
Bima mengambil satu cilok dari mangkuk Fira, dan mulai melahapnya, dan seketika ia membungkam mulutnya, kemudian berlari ke dapur.
"Ada apa dengan Bima?" tanya Lisa.
"Sepertinya Bima merasakan apa yang aku rasakan," ucap Bara.
"Cepat minumlah, netralkan lidahmu." Bara menyodorkan sebotol air kepada Fira. Fira menurutinya dan segera meneguk air itu.
Tak lama Bima kembali, sambil mengusap-usap mulutnya dengan selembar tisu.
"Kak Bara, bukankah cilok ini, Kakak yang buat? Kenapa bisa seasin itu?" ujar Bima.
"Benar, tapi ku kira tidak akan seasin itu."
Fira hendak melahap kembali cilok itu, namun Bara segera mengambil mangkuk dan garpu yang sedang di pegang oleh Fira. Menjauhkannya darinya.
"Kenapa di ambil? Aku kan belum selesai memakannya," gerutu Fira.
"Kak Fira, kau makan saja punyaku. Cilok punya Kakak itu terlalu asin. Tak baik jika Kakak memakannya," ucap Bima, sambil menyodorkan mangkuk cilok miliknya.
"Benar, kau makanlah punya Bima," timpal Bara.
Fira mengiyakan, lalu mencoba melahap cilok punya Bima, namun yang ia rasakan sungguh berbeda, cilok buatan Bima, tidak seenak cilok yang di buat oleh Bara.
"Aku tidak mau yang ini, tidak ada rasanya sama sekali. Kemarikan mangkuk itu," ucap Fira, meraih kembali mangkuk ciloknya dari tangan Bara.
Bara hendak menghentikannya, namun Fira terlanjur kembali melahap cilok, yang tinggal tersisa beberapa butir itu.
Bima dan Bara, bergidik melihat Fira yang begitu lahap memakan cilok asin itu.
***
Malam harinya, setelah selesai acara makan malam bersama di rumah Papa Hito. Fira dan Bara memutuskan untuk kembali ke apartemen mereka.
Di tengah perjalanan di dalam mobil. Fira baru ingat akan Nenek nya Raina, yang tadi pagi menemuinya.
"Mas, apa aku boleh bertanya sesuatu?" tanya Fira.
"Bertanya apa?" tanya balik Bara, sambil fokus menyetir mobilnya.
"Em... kemarin malam saat kau menemui Raina, apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Fira, menatap ke arah Bara.
"Kenapa kau bertanya mengenai dia?" Bara masih fokus menyetir, dan ia seakan enggan untuk membahas masalah Raina.
"Tidak, tadi neneknya Raina datang ke toko menemuiku," tutur Fira.
__ADS_1
Seketika Bara menyisikan mobilnya, dan mengeremnya secara mendadak, di bahu jalan.
"Kenapa berhenti?" tanya Fira, kaget.
"Nenek Raina datang menemuimu?" tanya Bara, Fira menganggukkan kepalanya pelan.
"Untuk apa dia menemuimu?" tanya Bara dengan serius.
Fira sedikit takut dan gugup, saat Bara sudah berbicara dan menatapnya dengan serius seperti itu.
"Kau tenanglah Mas."
"Tadi neneknya Raina datang, karena dia memintaku untuk bilang padamu, kalau kejadian di rumah sakit waktu itu, ... itu bukan salah Raina melainkan salah neneknya," tutur Fira, sedikit ragu.
"Dia bilang seperti itu padamu?" Fira mengangguk perlahan.
Bara membuang muka ke sembarang arah. "Hah! Mau karena siapa pun aku sudah tidak peduli," ucapnya kembali melajukan mobilnya perlahan.
"Sebenarnya apa yang sudah terjadi di antara mereka. Kenapa Mas Bara terlihat kesal sekali jika membahas masalah Raina," batin Fira.
"Sudah! Jangan pernah membahas mereka lagi," ucap Bara. Fira mengangguk pelan, tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
Hening.
Tak ada yang berbicara setelah mereka membahas obrolan tadi. Mata Fira fokus melihat ke samping jendela.
"Mas, berhenti dulu Mas," ucap Fira heboh. Seketika Bara menepikan mobilnya, di pinggir jalan, di depan sebuah toko yang terdapat halaman parkir.
