
Setelah kejadian lamaran beberapa hari yang lalu, Dion dan Merry kerap terlihat sering bersama, bahkan hubungan di antara mereka kini terlihat lebih dekat. Meskipun masih seperti Tom and Jerry. Bertengkar karena masalah sepele.
"Apa sebaiknya kita beritahu Fira dan Bara saja sekarang, untuk acara pertunangan kita minggu depan?" tanya Dion, yang kini sedang duduk menikmati secangkir kopi bersama Merry, di tengah keramaian orang di kantin karena sedang jam istirahat kantor.
"Jangan sekarang nanti saja, biar aku yang berbicara kepada mereka."
"Loh kenapa? Apa bedanya sekarang dan nanti?"
"Aku belum siap Dion!" seru Merry sambil mencebikkan bibirnya.
Kini mata Dion menangkap dua orang yang dikenalnya sedang berjalan menghampirinya.
"Hey, Merry, Kak Dion," sapa Fira yang baru saja mendaratkan tubuhnya di salah satu kursi yang ada di dekat Merry. Merry pun seketika menoleh ke arah sahabatnya itu.
"Fira," sapa Merry kembali. Bara juga ikut mendaratkan tubuhnya di salah satu kursi dekat Dion.
"Aku punya kabar baik untukmu," ucap Fira begitu semangat.
"Apa?" tanya Merry penasaran.
"Selly, tadi mengabariku, bahwa besok dia akan kembali ke Jakarta."
"Benarkah?" Merry terlihat begitu antusias dan senang.
Fira menganggukkan kepalanya. “Iya... dan, aku juga ingin mengundangmu untuk acara syukuran rumahku nanti," ucap Fira begitu semangat.
"Syukuran rumah?" tanya Dion.
"Iya, nanti datang ya ke acara syukuran rumah baru. Lusa, pokonya kalian harus datang, nanti kita akan bikin acara bakar-bakar juga malamnya," ujar Bara.
Dion mengangguk mengiyakan. "Oh iya, ada yang mau aku bicarakan juga pada kalian," tutur Dion seketika membuat Merry menoleh padanya, sambil menajamkan kedua matanya.
"Aku dan Merry, minggu depan aka— ... argh." Merry secepat kilat menyuapkan satu potong kue green tea yang masih tersisa dari box kue yang sempat ia beli tadi.
"Dion!" ucapan Merry pelan namun penuh maksud sambil semakin menajamkan kedua matanya. Fira dan Bara sontak merasa aneh. Kenapa Merry terlihat seperti itu kepada Dion.
"Ada apa? Kenapa kau menyuapinya seperti itu Merry?" tanya Fira merasa heran dan penasaran.
"Hehe, bukan apa-apa, aku dan Dion nanti akan berangkat bersama ke acara syukuran rumah baru kalian, jangan hiraukan dia," tutur Merry dengan tak enak hati. Sedangkan Dion, ia hanya bisa menatap Merry dengan tatapan tak suka, sekaligus masih berusaha mengunyah kue yang membuat mulutnya terasa penuh, sehingga membuat ia kesulitan untuk berbicara.
"Aneh!" gumam Fira sambil menggelengkan kepalanya. Fira dan Bara pun segera berpamitan dan berlalu meninggalkan Merry dan Dion di meja makannya. Mereka kembali melanjutkan niatnya, berburu makanan di kantin.
"Hey! Kenapa kamu menyumpal mulutku dengan kue hah!" gerutu Dion, setelah berhasil menelan kue tadi.
"Aku kan sudah bilang, jangan memberitahu mereka sekarang!"
"Apa kau masih belum bisa menerima kenyataan di anatara kita?" tanya Dion dengan serius, bahkan raut wajahnya pun terlihat sedikit sendu.
"Apa sebegitunya ia tak ingin mengakuiku sebagai calon tunangannya?" gumam Dion dalam hati.
"Ah ya ampun, kenapa dia malah memasang wajah seperti itu, membuatku merasa bersalah saja," batin Merry yang kini masih saling pandang dengan Dion.
"Bukan begitu, a-aku-" ucapan Merry terhenti, ia harus mencari jawaban yang pas agar dirinya tak salah bicara.
