Pernikahan Di Atas Kertas

Pernikahan Di Atas Kertas
Di Buntuti


__ADS_3

Waktu berlalu begitu saja, malam ini adalah malam terakhir bagi Fira dan Bara menginap di vila ini. Karena esok mereka harus sudah pulang ke Jakarta.


Selly sedang sibuk menyiapkan makan malam bersama mama Wina dan Lisa. Selly kembali menginap di sini, dari tiga hari yang lalu, saat acara pernikahan cucunya pak Dori.


Awalnya Selly ingin mengajak Merry juga, namun Merry sedang ada interview pekerjaan, sehingga ia tak bisa ikut kembali ke vila ini.


"Kandungannya dalam keadaan baik. Sebelum tidur dan besok sebelum berangkat, jangan lupa untuk di minum vitaminnya," ujar dokter Andre, yang baru saja selesai memeriksa keadaan Fira.


"Baiklah terima kasih dok." Bara pun mengantar dokter Andre keluar dari kamar. Kemudian dengan cepat Fira turun dari tempat tidurnya, dan keluar mengikuti Bara.


"Kau mau ke mana?" tanya Bara, yang berbalik hendak menghampiri Fira.


"Em... ini kan jam makan malam, ayo kita turun ke bawah." Fira bergelayut di sebelah lengan Bara dengan begitu manja. Mereka pun berjalan tepat 2 meter di belakang dokter Andre.


"Pak dokter sudah mau pulang?" tanya Mama Wina begitu ramah. Dokter Andre pun mengangguk mengiyakan.


"Kalau begitu, sebelum pulang kita makan malam saja dulu," ajak Mama Wina. Dan di timpali oleh Papa Hito, agar ikut bergabung makan malam bersama mereka. Awalnya dokter Andre menolak dan membuat Bara ikut mengajaknya. Dan akhirnya mau tak mau dokter Andre pun ikut bergabung makan malam bersama keluarga ini.


"Mas aku mau udang," ucap Fira, menunjuk ke arah udang saus padang yang jaraknya cukup jauh darinya. Bara pun mengambilkannya.


"Habiskan biar anak kita kenyang di dalam," ujar Bara. Karena sudah beberapa hari ini, Fira sulit sekali untuk makan, kalaupun makan ia tak pernah menghabiskannya.


"Ayo Pak dokter di makan. Ini tambahlah." Wina menyiukkan semur ayam di piring dokter Andre. Ia tersenyum malu menerimanya.


Di tengah acara makan, tak sedikit mereka saling mengobrol. Bahkan Mama Wina sedikit lebih kepo kepada dokter Andre.


"Oh ya Pak dokter, dulu kuliah di mana?" tanya Wina.


"Dulu, saya kuliah di UNTAR Tante," jawab Andre. Tak lupa Mama Wina juga menanyakan perihal kenyamanan kuliah di sana. Dan Andre menjawabnya dengan senang hati.


"Wah tak sia-sia Mama mendaftarkan Lisa kuliah di sana. Kamu dengar Lisa, kuliah kedokteran tak seburuk yang kamu bayangkan," ujar Wina kepada Lisa.


Lisa hanya berdecak kesal, karena sebenarnya ia tidaklah berminat untuk masuk di universitas kedokteran. Namun, entah kenapa Mamanya itu begitu berambisi agar Lisa mau kuliah kedokteran.


Setelah selesai makan malam. Selly hendak membersihkan meja makan, dan mengambil satu persatu piring kotor yang ada di atas meja makan. Dokter Andre dan Lisa pun ikut membantu.


Namun ketika Selly hendak mengambil piring kotor bekas semur ayam, tiba-tiba secara tak sengaja dokter Andre pun hendak mengambilnya. Membuat kedua tangan mereka sejenak bertumpu, dan membuat mereka saling beradu pandang, sebelum Selly menarik kembali tangannya dengan cepat.


"Ehem...." Lisa berdehem, melihat sekelebat adegan manis yang terlihat olehnya.


"Oh maaf, biar saya saja. Pak dokter bisa pulang saja," ucap Selly dengan gugup.


"Eh, maaf maksudnya bisa istirahat saja tidak perlu repot-repot membantu," ucapnya membenarkan.


"Aduh ya ampun Selly, apa yang kamu katakan barusan. Apa kamu mengusirnya secara halus hah?" batin Selly, sambil menunduk malu dan kembali fokus menumpuk piring kotor.


"Em... baiklah," ucap Andre, dan segera berlalu menuju ruang tengah untuk berpamitan kepada semua orang, termasuk kepada Fira dan Bara yang tengah duduk menikmati angin malam di teras.


