Pernikahan Di Atas Kertas

Pernikahan Di Atas Kertas
Perfect Marriage - Bab 26


__ADS_3

Mereka pun duduk di atas kursi, melingkari meja yang sudah terisi oleh berbagai macam hidangan di atasnya.


Ningsih dan Elin terlihat mengobrol dengan begitu ceria. Sedangkan Dirga dan Pak Setyo (Bapak Selly) mereka berbicara mengenai pekerjaan mereka. Lalu, Selly dan Damas hanya saling berdiam-diaman saja.


Karena merasa jengah, terlalu diacuhkan oleh Selly, akhirnya Damas mencoba membuka pembicaraannya dengan Selly.


"Selly, bisakah kau bersikap baik-baik saja? Aku sudah meminta maaf, please... maafkan aku Sell." Damas berujar sambil memegang sebelah tangan Selly hendak menggenggamnya. Namun, Selly dengan cepat  menepiskan tangannya itu dari genggaman Damas.


"Aku tidak bisa melanjutkan semua ini Mas, lebih baik kita akhiri semuanya di sini," ujar Selly setengah berbisik, agar tak terdengar oleh orang tua mereka.


"Apa kau gila hah? Pernikahan kita tinggal tiga minggu lagi, semuanya sudah dipersiapkan Sell." Emosi Damas seakan terpancing, namun ia masih bisa merendahkan suaranya.


"Kamu yang gila Mas, sudah menghamili wanita lain malah mau menikah denganku!" Kali ini Selly benar-benar sudah tak bisa berbicara sopan lagi kepada Damas.


"Hey! Jaga ucapanmu itu! Kalau orang tua kita mendengar bagaimana hah?" Lagi-lagi Damas berbisik namun suaranya penuh dengan tekanan.


Suasana pun terasa semakin canggung, ketika kedua orang tua mereka, masing-masing menatap Selly dan Damas secara bergantian, dengan tatapan penuh selidik.


"Apa kalian baik-baik saja?" tanya Elin, dengan heran.


"Hah? I-iya Ma, kita baik-baik saja," jawab Damas tersenyum kaku. "Iya kan Selly?" sambungnya, bertanya kepada Selly, sambil sedikit menyikut sikut Selly.


Namun, respons dari Selly, ia hanya diam sambil menundukkan  kepalanya. Hingga membuat para orang tua semakin curiga, bahwa Damas dan Selly sepertinya tidak sedang baik-baik saja.


"Selly sayang, kalian ada masalah apa sebenarnya Nak? Ayo, kita bicarakan baik-baik," ucap Ningsih dengan begitu lembut.


"Selly, jangan menunduk seperti itu, jika sedang diajak berbicara lihatlah orangnya!" seloroh Setyo, yang seakan tak suka melihat sikap anaknya yang tiba-tiba berubah seperti itu.


Selly pun menarik nafasnya panjang, lalu mengembuskannya pelan. Dan ia pun mulai mengangkat wajahnya memandang semua orang yang ada di sekelilingnya.


"Bu, Pak, Tante, Om ... sebelumnya Selly ingin meminta maaf, tapi ...." Suara Selly tiba-tiba tercekat, seolah ada sesuatu yang berat yang menghalang di tenggorokannya.


"Tapi apa Nak?" tanya Dirga penasaran.

__ADS_1


"Selly ... Selly ingin me-membatalkan pernikahan Selly dengan Mas Damas. Maaf ...."


Semua orang saling memandang satu sama lain, mengerutkan dahi, dengan kebingungan yang tak mereka pahami.


Sedangkan Damas, lelaki itu begitu terkejut, ia tak menyangka bahwa Selly akan seberani itu untuk membatalkan pernikahan dengannya.


"Selly sayang, apa maksudmu?" tanya Damas begitu khawatir, takut kalau ini benar-benar serius.


"Maksudku sudah jelas Mas, aku tidak ingin menyesal dikemudian hari. Dan seharusnya kau pun lebih bisa menghargai wanita Mas. Dan kuharap kau pun bisa menghargai keputusanku ini," ujar Selly begitu tegas.


"Selly ...." Ningsih berucap dengan wajah pucat, dan bibir yang sedikit gemetar. "Apa yang kau ucapkan Nak!"


"Bu, Pak, maafkan Selly, tapi Selly benar-benar tak bisa melanjutkan pernikahan ini." Selly memohon sambil mengatupkan kedua tangannya.