"Apa? Kau mau menyembunyikan masalah kita terus menerus?" seru Dion.
Merry pun mendengus pelan. "Bukan! .... Kau tahu kan lusa akan ada acara di rumah Fira?" tanya Merry, Dion pun menganggukkan kepalanya.
"Nah, jadi... menurutku, akan lebih baik aku beritahu mereka nanti saja, di sana, sekalian aku juga ingin memberi tahu Selly dan Paman Alex," ucap Merry.
Dion mengangkat sebelah alisnya, kini raut wajahnya terlihat sedikit berubah, tak mendung seperti tadi.
"Baiklah, terserah kau saja," ucap Dion pasrah.
Merry pun melebarkan senyumannya, dan kini ia kembali menyodorkan satu potong kue berukuran kecil kepada Dion. "Makanlah ini, sebagai tanda permintaan maafan aku padamu, karena tadi aku sudah bersikap tidak sopan padamu," ucap Merry.
Dion sejenak menatap kue yang masih di pegang oleh Merry itu. Dan tiba-tiba ia membuka mulutnya dengan lebar, bersiap untuk memakan kue itu, dan berharap Merry yang akan menyuapinya.
"Makan sendiri!" seru Merry. Membuat Dion menutup mulutnya dan kembali menajamkan tatapannya pada Merry.
"Baiklah, akan aku suapi, ini makan!" gerutu Merry yang dengan terpaksa ia kembali menyuapi Dion menggunakan tangannya sendiri. Dan, nyam, Dion pun melahapnya dengan begitu semangat sambil menahan senyumnya, yang entah kenapa ia merasa begitu berbunga-bunga saat Merry menyuapinya.
__ADS_1
***
Esok harinya, Fira dan Lisa tengah bersiap untuk pergi ke supermarket, karena kebulan tadi malam Fira dan Bara menginap di rumah Papa Hito.
"Fira, kamu hati-hati ya, jangan terlalu kecapek-an, nanti kalau belanja di sana biar Lisa saja yang membawa barang belanjaannya," tutur Wina begitu khawatir kepada Fira.
Awalnya hanya Wina dan Lisa lah yang akan pergi berbelanja untuk persiapan acara syukuran besok, namun karena Wina dan Hito ada acara mendadak untuk bertemu tamu penting di luar kota hari ini, ia pun membatalkannya dan menyuruh Lisa untuk belanja sendiri, karena memang kebetulan Lisa pun sedang libur kuliah.
Namun, ketika Fira mengetahui itu, ia kekeh ingin menemani Lisa berbelanja, meskipun Bara sempat melarangnya, namun akhirnya Bara pun memperbolehkannya.
Fira pun tersenyum mengangguk. "Iya Ma, tenang aja, Mama jangan terlalu khawatir seperti itu."
"Iya Ma, aku juga pasti akan menjaga Kak Fira dan dua calon keponakanku ini. Jadi Mama tenang aja," timpal Lisa. Wina pun mengangguk mengiyakan, sambil mengelus dulu perut Fira yang sudah semakin membesar.
Kini Fira dan Lisa pun pergi ke supermarket diantar oleh Mang Dadang. Karena Bara sedang pergi kek luar kota sejak tadi pagi.
Selagi memilih berbagai macam daging sapi dan sosis untuk acara bakar-bakar besok malam. Lisa yang tengah mendorong troli pelan, sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling ia tak sengaja melihat dokter Andre yang sedang sibuk memilih makanan frozen.
"Kak Fira, lihatlah bukannya itu dokter yang di villa waktu itu ya," tunjuk Lisa ke arah dokter Andre yang masih sibuk memilih frozen Food.
Fira pun seketika mengalihkan perhatiannya ke arah dokter Andre. "Iya benar, itu dokter Andre. Tapi kenapa dia jauh-jauh belanja di sini ya?" gumam Fira heran.
Sambil berjalan santai, mereka pun menghampiri dokter Andre, yang memang Fira pun bertujuan untuk membeli frozen Food.
Sebelum Fira menyapa, ternyata dokter Andre yang terlebih dahulu menyapanya, saat dokter itu mendapati Fira dan Lisa yang jaraknya tak jauh darinya.
