
Merry pun segera lari ke kamarnya, kembali merapikan diri, dan segera menyambar tas jinjing kecil berwarna silver, miliknya, Ia pun segera keluar dan turun menuju ruang tamu.
Dengan perasaan berdebar, seolah ia memang benar-benar akan bertemu dengan calon meruanya. Merry pun berjalan seanggun mungkin sambil melebarkan senyuman manisnya.
Dion yang tengah duduk di antara Papa dan Mamanya. Ia begitu terkesiap melihat tampilan Merry yang sangat jauh dari biasanya. Polesan sedikit make up di wajah Merry, cukup merubah tampilan wanita itu jadi lebih sedikit dewasa dan terlihat sangat anggun dan elegan. Bahkan tanpa sadar Dion mampu tak mengedipkan matanya selama satu menit demi melihat kecantikan wanita yang kini sudah berdiri di hadapannya.
"Malam Om, Tante," sapa Merry sambil menyalami tangan Mama dan Papanya Dion secara bergantian.
"Wah calon mantu Papa cantik banget," puji Papa Dion. Merry hanya menganggukkan kepalanya.
Dan tanpa berlama-lama mereka pun segera berpamitan kepada Tante dan Pamannya Merry, untuk segera pergi ke acara pernikahan Adit.
Di sepanjang perjalanan, Dion tak henti-hentinya melirik Merry yang duduk di sampingnya. Sedangkan Papa dan Mamanya Dion, duduk di kursi belakang.
Papanya Dion juga sesekali mengajak ngobrol Merry, begitu pun dengan Mamanya Dion, yang ikut melontarkan beberapa pertanyaan kepada Merry. Sepertinya Mamanya Dion sudah mulai open, kepada Merry. Buktinya, Mamanya Merry sedikit terkagum dengan setiap jawaban yang dilontarkan Merry padanya.
"Hm... tidak terlalu buruk," batin Mama.
***
Suasana di gedung hotel bintang lima ini sangat lah ramai, meriah dan menakjubkan. Bagaimana tidak, keluarga Messy sudah mempersiapkan semua ini sejak tiga bulan yang lalu.
Kini Merry ikut bergabung dengan Fira dan Bara yang sedang duduk menikmati segelas minuman. Fira juga memuji Merry, akan tampilannya yang sangat terlihat pangling.
Sementara Dion dan Bara juga asyik mengobrol berdua.
"Hey Dion, kamu yakin tidak mau serius dengan teman istriku itu?" tanya Bara.
Dion sedikit mengerutkan dahinya. "Siapa? Merry?" tanyanya.
"Ya, betul siapa lagi kalau bukan Merry. Kau kan hanya dekat dengan dia saja," ujar Bara, sambil sesekali meneguk minumannya.
Dion temenung, sambil menatap Merry yang sedang asyik mengobrol dengan Fira. Tatapannya kali ini sangatlah berbeda dari bisanya.
"Jangan melamun, nanti juga ngalamin!" ujar Bara. Dion hanya tersenyum simpul.
Acara demi acara sudah dimulai. Dan kini tibalah di acara melempar bunga dari pengantin. Meskipun Merry belum ada niatan untuk menikah, tapi ia paling depan untuk mendapatkan bunga pengantin itu. Bukan karena mempercayai mitos, kalau dapat bunga dari pengantin akan cepat menikah, tapi karena kepolosannya yang merasa asyik untuk menangkap bunga.
__ADS_1
Satu ... dua ... tiga. Dan hap, akhirnya Merry berhasil mendapatkan bunga pengantin itu. Di iringi dengan gelak tawa karena sudah berhasil mendapatkan bunganya. Merry dengan semangatnya kembali menghampiri Fira, Bara dan Dion yang sedari tadi memperhatikannya dari jauh.
" Yeay, Fira... lihatlah akhirnya aku dapat bunganya!" ucap Merry begitu senang. Sambil menunjukkan bunga hasil tangkapannya tadi.