"Ada apa?" tanya Bara, sambil melepas tali pengamannya.
"Mas, disana ada penjual surabi, aku pengen ya Mas...." rengek Fira, merayu sambil memasang wajah imutnya.
"Yang mana?" tanya Bara, sambil celingak-celinguk mencari tukang surabi.
"Itu di sana Mas...." Tunjuk Fira ke stand tukang surabi.
"Baiklah, kau diam di sini, jangan kemana-mana!" Bara segera keluar, dan berlalu menghampiri tukang surabi yang di maksud oleh Fira.
Sejenak Bara memandangi aneka warna dari makanan itu, namun masih dengan bentuk yang sama.
"Pak, ini surabi ya?" tanya Bara, kepada Bapak penjaga stand surabi.
"Iya, Tuan, silakan mau yang rasa apa?" tanya Bapak penjual.
"Memangnya ada rasa apa saja?"
__ADS_1
"Macam-macam Tuan, ada rasa blueberry, strowberry, mangga, vanila, oncom, dan rasa abon," tutur penjual itu.
"Ya sudah, saya beli semua rasa dua-dua ya," ucap Bara. Penjual itu, dengan sigap mengiyakan dan segera mengemas pesanan Bara.
"Berapa Pak?" tanya Bara.
"50ribu Tuan."
"Murah sekali," gumam Bara. Ia mengambil 4 lembar uang kertas 50ribu an. Dan memberikannya kepada Bapak penjual itu.
"Tuan, uang nya kelebihan," ucap penjual itu, hendak mengembalikan sebagian uang lebih itu kepada Bara.
"Tidak apa-apa Pak, saya membelinya dengan harga segitu," ucap Bara. Bapak penjual itu, tersenyum senang dan berterima kasih kepada Bara. Bara mengangguk tersenyum, dan segera kembali ke mobilnya.
Namun saat ia membuka pintu mobilnya, Bara tak menemukan Fira di dalam mobilnya. Matanya menyapu ke seluruh jalanan, mencari keberadaan Fira. Namun ia tak menemukannya. Bara menyimpan terlebih dahulu, kantung yang berisi surabi itu di dalam mobil. Kemudian ia segera berjalan ke sana-kemari mencari keberadaan Fira.
"Di mana Fira?" gumamnya begitu cemas.
Bara mencoba meraih ponsel yang terselip di saku jasnya, mencoba menelepon Fira, namun tidak terhubung.
Bara berdecak kesal, ia semakin khawatir akan keberadaan istrinya yang entah dimana itu. "Fira, kamu dimana." Bara mengusap wajahnya dengan kasar, jelas terlihat kepanikan di wajahnya itu. Matanya tak henti menyoroti setiap sudut jalanan, dan stand-stand pedagang yang ada di sekitarnya.
Bara berjalan, kembali ke mobilnya. Ia berharap kalau Fira sudah kembali ke mobilnya, namun saat Bara membuka kembali pintu mobilnya, ia masih tidak mendapati Fira.
"Argh... ke mana sih!"
Bara berjalan mendekati sebuah kafe, ia masuk ke dalam kafe itu, berharap bisa menemukan Fira di sana. Namun lagi-lagi ia tak menemukannya.
Bara keluar dari kafe itu, matanya kini menyorot ke salah satu stand pedagang yang berada cukup jauh dari tempat ia berdiri.
Kini ia berhasil mendapati keberadaan istrinya. Namun seketika amarah di dadanya memuncak, ia seakan tak suka melihat Fira yang sedang berdiri dengan seorang lelaki. Bahkan ia dapat melihat dengan jelas, Fira begitu asyik mengobrol dengan lelaki itu. Namun Bara tak dapat melihat dengan jelas siapa lelaki itu, karena lelaki itu berdiri membelakanginya, dengan sebagian tubuhnya yang terhalangi oleh orang lain, yang berdiri di dekatnya.
Bara mengepalkan lengannya, dan segera berjalan menghampiri Fira.
.
.
.
Bersambung.
Hari ini update dua kali nih, gak mau tau pengen di vote yang banyak pokonya hehe. (maksa ya)
Jangan lupa tebar like dan komennya juga ya😘
__ADS_1
Author itu paling seneng kalo bacain komentar kalian loh... suka bikin semangat author menggebu-gebu.
See you on the next chapter😘