
Kini Bara melanjutkan perjalanannya menuju kantor Cleon Company. Dan sesampainya di sana, Fira dan Bara, segera turun dari mobil. Masuk ke dalam gedung perusahaan.
Dan ketika mereka masuk di pintu lobby, sudah terlihat seluruh orang mengalihkan perhatiannya kepada dua sejoli yang tengah berjalan bergandengan.
Fira sedikit merasa gugup, karena kini ia harus menjadi sorotan mata dari semua pegawai suaminya. Bara sejenak melihat ke sekitar, ia melepaskan genggamannya dengan tangan Fira, sejenak membuat Fira sedikit terkejut. Namun hal tak terduga, malah di lakukan oleh Bara. Ia membuka jasnya, dan menutup sebagian kepala Fira menggunakan jasnya. Menghalangi orang-orang, agar tidak melihat istrinya. Ia pun menarik pinggul Fira, memeluknya dengan sebelah lengannya. Dan menggiring Fira, untuk berjalan berdempetan dengannya.
"Mas, apa yang kamu lakukan!" seru Fira, namun dengan suara pelan.
"Sut... jangan berisik." Mata Bara, menatap ke setiap pegawai lelaki maupun perempuan yang memperhatikannya.
"Lihatlah, mereka semua memperhatikanmu, kau jangan melihat mereka," bisik Bara.
"Kalau, seperti ini, bagaimana aku bisa melihat jalan!" ucap Fira, karena kini wajahnya terhalangi oleh jas milik Bara, sehingga membuat ia sedikit kesulitan untuk berjalan.
"Eh... sudah, sudah, tetap jalan pelan saja," perintah Bara, yang masih menutupi wajah Fira, dengan jasnya. Mau tak mau, Fira menuruti perintah suaminya, mereka berjalan menuju lift pribadi yang tersedia di sana. Dengan berjalan sedikit kesulitan, dan hanya mengandalkan arahan dari suaminya.
"Lihatlah, Pak Bara sebegitu posesifnya."
"Apa wanita tadi adalah istrinya Pak Bara?"
"Tentu saja itu istrinya, lagi pula selama ini, Pak Bara tak pernah mengajak seorang perempuan kemari, apalagi dengan cara seperti itu."
"Ku kira Pak Bara manusia salju, ternyata dia romantis juga sama istrinya."
"Pantas saja Pak Bara, tidak tergoda dengan wanita-wanita seksi, di sini. Tahu nya, seleranya tinggi. Berhijab, sopan, salihah dan pastinya cantik."
Ucapan demi ucapan terlontar dari beberapa pegawai wanita yang ada di sana. Tak sedikit dari mereka, yang sedari dulu mengagumi Bara, dan mencoba mencuri perhatiannya, namun di antara semua, tak pernah ada yang berhasil. Dan sebagian dari mereka, baru tersadar, ternyata mencuri perhatian Bara, bukanlah dengan pakaian terbuka, yang menunjukkan kemolekan tubuh mereka, tetapi sebaliknya. Itu yang sekarang mereka pikirkan.
Bara dan Fira, keluar dari Lift, langsung berjalan menuju ruang kerja Bara.
"Sudah, sampai," ucap Bara, membuka jas yang menutup kepala Fira.
"Mas kamu ini! Membuat aku gerah saja!" ucap Fira, sambil membenarkan kerudungnya. Dan kini matanya, tertuju dengan ruangan kerja yang cukup besar dan luas. Bahkan gaya interiornya pun sangat indah sekali.
"Mas, kau setiap hari bekerja di ruang ini?" tanya Fira, menyapukan matanya ke seluruh sudut ruangan.
"Benar, memangnya kenapa?" ucap Bara, mendekati Fira.
"Bagus sekali ... kalau bekerja di ruangan seperti ini, pasti akan betah sekali," ucapnya tersenyum semangat.
"Begitukah? ... Tapi, aku tidak betah berada di sini," ujar Bara.
"Kenapa?" tanya Fira, memasang wajah polosnya.
"Karena... aku lebih betah berada di sisimu," ucap Bara, membuat Fira mengulum lidahnya, menahan senyum.
"Karena bagiku, semewah atau sebagus apa pun tempat itu, kalau tidak ada kamu di sisiku, aku tidak akan betah tinggal di tempat itu."
Fira, sejenak tertawa mendengar ucapan Bara. Sehingga membuat Bara, bertanya-tanya keheranan.
"Kenapa kau menertawakanku?"
"Haha, Mas ... kau ini lucu sekali. Sejak kapan kau pandai menggoda dengan kata-kata menggelikan seperti itu," ujar Fira, terkekeh.
