
Sore hari nya, Hans baru menyelesaikan pekerjaan nya. Ia berjalan kembali ke dalam kamar untuk melihat apa yang istri ketiga nya lakukan, ia berharap Tiara membuat masalah agar ada alasannya untuk membuat keributan. Menyiksa Tiara sebuah hal yang menyenangkan untuk Hans, itu juga salah satu tujuannya menikah dengan Tiara.
"Malah tidur," ucap Hans sambil berjalan mendekati Tiara.
"Hey bangun." Hans menggoyangkan tubuh mungil Tiara.
"Mas.." Tiara membuka mata nya dengan perlahan.
Hans mengerutkan dahinya, wajah Tiara terlihat sedikit pucat. Padahal sebelum ia pergi meninggalkan Tiara siang tadi Tiara terlihat baik baik saja.
"Kamu sakit," tanya Hans.
"Sedikit pusing," jawab Tiara.
"Hidup dengan ku tidak boleh sakit, sekarang aku ingin mandi siapkan air hangat, pakaian ku dan terakhir makan malam ku. Aku ingin makan masakanmu," ucap Hans.
Tiara menganggukan kepalanya, ia segera bergerak melakukan apa yang Hans katakan, ia tidak mau membuat Hans marah pada nya, ia takut Hans emosi seperti tadi.
Tiara berjalan masuk ke dalam kamar mandi, ia menyiapkan air hangat seperti yang Hans minta, tidak lupa ia juga menyiapkan keperluan Hans lainnya. Setelah selesai Tiara berjalan keluar dari dalam kamar mandi, ia memanggil Hans agar segera masuk ke dalam.
"Sudah mas," ucap Tiara.
"Hmmm," gumam Hans.
"Kamu mau makan apa mas?"
"Sushi," jawab Hans.
"Baiklah." Sebelum membuat makanan untuk Hans Tiara menyiapkan pakaian yang akan Hans pakai setelah selesai mandi. Ia tidak mau naik turun lagi jika sudah di bawah.
__ADS_1
"Saat nya memasak." Segera Tiara berjalan pergi meninggalkan kamar, ia turun ke lantai dua tempat dapur berada, beruntung tadi Hans memberitahu nya kalau dapur ada di lantai dua.
Tiara berjalan mendekati Dapur yang tengah kosong, tidak apa proses masak memasak padahal hari sudah mulai gelap. Seharusnya malam malam sudah harus disiapkan, ia semakin heran dengan rumah ini besar tetapi seperti tidak ada penghuni nya.
Tiara membuka kulkas besar yang ada di dalam dapur itu, tidak banyak bahan bahan makanan, bagaimana mungkin bisa ia membuat sushi jika bahan bahan nya saja tidak ada, apalagi sushi memerlukan bahan bahan yang segar.
"Paling bisa membuat nasi goreng," ucap Tiara.
Dari pada tidak membuat apapun Tiara memutuskan untuk membuat nasi goreng saja. Ia akan membuat nasi goreng yang begitu spesial, tidak ada satu orang pun yang tidak suka dengan nasi goreng buatannya.
"Hey babu," ucap Siksa sambil berjalan mendekati Tiara.
"Nama saya Tiara." Tiara yakin wanita ini pasti ingin mencari masalah dengan nya.
"Tidak peduli siapa namamu, tampangmu seperti seorang babu, kamu tau Hans menikah dengan mu hanya untuk menjadikan kamu babu di rumah ini, buktinya saja sekarang kamu diminta untuk berkutik di dalam dapur."
"Tidak masalah, aku senang bisa melayani suami ku dengan baik," ucap Tiara sambil melanjutkan kegiatan nya.
"Apapun sebutannya melayani seorang suami adalah sebuah kewajiban yang harus dilakukan istri. Apakah seorang wanita bisa disebut istri jika melayani suaminya saja tidak pernah. Jangan ganggu saya, saya tidak mempunyai masalah dengan kamu. Kalau sampai makanan ini gagal, bukan hanya saya yang terkena masalah tetapi orang mengganggu saya juga akan terkena masalah." Tiara berbicara dengan begitu tegas nya.
