
Satu nyanyian selesai Merry dan Dion bawakan, dan ketika mereka berdua berbalik hendak duduk, Dion dan Merry dikejutkan dengan Fira yang terlihat pucat sambil menahan sakit pun Bara yang terlihat cemas.
"Fira, kau kenapa?" tanya Merry panik, Andre dan Selly pun seketika menoleh ke arah Fira.
Fira semakin berkeringat, ia merasakan rasa sakit dan pegal di bagian pahanya. "Mas, sepertinya aku mau melahirkan," ucap Fira.
Andre pun dengan cepat mendekati Fira, dan dengan refleks ia memegang bagian perut bawah Fira.
"Tuan Bara, sebaiknya Anda cepat panggilkan ambulans," ucap Andre. Bara pun dengan panik segera meraih ponselnya. Ia begitu gugup ketika mengetahui bahwa istrinya akan segera melahirkan. Dengan tangan yang bergetar Bara segera mengusap layar ponselnya hendak menelepon ambulans.
Namun dengan cepat Dion terlebih dahulu menghubungi pihak rumah sakit khusus ibu dan anak, dan meminta mereka mengirimkan ambulans ke tempat mereka sekarang ini.
"Tenanglah, tarik nafas, dan hembuskan perlahan," ucap Andre yang mencoba menenangkan Fira.
"Mas, a-aku ingin buang air besar Mas," ucap Fira yang merasa ingin buang air besar namun ia pun tak yakin akan perasaannya itu.
"Bukan, jangan terlalu banyak bergerak, tunggu di sini, itu bukan rasa ingin BAB tapi itu karena adanya dorongan dari dalam," tutur Andre. Bara dan yang lainnya terlihat begitu cemas.
10 menit mereka menunggu, suara sirene ambulans pun terdengar begitu nyaring, Bara memapah Fira untuk berjalan keluar menuju mobil ambulans.
Andre sengaja ikut dengan Bara dan Fira ke dalam mobil ambulans. Sementara Merry, Selly dan Dion mereka pergi menggunakan mobil Dion.
Di dalam mobil Bara semakin terlihat cemas, karena Fira yang tak henti-hentinya meringis merasakan sakit. Sementara dokter Andre ia menginterupsi Fira agar lebih tenang.
Kini mereka sudah sampai di rumah sakit tempat Andre bertugas. Dan dengan cepat Andre meminta kepada perawat untuk menyiapkan ruangan bersalin untuk Fira.
Meskipun ini adalah hari libur baginya, namun karena rasa tanggung jawabnya sebagai seorang dokter SPOG, tentunya membantu Ibu yang akan melahirkan pun adaah tugas yang harus dilaksanakannya, entah itu di waktu libur maupun waktu kerjanya.
Sementara itu, Dion dan yang lainnya sudah menunggu di luar. Sementara Bara, ia menemani Fira di dalam. Dan Andre beserta dua orang suster yang membantunya mereka kini tengah di sibukkan untuk membantu Fira lahiran. Dan ternyata pas Andre mengecek, Fira sudah ada di pembukaan 9, maka tak butuh waktu lama lagi, Andre menyuruh Fira agar bisa mengejan sebisa mungkin, dan mengusahakan Fira agar dia jangan sampai tertidur ataupun pingsan.
Bara yang berdiri di samping Fira, ia dengan tak tega harus melihat istrinya itu berjuang demi melahirkan anak-anaknya.
Kucuran keringat di dahi Fira dengan buliran air mata yang sesekali keluar dari ujung mata Fira, begitu menyentuh hatinya. Bara pun semakin tak kuat melihat semua ini, hingga buliran bening dari matanya ikut terjatuh membasahi pipinya.
Bara terus bersholawat, sambil mendoakan Fira di dalam hatinya.
"Mas kenapa sakit sekali," gumam Fira dengan bibir tipisnya yang sudah memucat.
"Sayang, bertahanlah, kamu pasti bisa, kamu pasti kuat sayang, kuat," ucap Bara sambil menciumi tangan Fira yang digenggamnya begitu erat.
Tiba-tiba perutnya kini kembali merasakan rasa sakit, bukan hanya perut, tapi punggung pinggul, pinggang bahkan semuanya terasa begitu sakit.
"Ayo, lebih kuat lagi, semangat," ujar Andre begitu ia merasakan bahwa sang bayi akan segera keluar. Dan dengan sekuat tenaga Fira mengejan hingga pada akhirnya suara tangisan bayi pun terdengar, begitu dokter Andre selesai menggunting tali ari-ari dari bayi pertama itu.
Darah yang keluar dari tubuh Fira cukup banyak dan deras. Hingga membuat kepala Fira terasa begitu pusing. Namun, perjuangannya belumlah selesai. Karena selang beberapa menit ia kembali merasakan sakit yang luar biasa. Tulang-tulang pinggulnya terasa patah dan sakit.
