Pernikahan Di Atas Kertas

Pernikahan Di Atas Kertas
Bisakah Diam Sejenak


__ADS_3

Perlahan Bara semakin mengerutkan alisnya, tatkala ia hampir mendekat untuk mengambil bola itu.


"Raina," ucap Bara, menautkan kedua alis.


Raina yang menundukkan kepalanya, seketika mendongakkan kepalanya, dan memberanikan diri untuk menatap Bara.


"Ba-bara," ucapnya terbata.


Kedua mata Bara sejenak beradu pandang dengan Reza. Seakan menyiratkan sesuatu. "Kalian ada di sini?" tanya Bara, Reza menganggukkan kepalanya, memberi seulas senyuman.


Kemudian Bara segera mengambil bola yang tepat berada di dekat kaki Raina.


"Mau gabung?" tawar Bara, sejenak menoleh ke arah saung di mana keluarganya berkumpul. Dan dari jauh terlihat Fira yang tengah memperhatikan gerak-gerik suaminya.


"Eh Fir, itu kan Pak Reza," ucap Selly.


"Iya."


"Kenapa dia ada di sini ya?" gumam Selly "Wanita yang di sampingnya, itu siapa?" sambungnya.


"Itu Nona Raina, calon istrinya," bisik Fira.


"Hah! Yang benar!" Selly melebarkan kedua matanya terkejut mendengar semua itu.


Dari jauh, Dion memanggil-manggil nama Bara, menyuruhnya untuk segera kembali dan melanjutkan permainan.


^


"Tidak, terima kasih, saya dan Raina harus segera pergi," tolak Reza. Begitupun dengan Raina, yang membenarkan ucapan Reza.


"Baguslah," batin Bara. Kemudian ia segera berlalu dan kembali melanjutkan permainannya.


Sejenak Raina melihat ke arah Fira, yang ketahuan sedang memperhatikannya. Seulas senyuman Fira lemparkan kepada Raina, namun Raina seakan enggan untuk membalas senyuman itu, dan lebih memilih untuk membuang wajah, kemudian pergi dari sana.


"Hih! Wanita aneh, di senyum-in malah begitu," gerutu Fira pelan, membuat Mama Wina yang ada di sampingnya bertanya heran.


"Ada apa Fira?" tanya Wina. Fira seketika menoleh ke arah Mama mertuanya itu.


"Hah? Tidak apa-apa Ma," jawabnya.


***


Permainan terus berlanjut hingga sore hari. Dimana sinar matahari sudah mulai berubah warna menjadi jingga. Deburan air laut, dan hembusan angin yang cukup kencang membuat suasana semakin indah dan nyaman. Namun, tetap saja mereka semua harus segera kembali ke vila.


"Yeay, suamiku ternyata jago sekali bermain voli," ucap Fira dengan semangat, sambil memberikan sebotol air mineral kepada Bara. Bara tersenyum, sambil duduk di samping istrinya itu, dan segera meneguk air itu, untuk menghilangkan rasa dahaga di kerongkongannya.


"Kak Dion, ayo tepati janjimu! Karena Kak Dion kalah, Kakak harus menggendong aku sampai vila," ucap Lisa menagih janji waktu di lapang tadi.


"Huft... ya sudah ... lagian semua ini gara-gara kamu!" tuduh Dion ke arah Merry.


Merry yang masih merasakan gerah, ia semakin gerah ketika mendengar ucapan yang Dion lontarkan. "Kau saja yang gak becus main voli!" sungut Merry, sambil memutar kedua bola matanya.


"Berani sekali kau ini!" Dion berkacak pinggang. Sambil menatap tajam ke arah Merry.


"Apa!" Merry memelototkan kedua bola matanya, seakan menantang.


"Eh... sudah-sudah, ayo cepat minum dulu, setelah ini kita kan harus siap-siap pulang." Selly mencoba melerai suasana panas diantara Dion dan Merry.


^

__ADS_1


Setelah selesai membersihkan diri, solat, dan makan. Selly, Merry dan Dion tengah bersiap memasukkan koper-koper milik mereka ke dalam bagasi mobil.


