek keadaan Nona," tutur Andre. Selly hanya menganggukkan kepalanya.


"Merry ... aku mau ke kamar," pintanya, dengan suara parau. Merry pun mengiyakannya, ia mencoba membantu Selly untuk berdiri, namun sepertinya Selly masih merasa kesakitan.


Dion pun hendak membantu Selly untuk berdiri, namun terlebih dahulu dokter Andre yang membantunya.


"Biarkan saya membawanya," ujar Andre, meminta Merry menjauhkan tubuhnya dari Selly. Namun Selly menolak, ia tak mau dipangku untuk kedua kalinya, oleh dokter itu. Namun dokter Andre bersikeras, dan memberitahu Selly, kalau ini adalah salah satu upayanya dalam mempertanggung jawabkan kecerobohannya. Akhirnya dokter Andre pun memboyong Selly ke lantai atas menuju kamar Selly dengan langkah yang begitu hati-hati.


Sedangkan Merry dan Dion, mereka hanya memperhatikan punggung sang dokter, yang mulai menjauh dari pandangannya. Dan seketika keduanya saling menengok, sejenak saling tatap, sebelum keduanya kembali membuang muka.

__ADS_1


Merry pun dengan langkah cepat pergi ke dapur untuk mengambil kain pel dan kantung sampah. Ia kemudian segera membersihkan sup tumpah dan pecahan mangkuk yang berserakan di bawah tangga.


Namun ketika Merry hendak mengambil pecahan mangkuk itu, tiba-tiba sebuah tangan menahannya. Tangan itu tak lain, ialah tangan Dion. Kedua sejenak saling beradu pandang. Namun Merry dengan cepat mengakhiri pandangannya itu.


"Jangan langsung menyentuhnya nanti tanganmu bisa terluka, gunakan ini! " seru Dion, memberikan sebuah alat pembersih pecahan beling. Merry pun menganggukkan kepalanya dan segera mengambil alih barang itu dari tangan Dion.


"Terima kasih," ucapnya pelan, namun masih terdengar di telinga Dion.


"Apa kau butuh bantuanku?" tawar Dion. Merry menganggukkan kepalanya, namun seketika ia sadar, dan kembali menggelengkan kepalanya.


Dion yang melihatnya, ia sedikit mengerutkan keningnya.


"Butuh atau tidak?" tanyanya, memperjelas, dengan nada suara yang lebih tinggi.


"T-tidak, aku bisa melakukannya sendiri," ucap Merry, sedikit terbata.


"Huh, tidak perlu berteriak seperti itu juga kali! Aku juga tidak budek!" gerutu Merry di dalam hati.


"Aneh! Tadi mengangguk, terus langsung menggeleng," gumam Dion, kemudian segera berlalu untuk memastikan keadaan Selly di kamar.


.


.


.


Bersambung.


Udah hari sabtu nih, jangan lupa dukungannya ya buat author, vote yang banyak biar author semangat lanjutin ceritanya.


*


*


*


Author juga mau ngasih tahu, buat kalian yang baca novel author 'Pernikahan Aisyah' author lanjutin ceritanya di apk ****** ya temen-teman buat yang mau lanjutin baca ceritanya, cek aja di aplikasi ****** gratis baca kok.


Follow juga ig aku @dela_delia25

__ADS_1


Salam sayang buat pembaca semuanya.


__ADS_2