
Tak lama hadiah yang Hans siapkan untuk Tiara sudah datang, ia mengambil hadiah itu dari tangan anak buahnya dan langsung membawanya masuk ke dalam kamar. Kebetulan saat ia membawa hadiah itu Tiara keluar dari dalam kamar mandi, Tiara melihat suaminya tengah memegang sesuatu di tangannya, hal itu membuat Tiara penasaran ia berjalan mendekati Hans untuk melihat apa yang ada di tangan Hans.
"Kamu membeli apa mas? Kenapa terlihat begitu istimewa ya? Wanita mana lagi yang kamu ingin berikan hadiah, aku saja istrimu belum pernah kamu berikan hadiah."
Hans mengerutkan dahinya, bagaimana bisa Tiara berpikir ia akan memberikan hadiah pada wanita lain, padahal jelas-jelas ia sedang bersama dengan Tiara, sudah pasti hadiah ini untuk Tiara tetapi kalau Tiara tidak menyadarinya ia tidak akan langsung memberikan hadiah ini.
"Kamu berpikir hadiahnya untuk wanita lain?"
"Ah jadi ini untukku," tanya Tiara dengan wajah yang penuh semangat, kalau benar hadiah ini untuknya sudah pasti ia sangat bahagia sekali.
"Tidak," jawab Hans dengan nada yang datar.
"Tuh kan apa aku bilang tadi, pasti hadiah ini untuk wanita lain," ucap Tiara dengan ekspresi wajah yang kecewa.
Hans menarik jarak ke atas tempat tidur, ia membalik tubuh Tiara sehingga tubuh Tiara membelakangi nya.
"Mas kamu jangan begini ah, masa langsung mau kamu tusuk," ucap Tiara.
"Kalau iya kenapa?" Hans menurunkan tubuh Tiara ke atas tempat tidur, hal itu membuat bokong Tiara tepat berada di depan pinggang Hans.
Wajah Tiara langsung panik seketika, ia akan kembali merasakan bagaimana perkasanya rudal balistik milik Hans, Jujur saja dengan ukuran nya itu terkadang saat pertama masuk Tiara merasakan rasa perih yang cukup menyiksa nya.
Tiara matanya karena ia belum siap, mana tahu dengan meminjamkan matanya apa yang tidak ingin dirasakan bisa teralihkan. Tetapi setelah kurang lebih 1 menit memejamkan matanya Tiara tidak merasakan apa-apa, malahan yang merasakan pergerakan di atas tempat tidur.
"Sayang." Tiara terkejut melihat Hans tidak berada di tempat tidur.
"Hahaha kenapa? Apa yang kamu harapkan dariku?"
"Kamu kok tidak mengatakan apa-apa sih, aku sudah menunggunya," ucap Tiara.
"Menunggu apa?" Hans mengerutkan dahinya.
__ADS_1
"Menunggu menunggu.." Tiara bingung harus mengatakan apa, tidak mungkin mengatakan hal itu karena dirinya sendiri akan mengeluh. Tiara memutuskan untuk bergerak naik atas tempat tidur menyusul sang suami.
"Mau menunggu apa? Ayo katakan padaku kamu menunggu apa?"
"Aku tidak menunggu apa-apa mas, udah jangan kamu bahas aku sangat capek sekali, aku ingin segera beristirahat."
"Yakin mau langsung istirahat? Tidak mau hadiah dariku," tanya Hans dengan mimik wajah yang menggoda.
"Hadiah apa?" Ekspresi wajah Tiara langsung berubah seketika.
"Hahaha baru dikatakan hadiah saja sudah sangat bersemangat seperti ini, ambil di kantung baju ku," ucap Hans.
Segera Tiara mengambil hadiah yang Hans maksud, ia menemukan kotak kecil yang entah apa isinya.
"Kenapa kecil sekali?"
"Lah kamu tidak bersyukur, untung aku memberikan kamu hadiah," ucap Hans.
"Ya buka sajalah," ucap Hans.
Segera Tiara membuka kotak kecil itu, matanya terbelalak melihat sebuah kalung berlian yang begitu cantiknya, dirinya tidak pernah melihat kalung secantik ini. Bentuknya saja kecil tapi sudah pasti harganya tidaklah kecil.