***


Sore itu seperti biasa Bara pulang terlebih dahulu dari kantor. Karena sudah satu bulan ini ia sering pulang cepat sebelum jam kantor berakhir. Dan sebagian pekerjaan ia serahkan kepada Dion. Dan sudah satu minggu pula Fira dan Bara tinggal di rumah ayah Alex.


Sore itu pun Bima sedang naik ke pohon mangga yang ada di halaman rumahnya. Karena sedari siang Fira menginginkan buah mangga yang ada di halaman rumahnya itu. Dan baru bisa di petik setelah menunggu Bima pulang dari tempat magangnya.


"Kak Fira jangan berdiri di situ," teriak Bima daro atas.


"Tidak apa-apa, biar aku yang menangkapnya Bima," teriak Fira dari bawah, menunggu mangga keinginannya untuk di jatuhkan dari pohonnya.


"Tidak kalau Kakak masih berdiri di situ aku tidak akan mengambilkan buah mangganya." Akhirnya Fira pun memilih untuk menunggu di kursi yang ada di teras, dari pada harus berdiri sambil mendengar ocehan adiknya itu.


Setelah selesai memetik beberapa buah mangga, Bima pun segera turun dari pohon, dan memunguti buah-buah mangga yang tergeletak di tanah.


Tiba-tiba, sebuah motor berhenti tepan di samping halaman rumah mereka yang memang tempat lalu lalang kendaraan motor. Seorang lelaki turun dari motor itu, dan membuka helmnya.


"Bim," panggil Adit, yang ternyata satu kolega di tempat kerja.

__ADS_1


"Eh Kak Adit." Bima menghampirinya. Sejenak Adit menoleh dan menyapa Fira. Fira pun menyapa balik Adit dengan ramah.


Adit datang untuk memberikan flashdisk yang berisi beberapa design perhiasan di dalamnya kepada Bima.


"Makasih ya Kak, maaf sudah merepotkan," ucap Bima sambil menerima flashdisk itu dari Adit.


"Iya gak apa-apa, santai aja." Bima pun mengajak Adit untuk masuk, namun Adit menolaknya. Tapi sebelum ia berpamitan untuk pergi, Adit memberikan sesuatu terlebih dahulu kepada Fira.


"Selamat ya Fir atas kehamilannya, semoga kamu sama janinnya sehat terus. Ini, aku bawain stroberi ... katanya ibu hamil suka yang asem-asem," ucap Adit, sambil menyodorkan sekantung stroberi segar kepada Fira.


Fira yang begitu tergoda akan stroberi berwarna merah merona itu, ia tak bisa menolak. "Makasih ya," ucap Fira, menerimanya dengan begitu senang. Lalu Adit pun berpamitan.


Namun sebelum ia naik ke motornya, ia berpapasan terlebih dahulu dengan Bara, yang baru saja turun dari mobilnya. Sejenak mereka berdua saling beradu pandang, dengan tatapan yang sulit di artikan.


Fira yang mengetahui kedatangan Bara, ia segera memberikan kantung yang berisi stroberi itu kepada Bima. Karena ia tahu, kalau Fira menerima langsung pemberian dari orang lain apalagi laki-laki, Bara pasti akan cemburu dan marah padanya.


"Mas kamu sudah pulang," sapa Fira sambil melebarkan senyumannya. Tapi tidak dengan Bara, yang sejenak melirik ke arah Bima.


"Dia tadi kesini ngapain?" tanya Bara, curiga.


"Itu, mengantar flashdisk buat Bima, sekalian ngasih stroberi," jawab Fira.


Bara sejenak mengerutkan dahinya. "Stroberi? Buat siapa?"


"Hah? Buat Bima lah, masa buat aku," ucap Fira, semakin melebarkan senyumannya, kemudian segera mengajak Bara untuk masuk ke dalam dan meninggalkan Bima begitu saja.


"Haih, aku... juga," gumam Bima, sambil menggelengkan kepalanya pelan.


Setelah selesai membersihkan diri, Bara segera turun untuk ikut makan sore bersama. Semuanya di siapkan oleh Tante Molly, karena semenjak ia tahu kabar kehamilan Fira, Molly begitu hati-hati dan over protektif kepada Fira. Bahkan ketika Fira turun dari tangga pun ia selalu mengawasinya, takut terjadi apa-apa kepada keponakan kesayangannya itu.


"Fira, jangan terlalu banyak memakan udang," ucap Molly. Fira hanya mengangguk sambil mencebikkan bibirnya.


