Pernikahan Di Atas Kertas

Pernikahan Di Atas Kertas
Perfect Marriage - Bab 34


__ADS_3

Selly pun segera pergi ke salah satu tempat makan yang masih buka di jam malam. Ia memesan beberapa lauk dan sayur. Setelah selesai membayar makanan yang dipesannya, Selly segera keluar dari restoran itu, sambil membawa satu kantung makanan, ia berniat untuk makan di villa saja, karena kalau makan di restoran, sebentar lagi restorannya akan tutup.


Selagi berjalan menyusuri jalanan berpasir itu, Selly merasa sedikit ketakutan karena perihal surat kaleng tadi. Bahkan suasana pantai pun terlihat begitu sepi, gazebo yang biasa di tongkrongi oleh para remaja, malam itu mendadak sepi tak seperti biasanya. Apa  mungkin karena malam Senin, jadi orang-orang sudah tertidur, karena bersiap untuk sekolah maupun bekerja pagi.


Selly pun baru teringat akan ponselnya yang sama sekali belum ia aktifkan sepulangnya tadi dari tour pantai.


"Ibu," gumamnya begitu ponselnya aktif dan menampilkan 7 panggilan tak terjawab dari ibunya.


Selagi fokus melangkah, tiba-tiba Selly merasa ada orang yang mengikutinya dari belakang. Sejenak ia menghentikan langahnya dan perlahan memutar kepalanya 90derajat.


"Hm, tidak ada siapa-siapa," gumam Selly, ia pun mencoba menenangkan diri agak tidak berpikiran yang macam-macam.


^


Sementara itu, Andre baru saja pulang dari apotek. Ia sengaja berjalan kaki karena memang jarak apotek dari rumahnya hanya bekisar 500meter saja. Ia membeli obat batuk untuk neneknya.


Selagi berjalan, matanya terfokus akan seorang lelaki yang berdiam diri di dekat pohon kelapa di persimpangan. Lelaki itu memakai jaket dan topi hitam, serta setengah wajahnya yang ditutup masker.


Awalnya Andre tidak curiga, tapi ketika ada seorang wanita yang melewatinya, lelaki itu pun berjala membuntuti wanita itu tepat 10 meter di belakangnya.


"Eh, siapa dia? ... Apa dia penguntit?" gumam Andre, ia pun mempercepat langkahnya agar tak kehilangan jejak dari lelaki dan perempuan tadi.


Andre berjalan tepat 20 meter di belakang lelaki itu. Andre semakin curiga dengan gerak-gerik lelaki itu. Apalagi saat wanita itu berhenti, dan menoleh ke belakang, lelaki yang berjaket hitam itu malah melimpir dan mengumpat dibalik pohon beringin yang ada di pinggir jalan.


"Wah ada yang gak beres nih." Akhirnya Andre pun mengikuti ke mana mereka pergi.


Andre terus saja mengikuti mereka dari kejauhan, perlahan Ande baru sadar bahwa jalan yang mereka lewati adalah jalan menuju Villa Mawar.


"Apa perempuan itu adalah anak pemilik Villa itu?" gumam Andre masih terus mengawasi.


^


Selly yang merasa tidak enak hati, dan merasa ada yang terus mengikutinya. Ia pun semakin mempercepat langkahnya, tak berani berhenti maupun menoleh ke belakang. Dan sesampainya di depan pintu Villa, ia langsung membuka kunci pintu lalu masuk dan dengan cepat ia menutup pintunya.

__ADS_1


Namun, malang... nasib baik tak bisa diraih. Ketika Selly hendak menutup pintu rumah itu, ada sebelah kaki dan tangan yang menahannya. Sontak membuat Selly terkejut sekaligus takut yang kian menjadi. Jantungnya berdebar begitu kencang. Ia berusaha menutup pintu itu dan mendorongnya lebih kuat agar bisa tertutup, tapi sayang... tenaganya tak cukup untuk melawan dia yang entah siapa berada di luar.


"Hallo Baby." Suara seorang lelaki berjaket hitam lengkap dengan topi hitam dan masker hitam yang menutupi mulut dan hidungnya.


Lelaki itu berhasil membuka pintu rumah itu. Berjalan masuk lalu ia pun perlahan menutup pintunya.