Tiba-tiba, seseorang yang baru saja turun dari motor R-Xking berwarna merah tua itu, ia segera menghampiri mereka.


"Pak Dokter," ucap Merry sambil memberikan sedikit senyuman, saat melihat dokter Andre yang datang menghampirinya.


Selly yang baru saja selesai menutup bagasi mobil di bantu dengan Dion, ia menoleh ke arah lelaki ber-jas putih itu.


"Hai Nona Selly," sapa Andre, sambil memberikan sedikit senyuman manis kepada Selly. Sejenak membuat Selly terpana, dan tak berkutik.


"Saya kemari untuk melihat keadaan kakimu," sambungnya.


"Hah?" Selly tersadar. "I-iya, kakiku sudah mulai membaik kok dok," ucap Selly, terbata dan gugup.


"Em... bolehkah saya membuka perbannya, untuk melihat perkembangannya," pinta dokter Andre, Selly pun mengiyakan. Dan akhirnya mereka pun duduk di kursi panjang yang ada di depan teras vila.


Perlahan dokter Andre membuka perban di kaki Selly. Ia mulai memperhatikan luka bakar di kaki Selly dan jelas terlihat keadaannya jauh lebih baik dari kemarin. Dokter Andre pun mengoleskan salep penghilang bekas luka di kaki Selly.


Selly semakin terpesona, ia bahkan tak sadar sedari tadi terus memperhatikan dokter Andre yang berjongkok di depannya, sibuk mengobati lukanya.


"Maa syaa allah, kenapa tampan sekali sih," gumamnya dalam hati begitu terkagum-kagum, apalagi dokter Andre terlihat semakin tampan jika sedang serius mengobati seperti ini.


"Sudah," ucap dokter Andre, sambil sedikit membenarkan kacamatanya, dan menatap ke arah Selly.


Dokter Andre sedikit mengerutkan dahinya, ketika Selly yang menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan baginya. Kedua bola mata Andre melirik ke kanan dan ke kiri, sampai pada akhirnya ia memberikan senyuman lebar kepada Selly, karena merasa tidak enak.


"Eh, ma-makasih ... maaf," ucap Selly seketika, setelah sadar dari lamunannya.


"Ya ampun Selly... kenapa malu-maluin banget sih... kenapa menatapnya dengan tak sadar!" gerutunya di dalam hati, merutuki dirinya sendiri.


"Maaf? Untuk apa?" tanya Andre bingung, ia segera berdiri dan duduk di samping Selly.


"Tidak apa-apa. Oh ya Apa kalian akan pulang?" tanyanya. Selly mengiyakan.


Andre pun mengangguk-anggukkan kepalanya pelan.


"Baiklah, kalau begitu ini, ambillah, gunakan setiap pagi dan malam, untuk menghilangkan bekas lukanya." Andre menyodorkan salep penghilang bekas luka kepada Selly. Selly segera menyahutnya dan berterima kasih pada sang dokter.


Kemudian Merry yang baru keluar setelah mengambil tas kecilnya dari kamar, ia segera menghampiri Selly dan dokter Andre yang masih duduk di kursi panjang itu.


"Sell, udah?" tanya Merry. Selly mengiyakan. Di susul oleh Dion yang berteriak dari dekat mobil menyuruh kedua gadis itu untuk segera masuk ke dalam mobil.


Selly pun kembali berterima kasih dan berpamitan kepada dokter Andre. Tak lupa Fira yang baru keluar dari dalam, ia segera menghampiri Selly dan Merry yang sedang berjalan menghampiri mobil.


"Kalian hati-hati ya," ucap Fira, sambil memeluk kedua sahabatnya itu secara bergantian.


"Iya, kamu juga cepat sehat ya, jangan kecapek-an, ingat jaga baik-baik dedek untunnya," ucap Selly sambil mengelus lembut perut Fira. Fira pun mengangguk sambil tersenyum.


"Maaf ya Di, jadi merepotkanmu," ucap Bara kepada Dion, sambil menepuk bahu sahabat sekaligus sekretarisnya itu.


"Gak apa-apa, santai aja. Ya sudah kita duluan ya," ucap Dion, sebelum mereka akhirnya masuk ke dalam mobil.