Dokter Andre pun kembali menginterupsi Fira agar mengejam kembali karena bayi yang kedua akan segera lahir juga.
"Sayang bertahanlah, kamu pasti bisa," ucap Bara yang semakin panik karena kini Fira terlihat semakin lemas tak berdaya.
Namun sebagai sorang Ibu, ia harus tetap bersemangat demi melahirkan anak keduanya ini. Dan tak butuh waktu lama, bayi kedua pun lahir.
Fira benar-benar sudah terkulai lemas, sesekali matanya terpejam karena merasa pusing.
"Tuan, jangan biarkan istri Anda tertidur, ajak dia bicara," ucap Andre, Bara mengangguk mengiyakan. Sementara Andre ia sibuk untuk membersihkan bekas lahiran Fira.
"Sayang, anak kita sudah lahir," ucap Bara menangis bahagia.
Fira tersenyum mendengar kalimat yang dituturkan suaminya itu, sebelah tangannya bergerak mengusap lembut pipi Bara, menghapus air mata yang terkucur membasahi pipi suaminya itu.
__ADS_1
"Kenapa menangis? Seharusnya kau tersenyum bahagia, anak kita kan sudah lahir sayang," ucap Fira dengan suaranya yang begitu lemah.
"Aku menangis karena bahagia sayang," ucap Bara kemudian menciumi kening Fira berkali-kali.
"Terima kasih Sayang, karena kau sudah mau berjuang untuk melahirkan anak-anak kita meskipun kau harus bertaruh nyawa."
"Ini memang sudah menjadi kewajiban kita, menjaga anak-anak kita meskipun harus bertaruh nyawa sekalipun," ucap Fira dengan suaranya yang parau.
Tiba-tiba kepala Fira terasa begitu pusing. bahkan secara tak sadar ia memejamkan matanya begitu lama, seolah-olah ada rasa kantuk yang begitu berat menyerangnya.
Namun sebisa mungkin Bara terus menepuk-nepuk pipi Fira pelan, agar istrinya itu kembali sadar.
Dan tiba-tiba terlintas di pikiran Fira, bagaimana jika ia tak sanggup dan harus berakhir dengan meninggalkan suami dan anak-anaknya itu.
"Mas, kalau aku nanti tidak bangun lagi, tolong jaga dan rawat anak-anak kita dengan baik ya," ucap Fira sambil perlahan kembali memejamkan matanya.
"Tidak Fira, jangan berbicara seperti itu." Bara semakin mengeratkan genggamannya dengan tangan Fira, dan mencoba untuk menyemangatinya.
"Mas, terima kasih atas cinta yang kamu berikan kepadaku, aku ... benar-benar mencintaimu Mas," ucap Fira yang kembali memejamkan matanya secara tak sadar.
Bara merasa semakin panik, dan berusaha untuk membangunkan Fira. "Fira, sayang, bangunlah jangan tertidur, anak-anak kita sudah menanti Sayang," ujar Bara.
Dokter Andre yang melihat keadaan itu, segera meminta suster yang membantunya itu untuk segera memasangkan infusan untuk Fira.
"Tuan Bara tenanglah," ucap Andre, seraya mengecek kedua bola mata Fira.
"Fira, bangunlah Sayang, Fira kau masih mendengar suaraku kan?" tanya Bara panik.
"Pak dokter, kenapa istri saya tidak bangun?" tanya Bara antara cemas dan emosi. Namun, tiba-tiba tangan Fira menggenggam erat kembali tangan Bara.
"Mas," ucapnya parau.
"Fira, kau sadar kembali sayang?" Bara kembali menciumi wajah Fira.
Proses pembersihan telah selesai. Kini Andre meminta Bara untuk keluar terlebih dahulu.
Dan ketika Bara keluar ternyata Mama Wina, Ayah Alex, Tante Moly, Papa Hito, Lisa, Merry, Selly dan Dion. Mereka semua sudah ada di luar ejak tadi. Karena tadi, ketika Fira di bawa ke rumah sakit, Dion segera menghubungi nomor telepon rumah Bara yang baru dan ia juga menelpon Hito, memberitahukan bahwa Fira akan lahiran.
"Bara bagaimana keadaan Fira dan bayinya?" tanya Wina begitu khawatir.
Bara menarik kedua sudut bibirnya, tersenyum penuh suka cita. "Alhamdulillah Ma, Fira dan bayinya selamat semuanya," ucap Bara. Seketika mereka semua mengucap syukur atas keselamatan Fira dan bayinya itu.
"Selamat ya Bar, sekarang udah resmi jadi seorang Ayah," ucap Dion sambil memberikan pelukan.
"Iya Di, terima kasih," ucap Bara tersenyum.
