
Pagi itu, Selly bersiap untuk pergi ke pantai menikmati sunrise sekaligus ia pun mengikuti kegiatan pantai bersama team travel.
Semua orang sudah berkumpul, di antara orang-orang itu tak ada satu orang pun yang Selly kenal, kecuali ketua team travelnya.
Setelah selesai sarapan bersama, mereka bergegas untuk pergi ke Pantai Bidadari menggunakan perahu mesin yang bisa memuat sekitar 15-20 orang.
"Hai Kak, dari mana?" tanya seorang lelaki yang sepertinya seusia dengannya.
Selly pun menoleh ke arah lelaki yang duduk di sampingnya, lelaki itu mengenakan kaus hitam dengan topi jaring berwarna maroon.
"Ah ... saya dari Jakarta," jawab Selly sedikit canggung. Lelaki itu menganggukkan kepalanya.
"Aku Ardi, dari Lampung tapi, kuliah di Jakarta juga sih," ujarnya memperkenalkan diri. Selly pun hanya mengangguk tersenyum.
Sepanjang perjalanan menuju Pantai Bidadari, tak jarang Ardi mencoba untuk mengajak Selly mengobrol, ya... meskipun Selly sedikit canggung dan menanggapinya hanya dengan mengiyakannya atau sekedar menganggukkan kepalanya.
Dan tak teras kini mereka pun sudah sampai di Pantai Bidadari, tour guide membawa mereka ke beberapa destinasi wisata yang sering dikunjungi di Pantai Bidadari itu.
"Kakak gak bawa teman buat liburan?" tanya Ardi yang ternyata dia tipikal cowok yang agak cerewet.
"Engga, saya sendiri aja."
"Kenapa? Lagi ada masalah ya?" tanya Ardi. Selly hanya tersenyum kaku sambil menggelengkan kepalanya pelan.
"Sebenarnya aku juga sama, ikut travel ini gak ada teman. Ditambah aku pun lagi ada masalah ... makanya memilih liburan buat refresh pikiran," ucapnya yang tanpa diminta sudah memberi tahu.
Mereka pun terus berjalan mengikuti rombongan. "Aku coba tebak, pasti Kakak sedang ada masalah kan degan orang tua, emh ... atau paling enggak, masalah mengenai ... cinta," sambungnya lagi sok tahu.
Selly semakin mengernyitkan dahinya, merasa agak aneh dengan lelaki satu itu. "Ku kira hanya wanita saja yang bisa banyak berbicara, ternyata laki-laki pun ada yang terus mengoceh seperti kamu!" ujar Selly sambil membuang muka ke sembarang arah.
"Oh, tentu saja... aku kan lelaki yang berbeda dari lelaki yang lain, kalau lelaki lain introvert, maka aku adalah extrovert. Jika yang lain romantis, maka aku adalah si humoris, dan jika lelaki lain mendekati perempuan untuk menjadikannya pasangan, maka aku mendekati hanya karena, ingin menjadi teman," ujarnya begitu semangat dan penuh percaya diri.
Selly yang mendengar hanya tersenyum simpul sambil menggelengkan kepalanya.
"Kamu ini, bisa aja! Udah ah, aku mau gabung sama yang lain juga," ujar Selly melangkah lebih cepat untuk gabung bersama rombongan tournya. Begitu pun Ardi yang mengikutinya dari belakang.
***
__ADS_1
Sore harinya Mayang terlihat tengah sibuk mencari cangkang kerang untuk di buat tirai pintu nantinya. Tak terasa ia menyusuri pesisir pantai sampai begitu jauh dari rumah neneknya.
Karena matahari mulai terlihat tenggelam, dan langit pun sudah berubah warna menjadi jingga. Mayang pun memutuskan untuk segera pulang kembali ke rumahnya. Dengan sekaleng cangkang kerang yang ia jinjing di sebelah tangannya. Matanya masih fokus mengitari pemandangan pantai yang semakin lama semakin indah.
Dan kini matanya terfokus akan rombongan para tour travel yang sepertinya baru saja pulang dari destinasi wisata pantai.
Namun, matanya kini terfokus kepada seorang wanita yang memakai kemeja berwarna biru dengan kerudung phasmina yang berwarna senada dengan celana jeans-nya.
"Itu, seperti kak Selly, emh ... tapi masa iya kak Selly ada di sini," gumamnya, sambil terus berjalan.
Tapi semakin dilihat, Mayang semakin percaya bahwa itu adalah Selly. Namun, sayang ... wanita yang mirip dengan Selly itu terhalang oleh beberapa orang yang berlalu lalang di sana.
Tanpa memperhatikan jalanan, Mayang pun hendak berlari mengejar wanita yang ia yakini bahwa itu adalah Selly. Tapi tiba-tiba ....
