Pernikahan Di Atas Kertas

Pernikahan Di Atas Kertas
Perfect Marriage - Bab 28


__ADS_3

Di sebuah ruang VIP rawat inap, terlihat Selly beserta ibunya sedang duduk di samping brankar, mereka berdua masih bersedih karena sudah empat jam Setyo terbaring tak sadarkan diri.


Selang infusan yang terpasang di lengan kanannya dan juga selang oksigen yang membelit di wajahnya, membuat lelaki paruh baya itu terlihat begitu mengkhawatirkan.


Keadaan cukup sunyi, setelah seorang dokter datang untuk memeriksa lalu pergi keluar lagi. Hanya suara detak jarum jam yang terdengar di ruangan itu.


Setelah berapa lama, akhirnya Ningsih membuka pembicaraan terlebih dahulu, dengan meminta maaf kepada anak kesayangannya itu.


"Selly, maafkan Ibu Nak," ujar Ningsih memecah keheningan.


Selly pun memandang ke arah Ningsih menatapnya dengan tatapan iba sekaligus tak enak hati. Ia menggelengkan kepalanya pelan, lalu diraihnya tangan Ningsih dan di genggamnya dalam telungkup kedua tangannya.


"Tidak Bu, Selly yang minta maaf ... maaf karena Selly baru bisa memberi tahu Ibu dan bapak sekarang."


Ningsih menghela nafas, dengan berat hati sambil melipat bibirnya ke dalam, dan menganggukkan kepalanya pelan. "Sudahlah." Ia pun merangkul anak gadisnya itu dalam pelukan.


Tiba-tiba, terdengar suara gumaman, yang tak lain bersumber dari Setyo.


"S-Selly," gumam Setyo setengah sadar. Selly dan Ningsih pun saling melepaskan pelukannya sambil melihat ke arah Setyo yang terbaring lemah.


Pak Setyo perlahan membuka matanya yang layu itu, sambil memanggil nama putri kesayangannya itu.


"Bapak." Selly langsung menggenggam erat sebelah tangan Setyo, sambil memberikan begitu banyak ciuman di punggung tangan Bapaknya itu.


"M-maafkan B-Bapak Nak," ujar Setyo terbata dengan suaranya yang masih terdengar begitu lemah.


"Tidak Pak, Selly yang harunya minta maaf. Maafkan Selly sudah membuat keributan hingga Bapak jadi seperti ini," ujar Selly dengan kedua ujung mata yang sudah menitikkan air mata. Ia begitu tak kuasa menahan tangis ketika melihat lelaki kesayangannya itu terbaring lemah. Ia merasa semuanya terjadi akibat ulahnya ... ulahnya karena sudah membuat keributan bersama Damas.


***


Sinar mentari siang itu begitu terik, Mayang baru saja turun dari taksi, lalu memapah neneknya masuk ke rumah sakit dan berjalan menuju ruang pemeriksaan jantung.


Setiap satu bulan sekali, Mayang selalu menemani neneknya untuk kontrol kesehatan, dikarenakan neneknya yang sudah berusia kepala enam itu, tak tega jika Mayang membiarkan neneknya pergi ke mana-mana sendirian.


"Nek, tunggu di sini ya, aku mau beli minum dulu," ujar Mayang begitu mereka sampai di ruang tunggu depan ruang pemeriksaan. Sang Nenek pun mengangguk mengiyakan.

__ADS_1


Mayang segera pergi menuju kantin di rumah sakit swasta itu, setelah membeli dua botol air mineral dan beberapa cemilan, ia pun beranjak untuk pergi kembali menemui neneknya.


Namun, di tengah koridor rumah sakit, matanya tak sengaja menangkap sesosok wanita yang begitu ia kenal. Wanita itu tengah duduk sambil menundukkan kepalanya, seakan sedang bersedih.


"Kak Selly," ujar Mayang menghampiri wanita itu yang ternyata adalah Selly.


Selly mendongakkan kepalanya, menatap ke sumber suara yang memanggil namanya. "Mayang."


"Kak Selly sedang apa di sini? Kakak habis menangis?" tanya Mayang to the point ketika melihat kedua mata Selly yang terlihat sembab dan sedikit ada lingkaran hitam yang menghias di bawah matanya.


