
Hari ini adalah tepat hari dimana Bara akan mengajar Fira dan Raina untuk bertemu. Bara ingin segera menyelesaikan semuanya, sebelum terjadi salah paham di anatara mereka semua. Tak lupa Bara juga mengajak Dion, sebagai saksi disana. Dan ditakutkan jika ada sesuatu yang tidak di percayai oleh Fira maupun Raina, Dion akan ikut bantu berbicara.
"Apa kau sudah siap?" tanya Bara, sambil memeluk Fira dari belakang. Fira melihat pantulan dirinya dan Bara, di cermin. Dan menganggukkan kepalanya.
"Iya Mas, aku sudah siap," ucap Fira. Membalikkan badannya berhadapan dengan Bara. Bara tersenyum menatap wajah cantik sang istri.
"Kau sangat cantik sekali,” goda Bara, sambil mencubit dagu Fira dengan gemas.
“Ya sudah, ayo." Mereka keluar dari kamar, dan segera berlalu untuk pergi menemui Raina.
^
Di dalam mobil.
"Dion, apa kau sudah sampai disana?" tanya Bara, yang sedang melakukan panggilan suara via ponsel bersama Dion.
"Sudah, aku juga sudah menyiapkan semuanya, termasuk dokumen yang kau maksud itu," suara Dion dibalik ponsel.
Bara tersenyum mendengarnya, "Baiklah, sebentar lagi aku dan Fira, akan sampai disana," ucap Bara. Mereka pun segera mengakhiri obrolan mereka. Dan sama-sama menutup ponsel mereka.
Bara sejenak memperhatikan Fira, melirik nya berkali-kali. Namun pandangan yang dilihat tetap sama. Fira terlihat melamun, dan sejak dari tadi, dia hanya diam saja, tak berkata apa-apa.
"Fira...." panggil Bara, dengan suara lembutnya, membuat Fira menoleh ke arahnya.
"Ada apa denganmu? Kenapa kau diam saja?" tanya Bara.
"Em, ... tidak Mas, aku tidak apa-apa, hanya memperhatikan jalanan saja," ucapnya tersenyum.
"Kau tidak perlu khawatir, jangan gugup jika bertemu dengannya." Sebelah lengan Bara menggenggam tangan Fira.
"Hm, iya Mas."
"Jika nanti bertemu dengannya, ingatlah, jangan kasihan padanya. Dukung aku sebagai suamimu, agar aku bisa benar-benar meninggalkannya," tutur Bara. Fira kembali menganggukkan kepalanya.
Hati Fira masih dikuasai oleh perasaan cemas dan waswas, ada ketakutan yang ia rasakan, tapi entah rasa takut apa itu.
"Mas, apa kau benar-benar akan meninggalkannya?" tanya Fira. Bara menganggukkan kepalanya dengan semangat.
"Tentu saja, apalagi jika kau mendukungku, aku akan benar-benar meninggalkannya," jelas Bara.
"Meskipun kau mencintainya?"
"Fira... aku sudah tidak mencintainya lagi."
"Tapi, ... jika nanti kalian bertemu, dan rasa di antara kalian hadir kembali, apa kau akan tetap teguh dengan keputusanmu sebelumnya?" tanya Fira, dengan mata yang berkaca-kaca.
Tiba-tiba Bara menepikan mobilnya ke pinggir jalan.
"Mas, kenapa berhenti di sini?" tanya Fira, sambil celingak-celinguk melihat ke sekitar.
"Fira, lihat aku," ucap Bara serius, menarik wajah Fira, agar menatapnya.
"Kutanya padamu? apa kau rela jika aku kembali padanya?" tanya Bara, menatap lekat kedua bola mata Fira. Fira hanya diam, tak bergeming sama sekali.
"Kau ingin aku kembali padanya? atau aku tetap bersamamu, menjadi suamimu, dan kita memperbaiki hubungan kita, agar lebih baik ke depannya. Kau menginginkan yang mana?" tanya Bara, berucap dengan cepat.
