
"Aku di sini, karena aku sedang melaksakan tugasku," jawab Dion simpel. Sambil duduk dengan gaya bersantai, dan sebelah kaki yang diangkat ke atas pahanya.
"Tugas? Tugas apa yang kau maksud? Dimana Bara?" tanya Raina, sambil menautkan kedua alisnya.
"Bara?"
"Itu dia," tunjuk Dion ke arah pintu.
Raina segera menoleh ke belakang, dan sedikit tercengang saat melihat Bara yang sudah berdiri di dekat pintu, bersama Fira.
Matanya fokus menatap ke arah tangan Bara yang menggenggam jari-jemari Fira.
"Bara," ucapnya pelan. Raina berjalan mendekati Bara, ia bergelayut di sebelah tangan Bara yang satu lagi, dan sejenak melirik sinis ke arah Fira.
"Bara, aku sudah tahu semuanya. Aku tidak menyangka kau begitu mencintaiku sampai kau membuat perjanjian pernikahan dengan istrimu itu," ucap Raina, dengan percaya diri.
Deg, hati Fira seakan tertusuk, mendengar kata-kata yang dilontarkan oleh Raina.
Bara mendengus kecil sambil tersenyum kecut. "Baguslah, kalau kau sudah mengetahuinya," ucap Bara.
"Aku sudah tahu dari awal, kalau kau tidak akan benar-benar memutuskan hubungan kita. Dan aku akan siap menunggumu berpisah dengan istrimu itu."
"Oh ya, berarti pernikahan kalian tinggal delapan bulan lagi kan?" tanya Raina, sambil menjauhkan tubuhnya dari Bara, namun lengannya masih terkait, memegang lengan Bara.
"Bagaimana Nona Raina tahu masalah ini?" batin Fira, ia membuang wajah ke sembarang arah, sambil menarik nafas begitu dalam. Mencoba menenangkan hatinya.
"Aku tidak menyangka, kalau Nona Fira ini adalah istrimu. Tapi aku merasa lega sih, karena pada akhirnya kalian nanti akan berpisah, dan tentunya Bara akan kembali kepadaku. Bukankah benar, begitu Nona Fira?" tanya Raina dengan akhir kata yang penuh penekanan, sambil tersenyum sinis.
Fira sejenak menatap kedua bola mata Raina, kemudian ia mendongakkan kepalanya menatap ke arah Bara, yang dari tadi diam saja, membiarkan wanita yang ada di dekatnya terus mengoceh.
Fira masih terdiam, tak menjawab pertanyaan Raina. Dion yang melihat mereka bertiga seakan geram, ia geram kepada Bara, karena sedari tadi hanya diam.
"Asal kau tahu Nona Fira... raga Bara memang milikmu, tapi hati Bara tetap milikku," ucap Raina tersenyum, sambil memeluk sebelah lengan Bara.
Bara melirik ke arah Raina yang sedang bergelayut di tangannya.
"Lepaskan!" Bara menepiskan tangannya dengan kasar, agar terlepas dari pelukan Raina.
"Bara, kau!"
"Diamlah! Jangan banyak berbicara. Kau sedari tadi terus saja mengoceh!"
"Bara, apa yang kau katakan!" seru Raina. Dion tersenyum sinis, melihat semua yang terjadi.
__ADS_1
"Wow drama hebat akan segera dimulai," batin Dion, seakan antusias menyaksikan semua ini.
"Apa yang aku katakan, tidak akan pernah ku ulangi!" tegas Bara.
Bara menarik lengan Fira, mengajaknya untuk duduk di salah satu kursi yang tersedia di ruangan itu.
"Kenapa dokumen ini ada di sini?" gumam Fira, saat melihat map biru itu ada di atas meja.
"Fira kau duduklah dulu, kau tenanglah, semuanya akan baik-baik saja." ucap Dion. Fira menganggukkan kepalanya.
"Bara, kau akan kembali bersamaku kan?" tanya Raina, mendekati Bara.
Bara hanya tersenyum miring, "Kembali? ... Jangan berharap! Aku kemari hanya akan menegaskan padamu, jika yang kau lihat di dokumen ini semuanya benar," ucap Bara.
"Semua yang tertulis di sini, juga semuanya benar."
"Perjanjian pernikahan ku dengan Fira hanya 12 bulan, itu juga benar," jelas Bara.
Hati Fira seakan tersentak, mendengar kalimat terakhir yang di ucapkan Bara. Ia hanya mampu menundukkan kepalanya. Bersiap mendengarkan perkataan selanjutnya yang akan Bara ucapkan.
"Hanya dua belas bulan? Dan, iya, itu memang benar Fira, hanya dua belas bulan saja." batin Fira, seakan sesak mendengar kata-kata itu.
Bara meraih dokumen yang berada di atas meja itu, dan mengambil surat perjanjian yang ada di dalamnya.
