
Sore harinya setelah semua pekerjaan selesai Hans dan Tiara memutuskan untuk langsung pulang ke rumah, Hans sudah sangat kelelahan begitu juga dengan Tiara sudah sangat bosan di kantor, bersantai di rumah memang salah satu hal yang dapat menghilangkan rasa lelah dan bosan yang mereka rasakan sekarang.
"Sayang malam ini kamu mau makan apa? Aku akan membuat makanan yang sangat spesial untuk kamu," ucap Tiara.
"Aku ingin makan kamu saja deh, aku tidak ingin makan apa-apa selain makan kamu. Apa boleh aku mau memakan kamu," tanya Hans.
"Sudah pasti boleh dong kan kamu suami aku, kalau suami aku sendiri tidak boleh memakan aku siapa dong yang akan memakan aku, sayang kalau aku hamil dalam waktu dekat kamu sudah siapkan menjadi seorang ayah, aku takutnya kamu rajin membuat anak tetapi ketika aku hamil nanti kamu malah marah dan tidak ingin bertanggung jawab."
Hans tertawa mendengar apa yang Tiara katakan, sudah pasti ia sangat menginginkan anak dari Tiara. Di usianya sekarang ia memang sudah harus mempunyai keturunan untuk melanjutkan bisnisnya nanti, Hans berharap mempunyai anak laki-laki karena anak laki-laki dapat meneruskan 100% penuh apa yang ia kerjakan sekarang.
"Kenapa kamu malah tertawa sih, kan aku bertanya dengan serius sayang."
"Sudah pasti aku akan bertanggung jawab dong, tidak mungkin istriku hamil aku tidak bertanggung jawab, aku bukan pria yang mau enaknya saja kok. Aku kan menikahi kamu resmi secara negara, kamu jangan khawatir aku tidak bertanggung jawab. Sudah pasti aku akan bertanggung jawab pada anak kita nanti, dan aku menginginkan anak laki-laki agar dia bisa meneruskan 100% Bisnisku sekarang," ucap Hans.
"Oke berharap bukan hal yang salah, tapi nanti kalau keluarnya perempuan bagaimana? Penentu jenis kelamin ada pada ayahnya bukan ibunya, jadi kamu mencari cara deh bagaimana bisa kamu memperbanyak kromosom yang memperluas kesempatan kamu mempunyai anak laki-laki."
"Sebenarnya kalau anak perempuan juga tidak masalah, tetapi kalau bisa sih anak laki-laki saja dulu. Kalau anak perempuan ketika dewasa nanti dia pasti akan ikut dengan suaminya, dia tidak akan bisa meneruskan bisnisku 100% penuh. Mau tidak mau setelah menikah nanti pasti dia ikut dengan suaminya kan, berbeda dengan anak laki-laki yang sudah dewasa nanti pasti membawa istrinya ke rumah, dan dia bisa dapat meneruskan bisnisku 100% penuh," ucap Hans.
__ADS_1
Karena terlalu asik mengobrol mereka berdua tidak sadar jika keduanya sudah sampai di rumah, mereka memutuskan untuk melanjutkan obrolan ini nanti setelah selesai bersih-bersih. Seperti biasanya setelah pulang bekerja Niall langsung mandi agar ia bisa langsung beristirahat, sedangkan Tiara siapkan pakaian istrinya serta menyiapkan makanan ringan untuk menemani mereka saat sedang beristirahat.
Hans sudah selesai memakai pakaiannya, dan Tiara membuat potongan buah segar masuk ke dalam kamar. Mereka berdua duduk di atas sofa sambil memakan potongan buah itu, dan keduanya ingin melanjutkan topik yang mereka bahas tadi.
"Kamu janji ya kalau misalnya anak kita perempuan nanti kamu tidak boleh mengatakan hal yang tidak tidak padanya, atau kamu malah mau membuangnya lagi."
