
Fira sudah bersiap mendengarkan pertanyaan yang akan di lontarkan suaminya itu, memasang kedua telinganya, agar bisa mendengar dengan jelas setiap perkataan yang akan di ucapkan Bara.
Namun sebelum Bara bertanya, ia terlebih dahulu mengecup mesra bibir Fira. Yang menggodanya sedari tadi.
"Mas! Kau ini!"
"Ayo, katakan, apa pertanyaannya?" gerutu Fira.
"Kamu ini, tidak sabaran sekali," tutur Bara, tersenyum manis memandang wajah Fira.
"Baiklah, dengarkan pertanyaan ini baik-baik, dan kau harus menjawabnya setepat mungkin. Kalau tidak, kau tahu sendiri akibatnya," ujar Bara, tersenyum miring.
"Ya sudah, ayo katakan!"
"Fira, apa kau tahu maksud aku mengakuimu secara publik di media TV?" tanya Bara. Fira menggelengkan kepalanya.
"Sekarang jawab jujur! Apa sekarang kau masih meragukanku?" tanya Bara.
"Meragukan apa?" tanya Fira, seakan tak mengerti.
"Tidak usah berpura-pura polos seperti itu. Aku tahu, kau belum sepenuhnya mempercayaiku, kau masih meragukan perasaanku kan?" tanya Bara.
Fira terdiam, ia sejenak berpikir. Membenarkan apa yang di ucapkan oleh suaminya. Karena selama ini, ia masih menyimpan keraguan dan belum sepenuhnya percaya akan perasaan Bara padanya.
Bara menatap wajah cantik Fira yang terlihat sedang melamun.
"Kenapa diam saja?" tanya Bara, membuyarkan lamunan Fira.
"Ma-maafkan aku Mas," tutur Fira pelan.
Bara tersenyum. "Tidak perlu meminta maaf, aku bertanya hal itu bukan untuk mendengar permintaan maaf darimu. Tapi aku, ingin meyakinkan hatimu, kalau aku bersungguh-sungguh mencintaimu," ucap Bara, memegang kedua tangan Fira, sambil menatapnya dengan begitu dalam. Fira mengembangkan senyuman manisnya kepada Bara.
"Sekarang aku minta padamu, jangan pernah kau meragukan rasa cintaku padamu. Karena, aku pun, tak ragu-ragu mencintaimu," ucap Bara, kembali memberi kecupan hangat di kening Fira.
Sungguh, perkataan yang baru saja Bara lontarkan, membuat Fira semakin percaya akan cinta suaminya. Dengan begitu ia pun tak perlu takut, untuk terjun bebas, sedalam-dalamnya ke dalam lautan cinta di hatinya.
Bukan soal terjun dalam lautan cinta, apa yang Bara ucapkan membuat hatinya seakan terbang, melayang-layang di angkasa.
Kini Fira dan Bara, keluar dari ruangannya. Dan ketika Fira melangkah keluar, ia sedikit terkejut melihat kehadiran Dion, yang sedang duduk menikmati satu gelas semothie, dan satu potong red velvet.
"Kak Dion, kau ada di sini juga?" tanya Fira, menghampiri.
"Kalian ini tega sekali, membiarkan lelaki setampan aku, duduk sendirian sampai lumutan begini," gerutu Dion.
Fira terkekeh, mendengar ucapan Dion. "Mas, kenapa kau tak memberitahuku?" tanya Fira, kepada Bara.
Bara mendudukkan tubuhnya, di atas kursi, satu meja dengan Dion. "Untuk apa, aku memberitahumu. Lagi pula Dion kesini hanya untuk membeli kue. ... Bukankah begitu?" tanya Bara, melirik ke arah Dion.
"Iya, iya!" seru Dion, kembali melahap potongan kecil kuenya.
"Ya sudah, aku tinggal dulu sebentar ke dapur ya," pamit Fira, berniat untuk mengambilkan makanan untuk suaminya.
__ADS_1
Bara memfokuskan kedua matanya ke arah kemeja yang di pakai Dion.
"Hey, kenapa dengan bajumu? Kau habis di cium seseorang ya?" tanya Bara, yang mengenali, kalau noda di baju Dion, ialah noda lipstik.
"Kau ini sembarang sekali! Tadi aku tertabrak oleh seorang wanita aneh," ucap Dion.
"Wanita aneh? Dimana?"
"Di sinilah! Kan aku dari tadi di sini," ucap Dion.
"Apa temannya Fira?" tanya Bara. Dion menganggukkan kepalanya.
"Yang mana?" tanya Bara kembali.
"Entah lah, aku tak mengenal keduanya, hanya saja wanita yang menabrakku tadi, aku pernah bertemu dengannya malam lalu," jawab Dion.
"Haha, syukur lah hanya bajumu yang tercium oleh wanita itu, bukan bibirmu," ucap Bara, sembarang.
Dion sedikit tertegun mendengar ucapan Bara. Ia mengingat kembali kejadian malam itu, saat ia menghadiri acara ulang tahun keponakannya. Di mana, di malam itu ada sesuatu kejadian yang membuat Dion, tak ingin mengingatnya kembali. Tapi sialnya, kejadian malam itu sampai sekarang masih bisa ia rasakan. Bahkan untuk kedua kalinya, ia harus bertemu kembali dengan wanita yang menurutnya aneh, yaitu Merry.
Dion menggidikkan bahunya, saat mengingat kejadian malam itu.
