Pernikahan Di Atas Kertas

Pernikahan Di Atas Kertas
Tunangannya?


__ADS_3

Malam pun semakin berlalu, kini mereka semua sedang sibuk dengn acara bakar-bakar. Kali ini ada Dion dan Andre yang membakar beberapa beef, sosis dan daging ayam. Sementara Selly, seperti biasa dia yang akan sibuk menyiapkan saus toping. Lisa yang menyiapkan minuman sementara Merry dan Fira mereka asyik mengobrol sambil sesekali mengawasi mereka.


Bara baru saja datang ke taman belakang rumah, tempat di mana mereka melakukan acara bakar-bakar. Ia pun mendudukkan tubuhnya di salah satu kursi kayu yang ada di dekat Fira.


"Ini cobalah." Bara menyodorkan sesendok wafel cheese hendak menyuapi Fira. Fira pun dengan senang hati menerima sauapan dari Bara.


"Bagaimana suka?" tanya Bara, seraya mencobanya. Fira pun mengangguk semangat, dan segera mengambil alih box wafel itu dari tangan Bara, dan ia menikmatinya dengan tangan sendiri.


Dan seperti biasa, jika ada sedikit noda di bibir Fira, Bara akan segera menghapusnya.


"Aduh... kebiasaan deh! Kalo mesra gak liat tempat!" gerutu Merry yang ada di dekat Fira. Fira dan Bara pun tertawa mendengarnya.


"Tuh, minta sama Dion sana. Mau di mesra-in juga gitu," ujar Bara sembarangan.


Namun entah kenapa, pipi Merry tiba-tiba memerah ketika Bara mengatakan hal itu. Seakan ada sesuatu hal yang membuatnya malu ketika ia mendengar nama Dion.


"Wah... merah. Beneran mau ya di suapi sama Kak Dion," timpal Fira yang malah mengompor-ngompori.


"Fira!" seru Merry.


"Ini cobalah." Tiba-tiba Dion sudah berdiri di samping Merry sambil membawa satu piring kecil sosis dan ayam bakar. Merry pun dengan pelan mengambil alih ping itu.


"Hey Di, pacarmu itu mau disuapi katanya, pengen romantis-romantisan," ujar Bara, sontak membuat Dion tersenyum mendengarnya.


"Benarkah? Kalau begitu kemarikan, biar aku suapi." Dion kembali mengambil alih piring itu, dan ia berjongkok di dekat Merry yang tengah duduk di kursi kayu.


"Dion apaan sih! Kemarikan biar aku saja." Merry merengut kesal.


"Cepat buka mulutmu, kereta sosis mau datang," ucap Dion, layaknya seorang ayah yang hendak menyuapi anaknya. Dion memperlakukan Merry seperti anak kecil.


"Dion!" Merry memelototkan kedua matanya. Tak suka diperlakukan seperti itu, karena merasa malu. Bahkan pipinya sudah terlihat memerah seperti orang memakai blush on.


"Cepat buka mulutmu, habis ni aku tidak akan mengganggu lagi." Akhirnya Merry pun menerima suapan sosis bakar itu dari tangan Dion.


Sungguh rasanya benar-benar mendebarkan jantung. Meskipun hanya masalah disuapi, tapi entah kenapa Merry merasa jantungnya sulit untuk dikendalikan.


"Nah gitu dong," ucap Dion, melebarkan senyuman manisnya, yang entah kenapa sudah beberapa hari ini jika Merry melihat senyuman itu dari Dion, hatinya seakan ikut meleleh.


Dion pun menyimpan piring itu di atas meja kayu yang ada di dekatnya. "Bagaimana, apa kau sudah memberi tahu mereka?' tanya Dion sedikit berbisik. Namun Fira tak sengaja mendengarnya.


"Memberitahu apa?" tanya Fira, penasaran.


"Oh, kau belum memberitahu mereka." Tiba-tiba raut wajah kecewa tersirat di wajah Dion, entah kenapa ia merasa begitu kecewa ketika sampai detik ini Merry masih tak ingin memberitahukan mereka perihal tunangan itu.


Merry yang menyadari ada hal mengganjal dari ekspresi Dion, ia pun menarik lengan Dion ketika lelaki itu hendak pergi meninggalkannya.


