
"Makanannya sudah matang mas, kalau tidak langsung dimakan nanti dingin rasanya tidak enak lagi. Kamu kalau tidur kenapa sulit sekali sih dibanguni," ucap Tiara.
Hans kembali meminjamkan matanya, ia bukan tipe orang yang bisa langsung bergerak setelah bangun tidur, dirinya harus mengumpulkan nyawanya yang masih melayang ke mana-mana setelah nyawanya terkumpul barulah Hans bisa bergerak dari atas tempat tidur.
"Syukurlah kamu bangun, kupikir kamu mau tidur lagi. Kamu tidur lagi makanannya kan ku habiskan sendiri," ucap Tiara.
"Enak saja dirimu, aku yang membayarnya mahal kamu pula yang mau menghabiskannya sendiri," kata Hans.
Hans berjalan menuju tempat makanan itu berada, yang melihat sebuah nampan yang berisi berbagai macam makanan enak, Hans bisa menyebut makanan itu enak karena dari bentuknya saja sudah sangat menggoda. Tanpa menunggu lama-lama lagi Hans duduk dan langsung mencoba makanan di suatu persatu.
"Seharusnya kamu cuci mulut dan cuci muka dulu mas, kenapa langsung makan pula," kata Tiara.
"Ah itu hanya akal-akalan mu biar aku tidak bisa memakan semua ini kan, wah rasanya begitu enak sekali."
"Kamu sekolah memasak? Kenapa begitu pintar membuat makanan seperti ini?"
"Hehehe selain dulu aku sering belajar memasak aku mau sekolah di jurusan seperti ini. Apa rasanya begitu enak? Jujur tadi aku baru mencoba beberapa saja belum semuanya," kata Tiara.
"Ah itu hanya alasanmu, kamu ingin mengambilnya dariku dengan alasan aku belum mencobanya semua, tidak mungkin kamu tidak mencobanya kalau tidak mencobanya bagaimana mungkin kamu bisa membuat makanan seenak ini," ucap Hans.
Tiara tertawa mendengar apa yang Hans ucapkan, ia begitu senang Han sangat menyukai makanannya. Untung tadi sebelum membawa makanan itu ke sini dirinya udah makan terlebih dahulu, walaupun tidak semuanya ya sudah cukup kenyang dan tidak akan mengganggu pria ini makan dengan lahap.
"Aku mau mandi dulu, makan dengan lahap sekali." Tiara berjalan masuk kedalam kamar mandi, ia tidak khawatir dengan pakaian lagi karena semua pakaiannya sudah ada di dalam kamar. Meskipun begitu Tiara ingin tetap mengambil pakaiannya di rumah ayahnya, tidak mungkin kalau di rumah saja ia menggunakan pakaian mahal yang dibelikan oleh Hans kepada nya.
Hans benar-benar merasa puas dengan makanan yang ada, kalau begini caranya ia tidak akan memesan makanan di luar lagi. Dirinya memutuskan untuk menyerahkan makanan makanan pada Tiara, wanita ini benar-benar sangat bisa diandalkan.
Setelah selesai makan dan menurunkan makanan ke dalam lambung Hans juga berjalan masuk ke dalam kamar mandi, ia harus segera mandi agar bisa melanjutkan aktivitas tidurnya yang sempat terganggu. Dirinya tidak peduli ada Tiara di dalam sana, ia malah penasaran dengan bentuk tubuh Tiara, ia sudah melihat dan memegang dada Tiara yang terbilang kecil, berbeda dengan dua istri sebelumnya.
"Ah mas.." Tiara terkejut dengan kedatangan Hans secara tiba-tiba.
__ADS_1
"Ada apa," tanya Hans sambil membuka satu persatu pakaian nya. Ia hanya menyisakan dalaman nya saja.
"Kamu mau apa," tanya Tiara.
"Ya mau mandi lah. Masih tanya lagi, jangan kebiasaan banyak bertanya," jawab Hans.
Tiara benar-benar kebingungan, saat ini ia benar benar sedang tidak memakai apa apa. Ia hanya bisa memunggungi Hans agar Hans tidak melihat aset pribadi nya.
