Pernikahan Di Atas Kertas

Pernikahan Di Atas Kertas
Selalu Saja Merepotkan


__ADS_3

Malam harinya mereka pulang kembali ke rumah ayah Alex. Di sepanjang perjalanan Fira dan Bara masih belum berbaikan. Bara yang fokus melajukan mobil dengan hati yang masih menggerutu berharap Fira akan memulai terlebih dahulu percakapan di antara mereka, namun sampai saat ini pun Fira masih duduk terdiam mengamati jalanan yang dilewatinya.


"Apa harus selama ini Mas Bara marah padaku?" gumam Fira dalam hati. Berharap Bara akan mengajaknya berbicara terlebih dahulu.


Namun sepertinya ego di antara mereka masih begitu tinggi, hingga tak ada yang mengalah terlebih dahulu. Bahkan keadaan di dalam mobil pun semakin terasa sunyi karena Bima dan Ayah yang duduk di kursi belakang masing-masing sudah tertidur pulas.


Kini mereka semua sudah sampai di rumah. Bara membantu Fira untuk menaiki tangga menuju kamar mereka.


"Mas," panggil Fira yang masih berjalanan beriringan. Namun Bara sepertinya masih enggan untuk berbicara dengan Fira. Hingga sampailah mereka di kamar.


Bara segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri, sementara Fira ia duduk di tepi ranjang, sambil menunggu Bara keluar.


"Kali ini Mas Bara benar-benar marah padaku," gumamnya, sambil merenung. "Tapi aku kan hanya mengobrol saja dengan Kak Robby, kenapa harus semarah ini sih!" gerutunya.


Tak lama Bara pun keluar dari kamar mandi menghampiri Fira namun masih tak menegurnya.


"Mas, kamu sudah selesai?" tanya Fira, Bara hanya menganggukkan kepalanya, sambil sibuk mengeringkan rambutnya yang basah itu menggunakan handuk kecil.


Fira pun mendengus pelan. Kemudian segera berlalu menuju kamar mandi.


"Aku ajak bicara pun masih tidak menanggapi." Fira masih merasa begitu kesal akan sikap Bara hari ini padanya. Kemudian ia pun bergegas untuk mandi.


Sementara Bara, kini ia disibukkan dengan ponselnya, memeriksa beberapa email masuk yang dikirimkan Dion hari ini.


Sambil fokus mengotak-atik ponselnya, sesekali Bara melihat ke arah pintu kamar mandi yang masih tertutup itu.


"Kenapa dia lama sekali," gumam Bara, mulai heran.


Tapi, tak lama kemudian Fira keluar dari kamar mandi. Fira berjalan pelan, dan mulai merangkak ke atas tempat tidur. Sejenak ia memperhatikan Bara yang masih sibuk dengan ponsel di tangannya.


"Mas, apa kau sibuk?" tanya Fira yang sudah tidak tahan dengan sikap Bara.


"Hm...."


Fira pun merengut. "Astagfirullah, harus ku apakan orang semacam ini! Ingin rasanya aku cakar mulutnya yang pelit berbicara itu!" gerutu Fira dalam hati.


Akhirnya Fira pun memilih untuk tidur terlebih dahulu dan membelakangi Bara.

__ADS_1


Sejenak ekor mata Bara memperhatikan gerak-gerik tubuh istrinya itu. "Dia ini, memang tak bisa mengertikanku. Apa harus bersikap seperti ini kepada seorang suami. Tidur pun memunggungi," gerutu Bara dalam hati.


Sepertinya bukan masalah cemburu atau salah paham lagi . Tapi masalah diantara merka berdua ada pada keegoisan masing-masing.


Akhirnya Bara pun memilih untuk tidur, dan ikut memunggung istrinya.


"Mas Bara benar-benar sudah tak memedulikan aku," batin Fira. Entah kenapa hatinya terasa begitu sesak. Karena ia tak biasa jika tertidur dengan keaadaan yang masih muram begini.


Fira pun membalikkan badannya. Dan benar saja, ia mendapati Bara yang tidur memunggunginya. Fira pun menarik nafasnya begitu panjang. Sedikit rasa kecewa tersirat di dalam hatinya.


"Mas, apa kau sudah tidur?" tanya Fira. Namun tak ada sahutan dari Bara.


