
"Raina," ucap Fira pelan. Raina seketika menoleh, ke arah sumber suara yang menyebutkan namanya.
"Fira," ucap Raina, pelan. Kini mereka berdua saling beradu pandang, menatap dengan tatapan yang tak bisa di artikan.
"K-kau, sedang apa di sini?" tanya Fira, begitu heran. Begitu pun Bima yang merasa heran melihat Fira dan wanita yang tak di kenalnya.
"Fira, a-aku ingin menemuimu dan Bara, a-aku–"
"Tahu apartemenku dari mana?" tanya Fira, memotong ucapan Raina.
"Tak sulit bagiku untuk menemukan alamat tempat tinggal kalian, tapi kau jangan salah sangka terlebih dahulu, a-aku kesini hanya ingin meminta maaf atas kejadian wa–"
"Ehem... untuk hal itu sepertinya tak perlu di bahas lagi," ucap Fira menghentikan ucapan Raina, ia juga sedikit mengalihkan ekor matanya ke arah Bima yang ada di sampingnya. Seakan memberi kode kepada Raina, agar tak membahas masalah itu. Karena Fira pun sedikit takut jika Bima mengetahui masalah ini.
"T-tapi Fira, semenjak kejadian waktu itu, aku–"
"Maaf Nona Raina, saya mau masuk terlebih dahulu, ada hal penting yang mau saya ambil di dalam ... permisi." Fira segera membuka pintu apartemennya, dan menyuruh Bima untuk menunggu bersama Raina, di luar ruangan. Tadinya Bima ingin sekali bisa melihat ke dalam ruangan apartemen kakaknya, tapi sepertinya kondisi saat ini tak memungkinkannya.
Sejenak Raina melirik ke arah Bima, ingin rasanya ia bertanya, namun Raina merasa segan. Begitu pun dengan Bima, yang sesekali melirik ke arah Raina.
"Siapa wanita ini? Apa hubungannya dengan Kak Fira? Kenapa Kak Fira terlihat tak menyukainya," tanya Bima dalam hati.
"Hai, apa kau saudaranya Nona Fira ya?" tanya Raina, memberanikan diri. Sejenak Bima menatapnya, kemudian ia menganggukkan kepalanya pelan.
"A-apa aku boleh bertanya sesuatu padamu?" tanya Raina, sedikit gugup.
"Bukankah, dari tadi Anda sudah bertanya," ucap Bima, dengan cuek.
"Huh, bocah ini, tidak sopan sekali!" gerutu Raina, di dalam hati.
Ceklek, pintu apartemen kembali terbuka. Sebelum Raina melontarkan pertanyaannya, Fira terlebih dahulu mengajak Bima untuk segera pergi ke tokonya kembali, menemui Selly dan Merry yang menantinya di sana.
"Fira, tunggu," ucap Raina, mempercepat langkah kakinya mengejar Fira.
"Fira," panggilnya lagi. Fira mendengus, dengan sedikit kesal ia menghentikan langkah kakinya, dan menyuruh Bima untuk menunggu di parkiran.
"Fira, tunggulah sebentar," ucapnya, mendekati Fira. Fira membalikkan badannya, berhadapan dengan Raina.
"Fira, dengarkan aku, a-aku ke sini tidak ada maksud apa-apa kecuali, hanya ingin meminta maaf atas kejadian waktu itu. Jujur sampai sekarang aku masih tidak tenang."
"Sudahlah Raina, tak perlu membahas hal yang sudah berlalu, aku pun sedikit mengerti akan perasaanmu waktu itu. Tapi ... cukup sampai di sini saja, jangan membahasnya lagi," tutur Fira.
"Tapi Fira, aku ... aku tidak enak hati kepada Bara, aku tahu aku dan nenek salah, karena sudah membohongi kalian dan menyuruh dokter untuk menahan Bara agar bersamaku," tutur Raina.
"Bohong? Kebohongan apa maksudmu, aku tidak mengerti," ucap Fira.
Raina sedikit tertegun, dan bingung. "Apa Bara tidak menceritakan kejadian terakhir saat di rumah sakit malam itu?" tanya Raina.
Fira terdiam, ia kembali mengingat kejadian waktu malam itu, dimana dirinya menangis karena Bara yang pergi kembali ke rumah sakit mencemaskan Raina. Namun Fira ingat betul, bahwa sesudah kejadian itu, Bara tak ingin membahas masalah mengenai Raina lagi.
