Pernikahan Di Atas Kertas

Pernikahan Di Atas Kertas
Hukuman Memalukan


__ADS_3

"Fira... kau benar-benar sudah memancingku!" Bara terlihat mengeratkan giginya, seakan merasa kesal dengan apa yang ia ketahui sekarang. Ia semakin mempercepat laju mobilnya, untuk segera sampai di kafe tujuannya.


Sesampainya di kafe, Bara segera memarkirkan mobilnya, dan keluar dari mobilnya dengan raut wajah yang tak ramah.


Senyum menyeringai tampak di wajahnya saat, ia berhasil menemukan keberadaan Fira, yang terlihat tengah mengobrol bersama Reza.


"Istri nakal," gumam Bara, tersenyum miring. Ia segera melangkahkan kakinya, berjalan menghampiri Fira.


Sorot mata para pengunjung yang berada di kafe, kini tertuju kepada Bara seorang. Lelaki dingin, yang kini sedang hangat di perbincangkan. Para mata itu, memandangi setiap langkah kaki Bara, yang menggiring tubuhnya, untuk mendekati sebuah meja.


Selly dan Merry pun di buat terkejut, saat mendapati Bara yang sudah ada dua meter di belakang Fira.


"Sayang," panggil Bara, dari belakang. Sontak Fira segera menoleh ke belakang, karena mendengar suara yang sudah tak asing lagi di telinganya.


"Mas, kau kemari?" tanya Fira, sedikit terkejut.


Bara sedikit membungkukkan tubuhnya, dan cup, satu ciuman mendarat di pipi kanan Fira. Membuat kedua mata Fira, membulat dengan sempurna.


Bara mendudukkan tubuhnya, di salah satu kursi yang ada di samping Fira, dengan begitu santai. Bahkan Fira saja masih tak bergeming, dari posisinya.


"Ah... ya ampun, lihatlah, apakah wanita itu benar-benar istrinya?"


"Drama apa yang kulihat di siang bolong seperti ini, bikin iri saja yang jomblo."


"Lelaki itu, ... bukankah dia yang jadi trending topik di media sosial?"


"Tunggu, lelaki tampan itu, kenapa dia tiba-tiba datang mencium perempuan itu? Kenapa bukan aku saja yang di ciumnya? Ah...."


Ucapan demi ucapan, terdengar dari mulut para wanita, yang ada di kafe itu. Terutama mereka yang baru saja melihat adegan mengejutkan tadi.


Begitu pun Selly dan Mery, yang di buat terkejut dengan perlakuan Bara kepada Fira.


"Selly, tolong beri aku oksigen, dadaku mulai sesak, melihat keromantisan mereka," ucap Mery, sambil memegang dadanya, seperti orang yang sesak nafas.


"Kau ini!" Selly menjitak pelan, kepala Mery dengan sebelah tangannya, membuat Mery meringis kesakitan.


Fira masih berdiam, mukanya kini sudah memerah, karena menahan rasa malu, yang dilakukan oleh suaminya itu. Ia sejenak memejamkan matanya, mengeratkan giginya, dan mengepalkan kedua tangannya, yang memegang sisi kursi yang di dudukinya.


Rasa kesal kini harus di lawannya, karena tak mungkin ia memarahi suaminya di depan umum. Fira berbalik, ke posisi semula.


"Oh ya, apa kalian berdua sudah lama di sini?" tanya Bara, kepada Reza, dan sedikit melirik ke arah Fira, yang sedang menatap tajam ke arahnya.


"Em... sekitar 15 menit," ucap Reza, dengan ekspresi wajah yang tak bisa di artikan.

__ADS_1


"15 menit? ... Sangat begitu lama, kalian mengobrol," ujar Bara, kembali menatap ke arah Fira, yang ada di sampingnya.


"Lama? 15 menit dia anggap lama?" batin Reza, sambil sedikit menggelengkan kepalanya pelan.


"Mas, kenapa kau tiba-tiba muncul, dan memperlakukanku seperti itu?" tanya Fira, merendahkan volume suaranya.


Bara tersenyum miring, "Itu, hukuman untukmu," jawab Bara, berbisik.


"Apa! ... hukuman? Dasar pria ini! Sedari dulu selalu saja, menindasku!" batin Fira, begitu kesal.


"Oh ya, apa yang kau bicarakan dengan istri saya? Sampai mengajaknya mengobrol berdua di sini?" tanya Bara.


"Tunggu sebentar, kita tidak berdua, tapi berempat, bersama teman-temannya Fira," sangkal Reza, menunjuk ke arah meja Selly dan Mery.


