Pernikahan Di Atas Kertas

Pernikahan Di Atas Kertas
Pengungkapan Cinta


__ADS_3

Ceklek, pintu kamar terbuka.


Bara yang baru saja datang, dan membuka pintu kamarnya, ia sedikit terkejut saat melihat istrinya yang sedang duduk, terisak-isak.


Bara segera mendekati Fira, berjongkok di dekatnya. "Fira," panggil Bara, dengan lembut.


"Fira, ada apa denganmu? Kenapa kau menangis seperti ini?" tanya Bara, dengan lembut.


Namun Fira masih enggan untuk melihat suaminya itu. Mata Bara kini beralih ke sebuah foto yang di pegang oleh Fira.


Bara segera mengambil alih foto itu dari tangan Fira. Kemudian ia mengusap wajahnya dengan kasar. Sambil membuang muka ke sembarang arah. Ia sudah tahu, alasan Fira menangis seperti itu.


Bara mendengus kecil, "Fira, ayo bangunlah, aku akan menjelaskan semuanya." Bara memegang kedua bahu Fira, mengangkat tubuh istrinya itu, dan menggiringnya untuk duduk di tepi ranjang.


"Fira... jangan menangis seperti ini," ucap Bara kepada Fira yang masih menundukkan wajahnya.


"Hey, lihat aku." Bara menarik dagu Fira, hingga kini ia bisa melihat kedua bola mata Fira yang sedikit membengkak, dan terlihat menyipit. Bahkan sisa-sisa air mata masih membasahi pipi istrinya itu.


Bara mengusap lembut kedua pipi Fira, menghapus air mata sang istri. Dan membenarkan sebagian rambut Fira yang terlihat menutupi sebagian wajahnya itu.


"Apa kau menangis karena foto ini?" tanya Bara, sambil menunjukkan foto yang di pegangnya. Fira hanya diam tak menjawab.


"Apa kau menemukannya di tempat sampah?" Fira menganggukkan kepalanya pelan.


"Kemarilah, jangan terus menangis seperti ini. Kau ini tak perlu menangisi foto seperti ini," ucap Bara, menarik tubuh Fira, mendekapnya dalam pelukannya.


"A-aku bukan menangisi fotonya, t-tapi kata-kata, yang a-ada di balik foto itu," ucap Fira terbata, sambil sesenggukan.


"Maafkan aku, maafkan," lirih Bara, sambil mencium puncak kepala Fira. Dan hal itu malah membuat Fira kembali menangis lagi.


"Apa sebegitunya kau mencintai Nona Raina?" pertanyaan itu tiba-tiba terlontar dari mulut Fira.


Bara menjauhkan tubuhnya dari Fira, kemudian memegang kedua bahu Fira sambil menatapnya begitu dalam.


"Kenapa kau bertanya seperti itu hah?" tanya Bara, menatap lekat mata Fira.


"Apa kau masih mencintainya Mas?" tanya Fira, begitu berat.


Bara diam tak langsung menjawab pertanyaan Fira. Ia masih menatap lekat kedua bola mata Fira yang kini sudah di genangi dengan air mata.


Tiba-tiba Bara tersenyum, saat menatap kedua bola mata Fira. Entah apa yang membuat lelaki ini tersenyum, tapi senyumannya ini seakan menandakan kebahagiaan.

__ADS_1


"Kenapa kau malah tersenyum?" tanya Fira seakan bingung.


"Aku sudah mendapat jawabannya," jawab Bara, yang membuat Fira semakin heran.


"Apa kau akan kembali padanya?" tanya Fira, saat mendengar jawaban Bara. Bahkan kini air matanya, semakin membanjiri wajah cantiknya itu.


"Fira, apa kau mencintaiku?" tanya Bara.


Mata Fira terbelalak, saat mendengar pertanyaan yang Bara lontarkan. Fira terdiam, ia sendiri tak tahu, apa yang harus ia jawab. Sesak rasanya jika ia harus mengakui perasaannya, namun takut tak terbalas. Fira hanya membuang wajahnya, ke sembarang arah. Enggan rasanya untuk menjawab pertanyaan itu.


"Fira... lihat aku." Bara menarik dagu Fira, agar menatap kepadanya.


Hening....


Mereka berdua hanya saling menatap satu sama lain. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Fira. Dan tiba-tiba Bara memeluk tubuh Fira, mendekapnya dengan begitu erat.


"Mas, apa aku salah jika aku menaruh hati kepadamu? Apa aku salah jika aku berharap bisa memilikimu selamanya?" lirih Fira, dengan berat. Rasanya ia sudah tak sanggup memendam pertanyaan yang selama ini ingin ia tanyakan.


Bara menjauhkan kembali tubuhnya, memegang kedua pipi Fira, dan menatapnya dengan begitu lekat.


"Tak ada yang salah, perasaanmu maupun keinginanmu untuk memilikiku itu semua tidak salah."


"Apa kau tahu Fira, kenapa selama ini aku sering bertanya, apa kau mencintaiku. Apa kau tahu maksud dari pertanyaanku itu? " tanya Bara, Fira hanya menggelengkan kepalanya pelan.