Hans menaikkan satu alisnya, sekejam apapun dirinya tidak mungkin ia membuang anak kandungnya sendiri. Apa yang Tiara pikirkan tentangnya terlalu berlebihan, apalagi sekarang ini sudah berubah jauh menjadi lebih baik. Hal seperti itu tidak akan ia lakukan, apapun yang terjadi anaknya tetap anaknya, dagingnya harus tetap dijaga agar dapat tumbuh dengan baik.
"Aku tidak sekejam itu sayang, dan aku tidak mungkin melakukan hal-hal seperti itu. Sekarang saja aku sudah jauh lebih baik dari sebelumnya, aku tidak melakukan banyak hal yang jahat lagi. Sekarang aku tanya pada kamu apakah aku pernah menyiksa kamu lagi? Apakah aku pernah mengatakan hal kasar pada kamu lagi," tanya Hans.
"Ya untuk sekarang sih kamu tidak pernah melakukan hal itu, jujur saja aku sangat senang akhirnya aku dapat kamu terima dengan sangat baik. Walaupun aku tidak tahu apa tujuan kamu menikahi aku, aku harap tujuan kamu sangat baik seperti perlakuan kamu sekarang padaku. Tetapi ada satu hal kamu suka sedikit kasar padaku, saat dia ranjang, berhenti menepuk bokong ku dengan kasar. Itu sakit sangat menggangguku sayang," jawab Tiara.
"Sayang kamu membuatku sangat malu." Tiara langsung memerlukan Hans dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya..
"Untuk apa kamu sangat malu, hanya ada aku disini dan aku selalu mendengarnya setiap malam. Aku suka kok mendengarnya kamu tidak perlu malu, semakin kuat suara kamu semakin senang pula aku mendengarnya," ucap Hans.
"Kamu juga suka bersuara, ahh sayang sempit sekali, kamu begitu nikmat sayang.." Tiara tidak mau kalah yang membuat mereka berdua tertawa.
__ADS_1
Memang hal-hal kecil seperti ini dapat membuat hubungan keduanya semakin erat, Tiara berharap mereka berdua bisa semakin dekat dan terus seperti ini selamanya. Dan sudah pasti Hans dapat bertemu dengan Abang nya, kalau hal itu terjadi betapa lengkapnya hidup ini.
Saat sedang asik bercanda Tiara mendapatkan panggilan telepon dari Abang nya. Tawa mereka bebas ketika menghilang, dan Tiara segera mengangkat sambungan telepon itu.
"Halo ada apa bang? Aku sedang di luar aku belum pulang," ucap Tiara.
"Abang tidak lama kok, besok bawa calon suami kamu ke rumah ya. Abang ingin berbicara dengannya sangat penting sekali, tidak ada alasan lagi kalau kalau dia tidak datang Abang tidak akan merestui hubungan kalian," kata Evans dan langsung memutuskan sambungan telepon itu.
Tiara menghela nafas dengan kasar, drama baru akan segera dimulai dan dirinya tidak tahu apakah di drama ini semuanya akan selamat.
"Kamu tenang saja orang itu sudah aku bayar kok, dia bisa kapanpun ada ketika kita perlu, yang terpenting acting kalian berdua harus bagus jangan membuat abangmu nikah dengan kalian berdua," ucap Hans.
"Coba kamu hubungi sekarang dulu, nanti tiba waktunya dia tidak bisa dihubungi kan repot," kata Tiara.
"Nanti saja sekarang aku ingin membuat kamu berteriak lagi." Hans menarik Tiara dan membawanya ke atas tempat tidur.
"Kenapa harus aku yang berteriak sayang, kenapa tidak kamu saja sendirian dengan keras," tanya Tiara.
__ADS_1
"Karena aku yang menusuk mu sayang, kalau kamu yang menusuk aku mungkin iya aku bisa berteriak," jawab Hans yang membuat Tiara tertawa terbahak-bahak, ternyata suaminya ini bisa mengatakan hal-hal aneh seperti itu.