Pernikahan Di Atas Kertas

Pernikahan Di Atas Kertas
Kabar Menyakitkan


__ADS_3

Merry dan Selly tengah bersiap memasukkan barang-barang mereka ke dalam koper. Karena sore nanti mereka harus segera pulang, meninggalkan masa liburan yang masih terasa nyaman ini.


"Huft... kenapa harus pulang sih...," ujar Merry begitu malas. Rasanya ia begitu berat jika sore nanti ia harus pulang kembali ke rumah tantenya. Merry pun merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, dengan posisi terlentang, dan kedua kaki yang menjuntai di atas lantai.


"Sekarang kita balik aja dulu, nanti empat hari lagi kita ke sini lagi," ujar Selly, membuat Merry seakan bersemangat mendengarnya, hingga wanita itu terbangun dari tidurnya.


"Beneran Sell? Memang bisa?" tanya Merry antusias.


Selly yang masih sibuk memasukkan sebagian pakaiannya ke dalam koper, ia hanya mengangguk sambil tersenyum.


"Empat hari lagi cucunya Pak Dori mau menikah, jadi nanti aku sama keluarga bakalan balik lagi kesini, kalo kamu mau ikut juga boleh," ucap Selly.


"Wah... seriusan? Mau, mau, mau!" Merry seketika memeluk Selly dengan begitu erat, saking bersemangatnya.


"Iya, iya, udah lepas-in dong! Nafasku bisa habis kalo begini!" seru Selly. Merry pun segera melepaskan pelukannya sambil menyengir kuda, dan memasang wajah polosnya yang membuat Selly tak suka melihatnya.


***


"Oke selesai, kita istirahat dulu," ucap salah seorang pemandu fotografer, kepada semua kru.


Raina bergegas pergi menuju kursi istirahat, dan mendudukkan tubuhnya di atas kursi santai itu. Dengan masih memakai gaun pantai, karena baru selesai melakukan pemotretan. Ia meneguk sebotol air mineral yang diberikan oleh asistennya, dengan begitu cepat, karena saking hausnya. Melakukan pemotretan di siang bolong seperti ini.


"Jam?" tanya Raina, memasang wajah datarnya. Sambil melepaskan aksesoris gelang di tangannya.


"Sekarang pukul 14.00 nanti pemotretan kembali pukul 15.30," jawab sang asisten. Raina pun berdiri dan segera berjalan menuju tempat ganti baju, khusus para modeling.


Di ruang ganti baju ini ada beberapa modeling, yang sama-sama cantik. Raina segera mengganti bajunya, menggunakan kaos santai berukuran besar dan celana jeans hottpans. Sehingga menampilkan paha dan betisnya yang putih dan mulus.


Raina masuk ke dalam sebuah restoran yang tak jauh dari tempat pemotretannya itu. Ia memesan satu mangkuk salad dan minuman segar.


Namun ketika ia menunggu pesanannya datang, ia tak sengaja melihat Dion yang baru saja masuk ke dalam restoran ini.


"Dion," gumam Raina.


Dion baru saja menapakkan kakinya di papan kayu yang menjadi lantai restoran ini. Ia dan Lisa masuk begitu saja ke dalam restoran tanpa memperhatikan sekitar, dan berjalan menuju kasir take away, untuk membeli beberapa makanan.


"Tunggu di sini, aku akan pergi sebentar," ujar Raina kepada asistennya.


Raina pun berjalan perlahan menghampiri Dion.


"Hai...." Raina menyapa Dion, yang kebetulan melihat dirinya.

__ADS_1


"Raina," ucap Dion, sedikit terkejut. "Kau sedang apa di sini?" tanya Dion, penasaran.


"Emh... biasa pemotretan ... kamu juga kenapa bisa ada di sini?" tanya Raina, melebarkan senyumannya.


"Oh, aku di sini sedang berlibur bersama Bara dan teman-teman Fira," jawab Dion. Raina menganggukkan kepalanya pelan.


"Kalian menginap di mana?" tanya Raina, penasaran sekaligus ingin menyelidiki.


"Di villa Mawar, miliknya Pak Dori."


"Kamu di sini udah lama?" sambung Dion. Raina menganggukkan kepalanya pelan.


"Sudah 4 hari," ucapnya.


"Wah... berarti duluan kamu dong, aku saja di sini baru menginap dua malam."


"Nanti sore juga aku akan pulang ko," ucap Raina.


"Benarkah? Kebetulan sekali, aku juga nanti sore mau pulang," tutur Dion. Raina seakan memikirkan sesuatu. Ingin rasanya ia bertanya mengenai Bara, namun rasanya ia tak harus menanyakan itu kepada Dion.


