
Happy reading~~~
•••
Selly berlalu keluar, meninggalkan vila mawar itu, dan berjalan menyusuri jalanan berpasir melewati sebagian rumah warga.
"Sebenarnya aku ini apa bagi mereka? Apakah mereka menganggapku sebagai anak, atau menganggapku sebagai boneka? ... Kenapa sih! Bapak sama Ibu selalu saja memaksakan kehendak mereka. Tak pernah sekalipun mereka mendengarkan keinginan anaknya ini. Sedari dulu selalu saja mereka memaksaku melakukan apa yang menjadi tujuan mereka. Argh... sungguh menyebalkan! Rasanya aku ingin menghilang saja dari bumi ini," gerutunya dalam hati, Selly pun menendang sebuah sampah botol yang ada di depannya, dengan pelan. Karena kalau terlalu kencang ia pun takut akan mengenai seseorang.
"Bukannya itu gadis yang semalam kepergok berduaan dengan lelaki ya?" bisik salah seorang ibu-ibu yang ada di sana.
"Iya, dia anak dari pemilik vila mawar di sana."
"Anak zaman sekarang kalau jauh dari orang tua gak bisa dipercaya ya."
"Dia kan anaknya Pak Setyono, gak nyangka ya, cantik-cantik bisa berbuat mesum."
Suara desas-desus dari ibu-ibu yang sedang menata ikan di pelataran, terdengar samar-samar di telinga Selly. Sontak membuat Selly begitu emosi mendengarnya, ingin rasanya ia mengklarifikasi gosip itu. Tapi ia pun tak bisa meyakinkan orang begitu saja hanya dengan omongannya.
Selly mengepalkan kedua tangannya. Ia pun kembali mempercepat langkahnya meninggalkan pelataran itu, dan pergi menuju pesisir pantai.
Ia mendudukkan tubuhnya di sebuah gazebo yang terdapat di pinggir pantai. Pikirannya masih diganggu dengan perkataan-perkataan ibu-ibu tukang gosip tadi.
"Apa harus aku menikah dengan Dr. Andre? ... Tapi gak mungkin! Argh... Ya Allah... aku harus bagaimana ini?" batin Selly, menekuk kedua lututnya dan memeluknya lalu menyembunyikan wajahnya itu di antara kedua lututnya itu. Ia benar-benar frustrasi dengan masalah semalam.
Perihal kejadian semalam seolah berjalan bagai putaran film di dalam pikirannya. Perkataan ibu-ibu tukang gosip yang terngiang-ngiang di kedua telinganya, pun ucapan bapak dan ibunya yang masih memenuhi isi kepalanya.
Ah, sungguh kepalanya terasa hendak meledak demi memikirkan semua masalah itu.
***
__ADS_1
Semenyata itu, di kediaman rumah Nek Yuni.
"Apa!" Pekik Mayang sesaat setelah Andre memberitahu kejadian semalam. "Lalu bagaimana Bang?"
"Abang membawa Selly ke kamarnya, terus tiba-tiba lampu di seluruh ruangan mati gitu aja, dan saat Abang membaringkan Selly di atas tempat tidur dia terbangun, berteriak lalu pas lampu menyala, kedua orang tuanya sudah berada di ambang pintu kamar," ucap Andre menjelaskan.
Mayang lagi-lagi dibuat tercengang, gadis itu hanya bisa melongo saat Andre mulai menceritakan kembali, bagaimana luka di bibirnya itu bisa ada. Sampai pada akhirnya ia dinyatakan harus bertanggung jawab dan menikahi Selly.
"Woah... Abang! Aku sungguh tidak percaya. Ya Allah terima kasih Ya Allah aku sungguh bahagia mendengarnya." Mayang malah bersyukur kegirangan, bagai anak kecil yang mendapat hadiah lotre.
"Mayang... kamu ini kenapa sih! Abang mu lagi dalam masalah,” ujar Nek Yuni memprotes..
"Nenek, ini kabar baik ... Abang akan menikahi Kak Selly. Kak Selly itu, wanita yang selama ini Abang sukai yang Abang incar dari kemarin-kemarin. Bahkan aku pun mengincarnya untuk menjadikan dia sebagai kakak iparku," ujar Mayang yang seolah begitu senang mendengar kabar itu.