"Nyonya Fira, Dek Lisa," sapa Andre sambil melebarkan senyumannya.
"Oh, hai dokter Andre," sapa Fira dan Lisa bersamaan.
"Belanja ya?" tanya Andre. Fira pun mengangguk mengiyakan.
"Pak dokter belanja di sini juga?" tanya Fira. Dokter Andre pun mengiyakannya.
"Kenapa jauh sekali, belanja di sini?" tanya Lisa yang spontan, karena heran.
Dokter Andre pun terkekeh mendengar pertanyaan Lisa. "Iya, jadi saya sekarang tinggal di daerah sini, lebih tepatnya pindah tugas di rumah sakit Permata Bunda," tutur Andre menjelaskan.
"Haha, bukan."
"Pak Dokter sudah lama tugas di rumah sakit itu?" tanya Fira.
"Baru satu bulanan belum lama."
"Oh iya."
Kini kedua mata Andre menyorot troli yang di pegang oleh Lisa. Ia melihat begitu banyaknya makanan, terutama beef dan sosis.
"Banyak banget belanjaannya, buat stok ya?" tanya Andre.
"Bukan, ini mau ada acara di rumah besok malam. Acara bakar-bakar sama teman dan keluarga," jawab Fira.
"Oh... begitu ya pasti seru ya."
"Oh iya, kalo Pak dokter besok malam tidak ada acara, Pak dokter datanglah ke rumah saya, sekalian mau ada acara syukuran."
"Syukuran?"
"Iya, syukuran rumah baru Kak Fira," timpal Lisa.
"Oh begitu, ya, Insya Allah nanti saya datang. Eh, tapi saya kan gak tahu alamatnya," ujar Andre sambil tersenyum kikuk.
Fira pun memberi tahu alamat rumah barunya itu kepada Andre. Dan dokter Andre pun mengiyakan undangan dari Fira itu.
Fira sengaja mengundang dokter Andre, karena memang sudah menganggap dokter Andre sebagai temannya. Karena ia mengingat kembali kebaikan dokter Andre saat ia berada di villa waktu itu. Bahkan Bara sering merepotkan dokter itu, jika ada sesuatu yang ia takutkan akan keadaan Fira, pasti dengan cepatnya ia selalu mengabari dokter Andre, entah itu pagi, siang atau malam. Makanya ia mengundang dokter Andre juga.
***
Setelah selesai berbelanja, Fira mengajak Lisa untuk menemui Merry dan Selly terlebih dahulu di toko kuenya, sambil mengecek para pekerjanya, yang sudah lama tidak di awasinya. Karena kemarin saat mengetahui bahwa Selly akan kembali ke Jakarta, mereka bertiga pun membuat janji untuk bertemu.
"Fira..." teriak Selly, ketika Fira dan Lisa baru masuk ke toko kue. Selly dengan semangatnya menghampiri Fira dan memeluk sahabatnya itu begitu erat. Karena hampir sudah tiga bulan mereka tidak bertemu, sejak acara perpisahan waktu itu.
__ADS_1
"Eh... Jangan memeluk Kakakku seperti itu." Lisa segera menarik tubuh Selly agar menjauh dari Fira. Fira hanya terkekeh melihat perilaku adik iparnya itu.
"Apakah semua keluargamu memang seperti itu, kalo tidak Tuan Bara, sekarang adiknya yang melarangku untuk memeluk sahabatku sendiri," gerutu Selly sambil mencebikkan bibirnya.
"Haha, bukan seperti itu Kak Selly, aku hanya di amanati oleh mama dan kak Bara, agar aku menjaga Kak Fira seperti kak Bara menjaga istrinya. Harus protektif dan sigap," tutur Lisa sambil terkekeh.
"Iya lah iya lah... terserah kalian saja," ucap Merry menimpali, "ayo cepat kemari," sambung Merry mengajak mereka untuk segera duduk.
Mbak Siti dan Mbak Fenny pun ikut menyambut kehadiran Fira dengan semangat dan antusias. Karena sudah lama sekali mereka tidak bertatap muka dengan atasannya itu.
Fira pun menyuruh pegawainya untuk menghidangkan berbagai macam kue dan minuman untuk dirinya dan teman-temannya itu.
