Pernikahan Di Atas Kertas

Pernikahan Di Atas Kertas
Perfect Marriage - Bab 31


__ADS_3

Di sela-sela aktivitas sarapan pagi, Bu Ningsih sepertinya begitu gatal ingin membahas masalah perjodohan Selly dengan anak temannya.


Hening....


Hanya suara sendok, garpu yang beradu dengan piringlah yang terdengar. Akhirnya, karena tidak mau menunggu lebih lama lagi, Ningsih pun memulai membuka pembicaraan.


"Selly sayang," panggilnya sambil menyilangkan sendok dan garpu miliknya di atas piring, menyudahi sarapan.


"Iya Bu," jawab Selly yang masih asyik menikmati nasi goreng buatan Ibunya itu.


"Sayang, apa kamu benar-benar tidak punya pacar atau teman lelaki yang sedang dekat begitu?" tanyanya hati-hati.


Setyo yang mendengar hal itu dan tahu arah pembicaraannya menuju ke mana, ia hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan.


"Mulai lagi," gumam Setyo dalam hati.


"Tidak Bu, memangnya kenapa?" tanya Selly.


"Em, begini jadi Ibu berencana buat ngenalin kamu sama anak dari teman Ibu, namanya Bagas, usianya sudah 27 tahun, dia bekerja sebagai dosen bahasa di UNTAR," ujar Ningsih pelan, dengan suara penuh rayuan.


Selly hanya diam, ia seolah acuh mendengar pembicaraan Ibunya itu. Dan dalam hati Selly pun ia sebenarnya kesal, karena baru saja beberapa hari yang lalu ia membatalkan pernikahannya, masa iya Ibunya langsung nyariin calon lagi untuknya.


"Gimana Nak, kamu mau kan bertemu dulu dengan dia?" tanya Ningsih sambil mengembangkan senyumannya, memasang wajah penuh harap.


Namun, sebelum Selly menjawab, Setyo lebih dulu menimpalinya.


"Ibu, sudahlah Bu... jangan terlalu memaksakan. Anak kita juga udah dewasa Bu, jangan terlalu mengaturnya. Selly juga butuh ketenangan, apalagi di saat seperti ini," seloroh Setyo, menghentikan makannya.


"Bapak ini gimana sih! Ibu kan udah bilang, Ibu gak siap nanggung malu Pak. Dan Selly ... kamu juga masa tega biarin Ibu sama Bapak dirundung malu karena kegagalan pernikahanmu."


"Bu, sudah jangan berbicara seperti itu, Selly juga pasti gak mau pernikahannya gagal."


Akhirnya perdebatan antara Setyo dan Ningsih pun kembali terjadi, membuat Selly semakin kesal dan sedih melihat orang tuanya yang bertengkar, karena dirinya.


Dan lagi-lagi, Selly merasa bahwa semua ini memang karena kesalahan dirinya.


"Bu, Pak. Selly mau bicara," ujar Selly dengan tatapan kesal tapi tak berani melihat ke arah kedua orang tuanya itu, ia hanya menatap kesal ke arah meja makan.


Setyo dan Ningsih pun menjeda perdebatan mereka. Lalu mengalihkan pandangannya ke arah Selly.


"Bu, Pak ... besok Selly mau pergi ke villa Mawar saja, Selly juga butuh untuk menenangkan pikiran. Selly juga sedih dengar Ibu dan Bapak yang terus berdebat karena masalah pernikahan Selly. Tapi Selly mohon Bu, untuk saat ini Selly tak ingin mengenal laki-laki mana pun. Selly ingin menenangkan hati Selly dulu Bu. Selly harap Bapak dan Ibu akan mengerti," ucap Selly yang masih menatap ke arah meja makan.


Setyo dan Ningsih pun hanya bisa terdiam, mendengar penuturan anak kesayangannya itu.


"Selly, maafkan Ibu Nak, tapi itu tidak bermaksud-"

__ADS_1


"Selly pamit dulu Pak, Bu. Sekalian Selly gak bakalan pulang ke rumah, Selly mau pulang ke kost-an saja." Selly berdiri dari tempat duduknya.


"Selly, dengarkan dulu Ibu Nak, jadwal pernikahan kamu tinggal sebentar lagi. Kalau kamu benar-benar gagal menikah Ibu--"


Sebelum Ningsih menyelesaikan ucapannya, Setyo kembali menginterupsi agar istrinya itu berhenti berbicara.


"Bu sudah!" ujarnya pelan kepada Ningsih.


"Selly, kalau kau ingin pergi ke vila Pak Dori, biar Bapak yang memberitahu beliau agar menyiapkan semuanya perlengkapan di villa untukmu. Bapak mengerti kamu butuh waktu. Kau boleh pergi ke sana, tenangkanlah dirimu Nak. Nanti kalau Ibumu sudah berubah pikiran dan tenang, kita akan menyusulmu ke sana," ujar Setyo. Selly hanya diam menunduk mendengar ucapan Bapaknya itu.


"Loh Pak, kok Bapak malah begitu sih!" protes Ningsih seakan tak terima. Namun, Setyo mengabakannya.