"Ah... sudahlah, kalau pun aku ikut menumpang dengan mereka juga, Bara pasti tak akan menyetujuinya," batin Raina.


"Dion a-apa–" belum sempat Raina bertanya, kemunculan Lisa yang menggerutu memanggil nama Dion, seketika menghentikan suaranya.


"Kak Dion! Ayo temani aku memilih makanannya!" rengek Lisa.


"Kamu kan bisa pilih sendiri," ujar Dion, yang tak bergeming dari tempatnya.


"Aku kan gak tahu makanan untuk ibu hamil itu apa!"


"Memangnya kau pikir aku tahu! Yang benar saja! Seharusnya kau sebagai adik ipar yang baik, tahu mana makanan kesukaan kakak iparmu itu!" timpal Dion.


Raina seketika mengerutkan dahinya. "Ibu hamil? Kakak ipar?" batinnya. Seribu pertanyaan akan siapa yang hamil itu terlintas di pikirannya. Firasatnya kini tertuju pada Fira.


"Siapa yang hamil?" tanya Raina tiba-tiba. Seketika menghentikan perdebatan bicara anatara Dion dan Lisa. Dion pun menoleh ke arah Raina.


Sejenak Dion menatap kedua bola mata Raina, yang seakan bersiap untuk terkesiap mendengar jawabannya. "Fira yang hamil," ucap Dion.


Dan seketika Raina melebarkan kedua matanya mendengar kabar bahwa istri mantan kekasihnya itu kini sudah hamil.


"Fira hamil," batinnya seakan benar-benar tak menyangka.

__ADS_1


"Secepat ini," gumamnya. Tiba-tiba hatinya seakan sesak mendengar kabar kehamilan Fira. Bagaimana tidak, dengan begini Raina mengetahui, bahwa kehidupan Bara dan Fira sudah berada di titik menuju kebahagiaan yang sempurna. Bahkan sebelum luka hatinya mengering, ia terlanjur mendapat kabar yang membuat hatinya kembali tergores.


Rasanya ia begitu iri. Iri kepada Fira yang bisa mendapatkan kebahagiaan secepat ini.


"Raina," panggil Dion. Namun Raina masih tak bergeming. Ia terlihat melamunkan sesuatu.


"Hei Nona!" panggil Lisa, seketika suara perempuan ini membuyarkan lamunan Raina.


"Hah?" Raina menatap Lisa seakan kebingungan.


Lisa kembali menatapnya seakan tidak suka. Kemudian ia segera menarik lengan Dion, dan menyeretnya secara paksa untuk pergi ke tempat pemesanan makanan, membantunya memilih beberapa makanan di dalam menu.


Raina berjalan mendekati mejanya dengan langkah yang begitu lesu dan tak bersemangat. Ia mendudukkan tubuhnya tepat di atas kursi berhadapan dengan asistennya.


"Nona Raina, apa kamu tidak apa-apa?" tanyanya. Raina menggelengkan kepalanya pelan.


"Aku sedang apa-apa," ucapnya, kemudian ia segera meneguk segelas juice lechye yang sempat di pesannya tadi. Kemudian berlalu bergitu saja meninggalkan mejanya. Asistennya pun bergegas untuk mengejarnya, namun terlebih dahulu Raina menghentikannya.


"Jangan mengikutiku, aku sedang ingin sendiri, sesuai jadwal nanti sore aku akan kembali untuk pemotretan, istirahatlah, jangan mencariku!" ucapnya sebelum benar-benar pergi dari restoran ini.


.


.


.


Bersambung.


Sedikit iklan.


Author : Maaf ya mentemen, updatenya lama.


Netizen : Males-males an banget ih author nya, sekali update cuma sedikit! Kalo nulis yang konsisten dong! Kalo begini nanti bosen bacanya, keburu kesel nunggunya lama!


Author : (Mengelus dada sambil beristighfar dalam hati, membaca komenan para netizen budiman yang begitu mengesankan)


Jadi biar kalian tahu, selain nulis author juga kerja biasa, Work From Home, dengan setumpuk tugas dan tanggung jawab yang harus author selesaikan.


Dan kalau kalian tahu, author nulis 1 chapter aja bisa nyampe 2-4 jam. Iya baca mh gampang 5 menit juga kelar, lah kalo nulis gak cukup dengan waktu 15 atau 30 menit.


Jadi intinya, tolong hargai karya author dengan cara Like, Komen dan Vote yang banyak, biar author teh makin semangat bikin ceritanya zheyenk...

__ADS_1


__ADS_2