***


Di dalam mobil, Dion begitu serius menyetir melewati jalanan. Dan kini mereka sudah berada di jalan raya Jakarta yang ramai dan padat kendaraan. Ia lupa kalau sore-sore seperti ini pasti akan macet karena sekarang adalah jam pulang bekerja.


Di kursi belakang Selly dan Merry masih asyik mengobrol, bahkan sepanjang perjalanan mereka tak ada hentinya terus berbicara. Mulai dari membicarakan pantai, liburan dan hal remeh lain.


"Eh Mer, tahu gak?"

__ADS_1


"Enggak," timpal Merry, memasang wajah polosnya.


"Aku belum selesai bicara Merry...."


"Apa-apa?"


"Mer, kau tadi melihat Pak Reza dengan wanita kan pas Tuan Bara mengambil bola voli itu," ucap Selly, kembali mengingatkan hal tadi.


"Iya, memangnya kenapa?"


"Ternyata cewek yang tadi itu, calon istrinya Pak Reza loh!" ucapnya.


"Hah! Serius Sel?" Merry membulatkan kedua bola matanya lebar-lebar, seakan terkejut mendengar ucapan Selly.


"Seriusan!" Selly menganggukkan kepalanya cepat.


Dion yang sedang fokus menyetir, ia tak sengaja mendengar percakapan mereka berdua. Bahkan sesekali Dion memperhatikan kedua gadis itu lewat kaca spion.


"Ah... Selly, apakah aku harus patah hati? Kenapa harus wanita itu sih yang jadi calon istrinya pak Reza ... kenapa bukan aku saja?" rengek Merry, seolah sedang patah hati karena cinta.


"Uh... tayang... cup-cup-cup." Selly memeluk Merry layaknya sedang menenangkan anak kecil yang menangis. Mereka berdua, bahkan termasuk Fira memang sering berperilaku menyeleneh, bahkan bisa berperilaku bodoh seperti anak kecil.


Merry memang menyukai Reza, tapi hanya sebatas mengagumi, bukan suka yang benar-benar sampai cinta.


"Lebay!" ucap Dion tiba-tiba.


Seketika Merry dan Selly melepaskan pelukan mereka. "Siapa yang lebay?" serobot Merry dengan nada ketus.


"Kau lah! Siapa lagi kalau bukan dirimu!" jawab Dion.


"Ini bukan lebay, tapi hanya sekedar mengutarakan kekecewaanku!" sungut Merry.


"Tetap saja lebay, kalian sudah besar kenapa masih berperilaku seperti anak kecil hah!" seru Dion.


"Masalah buatmu hah!" Merry semakin di buat kesal oleh lelaki yang ada di depannya itu.


"Jelas masalah lah, kalian dari tadi terus saja berisik. Bisakah sejenak diam, sampai kalian tiba di rumah kalian masing-masing!"


Merry memutar kedua bola matanya, sambil mengumpati Dion di dalam hatinya.


Sejenak Dion kembali memperhatikan kedua wanita yang ada di belakangnya itu lewat kaca spion. Tak ada jawaban dari keduanya.


"Kenapa tak menjawab?" tanya Dion dengan ketus.


Merry berdecak kesal, sambil melipat kedua tangannya di dada. "Apa kau lupa ingatan hah! Baru saja kau menyuruhku untuk diam! Jelas aku akan diam dan tak akan menjawabmu lah!"


Sepertinya keadaan di dalam mobil kini sudah tak sedamai tadi. Meski AC mobil sudah di full kan, tapi suasana terasa begitu panas. Lebih panas lagi ketika dua pasang mata yang saling menatap tajam di kaca spion. Siapa lagi kalau bukan Merry dan Dion. Selly yang ada di antara keduanya, ia lebih memilih untuk tidur, dari pada memperhatikan wajah sahabatnya yang sedang murka pada seseorang.


.


.


.


Bersambung.


Merry sama Dion berantem terus ya, kayak Tom and Jerry.


Eh, jangan lupa like, komen dan votenya ya.

__ADS_1


See you on the next chapter.


__ADS_2