"Namamu, sudah ada di hatiku sejak lama, aku selalu berharap bisa melihat cinta di matamu, dan malam ini, aku bisa melihat semuanya. Aku sangat senang, saat kau menunjukkan cintamu lewat kedua bola matamu itu," tutur Bara, begitu lembut.


Fira masih terdiam, ia sedikit terkejut saat mendengar semua ucapan Bara. Antara senang dan sedih, sedikit tak percaya, dan tetap di hatinya masih tersimpan keraguan.


Bara menghapus sisa-sisa air mata di pipi istrinya itu, mengusapnya dengan begitu lembut.


"Jangan menahan perasaanmu seperti ini. Dan masalah foto ini, aku sudah membuangnya, itu berarti sudah tak ada rasa, anatara aku dengan Raina. Dan kau harus mempercayai itu. Apa kau akan percaya kepadaku?" tanya Bara, Fira terdiam, kemudian menganggukkan kepalanya pelan.


Bara segera merobek foto itu, menjadi potongan-potongan kertas kecil, dan membuangnya ke sembarang arah.


Bara meraih kedua tangan Fira, dan menggenggamnya dengan begitu erat.


"Baiklah, ayo kita buat hubungan ini agar semakin jelas," ujar Bara. Fira hanya mengerutkan kedua alisnya, tak mengerti dengan ucapan Bara.


"Dengarkan perkataanku," ucap Bara, sambil menatap lekat kedua bola mata Fira.


"Fira Alexander, aku, ... Bara Sebastian, tepat di malam ini, aku akan menyatakan perasaanku kepadamu.โ€

__ADS_1


โ€œFira, ... aku ... mencintaimu."


"Maukah kau menjadi teman hidupku untuk selamanya dan menjadi ibu dari anak-anak ku?" tanya Bara, begitu lembut sambil menatap kedua bola mata Fira.


Sungguh, bahagia tak terkira bergejolak memenuhi hati Fira. Perasaan sedih yang baru saja ia rasakan, seketika berganti dengan perasaan yang berbunga-bunga.


Fira melipat kedua bibirnya, air mata kebahagiaan menetes membasahi pipinya. Rasanya ia tak sanggup untuk mengungkapkan perasaannya. Perlahan Fira tersenyum, mengembangkan senyuman manisnya itu, sambil menatap lekat kedua bola mata suaminya.


Dan, tiba-tiba, Fira langsung memeluk tubuh Bara, memeluknya dengan begitu erat.


"Aku juga mencintaimu Mas," ucap Fira, sambil menenggelamkan wajahnya di dada bidang Bara. Memeluk tubuh suaminya dengan begitu erat, bahkan seakan enggan untuk melepaskannya.


Bara tersenyum bahagia saat mendengar pengungkapan cinta dari istrinya. Tak tahu ekspresi apa yang bisa mengungkapkan perasaan bahagianya ini. Namun yang pasti saat ini Bara sangat bahagia. Ia menciumi puncak kepala Fira berkali-kali, memeluknya dengan begitu erat, dan rasa syukur terus ia tuturkan dalam hatinya.


"Terima kasih Ya Allah, telah menyatukanku dengan seorang wanita yang solihah, baik dan mampu mencintaiku dengan ketulusan hatinya."


Andaikan waktu bisa di ulang, rasanya Bara ingin memperbaiki perilaku yang pernah ia perbuat kepada istrinya dulu. Sungguh rasa berdosa tiba-tiba menghampirinya.


"Fira, maafkan aku, maafkan," lirih Bara, sambil terus menciumi kepala istrinya itu.


Fira mendongakkan kepalanya, menatap wajah suaminya. "Kenapa kau meminta maaf?" tanya Fira.


"Tidak, aku hanya ingin meminta maaf kepadamu, aku terlalu banyak melukai hatimu. Maafkan aku," ucap Bara, menatap wajah istrinya.


Fira menjauhkan tubuhnya dari Bara, kemudian ia memegang kedua pipi suaminya itu, sambil tersenyum. "Tak perlu meminta maaf, yang lalu biarlah berlalu. Apa kau tahu? Kau adalah lelaki pertama yang bisa membuat aku jatuh cinta sedalam ini, dan aku sangat bersyukur saat mengetahui, bahwa kau juga mencintaiku," tutur Fira. Bara tersenyum sambil meraih sebelah lengan Fira yang ada di pipinya, kemudian menciumi punggung tangan Fira, berkali-kali.


"Kalau begitu, ayo," ajak Bara, tersenyum usil.


"Ayo apa?" tanya Fira, mengernyitkan dahinya.


"Ayo, kita bikin anak," ucap Bara tersenyum miring, sambil menahan tengkuk kepala Fira dengan sebelah lengannya, dan langsung menciumi bibir manis istrinya itu. Fira tersenyum, sambil menikmati semuanya. Dan kini mereka berdua memadu kasih, di atas ranjang. Dengan perasaan penuh cinta dan bahagia.


Ah... sungguh, malam yang indah. Setelah melewati kesedihan, kini saatnya kebahagiaanlah yang menghampiri mereka.


.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


Bantu vote dong sayang-sayangku. Like dan komennya juga ya.


Nanti up lagi ๐Ÿ˜˜ see you on the next chapter


__ADS_2