***
Kini Fira dan kedua bayinya sudah dipindahkan ke ruang rawat VVIP. Dokter Andre baru saja selesai memeriksa keadaan Fira sekaligus menyuntikkan obat dan vitamin untuk Fira.
Dokter Andre pun keluar dari ruang kerjanya, bersamaan dengan suster yang membantunya.
"Sekarang, pasien sudah bisa dijenguk, dan Alhamdulillah bayinya sehat, normal, jari tangan dan kakinya pun lengkap, serta semua anggota tubuhnya bagus, sempurna, dan untuk jenis kelaminnya laki-laki dan perempuan," ucap Andre tersenyum kemudian ia segera pamit untuk pergi ke ruang kerjanya.
Mereka semua pun dengan tak sabar segera masuk ke dalam ruangan yang cukup luas dan nyaman itu. Wina dengan cepat menghampiri menantunya itu dan memberikan ciuman di kening Fira.
"Selamat ya Sayang, akhirnya kamu jadi seorang Ibu juga. Dan sekarang Mama sudah resmi menjadi seorang Nenek," ucap Wina kepada Fira, yang masih terbaring di brankar.
"Wah... ponakanku lucu sekali, Hallo Baby Baby gemes," ucap Lisa yang begitu senang melihat dua bayi yang di bedong rapi di atas tempat tidur bayi khusus rumah sakit.
__ADS_1
Moly pun mencoba memangku salah satu dari dua bayi itu. Ia memberikannya kepada Bara untuk di azan-kan. Dan bergantian dengan bayi yang satunya lagi.
"Mana cucu kakek yang soleh dan solehah ini, sini Kakek gendong," ucap Alex meminta kepada Moly untuk memberikan salah satu bayi itu ke pangkuannya.
Begitu pun dengan Hito yang tak sabar ingin memangku cucunya yang satu lagi.
Sungguh, kebahagiaan yang sangat luar biasa. Kini ruangan itu pun di penuhi dengan wajah-wajah ceria penuh kebahagiaan.
Fira begitu merasa sangat bersyukur karena ia selalu di kelilingi oleh orang-orang yang begitu tulus menyayanginya. Meskipun dulu ia sempat putus asa dalam menjalankan rumah tangganya. Namun, kepedihan yang ia rasakan dulu rasanya tidak ada apa-apanya di banding dengan begitu banyaknya cinta dan kebahagiaan yang ia dapat.
"Alhamdulillah, terima kasih ya Allah, terima kasih untuk segalanya," gumam Fira sambil menatap Bara yang masih takut-takut untuk mencoba menggendong anaknya.
***
Kini salah satu bayi itu sedang berbaring di samping Fira. Fira mengamati setiap lekuk wajah dari bayinya itu.
"Jadi aku harus memanggil dua keponakanku dengan sebutan apa?" tanya Lisa.
Bara dan Fira baru di sadarkan akan hal itu. Sebelumnya juga mereka sudah menyiapkan nama yang bagus untuk bayi mereka.
"Em ... bagaimana kalau namanya Nanda dan Nadia?" usul Wina.
Namun dengan cepat Hito menolaknya. "Jangan, nama itu sudah banyak yang pakai. Bagaimana kalau namanya Gerry dan Sherly."
"Tidak-tidak jangan nama itu, lebih baik ngambil dari nama Sunda aja, Ujang dan Eneng ... biar bagus, kan kalo di kota jarang-jarang ada yang pakai nama itu," seloroh Alex, sontak membuat seluruh orang yang ada di ruangan tertawa mendengarnya.
"Ayah, Ayah, lagi pula di keluarga kita kan gak ada turunan Sunda," timpal Fira terkekeh.
"Ya udah kalau begitu namanya Gading dan Gisel aja, cocokkan sama-sama dari huruf G," ujar Merry.
"Yah... itu mah nama artis sebelah dong! Udah kita serahkan kepada kedua orang tua dari bayi ini saja," ucap Selly, dan yang lainnya pun membenarkan.
"Hm ... kalau begitu kita namai anak kita ini dengan nama Azzam dan Azzira, bagaimana?" tanya Bara pada Fira.
"Hm ... bagus, aku menyukainya, Azzam dan Azzira, Azzam nama Kakaknya dan Azzira nama Adik perempuannya," ucap Fira mengulanginya sambil tersenyum bahagia.
.
.
.
Bersambung....
Follow ig author @dela.delia25
Baca karya baru author berjudul :
1. Bosku Suamiku
2. Love's Mr. Arrogant
3. Menikahi Pria Misterius
4. Sebening Cinta Aisyah
Tubir Hati Cahya (Lanjutan kisah dari anak-anak Fira & Bara)
__ADS_1
LIKE nya jangan lupa udah crazy up nih wkwkwk