"Aku tidak sedang menggodamu, aku serius Fira...." Pengungkapan Bara, sepertinya hanya di anggap candaan oleh Fira. Karena ia terus saja tertawa, tak henti. Sehingga membuat Bara, geram dan menggelitiknya. Sampai membuat mereka berdua terjatuh di atas sofa.
"Mas, hentikan, geli," rengek Fira, sambil tertawa geli, karena terus di gelitik badannya, oleh Bara.
Clak.
__ADS_1
Pintu ruangan tiba-tiba terbuka, terlihat Dion, berdiri di ambang pintu. Membuat Fira dan Bara, terkejut. Tapi Dion, ia lebih terkejut, saat melihat posisi Bara, yang berada di atas Fira, seakan memeluknya di atas sofa.
Bara dan Fira, segera membenarkan posisi mereka. Tak bisa di pungkiri, Bara merasa malu, dengan apa yang Dion lihat.
"Maaf, sudah mengganggu, tapi klien kita sudah menunggu di ruang rapat," ujar Dion, menunduk tak berani melihat Bara.
Bara dan Fira, sejenak beradu pandang. Dan tersenyum kikuk. "Hm... baiklah, lima menit lagi aku akan ke sana," ucap Bara. Dion pun segera pergi, dari ruangan itu.
"Sungguh memalukan," ucap Fira, dengan volume suara yang di besarkan.
Bara, yang tengah mengintip keluar, lewat pintu. Ia segera menutup pintu itu, dan menguncinya rapat-rapat. Kemudian, kembali menghampiri Fira, yang tengah duduk menyandar di atas sofa.
"Tidak memalukan, justru Dion lah yang seharusnya malu, karena sudah mengganggu kita," ucap Bara.
Fira mendengus kecil. "Sudahlah, kau bersiaplah, kasihan klien mu menunggu lama."
"Kau tidak apa-apa kan, ku tinggal di sini sendiri?" tanya Bara, seakan tak tega.
"Iya, tidak apa-apa."
"Eh... tapi jangan lupa, kamu pesan makanan dulu ya. Aku lapar," ucap Fira, melebarkan senyumannya. Bara, tersenyum mengangguk, dan mengelus lembut kepala Fira, dengan begitu manja.
"Baiklah, aku tinggal dulu, kau harus hati-hati, nanti ada office girl, yang akan mengantarkan makananmu kesini. Jika kamu, mau istirahat, istirahat lah di kamar."
"Di kamar?"
"Iya, di sana ada kamar, kau istirahat lah di sana. Dalam dua jam, aku akan kembali lagi," ucap Bara. Fira pun mengangguk, tersenyum.
Bara pun beranjak berdiri, ia hendak melangkahkan kakinya. Namun mengurungkannya kembali.
"Kenapa?" tanya Fira, yang ikut berdiri dari duduknya.
***
Bara kini memulai meeting bersama kliennya, dan juga dengan Dion. Ia memperkenalkan berbagai macam design berlian terbaru, yang di miliki oleh perusahaannya. Dan tentunya, di anatara keduanya, terjadi obrolan yang cukup panjang.
Sementara itu, Fira yang tengah berada di kamar, yang ada di dalam ruang kerja Bara. Ia melihat-lihat, ruangan kamar itu.
Design interiornya, bagus sekali, bergaya ala eropa. Dan tentunya dengan view yang menakjubkan.
"Seperti di hotel saja," gumam Fira. Seraya berjalan mendekati sebuah lemari kaca, yang terdapat beberapa hiasan.
Matanya kini tertuju, dengan salah satu hiasan caydanlik, khas turki. Fira membuka lemari kaca itu, hendak mengambil caydanlik itu, namun ia mengurungkannya, ketika ia mendengar suara perempuan, dari luar kamar. Fira pun keluar dari kamar itu, dan benar saja, seorang office girl, tengah menenteng empat paper bag, yang sudah di pastikan berisi makanan.
"Maaf nyonya, tadi Pak Bara, menyuruh saya untuk masuk kesini langsung, dan memberikan ini untuk Nyonya," ucap office girl itu.
"Oh iya, siapkan di atas meja saja," ucap Fira. Wanita itu pun mengiyakannya, dan segera mengeluarkan semua makanan dari paper bag itu.
Fira mendudukkan tubuhnya, di atas sofa, sambil melihat aneka macam makanan, yang ada di atas meja. Rasanya ia sudah tak sabar lagi untuk melahap makanan yang begitu banyak itu.
Office girl itu pun berdiri setelah selesai menyajikan makanan untuk Fira. Ia hendak pergi, namun Fira menahannya. Dan mengajaknya untuk duduk bersama, menemaninya makan.
"Tapi, Nyonya, ini jam kerja saya," tolak Office girl itu, dengan suara lembutnya.