Mata Fira terlihat berkaca-kaca, "A-aku, serahkan semuanya padamu," ucap Fira, sambil menundukkan pandangannya.
__ADS_1
"Ya Allah, Fira..." Bara mengusap wajahnya kasar. Sejenak, ia menatap kosong ke arah jalanan.
"Fira jawab pertanyaanku, dengan jujur!"
"Kau sebenarnya ingin mempertahankan rumah tangga kita atau tidak?" tanya Bara, sambil memegang kedua tangan Fira.
Fira terdiam, dan perlahan ia menganggukkan kepalanya, sambil menunduk, tak berani menatap Bara.
"Lihat mataku!" seru Bara. Fira kini memberanikan diri untuk menatap kedua bola mata sang suami. Terpancar jelas, di kedua bola mata Bara, bahwa ia benar-benar teguh akan pendiriannya. Sudah terlihat jelas, tak ada keraguan di matanya.
"Kau mau kan, berjuang denganku?" tanya Bara. Fira menganggukkan kembali kepalanya.
"Kalau begitu, kumohon dukung aku. Aku tahu, kau wanita hebat, dan pemberani, maka dari itu, aku yakin, kau bisa melewati semua ini, bahkan mungkin untuk ke depannya, akan ada beberapa hal yang cukup sulit, yang harus kita lewati bersama." ucap Bara, sambil mengusap lembut pipi Fira.
“Aku sudah memilihmu, jadi kumohon kau harus mendukungku,” tutur Bara.
Senyuman merekah, tiba-tiba terpancar dari wajah Fira. Kini di dalam hatinya, ia sudah sangat percaya, bahwa suaminya akan benar-benar meninggalkan wanita itu. Dan tak hanya itu, kata-kata yang di ucapkan oleh Bara barusan, membuat semangatnya kembali meronta, agar ia tetap semangat mempertahankan hubungannya bersama Bara.
"Kemarilah," ucap Bara, melebarkan tangannya, dan segera memeluk Fira, menariknya masuk dalam dekapannya.
"Jangan pernah bertanya mengenai dia atau menyuruhku kembali bersamanya ya," ucap Bara, sambil memberikan ciuman di pucuk kepala Fira. Fira menganggukkan kepalanya, dan tersenyum senang.
Bara, melepaskan pelukannya dengan Fira. Dan kini mereka kembali melanjutkan perjalanan mereka menuju tempat yang di tuju.
***
Sementara itu di Restoran Lebanon.
Dion sudah menyiapkan semuanya, termasuk ruang VVIP yang sengaja ia pesan, di lantai 3 di restoran ini.
"Parah! Ini namanya bukan perjanjian dua belah pihak, tapi hanya satu pihak saja. Bagai simbiosis parasitisme,” gumam Dion, sambil terus membaca dokumen yang di pegangnya.
"Kasih sekali Fira, ditindas seperti ini oleh Bara. Tapi tenanglah, semua ini akan berakhir malam ini," ucap Dion, tersenyum. Kemudian ia segera menutup dokumen itu, dan merapikan kembali tempat duduk dan meja makan yang sudah di penuhi dengan berbagai macam makanan itu di atasnya.
Dion, menyimpan dulu dokumen itu di atas meja. Kemudian ia pergi, meninggalkan ruang VVIP itu, untuk buang air kecil ke toilet.
***
Raina sudah sampai di restoran yang di janjikan oleh Bara sebelumnya. Ia kembali melihat pesan yang di sampaikan oleh Bara, padanya.
[Temui aku nanti di Restoran Lebanon, jam 8 malam, di ruang VVIP lantai 3 no 12]
"Benar, ini restorannya," ucap Raina, ia segera turun dari mobilnya, dan menyuruh Pak sopir untuk menunggunya.
Raina berjalan menuju ruangan yang di maksud, dan kini sampai lah ia di ruangan VVIP no. 12.