Suasana di anatara empat wanita ini terlihat begitu bahagia, dan heboh bahkan membuat seluruh ruangan toko berisik dengan suara-suara mereka yang asyik mengobrol sambil bercanda, hingga menimbulkan suara tawa yang begitu menggelegar.
"Eh, eh, tunggu. Sejak kapan Kak Selly suka memakai cincin dengan model seperti itu," ujar Lisa yang tanpa sengaja melihat sebuah cincin putih melingkar di jari manis kiri Selly.
Selly pun dengan cepat menyembunyikan tangannya di bawah meja. Namun di tarik kembali oleh Merry, yang ternyata ia juga bau sadar kalau Selly memakai cincin yang berbeda dari biasnya.
"Benar, sejak kapan kamu memakai cincin dengan model seperti ini? Seperti cincin tunangan saja," ujar Merry, sambil memperhatikan benda yang melingkar di jari sahabatnya itu.
"Selly ... apa perjodohan itu---" Fira tak melanjutkan ucapannya.
Selly pun menarik nafasnya pelan kemudian menghembuskannya. "Ya, seperti yang kalian tahu, kedua orang tuaku pasti selalu memaksakan kehendak mereka. Dan aku pun terpaksa menerima lamaran dari lelaki yang sama sekali tak aku sukai, bahkan sebelumnya aku pun tak mengenal dia," ucap Selly dengan menatap kosong ke arah meja.
"Apa! Jadi kamu udah tunangan Sell?" tanya Merry, tak percaya, sahabatnya bisa secepat itu. Bahkan di antara mereka tak ada yang mengetahuinya.
"Iya. Hm... sudahlah, semua sudah terjadi pula. Bahkan sekarang aku di kirim kembali ke Jakarta pun karena di suruh orang tuaku untuk bekerja di rumah sakit. Karena calon suamiku di pindah tugaskan di rumah sakit umum daerah sini, jadi aku pun harus ikut bekerja dengannya," ujar Selly.
"Loh... bukannya Kak Selly sarjana akuntansi ya? Kenapa kerja di rumah sakit?" tanya Lisa heran.
"Iya, aku kerja di rumah sakit tapi di bagian administrasinya juga sih."
"Oh..." Lisa, Fira dan Merry mengangguk bersamaan.
"Terus, apa cowok yang di jodohin sama lo ganteng?" tanya Merry, makin kepo.
"Anak ini! Yang selalu di tanyai pasti masalah gantengnya mulu!" Selly, mengacak rambut Merry dengan gemas. "Ya, ganteng sih... tapi sayang, bukan selera aku haha," sambungnya.
"Kalo di jodohin sama yang ganteng sih ya gak apa-apa," ujar Merry.
"Ya sudah kau saja yang menikah dengan calon suamiku ini," balas Selly.
"Ih amit-amit gak mau! Lagi pula aku juga udah punya calon tu–" Merry tak melanjutkan ucapannya, ia baru tersadar, ada yang salah akan kalimat ucapannya.
Dan dengan heboh, Fira, Selly dan Lisa bertanya. "Punya calon?" pekik mereka bertiga bersamaan.
"Wah... siapa nih calonnya?" Fira.
"Gila... gak nyangka akhirnya ada juga yang mau sama Lo!" Selly.
"Wah... Kak Merry akhirnya... siapa Kak calonnya, kasih tahu dong, kasih tahu!" Lisa.
"Ish... apaan sih, enggak aku gak ada calon," bantah Merry. Namun mereka tak mempercayainya, dan malah semakin menggoda Merry hingga membuat wanita itu dibuat salah tingkah oleh teman-temannya itu, bahkan kini wajahnya sudah merah padam akibat menahan malu.
"Ya ampun Merry... kenapa bisa keceplosan gini nih," gerutunya, merutuki kebodohannya sendiri, yang tak bisa menjaga bibirnya yang bocor itu.
.
.
.
Tinggal beberapa episode lagi nih.
Jangan lupa kasih dukungan like, komen dan vote yang banyak ya.
Mampir juga di karya baru author yang berjudul **My Annoying Wife
Follow juga ig author @dela.delia25
See you on the next chapter**.
__ADS_1