"Sudah duduk saja di sini, ayo kita makan bersama, lagi pula saya tidak akan bisa menghabiskan semua makanan ini," ucap Fira, menahan wanita itu yang sedang duduk di sampingnya.
Sejenak Fira, menatap ke arah nama pengenal, yang tertera di baju wanita itu.
"Fitri," ucap Fira, membaca tulisan itu.
__ADS_1
"Nama kamu Fitri?" tanya Fira, wanita itu mengangguk.
"Saya Fira."
"Oh ya, kamu jangan keluar dulu, temani saya makan ya," ujar Fira. Namun Fitri masih tetap menolak, karena merasa tidak enak.
"Ini, ambil, untukmu." Fira menyodorkan satu kotak makanan, berisi salad buah, kepada Fitri. Mau tak mau, Fitri akhirnya menerimanya. Dan Fira memaksa Fitri untuk memakannya. Dan akhirnya mereka pun makan bersama.
Di tengah acara makan mereka, Fira sedikit memberikan beberapa pertanyaan kepada Fitri, mengenai pekerjaannya, dan sesekali Fira pun menanyakan tentang Bara.
"Oh ya, Bara di sini orangnya seperti apa?"
"Hah?" Fitri, segera menelan salad yang tengah di kunyahnya. Sebenarnya ia kebingungan harus menjawab apa, karena ia pun tak begitu mengenal Bara. Yang ia tahu, ia hanya harus bekerja dengan baik dan benar di perusahaan ini.
"Ba-baik ko," ucapnya ragu.
"Benarkah? Apa dia suka menggoda pekerja wanita di sini?" ucap Fira, begitu saja. Membuat Fitri, terkejut dan tersedak.
"Uhuk, uhuk." Fira segera menyodorkan segelas ice tea yang ada di situ kepada Fitri, Fitri menyahutnya dan segera meminumnya.
"Hehe, maaf ya, pertanyaanku ngaco ya," ucap Fira, menyengir. Fitri hanya diam, tak berkutik.
"Jadi bagaimana?"
Dengan wajah polosnya, Fitri memandang Fira. "Ti-tidak pernah Nyonya," ucapnya, sambil mengelap bibirnya dengan tisu. Fira menganggukkan kepalanya pelan.
"Nyonya, saya pamit bekerja kembali," ucap Fitri gugup.
"Hah? Tapi makanannya belum habis."
"Maaf Nyonya, sa-saya–" terpotong.
"Ya sudah, begini saja ... kamu ambil beberapa makanan ini, dan kamu bagikan saja dengan teman-temanmu," ucap Fira. Fitri hendak menolak, namun Fira tetap memaksanya. Dan akhirnya Fitri pun membawa setengah dari makanan yang ada. Dan segera berlalu meninggalkan Fira sendiri.
"Pegawai di sini cantik-cantik, dan Mas Bara tak tergoda oleh mereka. Hm... menakjubkan," gumamnya, kembali melahap beberapa makanan.
Dan ketika Fira memakan sesendok puding mangga, tiba-tiba, Fira membungkam mulutnya, rasa mual tiba-tiba bergejolak, perut nya seakan di aduk, sehingga ia merasa ingin memuntahkan semua makannya.
Fira berlari, ke dalam kamar masuk ke dalam toilet. "Hoek... hoek...." Fira memuntahkan, puding mangga yang belum sempat ia makan.
"Wle... kenapa pudingnya terasa aneh sekali," gumamnya, sambil membersihkan mulutnya dengan air keran, yang mengalir di atas wastafel.
Sejenak ia memandang dirinya di cermin. Memegang jidatnya, yang tiba-tiba, terasa pusing. Fira memutuskan untuk kembali ke ruang kerja Bara, ia mengambil tas, dan sebotol air mineral di atas meja. Kemudian masuk kembali ke dalam kamar, dan segera merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Ia juga mengirimkan pesan singkat kepada Bara, mengabari suaminya, kalau dirinya akan beristirahat di kamar.
"Kenapa, kepalaku pusing sekali."
"Dan kenapa aroma puding tadi masih tercium oleh hidungku."
"Argh... mengganggu sekali," gerutu Fira, kemudian segera meminum air mineral yang tadi sempat ia ambil. Dan kembali merebahkan tubuhnya, dengan posisi yang begitu nyaman di atas tempat tidur, sambil mendengarkan murotal al-qur'an lewat ponselnya, tanpa Fira sadari ia sudah terlelap ke alam mimpinya.
.
.
.
Bersambung.
Mudah-mudahan bisa di buka ya episode ini. Takutnya, masih erorr.
__ADS_1
Jangan lupa bantu like, komen dan vote ya 🥰