"Kau kenapa?" tanya Bara heran. Dion hanya menggelengkan kepalanya, dan kembali melahap kuenya.
***
Di kampus XXX.
[Aku ada di parkiran kampus. Cepatlah kemari ada yang ingin aku bicarakan denganmu – Raina]
Ia mengirimkan pesan singkat itu kepada Reza. Sekitar 15 menit, menunggu. Akhirnya Reza pun datang menghampirinya.
Raina segera keluar dari mobilnya, saat mengetahui Reza sudah berjalan dekat ke arah mobilnya.
"Raina," panggil Reza, mengembangkan senyumnya.
Raina menghampiri Reza, dan memberikan kunci mobilnya, kemudian ia segera membuka salah satu pintu mobilnya.
"Ayo kita pergi," ucap Raina, masuk ke dalam mobil.
"Pergi? Pergi ke mana?" gumam Reza, sambil sejenak menatap kunci mobil Raina yang di pegangnya. Ia pun segera masuk ke dalam mobil Raina. Dan segera mengemudikan mobil itu.
"Mau pergi ke mana?" tanya Reza, saat keluar dari halaman parkir mobil.
"Ke kafe biasa," jawab Raina, tanpa menoleh sedikit pun. Reza menganggukkan kepalanya. Dan segera melajukan mobilnya menuju kafe yang di maksud oleh Raina.
Sesampainya di Kafe. Raina keluar dari mobil terlebih dahulu. Dan di susul oleh Reza, yang berjalan di belakangnya. Mereka berdua segera mencari tepat duduk. Dan memesan dua minuman.
"Ada apa? Tumben ngajak aku ketemu," tanya Reza.
"Reza, kau serius denganku kan?" tanya Raina, menatap serius kedua mata Reza.
__ADS_1
Reza menganggukkan kepalanya pelan.
"Kalau begitu, ayo kita nikah," ucap Raina. Sontak membuat Reza terkejut.
"Menikah?" tanya Reza, dengan suara yang sedikit lebih keras. Raina mengangguk.
"Kau yakin? Bukankah kau ma–"
"Aku serius Reza...." potong Raina. Reza mengerutkan kedua alisnya. Masih tak percaya dengan apa yang Raina ucapkan.
Mungkin ini akan menjadi keputusan terberat bagi Raina. Namun sebelum memutuskan hal ini, tentunya ia sudah berpikir ratusan kali. Dan mungkin ini adalah satu-satunya cara agar ia bisa move on dari Bara.
Memang menikah adalah hal yang sakral. Dan mungkin dulu, Raina memimpikan bisa menikah dengan pria yang ia cintai. Namun takdir berkata lain. Keadaan saat ini, seakan memaksanya untuk mengambil langkah yang tak pernah ia inginkan.
"Raina, kau tak perlu memaksakan dirimu untuk menikah denganku. Lagi pula –"
"Tidak Reza, aku sudah memikirkan hal ini berkali-kali. Dan ini adalah keputusan terakhirku," potong Raina.
"Mungkin kau masih tak percaya dengan keputusanku ini. Tapi hanya ini satu-satunya cara, membuat Momy dan Dady senang," tuturnya, seakan berat.
"Raina... aku tahu, kau melakukan hal ini bukan karena Momy dan Dady mu, tapi karena mantan kekasihmu. Iya kan?" tanya Reza.
Raina, terdiam. Hatinya seakan kalut, saat mendengar perkataan yang di ucapkan Reza. Karena kuatnya rasa cintanya pada Bara. Membuat dirinya terpaksa harus menikahi lelaki lain. Agar cinta yang ada di hatinya, perlahan bisa memudar.
Raina seakan tak bisa membendung air matanya lagi. Setetes air mata, lolos begitu saja dari matanya. Ia menundukkan kepalanya. Bahkan tangannya, terlihat sedikit gemetar. Sungguh, ini adalah keadaan tersulit yang harus ia hadapi sekarang ini.
"Raina," panggil Reza begitu lembut.
"Kau benar, aku rela mengambil keputusan sebesar ini, hanya karena dia. Tapi Reza... aku tak tahu, harus bagaimana lagi, agar aku bisa melupakannya."
"Aku berpikir, kalau aku menikah denganmu, lambat laun, aku akan bisa melupakannya. Maafkan aku Reza. A-aku tidak bermaksud mempermainkan pernikahan ini. Tapi, ... aku mohon bantulah aku. Bantu aku agar aku bisa melupakannya," tutur Raina, dengan air mata yang sudah berderai membasahi pipinya.
Reza terdiam, sungguh, ia tak tega membiarkan wanita yang ada di hadapannya. Menangis pilu seperti itu. Reza mengusap kedua pipi Raina. Menghapus air mata Raina, dengan kedua ibu jarinya.
Reza menarik nafas begitu dalam dan menghembuskannya perlahan. Di tatapnya kedua bola mata Raina, yang sudah sedikit membengkak akibat menangis. "Baiklah, ... aku akan membantumu," ucap Reza. Raina pun tersenyum getir, mendengarnya.
Entah harus senang ataupun sedih, mendengar ucapan Reza. Yang pasti saat ini, hatinya sedang tidak baik-baik saja.
.
.
.
Bersambung....
Sedikit cerita, buat mengobati rasa rindu kalian kepada Bara dan Fira.
Semangatin author dong, biar author bisa lanjutin cerita ini.
Jangan lupa, like, komen dan vote sebanyak-banyaknya ya... biar author bisa up terus cerita ini hehe.
__ADS_1
Love you.... 😘