"Iya, tapi aku gak mau kalau menikah karena tuduhan seperti itu!" seru Andre dengan memasang mimik wajahnya yang kesal.
"Ya kalau begitu tinggal Abang jelaskan saja seperti ini." Mayang merubah posisi duduknya terlihat lebih tegap seolah hendak memperagakan sesuatu.
"Bagaimana ... keren bukan?" Mayang menggerak-gerakkan alisnya naik turun, meminta pendapat dari Abang dan Neneknya itu.
Namun, bukannya kagum akan apa yang diperagakan oleh gadis cantik itu, Andre dan sang Nenek malah tertawa melihat Mayang yang sok-sok-an menjadi orang bijak.
"Kenapa kalian malah menertawakanku!" gerutunya langsung menyilangkan kedua tangan di dada sambil mencebikkan bibirnya, merasa kesal.
"Kau ini dasar ada-ada saja!" ujar Andre terkekeh renyah. Keadaan yang awalnya sedikit menegangkan itu, kini berubah seketika menjadi suasana yang ceria penuh canda tawa. Tawa di antara mereka bertiga pun belum menyurut sampai pada akhirnya kedatangan Paman Dori kembali membuat suasana menjadi hening.
Setelah berbicara panjang lebar dan menerima nasihat dari Paman Dori dan Nenek, akhirnya Andre pun mengambil keputusan bulat akan kejadian semalam.
"Baiklah Paman, kalau begitu sekarang kita pergi saja ke sana," ajak Andre. Mayang yang tak ingin ketinggalan, ia merengek-rengek minta di ajak ke sana, ia tentunya tak ingin ketinggalan momen penting seperti ini.
__ADS_1
"Ya sudah kalau begitu kita ke sana semuanya saja, sama Nenek juga," ujar Dori. Mereka semua pun menyetujuinya dan bersiap terlebih dahulu.
Andre merasa begitu berdebar, ia tak menyangka bahwa dirinya harus melangkah sejauh ini. Terlebih ia tak percaya bahwa waktunya bisa secepat ini. Ternyata memang benar, Allah maha segalanya, jika memang sudah jalannya pasti akan tetap dipertemukan.
"Bagaimana penampilan Abang?" tanya Andre begitu keluar dari kamar dan menghampiri Mayang yang ada di ruang tengah.
"Daebak!!! Abang keren sekali Bang. Pas deh, udah cocok." Mayang mengacungkan dua ibu jarinya, menandakan penampilan Andre begitu keren.
Setelah semuanya selesai, mereka pun segera pergi menuju vila mawar.
***
Kini semua orang sudah duduk melingkar di atas sofa di ruang tamu. Setyo cukup terkejut dengan kedatangan Dori, Andre beserta adik dan neneknya.
Ningsih menyajikan minuman untuk mereka semua di atas meja.
"Begini Pak Setyo, jadi sebelum Nak Andre menyampaikan niat baik kedatangannya ke sini. Nak Andre ingin mengklarifikasi terlebih dahulu soal kejadian semalam," ucap Dori membuka pembicaraan.
"Baiklah, silakan." Setyo mempersilakan Andre untuk berbicara terlebih dahulu.
Dengan perasaan berdebar dan keringat dingin yang mulai mengucur di dahi, serta kulit tubuh yang terasa meremang. Andre sekuat tenaga mengumpulkan segala energi untuk membuat dirinya berani berbicara dengan Setyo yang wajahnya terlihat cukup garang itu.
Perlahan Andre pun bersuara, ia menjelaskan terlebih dahulu akan kejadian semalam yang membuat mereka menjadi salah paham padanya. Setyo pun menyadarinya, ia juga meminta maaf atas perlakuannya semalam yang main pukul begitu saja kepada Andre.
"Kalau begitu, mengenai pernikahan itu, saya juga meminta maaf. Saya semalam terlalu terbawa emosi hingga memutuskan suatu hal tanpa dipikir terlebih dahulu," ujar Setyo yang sedikit membuat Andre mengerutkan dahinya tak mengerti maksud dari perkataan lelaki paruh baya itu.
"Maksudnya bagaimana Pak?" tanya Andre.
.
__ADS_1
.
Bersambung