"Sudah, kamu makan ini saja." Tante Molly menyodorkan sepiring steak yang di balur begitu banyak kecap. Sesuai dengan kesukaan Fira. Fira pun akhirnya memakannya dengan begitu lahap.


"Bima buah mangga tadi di mana?" tanya Fira, setelah ia selesai makan dan meneguk air.


Fira pun hendak ke dapur untuk mengambil buah mangga itu, tapi Tante Molly menghentikannya dan ia sendiri yang mengambilkannya untuk Fira.


"Ini, sudah Tante kupas," ucap Molly menyodorkan sepiring mangga muda yang sudah di bersihkan dan di potong-potong.


"Mangga dari depan?" tanya Bara. Fira mengiyakan.


"Bima yang mengambilkannya?" Fira kembali menganggukkan kepalanya sambil terus melahap potongan mangga muda yang begitu menggiurkan di lidahnya.


Dan tiba-tiba Bara berdiri, dan berlalu menuju ruang TV. Sejenak Bima dan Ayah Alex saling menatap sambil menggelengkan kepalanya pelan. Orang satu rumah sudah tahu akan sikap Bara yang jauh berubah setelah Fira hamil. Bara menjadi orang yang begitu cemburuan dan posesif kepada Fira.


"Kak Fira," panggil Bima pelan kepada Fira yang masih asyik menikmati mangga mudanya.


"Kak Fira," panggilnya lagi pelan. Fira sejenak menatap ke arah Bima. Dan menaikkan kedua alisnya.


"Cepat urus suamimu itu, jangan sampai salah paham lagi padaku," ucap Bima. Fira pun sejenak menoleh ke arah ruang tamu, melihat Bara yang sedang duduk sendiri menonton TV yang tak jelas tontonannya.


"Haih... selalu saja!" Fira berdecak dan segera berlalu menghampiri Bara, sambil membawa sepiring mangga muda yang masih tersisa setengahnya itu.


"Sayang," panggil Fira duduk di samping Bara sambil menyimpang piring itu di atas meja.


"Mas, apa kamu marah lagi?" tanya Fira memasang wajah polosnya. Bara masih terdiam dengan perasaan kesal di dadanya.


"Mas, tadi Bima hanya membantuku mengambil buah mangga saja kok," tutur Fira menjelaskan.


Bara masih terdiam. Ia begitu kesal, karena Fira selalu saja mengandalkan Bima dibanding dirinya.


"Sudah berapa kali aku bilang Fira, kalau kau menginginkan sesuatu bilang padaku, jangan meminta bantuan pada Bima!" ucap Bara pelan, namun penuh penekanan.


Fira menarik nafasnya panjang, kemudian menghembuskannya perlahan. "Baiklah, maafkan aku Mas. Lain kali aku akan meminta bantuanmu, dan tidak akan mengandalkan Bima lagi," ucap Fira, mencoba membujuk suaminya yang sedang merajuk itu.

__ADS_1


Namun Bara masih saja menukuk wajahnya. "Sudahlah, kau pasti akan mengulang perkataanmu itu," ujarnya dengan nada datar.


Fira pun memanyunkan bibirnya, entah harus dengan cara apa ia membujuk suaminya agar tidak marah. Ia pun menyadari kalau hal ini sering terulang dan dilakukannya.


"Sayang lihatlah Papamu tidak mau memaafkan Mama," ucap Fira, sambil mengusap perutnya yang masih terlihat rata itu.


"Papa sayang, maafin Mama sama Om Bima ya, kalau Papa gak maafin Mama, nanti Mama bisa sedih loh...." Fira berucap menirukan suara anak kecil, layaknya seorang anak yang membujuk Papanya untuk memaafkan Mamanya.


Bara membuang wajahnya sambil sedikit tersenyum. Melihat tingkah laku istrinya yang selalu saja bisa meluluhkan hatinya.


"Baiklah kemari, bilang pada Mamamu lain kali jangan melakukan kesalahan yang sama. Papa tidak suka!" ujar Bara, sambil mengusap perut Fira. Fira pun tersenyum. Dan membenamkan tubuhnya di rangkulan suaminya.


"Haih... ternyata begini rasanya punya Kaka ipar yang terlalu posesif, adik sendiri pun masih ia cemburui," gumam Bima dari jauh, sesaat setelah melihat Fira dan Bara yang sudah kembali membaik.


"Dalam sebuah hubungan memang akan ada masanya seperti itu, nanti juga kalau kamu sudah mempunyai istri, kamu akan merasakan hal itu," ujar Ayah Alex. Bima hanya mendesah.