"Tetap saja, kalian duduk berdua dalam satu meja, ... tidak duduk berempat." Bara, melipatkan kedua tangannya di atas dadanya, sambil membuang muka ke sembarang arah.


Reza mendengus kecil. "Baiklah, maafkan saya, sudah mengajak istrimu kemari. Saya mengajak Fira kemari, karena ada hal yang ingin saya bicarakan dengan Fira."


"Apa pembicaraannya sudah selesai?" tanya Bara, begitu cuek.


"Mas, Pak Reza, mengajak aku datang kemari, karena mau membahas masalah Nona Raina," ucap Fira.


"Pak Reza dan Nona Raina, mau menikah."


Seketika Bara, menatap ke arah Fira dengan begitu serius. "Menikah?" tanya Bara menautkan kedua alisnya. Fira menganggukkan kepalanya pelan.


"Hanya oh?" tanya Fira.


"Memangnya aku harus menjawab apa?" tanya Bara balik.


"Mas Bara, kenapa seperti itu padaku? Apa dia terkejut ya, soal pernikahan Nona Raina?" batin Fira.


"Lalu? Apa hubungannya dengan Fira, kalau kau akan menikah?" tanya Bara, kepada Reza.


"Saya, hanya meminta saran dan pendapat Fira, karena saya tahu, pernikahan saya tidaklah di dasari dengan cinta."


"Bukankah, awal kalian menikah, tanpa di dasari rasa cinta juga?" tanya Reza.


Bara sedikit tertegun dengan apa yang di ucapkan oleh Reza.


"Bisakah kau pelankan sedikit suaramu, di sini tempat umum!" Bara Mengeratkan giginya, seakan geram.


"Oh, maaf."

__ADS_1


"Kalau kau dan Raina ingin menikah, ya menikah saja, lambat laun juga nanti kalian akan saling mencintai ko," ujar Bara. Reza menganggukkan kepalanya pelan.


Tiba-tiba dari arah belakang terlihat Dion, menghampiri Bara. Ia segera menepuk sebelah pundak Bara, yang duduk membelakanginya.


Bara seketika, menoleh ke belakang, dilihatnya Dion, yang sudah berdiri di belakangnya dengan tatapan kesal.


"Hey, Mery, bukankah lelaki itu adalah lelaki yang kita temui kemarin di toko Fira?" tanya Selly, Mery menganggukkan kepalanya pelan. Ia menutupi wajahnya dengan sebelah tangannya, dan berpura-pura tak melihat kehadiran Dion disana.


"Sut... jangan melihat ke arah sana," ucap Mery pelan. Selly pun mengertikannya.


"Bara, kenapa kau malah di sini? Jadwal meeting kita 10 menit lagi akan di mulai," ujar Dion, seakan kesal. Namun masih bisa berbicara dengan nada datar seperti biasanya.


"Bukankah, klien kita yang sekarang ini, sangat lah penting?" tanya Dion. Bara, diam, ia terlihat sedikit berpikir.


"Baiklah, batalkan acara di luar, suruh mereka untuk datang ke kantor saja," ucap Bara, begitu enteng.


"Kau yang benar saja? Mereka barusan memberitahuku, kalau mereka sudah sampai di tempat yang di janjikan sebelumnya," ujar Dion.


"Sudahlah, tak apa, bilang saja aku tidak bisa ke sana, ... kalau mereka masih ingin melanjutkan bisnis denganku, suruh mereka untuk datang ke tempatku," ucap Bara, seakan angkuh.


Dion, menggelengkan kepalanya pelan, dengan tatapannya yang seakan kesal kepada Bara. Dengan mudahnya sang atasannya itu mengubah jadwal begitu saja. Ingin rasanya ia menyumpal mulut Bara, yang terkadang berkata seenaknya, namun apalah daya, ia hanya bisa mengumpati bos nya itu di dalam hati saja.


"Sabar, Dion, sabar," gumamnya pelan.


"Baiklah, Sayang ayo kita pergi," ajak Bara, menarik lengan Fira, dan berdiri dari duduknya.


"Tapi Mas."


"Tapi apa?" tanya Bara, menatap kesal.


.


.


.


Bersambung.


Maaf ya, dua hari kemarin enggak upload.


Hari ini bakalan double up deh 😁 tapi kalian harus like dulu, komen dan vote yang banyak.


Dikira, cemburu Bara bakalan membeludak ya, padahal hukumannya lumayan manis juga. Cuma sedikit memalukan, haha.

__ADS_1


Ayo ayo ah, komen di bawah biar ramai lapak author nya wkwkwk.


Sekedar ngasih tau, author punya ig username nya @dela_delia25 siapa tahu di sini ada yang mau follow 😂


__ADS_2