"Mas, apa kamu masih marah padaku?" Fira memegang pelan sebelah pundak Bara.


Bara semakin memejamkan matanya, ia sebenarnya tak tahan bersikap seperti ini pada Fira. Tapi entah kenapa hari ini ia merasa begitu sangat kesal pada istrinta itu.


"Mas, maafkan aku," lirih Fira begitu pelan, perlahan ia menggeser tubuhnya mendekati Bara.


Memeluknya dari belakang. Dan jelas hal itu membuat Bara semakin tak tega membiarkan istrinya begitu saja.


Bara menghembuskan nafasnya dengan kasar, sambil memejamkan kedua matanya cukup lama. Akhirnya ia pun berbalik menghadap Fira.


"Tidurlah." Bara merangkul, dan memeluk Fira dengan begitu erat, menenggelamkan wajah istrinya di dada bidangnya.


Rasanya Fira sudah tak bisa membendung air matanya lagi. "Maafkan aku Mas," lirih Fira, dengan suaranya yang mulai memberat.


Bara mengangkat dagu Fira, memperhatikan dengan saksama kedua sudut mata Fira yang sudah basah.


"Sayang, jangan menangis." Bara menghapus sisa air mata Fira dengan sebelah ibu jarinya.


"Aku salah, aku minta maaf Mas," ucap Fira, kembali menitikkan air matanya. Entah kenapa, rasanya ia begitu tak tahan jika melihat sikap Bara yang dingin kepadanya.


"Sayang, sudah jangan menangis lagi. Aku tak bisa jika melihatmu menangis seperti ini," tutur Bara, sambil memandangi wajah Fira, yang terlihat begitu sendu.


"Sudah, ayo tidur." Bara kembali mengeratkan pelukannya sambil menghujani wajah Fira dengan ciuman.


"Apa kamu sudah tidak marah lagi padaku?" tanya Fira. Bara menatapnya begitu lekat. Dan ... cup, satu ciuman mendarat di bibir Fira, menahannya cukup begitu lama.

__ADS_1


"Aku tidak marah, aku hanya kesal saja. Tapi, sekarang sudah tidak lagi. Maafkan aku juga," ucap Bara, sambil memandangi Fira. Fira pun menganggukkan kepalanya sambil mengulaskan senyumannya, dan ikut mengeratkan pelukannya dengan Bara.


Beberapa menit berlalu ....


"Mas," panggil Fira kembali, yang sedari tadi masih terjaga.


"Hm...." Bara menyahut tanpa membuka matanya, karena ia sudah begitu mengantuk.


"Aku lapar," rengeknya.


"Mau makan apa?" tanya Bara, yang masih terpejam.


"Em... aku, mau rujak mangga," ucapnya spontan.


"Sudah malam, tidak ada yang jualan rujak malam-malam begini. Yang lain saja!"


Fira sedikit mengerutkan bibirnya. "Ya sudah kalau begitu aku mau sop buah," ucapnya dengan semangat, sambil membayangkan.


"Tidak baik malam-malam begini makan sop buah, apalagi dingin-dingin," protes Bara, yang masih terpejam tak membuka matanya.


"Yah!" Fira berdecak kesal, "kalau begitu, aku mau bakso saja ya."


"Ini sudah malam Fira, tidak ada yang berjualan bakso," ucap Bara, yang terus menerus memprotes setiap permintaan Bara.


"Terus aku harus makan apa! Dari tadi di protes terus!" gerutu Fira begitu kesal.


"Ya sudah, kau akan ke bawah saja mencari makanan." Fira pun bangun dan segera turun dari tempat tidurnya. Sontak membuat Bara ikut terbangun, dan membuntuti istrinya itu dari belakang.


"Haih, selalu saja merepotkan di tengah malam begini," gerutu Bara, "coba saja aku punya kantong doraemon, tak perlu repot-repot seperti ini," sambungnya, sambil membantu Fira memotong buah di dapur.


.


.


.


"Eh, yang baca dari kemarin cuma baca doang, like dan vote dong, jangan cuma baca doang," ujar Bara kepada pembaca setianya.

__ADS_1


Wah Mas Bara-nya ngambek tuh mau di vote yang banyak katanya. Wkwkwk


__ADS_2