Pernikahan Di Atas Kertas

Pernikahan Di Atas Kertas
tidak membawa uang


__ADS_3

Tanpa Hans ketahui di Tiara sengaja memesan satu porsi sate dalam ukuran besar, ia ingin makan satu piring berdua dengan suaminya agar terlihat romantis, dengan demikian juga mereka berdua bisa semakin dekat.


"Kenapa kamu hanya memesan satu piring saja? Apa tidak ada lagi?" Wajah Hans terlihat bingung.


Tiara sedikit tersenyum. "Sudah tidak ada lagi mas hanya tinggal ini, itu semua sudah menjadi pesanan orang lain. Ini saja aku memintanya dengan paksa, beruntung kita mendapatkan porsi yang cukup besar," ucap Tiara.


Hans menaikkan satu alisnya, ia melihat tukang sate itu masih memiliki dagangan yang banyak, hampir terasa tidak mungkin jika semua itu sudah dipesan oleh orang lain.


Untuk mengalihkan perhatian Hans, Tiara mulai menyuapi suaminya. "Mas coba enak loh."


Dengan ragu Hans membuka mulutnya, dirinya sudah pernah memakan makanan seperti ini walaupun dalam versi yang berbeda.


"Bagaimana enak tidak," tanya Tiara.


"Not bad, kalau kamu masak pasti jauh lebih enak," jawab Hans.


"Bagaimana bisa kamu tahu kalau aku yang masak pasti akan jauh lebih enak, aku saja tidak pernah memasakan nya untuk mu."


"Semua yang kamu masak pasti enak, nanti malam aku ingin memakan makanan seperti ini, kamu harus memasak untukku," ucap Hans.

__ADS_1


"Hahaha oke aku akan memaksakan untukmu, kamu harus memakannya kalau saja kalau tidak kamu makan."


Tak lama makanan itu pun habis, karena hari sudah semakin siang dan panas mereka berdua ingin langsung pulang ke rumah. Tiara meminta uang Pada hans untuk membayar makanan itu, dirinya tidak membawa uang karena tidak ada niat keluar rumah.


"Aku tidak bawa uang," ucap Hans.


"Lah terus bagaimana mas? Tadi kamu bisa beli minum," tanya Tiara.


"Tadi juga belum aku bayar, aku hanya mengambilnya dan aku sudah biasa melakukannya, nanti orang ku akan membayarnya," jawab Hans.


"Terus ini bagaimana? Kamu kok tidak bilang sih kalau tidak membawa uang." Wajah Tiara tampak kebingungan.


"Aku tidak membawa uang mas aku tidak tahu kalau kita akan pergi begini kan aku tadi hanya ingin mengejarmu."


"Kalau tidak membawa uang kenapa mengajakku makan, sekarang bagaimana." Wajah Hans tidak kalah bingungnya.


"Mas itu jam tangan," ucap Tiara.


"Sebagai jaminan gitu? Kamu tidak tahu ini harganya berapa, bisa membeli 100 gerobak makanan seperti itu," kata Hans.

__ADS_1


"Terus bagaimana aku juga tidak membawa harta benda yang berharga," ucap Tiara.


"Berikan saja sepeda itu," kata Hans.


"Terus kita pulangnya bagaimana," tanya Tiara.


"Jalan kaki," jawab Hans sambil berjalan pergi meninggalkan Tiara.


"Bang kami tidak membawa uang, sepeda ini sebagai alat bayar nya," ucap Tiara.


"Ya tidak papa, malah senang saya."


"Maaf ya bang." Tiara berlari mengejar Hans, ia bagaimana tukang sate itu tidak senang harga dari sepeda itu dapat membeli 100 tusuk sate yang Abang itu jual.


"Sudah kita aman," ucap Tiara.


"Aman bagaimana, sekarang kita jalan kaki ke rumah kamu pikir tidak jauh dari depan pintu komplek sampai depan rumah kita," kata Hans.


"Tidak papa aku jalan yang penting jalannya dengan kamu," ucap Tiara sambil memeluk tangan Hans dari samping, dari semua istri Hans entah mengapa Hans rela Tiara manja seperti ini pada nya.

__ADS_1


__ADS_2