***


Malam harinya, Fira baru saja selesai melakukan video call bersama kedua sahabatnya yaitu Merry dan Selly. Mereka berdua masing-masing sudah bekerja menjadi pegawai magang di sebuah perusahaan. Selly di perusahaan swasta, sementara Merry magang di salah satu Bank Swasta.


Kini Merry baru keluar dari bank setelah selesai dengan rapat evaluasi hariannya. Biasanya ia pulang pukul 21.00 malam. Namun malam ini ia pulang pukul 22.30 malam, karena tadi siang ada kesalah dari salah satu kolega kerjanya, sehingga berimbas pada semua staff dan pekerja bank di sana.


Semua teman kerjanya sudah pulang. Hari ini Merry tak membawa motornya karena kemarin motornya mengalami kerusakan mesin. Sehingga membuat motornya itu harus bermalam di tukang service motor.


"Huft... tak seperti biasanya," gumamnya, sambil berjalan di pinggir jalan raya. Berharap ada taksi lewat atau ada ojek yang menawarinya.


Tapi, suasana malam ini terasa begitu berbeda dari biasanya, terasa lebih sepi dan toko-toko di sekitar pun sudah tutup semua, bahkan kendaraan yang berlalu lalang pun hanya terlihat satu atau dua kendaraan saja. Jauh di belakang Merry terlihat dua orang lelaki berpostur tubuh tinggi, besar, memakai jaket dan topi serba hitam.


Merry semakin gundah, hatinya berdetak semakin kencang ketika ia melihat ke belakang, dan mendapati dua lelaki menyeramkan yang sedang membuntutinya. Merry semakin mempercepat langkahnya berharap bahwa mereka adalah orang baik-baik.


Tapi semakin Merry mempercepat langkahnya, dua lelaki itu semakin mengejarnya. Suara langkah kaki yang semakin jelas terdengar membuat Merry semakin ketakutan. Hingga ia memutuskan untuk menghentikan langkahnya tepat di sebuah gang menuju pasar basah.


"Siapa kalian? Kenapa kalian mengikutiku!" Merry berucap dengan suara yang sedikit bergetar.


"Tenang sayang, kita di sini hanya ingin menemanimu saja," ucap dua lelaki asing itu.


"Kau sendirian saja Bebby?" Salah satuduanya mencubit dagu Merry dengan pelan.


"Jangan menyentuhku! Atau aku akan berteriak!" Merry semakin ketakutan, kedua tangannya ia silangkan untuk menutupi dadanya. Perlahan ia mundur dan ketika Merry berbalik hendak berlari. Salah satu dari lelaki itu, menjambak rambut Merry sehingga membuat ia terpental ke belakang.


"Aw... tidak, tolong jangan sakiti aku, aku mohon." Merry benar-benar sangat ketakutan, ia tak tahu harus berbuat apa. Bahkan air matanya sedari tadi sudah membanjiri kedua pipinya.


"Tolong! Tolong!" Merry berteriak sekencang mungkin. Dari jauh terlihat seorang wanita yang sama sedang berjalan sendirian. Merry mencoba meminta tolong kepada wanita itu, namun wanita itu seperti ragu dan malah kembali berbalik dan berlari sambil berteriak minta tolong juga.


"Hei! Bedebah sialan!"


Bugh, Bugh! ....


Krak! ....


Seseorang entah dari mana tiba-tiba sudah menyerang kedua lelaki itu. Bahkan yang satu jatuh terpental menimpa tumpukan kayu di depan toko bangunan.


"Sialan! Beraninya kau!" Salah satu dari penjahat yang sempat ikut terjatuh itu ia kembali bangkit dan hendak menyerang sang pahlawan itu. Namun sebelum penjahat itu menyerang, sang pahlawan itu lebih dulu menendang dada penjahat itu, hingga membuat penjahat itu jatuh dan terbatuk-batuk mngeluarkan darah dari mulutnya.


Merry masih duduk terkulai lemas, karena dirinya yang masih shock dengan keadaan. Kedua kakinya di tekuk sambil di peluk. Bibirnya bergetar. Air matanya tak henti terus mengalir, membanjiri kedua pipinya, bahkan membuat penglihatannya menjadi buram.


"Apa kau baik-baik saja?" Suara lelaki ini, begitu familiar di telinga Merry.


.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


Wah kira-kira siapa nih pahlawan yang menolong Merry?


Jangan lupa dukungan LIKE, KOMEN & VOTENYA YA


__ADS_2