Dirga dan Elin masih tercengang tak percaya. Mereka begitu terkesiap mendengar ucapan calon menantunya itu.


"Selly! Apa kau pikir perjodohan ini adalah sebuah permainan, yang bisa kau mulai dan akhiri sesuka hatimu hah!" seru Setyo, dengan amarah yang mulai terpancing.


"T-tidak Pak, aku tidak bermaksud mempermainkan perjodohan ini a-aku ...."


"Sudah cukup! Apa kau ingin mempermalukan Bapak dan Ibumu ini di hadapan mereka semua?" Lagi-lagi Pak Setyo berujar dengan penuh amarah di dadanya.


"Bung, tenanglah. Kita dengarkan dulu alasannya apa," ucap Dirga menenangkan sahabatnya itu.


"Selly sayang, apa kamu bisa jelaskan kenapa kamu ingin membatalkan perjodohan ini Nak? Padahal pernikahan kalian, tinggal menunggu beberapa minggu lagi. Kau tidak sedang bermain-main dengan kami kan Nak?" Elin berbicara dengan begitu lembut dan tutur kata yang begitu sopan, seolah mendayu-dayu.


"Tante, maafkan Selly. Tapi ... Selly membuat keputusan sebesar ini pun karena ada alasannya tante." Selly berucap dengan wajah penuh ketegangan dan sedikit takut, akan mata elang yang sedari tadi mengawasinya.


"Sial, bisa-bisanya dia berkata seperti itu," gumam Damas dalam hati.


"Selly, apa yang kau bicarakan!" seloroh Damas dengan perasaan yang tak tenang.


"Mas, maafkan aku, tapi aku tidak bisa menyembunyikan semua ini."

__ADS_1


Deg ... perasaan Damas, semakin tak karuan ketika mendengar ucapan Selly yang seberani itu.


"Selly kau jangan macam-macam kepadaku!" Suara Damas terdengar sedikit menakutkan seolah sedang mengancam.


Selly kembali mempersiapkan diri, mengatur nafasnya sebaik mungkin. "Baiklah, tenanglah Selly, tenanglah. Katakan semuanya dengan jujur. Dan bersiaplah atas apa pun reaksi yang akan kamu terima setelah ini."


"Aku membatalkan perjodohan ini, karena ..." ucapannya menggantung di udara. Semua orang sudah bersiap mendengar kalimat kelanjutan dari mulut Selly.


"Karena ... Mas Damas sudah memiliki wanita lain, dan—" belum sempat Selly menyelesaikan ucapannya. Damas terlebih dahulu menimpalinya.


"Cukup! Kau ini wanita macam apa sih hah! Kau malah menuduhku dengan tuduhan seperti itu!" seru Damas berbohong, namun dengan sulutan api emosi yang begitu membuncah di hatinya. Ia tak terima jika Selly membongkar semua aibnya di depan orang tuanya.


"Selly kau ini berkata apa hah! Apa yang sebenarnya ada di pikiranmu! Berani-beraninya kau berbicara tidak sopan seperti itu!" tegas Pak Setyo kepada Selly.


"Selly, kau tidak berbohongan?" tanya Ningsih dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


“Selly, apa maksudmu berbicara seperti itu mengenai anak tante?” tanya Elin, menahan emosi.


Melihat semua reaksi orang di sekelilingnya, tiba-tiba nyali Selly seakan menciut untuk membongkar semuanya. Terlebih ketika mendengar ucapan Bapaknya yang begitu menggelegar penuh emosi.


Selly bingung, hati dan jantungnya semakin berdebar tak karuan. "Kenapa semua orang jadi marah seperti ini kepadaku?" batinnya.


"Gerry?" gumamnya dalam hati. Tiba-tiba pikirannya teringat akan Gerry. Semalam Gerry sempat menelepon Selly untuk meminta bantuan agar misi Gerry bisa berjalan dengan lancar. Namun, semalam Selly malah mengabaikan permintaan Gerry dan memilih untuk tidak ikut campur dengan misinya itu.


Namun, ia kembali mengingat akan kata-kata terakhir yang Gerry sempat ucapkan di telepon sebelum ia mengakhiri obrolannya itu.


"Berikan kode G jika kau setuju. Dan kirimkan kode A jika waktunya sudah pas. Lalu biar aku yang akan melakukan bagian terakhirnya." Begitulah  Gerry berucap, saat memberinya kesempatan jika berubah pikiran.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2