Bruk....
Mayang menabrak seseorang hingga membuat tubuhnya jatuh terpental, begitu pun dengan cangkang kerang ia kumpulkan itu berhamburan di atas pasir dengan kaleng yang ia bawa pun jatuh menggelinding cukup jauh.
"Astagfirullah, maaf, maaf, kamu gak apa-apa kan?" tanya lelaki berkaus hitam itu, yang tak lain ialah Ardi.
Ardi pun dengan cepat membantu memunguti kembali cangkang kerang itu ke dalam kaleng. Begitu pun dengan Mayang yang ikut membantu.
"Maaf, aku tadi sedang buru-buru," ujar Ardi yang masih berjongkok di depan Mayang.
Mayang hanya diam saja, sambil fokus memunguti cangkang kerang yang berserakan itu.
Setelah selesai, Ardi pun memberikan cangkang kerang itu kepada Mayang.
"Oh ya ini, maaf ya... lain kali aku akan lebih berhati-hati. Tubuhmu tidak ada yang terluka kan?" tanyanya sesaat setelah Mayang mengambil alih kaleng itu dari tangan Ardi.
"Iya tidak apa. Hanya saja, aku jadi kehilangan orang yang aku cari," gerutu Mayang pelan.
"Orang?"
"Ah, sudahlah lupakan." Mayang pun berlalu begitu saja meninggalkan Ardi, tanpa mengucapkan terima kasih atau apa pun pada lelaki itu.
Mayang pun masuk ke dalam rumahnya dengan wajah yang di tekuk. Dan mencebikkan bibirnya, karena merasa kesal tak bisa memastikan wanita yang dilihatnya tadi adalah Selly atau bukan.
__ADS_1
"Kamu kenapa? Pulang-pulang malah cemberut kayak begitu?" tanya Andre yang baru keluar dari kamarnya.
"Gak apa-apa," jawabnya ketus.
Andre pun hanya menggelengkan kepalanya pelan. "Aih... kamu ini. Ya sudah kalau begitu cepat mandi, anak gadis jam segini masih kumal begitu. Abang pamit mau ke masjid sebentar lagi magrib, kamu jangan lupa solat."
"Iya... iya." Mayang pun segera berlalu masuk ke dalam kamarnya. Sementara Andre ia segera bergegas untuk pergi ke masjid.
***
Jam sudah menunjukkan pukul 21.00 malam. Selly baru terbangun dari tidurnya yang baru sekitar satu jam-an itu. Sepulangnya dari acara tour tadi sore, ia langsung bergegas mandi, terus solat magrib di lanjut lagi solat isya, dan seusai solat, ia membaringkan tubuhnya di atas sajadah, hingga tak terasa ia terlelap tidur dengan tubuhnya yang masih dalam balutan mukena.
"Astagfirullah, udah jam sembilan malam, aku belum cari makan lagi," gumamnya.
"Em, atau aku masak aja ya? Ah tapi malas. Mending beli makan di luar aja deh," gumamnya. Selly pun segera merapikan alat solatnya dan bersiap untuk pergi keluar.
Namun, ia begitu dikejutkan saat ia membuka pintu vila. Di teras tepatnya di bawah pintu, terdapat satu kaleng kecil berisi surat dan juga suatu benda.
"Apa ini?" Selly berjongkok di depan pintu sambil melihat kaleng yang berisi surat dan benda aneh itu. Perlahan Selly pun membaca tulisan yang ada di kertas itu.
~Sesuai janjiku, aku tak akan membuat hidupmu tenang. Dan janjiku akan aku mulai malam ini juga.~
"Apa ini? Siapa sih yang mengirim beginian?" gerutu Selly. Karena ia tak ingin ambil pusing dengan hal itu. Selly pun memutuskan untuk memasukkan kembali kertas itu ke dalam kaleng kecil itu dan menutupnya, lalu membuangnya jauh ke halaman vila.
Namun, hal tak disangka pun terjadi. Kaleng yang ia lemparkan itu, tiba-tiba meledak dengan sendirinya begitu mendarat tepat di atas pasir. Ledakannya tidak cukup besar, tapi cukup membuat jantung berdetak kencang karena saking terkejutnya.
"Apa! Apa, benda kecil tadi adalah bom? Eh tak mungkin bom, apa itu semacam petasan?" gumamnya. Selly pun menggidikkan pundaknya merasa takut. Namun, karena perutnya yang sudah lapar keroncongan, ia pun tetap memberanikan diri untuk pergi keluar malam-malam sendirian.
.
.
.
Bersambung.
Terima kasih untuk kalian yg bertahan masih mau baca cerita author sampai di bab ini, author sayang kalian pokonya. ❤️
__ADS_1