Mata Hans tidak berkedip melihat tubuh Tiara. Walaupun tidak seksi kedua istrinya ia tetap tidak pernah melihat tubuh seperti ini sebelumnya. Entah kenapa kali ini terlihat begitu menggoda.
Tangan Hans menyentuh punggung Tiara sampai ke bagian bawah, hal itu benar benar membuat Tiara merinding sekali. Seperti nya kali ini ia akan habis di dalam kamar mandi, kalau sudah begini Hans tidak akan melepaskan nya begitu saja.
"Kita lakukan di sini sayang," bisik Hans sambil menarik Tubuh Tiara ke dekapan nya.
Tangan nya juga langsung bergerak ke depan sana menyentuh aset yang Tiara sembunyikan. Percuma juga ia menyembunyikan nya Hans pasti apa tetap merampas nya.
Dibawah air mengalir Hans mulai menyerang tubuh Tiara, Tiara yang tidak bisa apa apa hanya pasrah membiarkan sang suami menjelajahi setiap inci Tubuh nya. Ia juga sudah mulai terbawa dengan permainan yang Hans mainka.
"Kamu mau melakukan nya di sini mas," tanya Tiara dengan wajah yang sudah pasrah
Sambil tersenyum Hans menggendong Tiara dan menempelkannya ke tembok di belakang tubuh Tiara, kaki Tiara ia arahkan agar menjepit pinggang nya agar Tiara tidak terjatuh.
"Sudah pasti," ucap Hans sambil membebaskan junior nya yang sudah ingin keluar sejak tadi.
Tiara memeluk Hans, ia tidak berani melihat nya, lebih baik ia memejamkan matanya dan berdoa agar rasanya tidak begitu sakit.
"Milik gadis 17 tahun memang sangat luar biasa biasa," batin Hans.
Hans mulai mendorong milik nya masuk ke dalam sana, ia berusaha untuk segera membobol Tiara bagaimana pun caranya, ia yakin dengan milik nya yang sebesar ini tidak mudah untuk nya membobol milik Tiara yang masih tersegel.
__ADS_1
"Mas sakit." Tiara berteriak dengan keras, matanya langsung terbuka dengan lebar, kakinya semakin menelan pinggang Hans, rasanya begitu sakit sekali.
"Hiks mas aku tidak tahan." Tiara mulai menangis, ia benar benar tidak tahan lagi.
"Tahan sedikit," ucap Hans, ia tidak peduli dengan Tiara yang ia mau mengambil kesucian milik Tiara.
"Tidak.." Hans melupakan sesuatu hal.
Ia melepaskan Tiara, Tiara yang lemas langsung jatuh ke atas lantai, Hans mengambil handphone nya karena ia harus merekamnya. Ini juga salah satu dari rencana yang sudah ia buat.
"Perih sekali," ucap Tiara.
Hans kembali menarik Tiara berdiri ke atas
"Katakan kamu ingin melakukan nya dengan ku," bisik Hans dari samping kanan, ia meletakkan kamera nya dari sisi kiri.
"Mas.."
"Katakan sekarang atau aku akan melakukan hal yang lebih sakit lagi," ucap Hans.
"Aku mohon sayang lakukan sekarang," kata Tiara.
Hans teese mendengar hal itu, ia kembali memposisikan tubuh Tiara seperti awal tadi. Kali ini ia lebih berani lagi, dengan tekanan yang kuat Hans langsung mendorong nya sehingga merobek selaput darah yang selama ini Tiara jaga.
"Sakit.. " Tiara berteriak dengan sambal keras sambil menangis, rasanya begitu sangat menyakitkan.
Perlahan darah keluar dari bagian intinya, mungkin karena Hans terlalu kuat sehingga dara yang keluar cukup banyak. Air yang mengalir mulia memerah bercampur dengan darah.
"Jangan bergerak mas sakit," ucap Tiara.
__ADS_1
Hans tidak peduli, ia mulai bergerak dengan kasar hal Ig semakin membuat Tiara tersiksa, di 5 menit awal hanya ada suara tangisan dari bibir Tiara, setelah Hans tidak begitu kasar lagi barulah Tiara mulai bisa menikmatinya, ya walaupun rasa sakit nya lebih besar.