Pernikahan Di Atas Kertas

Pernikahan Di Atas Kertas
Istri


__ADS_3

Tak lama orang yang Hans dan Tiara tunggu pun datang, Hans menyambut mereka semua dengan sangat baik, terlihat senyuman manis di wajahnya yang tidak pernah hilang sedikitpun. Tiara langsung dapat melihat perbedaan bagaimana Hans biasanya dengan Hans sekarang yang cukup berbeda, Tiara yakin Hans seperti itu karena orang yang sedang bersama mereka ini orang yang sangat penting untuk kehidupan Hans di masa depan.


Tanpa banyak basa basi mereka langsung membahas hal yang sangat penting, hal yang sebenarnya tidak Tiara ketahui. Tiara hanya duduk di samping Hans mendengarkan apa yang mereka katakan. Pembahasan berlangsung selama 2 jam, kesepakatan yang mereka ambil sehingga waktu meeting berlangsung cukup lama.


Setelah selesai membahas semua hal penting mereka memutuskan untuk makan bersama terlebih dahulu sebelum mengakhiri pertemuan ini.


"Dia isteri tuan atau asisten tuan?"


"Menurut tuan? Apakah ada istriku atau asistenku?" Hans sedikit menekan nada bicaranya.


Lawan bicara Hans sadar jika apa yang ia katakan membuat Hans singgung, dirinya sangat tahu memang harus mudah sekali tersinggung dalam hal-hal kecil.


"Maaf tuan Hans saya tidak bermaksud, istri anda sangat cantik."


Hans hanya tersenyum mendengar apa yang lawan bicaranya katakan, dengan tekanan nada yang ia berikan saja lawan bicaranya sudah mengerti jika bicaranya tersinggung dengan perkataan mereka tadi.


Pukul 02.00 temuan sudah selesai dan mereka sama-sama pergi meninggalkan tempat itu, Hans tidak langsung pulang ke rumah, ia membawa Tiara ke perusahaannya karena ada beberapa pekerjaan penting yang harus diselesaikan hari ini.


"Kenapa kamu tidak mengantarkan aku pulang dulu? Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan di perusahaan kamu."


"Jika dirimu mau jadi OB, buat perusahaanku menjadi bersih," kata Hans.


Tiara sudah tidak terkejut dengan perkataan Hans yang selalu tidak terduga, walaupun tampan mulut Hans terasa sangat tajam kapanpun dan dimanapun. Meskipun begitu Tiara tetap sabar, ia yakin apa yang ia rasakan sekarang nanti akan menjadi sebuah kebahagiaan yang ia impikan.


Di dalam ruangan Hans Tiara hanya duduk di sofa sambil memainkan handphonenya, jadinya benar benar tidak tahu apa yang harus dilakukan, Hans sendiri tampak sibuk dengan laptop di depan wajahnya, melihat Hans fokus dengan pekerjaannya membuat Tiara sadar kalau Hans jauh lebih tampan jika sedang fokus bekerja.


"Buatkan aku kopi," ucapkan yang sadar jika Tiara memperhatikannya.


"Aku tidak tahu dimana aku harus membuatkanmu kopi." Tiara di jalan mendekati Hans.

__ADS_1


"Punya mata dan punya mulut kenapa tidak bertanya dengan orang lain, apa kamu sudah berani padaku." Hans memberikan tatapan tajam pada Tiara.


Segera Tiara berjalan keluar ruangan dari Hans, jika sudah mendapatkan tatapan seperti itu ya harus segera bergerak agar harus tidak semakin marah padanya.


Tiara bertanya pada beberapa orang yang ada di tempat itu, mereka semua bingung siapa Tiara dan kenapa Tiara menanyakan hal itu pada mereka. Kalau Tiara bukan siapa-siapa mereka tidak akan memberitahunya karena itu cukup berbahaya, takutnya Tiara orang asing yang ingin meracuni Hans sehingga tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan..


"Saya asisten pribadinya," ucap Tiara.


"Bagaimana kami bisa mempercayaimu? Dimana ID card mu?"


Tiara sadar jika dirinya tidak mempunyai ID card, mana mungkin mereka mau memberitahu tempat itu padanya kalau dirinya saja tidak bisa membuktikan jika apa yang ia katakan tadi benar.