"Apa?" Dion menoleh.


"Mari beritahu mereka sekarang," ucap Merry seakan berat, namun tetapi harus memberitahu sahabat-sahabatnya itu.


"Ehem, ... teman-teman semuanya, mohon perhatiannya," ucap Merry keras sambil berdiri di samping Dion.


Semua orang yang tengah sibuk tiba-tiba menghentikan aktivitas mereka masing-masing. Termasuk Fira yang tengah sibuk makan dengan Bara.


"Ada sesuatu yang mau aku beritahukan ke kalian," sambung Merry.


"Apa? Langsung tho the point aja. Tumben-tumbenan kamu bicara auranya seserius ini," seloroh Selly yang berdiri di meja minuman dengan Lisa.

__ADS_1


"Ja-ja- ...."


"Ja-ja apa? Jamet?" timpal Fira membuat mereka terkekeh.


"Bukan Fira. Aduh ya ampun kenapa grogi begini lagi," ujar Merry.


Merry pun sejenak menatap ke arah Dion, seakan menyiratkan sebuah kode agar membantunya dalam berbicara.


'Teman-teman, jadi aku dan Merry lima hari lagi akan bertunangan. Maka dari itu, aku ingin mengundang kalian ke acara pertunangan kami hari Minggu nanti," tutur Dion begitu luwes.


Hening ....


Tiba-tiba.


"A... Merry. Sumpah demi apa, kamu sama Dion mau tunangan?" pekik Selly segera memeluk sahabatnya ini. Begitu pun dengan Fira yang segera menghampiri sahabatnya itu dan memberikan ucapan selamat. Tak tertinggal Lisa, si gadis cilik berwajah jutek itu ikut memberikan selamat dan pelukan kepada Merry.


Ke empat wanita itu pun heboh, karena mereka begitu senang mendengar kabar ini.


"Eh, eh ingat gak pas acara bakar-bakar waktu itu. Bukannya waktu itu kamu sama Dion masih kayak kucing dan guguk ya, haha masih sering berantem," ujar Fira, Selly pun membenarkan.


"Wah berarti waktu acara itu tuh, kamu udah ada tanda-tanda jodoh sama Merry dong," timpal Bara, sambil mendekati Dion dan memberikan selamat padanya.


"Selamat Tuan, semoga nanti acaranya lancar," ucap Andre sambil memeluk dan menepuk-nepuk bahu Dion.


"Iya, makasih. Jangan lupa nanti hadir ya, sekalian bawa juga pasangannya," ujar Dion, Andre pun hanya mengangguk mengiyakan.


***


Waktu sudah semakin larut. Namun suasana semakin asyik dan menyenangkan. Bercanda tawa dan sesekali menggda calon tunangan yang masih malu-malu kucing itu. Rasanya mereka semua enggan untuk mengakhiri momen malam ini. Namun mau bagaimana lagi, jam sudah menunjukkan pukul 22.00 malam. Mau tak mau mereka pun harus pulang.


"Mau pulang bareng?" tanya Andre kepada Selly, Selly menggelengkan kepalanya karena merasa tidak enak hati jika haus merepotkan dokter Andre.


"Iya Sell, lagian malam-malm begini gak ada ojek maupun taksi lewat daerah sini,," timpal Fira. Selly pun terdiam membenarkan.


Akhirnya Selly pun menerima tawaran Andre untuk pulang bersamanya. Mereka semua pun berpamitan kepada orang-orang rumah termasuk kepada Ayah Alex dan Mama Wina, kalau Papa Hito, beliau sudah ada di kamarnya beristirahat dari satu jam yang lalu.


"Pak dokter, sering-sering main aja ke sini kalo lagi libur. Kalo bisa buka waktu untuk mengajar, sekalian jadi guru privat Lisa saja. Dia juga kan kuliah kedokteran," ujar Wina ketika Andre menyalaminya.


Andre hanya tersenyum, bingung harus menjawab apa. "He he, iya Tante Insya Allah."


"Mama apaan sih!" decak Lisa yang berdiri di dekat Mamanya. "Pak dokter jangan di anggap serius, anggap duarius aja," timpal Lisa bercanda. Andre pun hanya terkekeh mendengarnya sambil menggelengkan kepalanya pelan.