"Ini untukku?" Wajah Tiara masih tidak menyangka Hans memberikannya sebuah kalung mewah seperti ini.
"Jadi kalau tidak untuk kamu untuk siapa lagi? Untukku kan tidak mungkin aku memakai kalung."
"Terima kasih sayang, aku sangat senang mendapatkan hadiah dari kamu. Apalagi harganya begitu mewah dan cantik, tidak pernah membayangkan mendapatkan hadiah mewah ini. Aku sangat sangat berterima kasih pada kamu," ucap Hans.
Hans benar benar tidak menyesal memberikan Tiara hadiah, berbeda dengan kedua istrinya sebelumnya, Tiara jauh lebih senang dan menghargai apa yang ia berikan, ia yakin walaupun ia memberikan hadiah yang tidak mahal sekalipun Tiara pasti tetap akan menghargainya.
"Kamu langsung memakainya?"
__ADS_1
"Nanti saja kalau aku pergi-pergi, sangat di sayangkan jika aku pakai kalau di rumah saja. Nanti kalau aku ikut kamu ke kantor, atau menemani kamu bertemu dengan klien baru aku akan memakainya," ucap Tiara.
"Ya sudah simpan sekarang, awas aja sampai hilang. Itu bukan jutaan atau puluhan juta, itu lebih dari ratusan juta," kata Hans.
Tiara membulatkan bibirnya mendengar harga kalung yang Hans diberikan kepadanya, ini barang termahal yang pernah ia miliki dan sudah pasti ia akan mencegahnya dengan sangat baik. Tidak mungkin dirinya menyia-nyiakan hadiah mahal, selain harga nya yang mahal barang ini berasal dari seseorang yang sangat spesial.
Cara menyimpan kalung berlian itu ke dalam tas yang selalu ia bawa kemana-mana, tas murah yang berisikan sebuah berlian mahal, orang-orang tidak akan menduga jika tas itu berisi barang yang mahal. Ini juga salah satu trik Tiara agar terbebas dari copet.
"Bukannya aku membelikanmu tas yang mahal, kenapa kamu memakai tas burik itu," tanya Hans, dirinya ingat betul saat mereka belanja keperluan waktu itu Tiara mendapatkan beberapa tas mahal untuk kebutuhannya.
"Tas itu ada di rumah, sangat disayangkan jika kau aku memakainya sembarangan, aku tidak pandai merawatnya kalau aku memakai terus nanti malah rusak," ucap Tiara.
"Jadi wanita jangan katrok, bisa beli lagi jika rusak. Pakai barang itu aku tidak mau kamu memakai barang-barang seperti ini, dan satu lagi jika keluar bersamaku gunakan barang-barang yang kita beli waktu itu, jangan buat aku malu," kata Hans..
"Iya sayang maafkan aku." Setelah menyimpan berlian itu Tiara kembali naik ke atas ranjang untuk beristirahat.
"Hanya berterima kasih saja, tidak ada apa-apa lagi?" Hans mencoba memancing Tiara.
"Kamu mau apa dari aku, katakan saja nanti aku akan berikan. Kamu mau aku masakin makanan yang enak, nanti setelah kembali ke rumah aku akan membuat makanan yang sangat spesial untuk kamu," ucap Tiara.
"Itu kan nanti kalau sekarang apa?"
"Ya sekarang kamu mau apa?" Tiara belum mengerti apa yang hans maksud.
"Hahaha masih tanya lagi sayang," ucap Hans sambil mendekati bibir Tiara.
"Oh kamu mau jatah." Dengan senang hati Tiara akan memberikan nya pada Hans, apalagi Hans sudah memberikan sebuah hadiah yang sangat spesial.
"Sayang aku bisa hamil jika kamu terus membuangnya di dalam," ucap Tiara.
"Terus apa masalahnya? Kamu tidak mau hamil anak ku? Wajah anak itu akan sangat tampan seperti diriku, dia juga akan menjadi pewaris tunggal kaya raya," kata Hans.
__ADS_1
"Kamu siap mempunyai anak dari ku?"