Dengan wajah yang kesal Siksa pergi meninggalkan Tiara, ia tahu bagaimana seramnya jika Hans marah, siapapun yang terlibat dalam kemarahan nya sudah pasti tidak akan aman. Memang lebih baik ia menghindari saja daripada terkena masalah.
Setelah kurang lebih 30 menit bertempur di dapur akhirnya masakan Tiara sudah matang. Ia menghidangkan makanan itu ke atas piring cantik yang terlihat mahal, dengan piring itu makanan yang ia masak seperti makanan hotel mewah.
Saat keluar dari dalam lift hidung Hans langsung mencium aroma wangi nasi goreng Tiara, ia bingung kenapa bisa ada aroma makanan sewangi ini, ia juga meminta Tiara membuat Sushi yang tanpa proses pemasakan.
"Mas makanan nya sudah matang," ucap Tiara sambil membawa makanan itu ke atas meja makan.
"Apa itu? Bukan nya aku meminta sushi," tanya Hans.
__ADS_1
"Nasi goreng mas, aku tidak bisa membuat sushi karena tidak ada banyak makanan segar," ucap Tiara.
"Kamu pikir aku mau makan makanan seperti itu, kalau tidak ada kenapa tidak pesan saja!!" Hans terlihat begitu marah.
Hal itu membuat Tiara terkejut, bagaimana mungkin karena hal kecil begini Hans langsung marah, Emosi labil Hans sudah mengalahkan wanita yang sedang datang bulan.
"Mas coba lah dulu, rasanya sangat enak loh." Tiara berusaha membujuk Hans agar mau mencoba makanan yang ia masak.
"Kalau tidak enak kamu bayar dengan melayani aku di atas ranjang!!"
Hans duduk di kursi nya, ia mengambil sendok dan langsung mencoba makanan itu dengan kasar. Matanya terbelalak merasakan nikmat nya makanan ini, hanya nasi goreng saja rasanya senikmat ini.
"Enak kan," ucap Tiara.
"Biasa saja, karena aku lapar jadi aku makan," kata Hans berbohong, padahal rasanya enak sekali.
Hans makan dengan sangat lahap, seakan-akan ia melupakan apa yang ia katakan tadi. Padahal sebelum ini Hans sudah menghina makanan yang Tiara masak, sekarang terlihat dengan jelas Hans makan dengan sangat lahap, dan suka dengan masakan itu.
"Apa masih ada?" Walaupun malu mengatakannya Hans tidak ada pilihan lain, ia sangat suka dengan nasi goreng itu apalagi perutnya belum ia isi sejak siang tadi.
"Ya habis aku hanya membuat dua porsi saja."
"Ini untukku." Hans mengambil piring milik Tiara dan langsung memakan sisa nasi goreng yang belum habis Tiara makan.
Tiara tersenyum melihat suaminya begitu lahap makan, walaupun dia belum selesai makan dirinya rela memberikan nasi goreng itu. Ia berharap dengan memakan makanan yang ia masak Hans bisa berubah sifatnya menjadi lebih baik.
"Ah kenyang nya, kenapa begitu enak sekali." Tanpa sadar harus mengatakan hal itu.
"Iya memang sangat enak, ini resep turun temurun dari keluargaku. Tidak ada orang yang tidak suka dengan nasi goreng yang dimasak menggunakan resep ini, dan dugaan ku ternyata benar kamu sangat suka kan dengan nasi goreng ini," ucap Tiara.
__ADS_1
Hans tidak pernah mendapatkan masakan seperti ini dari keluarga maupun istri istri nya, sekarang ia baru pertama kali merasa nya. Ternyata apa yang orang katakan itu benar, resep turun temurun dari sebuah keluarga memiliki cita rasa yang berbeda dari resep biasanya.