"Seperti anak kecil saja!" cetus Dion.
"Biarin! Wle... " ucapnya sambil terus tersenyum senang.
"Bahagia banget Mer, kayak yang mau nikah besok aja," goda Fira. Merry seketika menajamkan kedua bola matanya ke arah Fira.
"Bercanda." Fira tersenyum kikuk.
Selagi asyik bercanda tiba-tiba Raina datang menghampiri mereka. Menyapa Fira dan Bara. Fira pun dengan sedikit kaku, kembali menyapa Raina.
"Sudah berapa bulan?" tanya Raina kepada Fira, menanyai kabar kehamilannya.
"Sudah menginjak enam bulan," jawab Fira. Sementara Bara, ia tak sedikit pun melirik Raina.
Dan tak lama Pak Reza pun datang menghampiri mereka.
"Pak Reza," ucap Merry.
"Ah... Pak Reza sedari dulu selalu saja menebarkan senyuman manisnya," gumam Merry keceplosan. Namun hanya terdengar oleh Dion seorang yang berdiri di dekatnya.
Seketika Dion melirik ke arah Merry, yang masih memandangi Reza dengan kagum.
Mata Fira kini difokuskan dengan cincin yang melingkar di jari manis Reza dan Raina, bahkan terlihat mirip.
"Pak Reza, Nona Raina, apa kalian sudah bertunangan?" tanya Fira spontan.
Raina seketika melihat kembali cincin yang melingkar di jari manisnya. "Em... iya," jawabnya sedikit malu.
"Kapan?"
"Satu bulan yang lalu, saat aku lagi di Amrik," jawab Raina, sambil tersenyum simpul. Reza yang berdiri tepat di samping Raina, ia merangkul bahu Raina.
"Tiga bulan lagi kita juga akan menikah," ucap Reza sambil melirik ke arah Raina, yang ia pun mendapat senyuman hangat dari tunangannya itu.
__ADS_1
"Apa! Pak Reza mau menikah?" tanya Merry begitu heboh, seolah tak percaya.
"Iya, nanti kamu hadir ya, dengan pasanganmu juga," ucap Reza sambil melirik ke arah Dion.
"Pasangan?" Merry pun ikut melirik ke arah Dion.
"Dia itu bukan pasangan saya Pak," bantah Merry.
"Dia itu---"
"Suami, iya nanti kalau kalian menikah, aku dan Merry akan sudah menjadi suami istri," jawab Dion. Sontak membuat kedua mata Merry membulat dengan sempurna.
"Wah... kalah cepat dong saya. Selamat ya Mer, semoga nanti acara pernikahannya lancar," ucap Reza, yang menganggap ucapan Dion dengan serius.
"Dion!" Merry memelototkan kedua matanya, sambil mengeratkan gigi gerahamnya, menahan kesal akan lelaki itu.
"Haha sudah, sudah, aamiin kan saja," timpal Bara.
"Oh ya, Bara, Fira, em... aku mau minta maaf atas sikapku dulu kepada kalian. Aku ---" Belum sempat Raina menyelesaikan perkataannya, Bara terlebih dahulu memotongnya.
"Tidak perlu membahas masa lalu. Dan selamat ya buat kalian, semoga menjadi pasangan yang harmonis," ucap Bara, sambil merangkul Fira.
"Iya Nona Raina yang lalu biarlah berlalu, semoga kehidupan kita ke depannya bisa lebih baik dan bahagia," tutur Fira sambil mengembangkan senyumannya.
.
.
.
Bersambung.
Jangan lupa, mampir di karya terbaru author yang berjudul MY ANNOYING WIFE ceritanya gak kalah seru kok dengan Pernikahan di Atas Kertas.
Coba baja aja dulu siapa tahu kalian suka.
Jangan lupa, like, komen dan vote poin atau koinnya ya. 😍
__ADS_1
Detik-detik menuju tamat nih.