"Terima kasih Pak, kalau begitu Selly pamit berangkat. Assalamualaikum." Selly pun menyalami takzim kedua orang tuanya itu secara bergantian. Meskipun Ningsih masih memasang wajah masamnya itu.


***


Sementara itu, di rumah sakit tempat Andre bekerja, asisten yang sering membantunya memberikan selembar surat kepada Andre.


"Terima kasih ya," ujar Andre kepada asisten perempuan itu.


"Iya Dok, sama-sama. Mau ada acara penting ya?" tanyanya kepo.


"Iya, adik saya mau ulang tahun, dan dia mau dirayakan di tempat tinggal kami yang dulu. Makanya saya harus ngambil cuti," jawab Andre. Sambil membuka surat izin cutinya.


"Yah... dua hari juga cukup untuk membuat si bawel itu senang," gumam Andre dalam hati.


"Bukan lah... lagian pestanya juga pesta kecil-kecilan bukan pesta besar," sambung Andre.


Mereka pun kembali melakukan aktivitasnya masing-masing karena jam pemanggilan pasien harus sudah di mulai.


***


"Jadi... kamu mau ambil cuti tahunan langsung?" tanya salah satu teman Selly, saat Selly mengajukan cuti dadakan kepada salah satu staf yang mengatur masalah libur karyawan.


"Iya, saya mau ambil cuti 4 hari," jawab Selly.


"Ya sudah kemari, semoga saja nanti bisa di setujui."


"Tapi... setuju gak setuju juga, saya besok ga bisa masuk. Nanti juga suratnya langsung saya titip di kamu aja gak apa-apa kan?" tanya Selly penuh harap.


"Hm... baiklah kalau begitu."


***


Hari yang dinantikan pun akhirnya tiba, Mayang begitu bersemangat karena sudah enam bulan ia tak pernah menjejakkan kaki di pulau kelahirannya itu, yaitu Pulau Seribu.

__ADS_1


Meskipun akses menuju ke sana hanya bisa lewat kapal laut tapi itu tak membuat Andre keberatan. Ia begitu senang melihat tawa kebahagiaan di wajah adik dan nenek kesayangannya itu. Dua wanita yang saat ini paling ia sayangi dan lindungi.


"Woah... akhirnya setelah sekian lama, aku bisa bersantai di ayunan jaring ini lagi," ujar Mayang begitu sampai di teras rumah, ia langsung mendudukkan tubuhnya di ayunan jaring yang terdapat di depan rumahnya itu.


Andre pun segera mengajak Neneknya untuk masuk ke dalam rumah mereka. Keadaan rumah yang memang sudah lama ditinggalkan itu cukup sedikit terlihat menakutkan, karena semua barang di tutup oleh kain putih.


Meskipun begitu, kebersihannya tetap terjaga karena setiap seminggu sekali ada orang suruhan yang membersihkan dan merawat rumah itu.


"Duduklah Nek, aku akan mengambilkan air minum buat Nenek," ujar Andre, berlalu keluar untuk mengambil beberapa tas dan juga paper bag yang berisi makanan.


Sedangkan Mayang, gadis itu terlihat begitu senang sekali, ia langsung berkeliling menyapa para warga dan teman-teman dekatnya yang sudah lama tak ia temui itu.


"Hai Paman," panggil Mayang kepada Pak Dori, penjaga villa Mawar milik keluarga Selly, Pak Dori juga tetangga Mayang.


"Eh, Dek Mayang ada di sini, kapan kalian pulang ke sini?'" tanya Dori, menepikan motornya di dekat Mayang.


"Baru aja sampai. Paman mau ke mana?" tanya Mayang.


"Biasa, mau ngurus perlengkapan buat di villa," jawabnya sambil mengembangkan senyum ramahnya.


"Oh... ada yang sewa lagi ya."


"Iya, anak yang punya villa yang mau datang ke sini," jawab Dori. Mayang pun mengangguk.


"Oh ya Paman, aku boleh titip belanja gak? Soalnya aku sama Abang belum bisa pergi keluar."


"Boleh, mau titip beli apa?"


"Titip daging ayam sekilo, sama buah apel sekilo ya Paman." Mayang menyodorkan dua lembar uang kertas seratus ribuan kepada Dori.


"Wah... segini mah kelebihan Dek," ujar Dori saat menerima uang 200 ribu itu.


"Udah gak apa-apa, buat uang bensin Paman aja."


"Baiklah, terima kasih kalau begitu. Paman berangkat dulu ya." Dori pun kembali mengendarai motor RA-King-nya itu berlalu meninggalkan Mayang.


Mayang pun kembali masuk ke dalam rumah, setelah ia merasa cukup berbincang-bincang dengan teman-temannya itu.


"Dari mana kamu?" tanya Andre.


"Biasa... nemuin teman-teman. Sekalian nitip belanjaan sama Paman Dori."


"Kamu ini, kebiasaan ngerepotin orang."


"Biarin, Paman juga gak protes kok." Mayang mendudukkan tubuhnya di samping sang Nenek. Sambil bermanja layaknya cucuk kecil yang ingin diperhatikan Neneknya.

__ADS_1


“Aih... sudah besar masih saja seperti itu.” Andre pun segera berlalu menuju dapur untuk menyimpan beberapa bahan makanan mereka.


__ADS_2