"Sudahlah, Mas Bara bercerita ataupun tidak, itu tidak penting bagiku. Maaf, aku harus pergi," ucap Fira membalikkan badan hendak pergi. Namun tiba-tiba Raina menarik sebelah lengan Fira, hingga membuat Fira mengurungkan langkahnya.
"Fira, tolong aku, izinkan aku untuk bertemu dengan Bara," lirihnya.
"Aku janji, setelah aku benar-benar bertemu dan meminta maaf padanya, aku akan pergi," sambungnya.
"Lagi pula, sebentar lagi aku akan pergi ke Amerika, tapi sebelum itu aku mohon Fira, bantu aku agar bisa bertemu dengan Bara untuk terakhir kalinya," ucap Raina, memohon. Bahkan kini kedua matanya sudah terlihat berkaca-kaca.
"Maaf Raina, untuk sekarang a-aku tidak bisa. Aku harus pergi, teman-temanku pasti suda menunggu lama," ucap Fira, segera berlalu meninggalkan Raina.
Raina mematung sendirian, melihat kepergian Fira, yang mulai masuk ke dalam lift. Ia menarik nafasnya begitu dalam, setitik air mata lolos dari matanya, ia segera menyeka air matanya itu dengan punggung telunjuk tangannya.
__ADS_1
"Tuhan... kenapa harus sesulit ini untuk melupakannya."
"Dia sudah berbahagia dengan istrinya, please jangan biarkan hatiku terus terpaku padanya Tuhan...." Raina, menggenggam erat tas yang di jinjingnya, ia pun segera berlalu untuk pulang.
***
Kini Fira, Merry dan Selly sudah berada di kampus, mereka datang menggunakan taksi. Dan mereka pun segera menemui dosen pembimbing mereka yaitu Pak Reza.
"Pak, kami mau menyerahkan skripsi revisi kami," ucap Selly, mewakili Fira dan Merry.
Reza segera mengambil alih, skripsi mereka yang di satukan dalam satu file yang sama. Dan menyimpannya di atas meja kerjanya.
"Baiklah, terima kasih. Sekarang kalian tinggal menunggu wisuda saja," ucap Reza, melebarkan senyuman tulusnya.
Fira, Selly dan Merry pun berpamitan, dan segera keluar dari ruang dosen. Dengan raut wajah yang begitu gembira, mereka terlihat seakan-akan telah melepaskan beban berat di pundak mereka yang tersimpan selama 4 semester.
"Huft... lega sekali rasanya. Akhirnya aku ... bebas!" Merry merentangkan kedua tangannya ke atas, seakan begitu lega.
"Eh-eh-eh, teman-teman, gimana kalau sebelum wisuda, kita berlibur bersama," usul Selly, melebarkan kedua matanya, menatap Fira dan Merry secara bergantian..
"Liburan? Ayo, aku ikut, aku ikut," ucap Fira dengan semangat.
"Aku juga!" timpal Merry.
"Tapi ... liburan ke mana?" sambung Merry.
"Em... bagaimana kalau kita ke Pulau Seribu?" usul Selly. "Disana, banyak destinasi pantai yang bisa kita kunjungi, terus... banyak permainannya juga," sambungnya.
Fira dan Merry terlihat antusias, dan setuju dengan pendapat Selly. Tentunya Fira pun tak lupa, ia harus meminta izin terlebih dahulu kepada Bara, untuk pergi berlibur bersama teman-temannya.
***
"Lebih baik aku menyiapkan makan malam tuk Mas Bara saja," gumamnya, berlalu ke dapur.
Fira menggoreng dua paha ayam, dan menyiapkan sambal pedas kesukaannya. Sudah beberapa hari ini Fira seakan malas untuk masak, bahkan malam ini pun ia hanya memasak goreng ayam saja.
"Assalamualaikum sayang...."
Fira segera menoleh ke belalang, dilihatnya Bara yang baru pulang bekerja, membawa dua paper bag di tangannya.
"Wa'alaikumussalam Mas," jawab Fira, melebarkan senyuman manisnya.
Bara menyimpan paper bag itu di atas meja bar. Kemudian ia segera menghampiri Fira. Yang tengah sibuk memasak.
"Masak apa?" tanya Bara.