Selly pun mengembangkan senyumannya, sambil menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak apa-apa. Em, kamu kenapa bisa ada di sini? Gak kuliah emang?"


"Oh, itu ... aku ke sini lagi nganter nenek buat cek bulanan. Kalau kuliah, emang udah pulang," jawab Mayang kemudian mendudukkan tubuhnya di samping Selly.


"Eh, kak Selly kenapa bisa ada di rumah sakit ini? Bukannya kakak kerja di rumah sakit umum daerah ya?" Mayang mengernyit heran.


Selly kembali sedikit mengembangkan senyumannya. "Bapak aku masuk rumah sakit," ujar Selly pelan.


"Apa! Kenapa bisa? ... em, maaf maksudnya sakit kenapa Kak?"


“Apa? Kak Selly batal nikah?”


"Ya Allah... yang sabar ya Kak." Mayang sejenak merangkul Selly, sambil memberikan sedikit usapan di punggung wanita itu.


"Apa aku boleh menjenguk bapak Kak Selly?"


Lagi-lagi Selly mengembangkan senyuman manis di wajahnya itu. "Boleh ... tapi, nanti kalau bapak udah agak membaik, bapak baru saja istirahat," jawab Selly tenanv. Mayang pun mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Ya sudah, kalau begitu Insya Allah, nanti malam aku sama Abang kemari lagi, buat jenguk orang tua Kak Selly," ujar Mayang tersenyum manis.


Selly mengangguk. "Baiklah."


Tak lama, Mayang pun berpamitan untuk segera kembali menemui neneknya, karena ia takut kalau neneknya keburu dipanggil masuk ke ruang pemeriksaan tanpa dirinya, makanya ia berjalan dengan gerakan sedikit berlari.


***

__ADS_1


"Abang!" pekik Mayang, ketika mendaratkan tubuhnya di samping Andre yang sedang duduk di atas sofa, di ruang TV sambil menikmati semangkuk mie instan campur telur dan sayur kesukaannya.


"Abang," ujar Mayang sekali lagi.


"Hm." Andre sibuk menyeruput mie instannya itu.


"Abang nanti abis isya kita pergi ke rumah sakit yuk, jenguk bapaknya kak Selly," ujar Mayang.


Seketika Andre menghentikan aktivitas makannya itu, dengan balik menatap ke arah Mayang dengan tatapan heran dan penasaran.


"Orang tua Selly?" Andre mengerutkan dahinya.


Mayang mengangguk semangat. "Iya, tadi siang waktu aku nganter nenek ke rumah sakit, aku tak sengaja bertemu sama kak Selly. Dia terlihat sangat sedih, karena bapaknya terkena serangan jantung," ujar Mayang, berbicara sambil sedikit melemaskan ekspresi wajahnya, seolah ia pun turut sedih saat menceritakannya.


"Terus?"


"Ya tadinya aku mau langsung jenguk, tapi kebetulan tadi pasien sedang istirahat ... gak jadi deh. Eh tapi aku udah bilang tadi sama kak Selly, kalau malam ini aku sama Abang mau jenguk ke sana," lanjut Mayang.


"Malam ini?" Mayang mengangguk dengan penuh semangat.


"Waduh, Abang kan belum persiapan apa-apa."


"Emang apa yang harus disiapin? Cuma jenguk ini," ujar Mayang, tapi ... tiba-tiba raut wajah Mayang berubah drastis, menatap penuh selidik sambil memiringkan senyumannya.


"Ah... aku tahu, Abang pasti grogi kan mau ketemu orang tuanya kak Selly?" goda Mayang sambil tertawa kecil. Andre hanya mengerutkan dahinya sambil membuang wajah.


"Abang, tenang aja, nanti kita mampir dulu ke supermarket, buat beli buah tangan untuk orang tuanya kak Selly," ujar Mayang masih dengan tatapan yang sulit di jelaskan, seolah ia menggoda Abangnya itu.


Dan setelah selesai melaksanakan solat isya, mereka berdua pun segera bersiap-siap  untuk pergi menjenguk bapak Selly ke rumah sakit.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2