Dan hal itu semakin membuat Fira tercengang, melihatnya. Ia tak percaya kalau Bara akan mengakhiri perjanjian yang pernah di buatnya itu.
"Raina," panggil Bara, yang masih berdiri di dekat Fira. Raina memfokuskan matanya menatap Bara.
"Dengarkan perkataanku baik-baik, karena aku tidak akan mengulang perkataanku ini," jelas Bara.
"Raina, ... aku mengajakmu bertemu di sini, bukanlah untuk kembali padamu. Tapi ... aku mengajakmu bertemu di sini, tak lain hanya lah ingin memperkenalkan istriku, Fira. Dan memperjelas hubungan kita, bahwa dari satu bulan yang lalu, kita sudah tidak mempunyai hubungan apa-apa."
Raina membulatkan matanya dengan sempurna, ia tak percaya bahwa lelaki yang di cintainya akan mengucapkan kata-kata yang menyakitkan seperti itu.
"Tidak! aku tidak mau mengakhiri hubungan kita!" teriak Raina.
Fira terkejut saat mendengar perkataan Raina, yang tidak mau menerima keputusan Bara.
"Bara, Bara, aku mohon aku tidak mau berpisah denganmu...." Raina menarik lengan Bara, berlutut dan memohon kepadanya. Dan tentunya hal ini semakin membuat Fira tercengang akan perilaku Raina.
"Bara... apa kau sudah lupa dengan janjimu padaku? Dulu kau janji, kau tidak akan meninggalkanku kan? Dulu kau berjanji, kau akan memperjuangkan hubungan kita meskipun orangtua kita menolak hubungan ini. Bara... aku mohon jangan akhiri hubungan ini," ucap Raina, dengan mata yang berkaca-kaca, memohon layaknya pengemis cinta kepada Bara.
"Mas." Fira berdiri dari duduknya, mengusap bahu Bara, memberinya kode agar tidak membiarkan Raina memohon seperti itu.
__ADS_1
"Fira... ingatlah perkataanku!" ucap Bara, menatap Fira, Fira segera menjauhkan tangannya dari bahu Bara, dan kembali mendudukkan tubuhnya di atas kursi.
"Apa yang sedang aku hadapi ini?" batin Fira, menatap kasihan kepada Raina.
"Raina, jangan memohon seperti ini kepadaku. Apa kau tidak malu, kau memohon seperti pengemis seperti ini!" seru Bara.
"Tidak, aku tidak akan pernah malu, tak apa jika kau menganggapku bagai pengemis cinta, tapi ku mohon jangan tinggalkan aku Bara," lirih Raina, memeluk erat sebelah kaki Bara.
"Raina lepaskan!" seru Bara, menggoyangkan sebelah kakinya. Namun Raina malah menggelengkan kepalanya, dan semakin memeluk erat kaki Bara.
"Tidak, ... aku tidak akan melepaskannya, sebelum kau kembali padaku," ucap Raina, yang masih mengeratkan pelukannya di kaki Bara.
"Nona Raina, berdirilah, jangan seperti itu," ucap Fira, seakan kasihan melihat Raina yang berperilaku seperti itu.
"Diam! semua ini terjadi gara-gara kau!" sentak Raina kepada Fira. Dan hal ini membuat Bara semakin emosi di buatnya.
"Beraninya kau menyentak istriku!" sentak Bara, kepada Raina. Rasanya ia ingin menendang jauh tubuh wanita ini, namun ia masih berpikir kalau Raina hanya lah seorang perempuan, yang tak bisa ia perlakukan seenaknya.
"Lepaskan!" Bara menarik paksa kakinya, menjauhkannya dari pelukan Raina, bahkan Raina terlihat sedikit tersungkur ke lantai saat Bara menarik kakinya secara paksa.
Kini Raina sudah tak bisa membendung air matanya lagi. Ia menangis, sambil terus memohon kepada Bara, agar Bara tak memutuskan hubungannya.
Fira semakin tak tega melihat semua yang terjadi di hadapannya. Fira berdiri hendak membantu Raina untuk berdiri. Namun seketika Raina mendorong kuat tubuh Fira, hingga membuat Fira jatuh terpental ke belakang.
"Jangan menyentuhku!" teriak Raina, yang masih terduduk di atas lantai, matanya memerah, luapan emosi di dalam dadanya seakan semakin memuncak. Apalagi saat Fira mencoba membantunya.
"Beraninya kau mendorong Fira!" seru Bara, tangannya mengepal, rahangnya mengeras, kesal dan marah karena melihat perilaku Raina yang di luar dugaan. Bara segera membantu Fira untuk berdiri.
.
.
.
Bersambung.
Tahan, tahan, jangan terbawa emosi.
Apalagi yang lagi puasa, hati-hati ya, jangan sampe emosinya ikutan memuncak kayak Mas Bara dan Raina, hehe.
Vote sebanyak-banyaknya ya, biar nanti udah dzuhur, author upload lagi.
Love you readersku🥰😘
__ADS_1