"Bye... hati-hati ya," teriak Fira dari teras rumahnya. Sementara Dion dan Merry sudah melajukan mobilnya terlebih dahulu, baru di susul oleh mobil milik Andre, yang di dalamnya ada Selly juga yang ikut pulang.


Setelah melihat kepergian teman-temannya itu, Fira dan Bara pun kembali masuk ke dalam rumah dan bergegas untuk istirahat.


Sementara itu di dalam mobil Andre dan Selly terlihat begitu canggung. Hening tak ada obrolan di antara keduanya. Hingga beberapa menit pun berlalu. Akhirnya Andre pun membuyarkan keheningan di antara keduanya dengan menanyakan kemana ia harus mengantarnya. Dan Selly pun memberitahukan alamat kost-nya.


Namun di tengah keheningan itu, tiba-tiba dering ponsel milik Selly terdengar begitu nyaring. Ternyata satu panggilan masuk dari Damas.


"Hallo Mas," ucap Selly sesaat setelah menerima panggilan itu.


"Kamu sekarang di mana?' tanya Damas di sebrang sana.


"Aku baru pulang, ini masih di jalan."


"Pulang sama siapa, di jalan mana?"

__ADS_1


"Di antar teman, ini di ... di jalan XXX."


"Tolong berhenti di situ, aku akan menjemputmu. Lima menit lagi aku sampai," suara Damas di balik ponsel.


Dan ketika Selly hendak menyahutinya, namun panggilan tiba-tiba terputus. Membuatnya memasang ekspresi kesal. Sesekali Andre sedari tadi melirik ke arah Selly.


"Kenapa?"


"Em, Pak dokter, sa-saya akan turun di sini saja," ucap Selly gugup, dan tak enak hati.


"Loh kenapa? Bukannya kost-an kamu masih jauh?"


"A-ada yang akan menjemput saya."


Andre pun menganggukkan kepalanya pelan, dan segera menepikan mobilnya di pinggir jalan raya yang tidak terlalu ramai ini.


"Terima kasih Pak dokter, maaf merepotkanmu," tutur Selly sebelum ia keluar dari mobil.


Namun, Selly sedikit terkejut, karena ternyata Andre pun malah ikut keluar dari mobil dan menghampiri Selly.


"Loh, Pak dokter, kenapa Anda keluar?" Selly mengernyit heran.


"Nemenin kamu, gak baik wanita di tinggal sendirian malam-malam begini apalagi di pinggir jalan," tutur Andre, yang kini sudah berdiri satu meter di samping Selly. Selly pun mengangguk tersenyum.


Tak butuh waktu lama. ternyata mobil Damas pun tiba. Damas segera keluar dari dalam mobilnya. Dan dengan tatapan tajam ia menatap ke arah Andre seolah tak suka.


"Siapa?" tanya Damas kepada Selly sambil melirikkan ekor matanya ke arah Andre.


"Teman yang bantuin aku tadi," jawab Selly.


"Oh."


"Perkenalkan Damas, calon suami Selly," ucapnya memperkenalkan diri kepada Andre sambil mengulurkan tangannya.


Andre pun menjabat tangan lelaki itu. "Andre."


"Terima kasih sudah mau membantu Selly." Andre pun hanya menganggukkan kepalanya.


Damas pun segera mengajak Selly untuk pergi dari sana, bahkan terlihat Damas menarik lengan Selly sedikit kasar. Selly pun kembali pamit dan mengucapkan terima kasih kepada Andre. Lalu mereka berdua pun segera masuk ke dalam mobil. Dan segera melajukan mobilnya meninggalkan Andre sendirian.


Kini raut wajah Andre akan berubah, sulit untuk dijelaskan. "Lelaki itu tunangannya?" gumam Andre, segera masuk ke dalam mobil.


.


.


.


Bersambung...


Kalo misal author bikin novel baru tentang kisah Selly mau gak? Soalnya di sini author gak bakalan bahas lengkap tentang mereka, cukup selewat aja.


Komen dong yang mau di bikinin kisah Selly.


Eh jangan lupa like, komen dan vote nya ya.


Mampir juga ke novel baru author berjudul My Annoying Wife. Seru juga kok, udah up sampe 14eps.

__ADS_1


Follow ig author @dela.delia25


__ADS_2