Tiara berjalan kembali masuk ke ruangan Hans, ia ingin meminta tanda pengenal padahal agar mereka semua percaya dengan apa yang ia katakan.


"Mereka tidak mau memberitahu tempatnya, mungkin saja mereka takut aku akan meracunimu," kata Tiara.


Harapan berjalan mendekati Hans sesuai dengan keinginan sang suami.


"Kamu tahu kamu begitu bodoh, wanita terbodoh yang pernah ku temui," ucap Hans.


"Kalau aku bodoh kenapa kamu mau menikah denganku," tanya Tiara.


Pertanyaan Tiara membuat Hans tidak bisa menjawabnya, ia sendiri juga merasa sangat heran, harusnya ia menyiksa Tiara habis-habisan kenapa sekarang ia malah memperlakukan Tiara sebagai istrinya.


"Kenapa aku jadi seperti ini, apa karena dia berbeda memperlakukan ku," batin Hans.


Padahal baru satu hari mereka menikah Hans sudah merasakan perbedaan menikah dengan cara dan menikah dengan dua istri sebelumnya.


"Apa ada alasan khusus untuk aku menikahimu? Aku bisa menikahi siapapun yang aku mau tanpa mempunyai alasan khusus," kata Hans.

__ADS_1


Tiara hanya diam, ia tidak mengharapkan jawaban itu dari Hans.


Hans menarik tengkuk leher Tiara, secara perlahan Hans mulai mencium bibir Tiara, ini sudah kedua kalinya harus melakukan itu setelah mereka menikah, dan Tiara sama-sama tidak bisa menolaknya apapun yang suaminya lakukan pada tubuhnya jika hal itu salah satu kewajibannya ia pasti akan menerimanya.


Setelah bibir Hans turun ke tengkuk leher Tiara, ia memberikan tanda yang cukup besar di leher itu akan Tiara bisa menggunakannya dengan baik.


"Ahh sakit," ucap Tiara.


"Kamu membutuhkan tanda pengenal bukan, ini tanda pengenalmu tunjukkan saja pada mereka," kata Hans.


"Tapi aku malu mas, bagaimana mungkin aku bisa melakukan itu di depan banyak orang," ucap Tiara.


"Kenapa tidak bisa, lakukan apa yang aku katakan, malunya dirimu bukan urusanku." Hans mendorong Tiara dari atas pangkuannya.


Tiara kembali membuang nafas dengan perlahan, entah bagaimana nasibnya nanti jika menunjukkan tanda itu pada orang lain. Dirinya pasti akan menjadi bahan perbincangan di tempat ini, jika ia tidak melakukannya ia berurusan dengan Hans yang bisa saja melakukan hal yang lebih buruk padanya.


Tiara pun berjalan kembali keluar dari ruangan itu, beruntung saat ia keluar orang yang berkumpul tadi sudah berkurang. Hanya ada dua orang di sana yang keduanya seorang pria, tidak ada lagi orang yang terlihat di tempat itu jika tidak bertanya dengan mereka ia tidak tahu lagi harus bertanya dengan siapa.


"Tolong beritahu aku di mana tempat membuat kopi untuk Tuan Hans." Tiara menunjukkan wajah sedihnya.


"Dimana ID card mu? Bukannya kamu bilang tadi kamu asisten pribadi Tuan Hans."


Dengan ragu Tiara menunjukkan tanda yang Hans berikan. Untuk mereka berdua langsung saling menatap, keduanya merasa sangat bersalah telah memperlakukan Tiara seperti itu.


"Maaf nona, maaf kami lancang. Tempat membuat kopinya berada di sebelah ruangan sana, memang dikunci tempatnya kodenya 357."


"Terima kasih." Tiara berjalan menuju ruangan itu.


Setelah membuat kopi yang Hans inginkan Tiara langsung memberikannya, ia membuat kopi hitam spesial untuk di buat langsung dengan penuh perasaan, walaupun Hans menyebalkan melayani sang suami menjadi sebuah hal yang menyenangkan bagi Tiara.

__ADS_1


__ADS_2