Raina membuka pintu ruang itu, dan dilihatnya, semua makanan dan minuman sudah tersaji rapi, di atas meja. Ia juga melihat ada 4 kursi yang melingkari meja itu.
Raina masuk, dan segera menutup pintunya. Ia mendudukkan tubuhnya di salah satu kursi meja itu.
Kini matanya fokus melihat ke sebuah map dokumen berwarna biru muda, yang tergeletak di atas meja.
"Dokumen apa ini?" Raina meraih dokumen itu, dan segera membukanya.
"Perjanjian pernikahan?" gumamnya, saat membaca cover dari dokumen itu.
Raina kembali membuka lembaran kertas putih itu, dan betapa terkejutnya ia saat mengetahui, perjanjian itu ialah perjanjian pernikahan anatara Bara dan Fira.
__ADS_1
"Fira Alexander? ... Tunggu, apa Fira yang ditulis di sini adalah Nona Fira pemilik toko kue itu?" gumamnya bertanya sendirian.
Raina mengingat kembali, awal pertemuannya dengan Fira, dan tingkah laku aneh Bara saat ada di ulang tahunnya.
"Benar, Nona itu, ... dia istri Bara?"
"Bagaimana bisa?" tanyanya, terkejut sendiri.
Raina mengingat kembali, cincin berlian yang di pakai oleh Fira, dua hari yang lalu, saat mereka bertemu di restoran.
"Benar, berarti, cincin yang di pakai oleh Nona itu, adalah pemberian dari Bara." Raina memegang pelipis kepalanya, seperti orang pusing. Ia menggelengkan kepalanya perlahan. Raina terus membaca dokumen itu hingga akhir.
"Lalu, apa maksud dari dokumen ini? Di sini tertulis bahwa hubungan mereka hanya akan berjalan sampai 12 bulan saja, ... berarti kalau begitu, tak lama lagi mereka akan berpisah dong." Senyuman kemenangan tersirat di wajah cantiknya itu.
Di dalam hatinya, Raina merasa senang, karena mengetahui kontrak pernikahan di anatara mereka.
"Bara, Bara, kau ternyata benar-benar mencintaiku, kau bahkan sampai memperlihatkan perjanjian pernikahanmu padaku, kau benar-benar mencintaiku. Dan aku pun sangat mencintaimu.” seringai senyuman kembali tergambar di wajah Raina.
"Tapi tunggu, dimana Bara? kenapa ruangan ini tidak ada siapa-siapa." ucap Raina, melihat ke sekitar.
Tak lama kemudian pintu ruangan terbuka, dan terlihat Dion yang memasuki ruangan itu.
"Dion?" ucap Raina, sambil berdiri dari duduknya.
"Oh, kau sudah sampai," kata Dion, dengan wajah datarnya. Kemudian ia segera mendudukkan tubuhnya di salah satu bangku yang ada di situ.
"Kau! ... Kenapa kau ada di sini?" tanya Raina dengan wajah kesalnya.
"Aku di sini, karena aku sedang melaksakan tugasku," jawabnya simpel. Sambil duduk dengan gaya bersantai, dan sebelah kaki yang diangkat ke atas pahanya.
"Tugas? Tugas apa yang kau maksud?
“Diamlah! Jangan banyak bertanya seperti itu. Nanti kau akan tahu tugasku di sini sebagai apa,” jelas Dion.
“Lalu, di mana Bara?" tanya Raina, sambil menautkan kedua alisnya.
"Bara? ... Itu dia," tunjuk Dion ke arah pintu.
.
.
.
Bersambung.
Penasaran kan gimana lanjutannya?
Sabar ya... Dela lagi ngumpulin ide dulu. 😂
Jazakumullah khoiron katshiro, buat teman-teman yang sering like, komen dan vote. Author sangat senang sekali dalat dukungan dari kalian semua.
Dan jangan lupa, like, komen dan vote sebanyak-banyaknya ya... kalian kan baek-baek.
jangan kayak si Ferguso, yang pelit vote. 🤭
Author sayang kalian. Chalangheyooo ❤️
__ADS_1