"Ayam goreng Mas."
"Untuk aku?" tanya Bara. Fira menganggukkan kepalanya pelan.
Bara tersenyum, ia mengusap puncak kepala Fira, dan mencium pipi kanan Fira dengan begitu mesra. Kemudian pamit untuk mengganti pakaian, dan membersihkan diri.
^
Kini Fira dan Bara tengah asyik menikmati makanan mereka, di atas meja Bar.
"Mas, kamu memang the best, tahu saja kalau aku menginginkan makanan dari luar," ucap Fira, sambil melahap makanannya dengan begitu senang.
"Tentu saja, kau akhir-akhir ini kan, suka makan banyak," ucap Bara, sambil menggigit ayam goreng, yang dibuatkan oleh Fira tadi.
"Oh ya Mas, aku ingin pergi berlibur," ucap Fira.
__ADS_1
"Hah? Berlibur? Berlibur ke mana?" tanya Bara sedikit heran, karena baru kali ini Fira meminta ingin berlibur bersamanya.
"Ke Pulau Seribu," jawabnya.
"Dekat sekali, ku kira kau ingin berlibur ke luar negeri."
"Tak perlu jauh-jauh lagi pula ini kan hanya liburan menjelang wisuda," ucap Fira.
Bara menganggukkan kepalanya. "Baiklah, kalau begitu nanti biar Mas urus semuanya," ucap Bara, sambil menikmati makanannya.
"Eh... tak perlu repot-repot Mas, Selly sudah mengatur semuanya."
"Selly? Siapa Selly?" tanya Bara heran.
"Temanku lah, aku kan meminta izin untuk pergi berlibur bersama teman-temanku," ujar Fira.
Bara melebarkan kedua matanya, ternyata ia salah paham, dikira Fira ingin berlibur bersamanya, tetapi ternyata hanya meminta izin untuk berlibur dengan temannya.
"Baiklah, tetap saja aku akan ikut denganmu," ucap Bara.
"Tapi Mas, ini kan acara aku dengan teman-temanku, mana boleh kamu ikut! Mereka pasti akan canggung jika kau ikut."
Bara semakin melebarkan kedua matanya, mendengar jawaban Fira yang tak mengizinkan dirinya untuk ikut.
"Tunggu, sejak kapan dia berani seperti ini padaku?" gumam Bara dalam hati, memandangi Fira.
"Mas ... k-kau kenapa menatapku seperti itu?" Fira sedikit menundukkan pandangannya, saat melihat tatapan tajam dari suaminya.
"Kalau aku tak ikut bersamamu, aku pun tak akan mengizinkanmu!" tegas Bara.
"T-tapi Mas."
"Tidak ada tapi-tapi, kalau aku tak ikut, kau pun tak boleh ikut! ... Kecuali, jika kau memperbolehkanku untuk ikut menemanimu," sambung Bara.
Fira berdecak kesal, ia seakan kesal dengan penawaran yang di berikan oleh Bara. Jika ia tetap kukuh tak mengajak suaminya, tentunya ia pun tak akan bisa pergi berlibur dengan teman-temannya.
Fira mendengus pelan. "Baiklah, kau boleh ikut bersamaku," ucap Fira. Bara seketika melebarkan senyum kemenangannya. "Tapi ... ketika aku bersama teman-temanku, kau tak boleh mengganggu!"
"Aih... mana bisa seperti itu! Aku ikut kan karena aku ingin menjagamu," tutur Bara.
Fira memutar kedua bola matanya, jika ia menolak atau melarangnya, pasti Bara akan menawarkan dua pilihan sulit, untuk mengancam Fira.
"Ya sudah, terserah kau saja!" Bara tersenyum mendengar ucapan Fira, dan ia kembali melahap makanannya dengan semangat.
Sejenak Fira memperhatikan Bara. "Huft, dasar menyebalkan!" gerutu Fira.
"Kau bilang apa?" tanya Bara, menatap Fira.
Fira sedikit terkejut. "Hah? Em... ini, ini, salad sayurnya enak sekali," ucap Fira, terpaksa tersenyum sambil kembali melahap salad sayur miliknya.
.
.
.
Bersambung.
Like dulu, komen dan vote dong, biar author makin semangat lanjutin ceritanya.
Jangan lupa follow ig aku @dela_delia25
__ADS_1