Selly memundurkan langkahnya. Ia semakin gemetar ketakutan.


"Siapa kamu!" Selly semakin memundurkan langkahnya perlahan demi perlahan, menjauhkan diri dari lelaki asing yang menakutkan itu.


"Aku siapa?" Lelaki itu menatap tajam ke arah Selly. "Namaku tidak penting bagimu. Yang pasti malam ini ... aku akan mengukir sebuah kenangan pahit untukmu," ujarnya dengan suara yang tegas dan menakutkan.


^


Sementara itu di luar Andre masih penasaran dengan sosok lelaki misterius yang mencurigakan tadi, tapi ... ia juga tak bisa untuk berprasangka buruk begitu saja.


"Hm... mungkin dia juga salah satu penghuni di vila itu," gumamnya. Andre pun melihat ke sekitar, keadaan yang cukup sunyi di tambah waktu yang sudah semakin larut.


Ia pun berniat untuk kembali lagi ke rumah. Jarak dari vila mawar ke pemukiman warga cukuplah jauh. "Sudahlah, sejauh ini pun tidak ada yang mencurigakan.


Sejenak melamun. Tapi iba-tiba ... terdengar suara benda yang seperti dibanting keras.


"Tolong...." Suara seorang wanita terdenga jelas di kedua telinga Andre.


Andre sejenak terdiam. "Suara itu ...."


^


"Jangan mendekat!" Selly menodongkan sebilah pisau di tangannya. Kini mereka berdua tepat berada di dapur. Tangannya masih gemetar hebat, jantungnya semakin berdetak kencang tak karuan. Aliran darah pun terasa kian memanas.


"Tenanglah... aku tidak macam-macam denganmu," ujar lelaki berjaket hitam itu.


"Kau manis juga ternyata." Lelaki itu melangkahkan kakinya kian mendekat kepada Selly.

__ADS_1


"Tidak kumohon jangan mendekat! Tolong...."


"Cup, cup, cup, jangan membuang tenagamu dengan berteriak seperti itu sayang." Lelaki itu semakin mendekat dan mendekat.


Selly mencoba memundurkan langkahnya, tapi langkahnya terhenti saat pinggulnya berhasil menyentuh meja. Ia benar-benar ketakutan tak bisa menjauh lagi dari pria itu, karena tubuhnya sudah mentok dengan meja.


"Jangan mendekatiku! Atau aku—" Belum sempat Selly menyelesaikan ucapannya, pria itu berhasil menjatuhkan sebilah pisau yang sedari tadi Selly todongkan padanya.


Lelaki itu mencengkeram kedua pergelangan tangan Selly. Mendekatinya, sambil mengendus wangi tubuh Selly.


Selly sudah tak bisa menahan air matanya, seketika itu pula air matanya memecah, membanjiri kedua pipinya. "Tuan, saya mohon jangan lukai saya Tuan." Selly terisak menangis ketakutan.


"Apa kau takut aku akan melukaimu?" tanya lelaki itu.


Selly hanya bisa meringkus diri, ketakutan. Lelaki itu pun kian mendekat kepada Selly. Perlahan-lahan, ia mencongkan tubuhnya mendekati Selly.


Dan Tanpa di duga, lelaki itu pun menarik paksa kerudung yang dikenakan Selly. Hingga kini rambut hitam yang dikuncir kuda itu terlihat dengan jelas keindahannya. Sontak hal itu membuat Selly semakin histeris berteriak meminta tolong. Ia begitu takut ... takut, kalau lelaki itu akan memperkosanya.


"Tuan saya mohon jangan sakiti saya." Selly benar-benar ketakutan.


Lelaki itu tersenyum miring, melihat Selly dengan penampilan seperti itu. "Ternyata kau lebih cantik jika terbuka seperti ini," ujar lelaki itu. Semakin mendekatkan wajahnya dengan wajah Selly.


Wajah mereka kini semakin dekat dan kian mendekat, bahkan deru nafas lelaki itu sudah terasa sampai ke wajah Selly. Tapi ....


Tiba-tiba ....


Bugh ....


.


.


.

__ADS_1


Bersambung.


Jangan lupa ramaikan kolom komentar dan likenya ya hehe, makasih.


__ADS_2