Pernikahan Di Atas Kertas

Pernikahan Di Atas Kertas
Perfect Marriage - Bab 14


__ADS_3

"Apa barusan ada pasien lagi?" tanya Selly.


"Hah? T-tidak, tidak ada pasien, aku sudah selesai dari 15 menit yang lalu," jawab Damas, jujur tanpa memikirkan akan wanita yang tadi ia temui.


"Benarkah?" Selly mengerutkan dahinya, seolah ta percaya. Damas menganggukkan kepalanya.


"Lalu, tadi siapa wanita yang baru keluar dari ruangan ini?"


Jlep, Damas seketika terdiam, ia lupa kalau barusan Dinda datang menemuinya untuk memberikan brosur mengenai sewa apartemen.


"Oh, i-itu pasienku," jawabnya gelagapan.


"Bukannya katamu 15 menit yang lalu kamu sudah selesai?" Selly semakin heran.


Kucuran keringat dingin tiba-tiba menyerang dahinya. Rasa gugup dan takut sudah menguasai pikirannya.


"Ah, iya ha ha. Itu barusan pasien dadakan, hanya konsultasi sebentar saja. Oh ya, duduklah dulu, aku akan merapikan meja kerjaku dulu," ujar Damas, sambil menggeser tubuh Selly agar wanita itu duduk di kursi yang ada di dekat meja kerjanya.


Selly pun akhirnya mendudukkan tubuhnya di atas kursi. Kini matanya terfokus akan selembar brosur tentang apartemen.


"Brosur dari mana?" tanya Selly. Damas yang sedang merapikan sebagian alat medis di atas nakas, ia menoleh ke arah Selly, yang tengah sibuk membolak-balikkan brosur yang ada di tangannya.


"Hah? ... Oh itu, tadi ada pasien yang membawanya, mungkin tertinggal di meja,” jawabnya berbohong. Selly pun mengangguk-angguk kepalanya, menandakan wanita itu percaya akan ucapan Damas.


Dan setelah selesai, mereka pun bergegas untuk pergi. Mereka menyempatkan diri untuk pergi ke restoran, dan makan bersama di sana.


Sambil makan, sesekali mereka mengobrol membicarakan soal pernikahan mereka.


"Oh ya Mas ibu dan bapakku lusa akan kemari," ucap Selly sambil menyuapkan sesendok dessert green tea lava cake ke dalam mulutnya.


"Benarkah? Baguslah kalau begitu."


"Oh ya Mas, besok antar aku untuk pergi ke butique ya, sekalian kamu fiting baju."


"Oh iya, kemarin kalian fiting gaun di butique mana?" tanya Damas.


"Di butique XXX," jawab Selly.


"Apa? Butique XXX?" Damas membulatkan kedua matanya, seolah tak percaya.

__ADS_1


"Iya, kenapa memangnya?"


"Jangan pesan gaun di butique itu!" seru Damas tiba-tiba.


Selly mengernyit heran. "Loh, memangnya kenapa?"


"Sudah, aku bilang jangan di sana ya jangan di sana." Seketika emosi Damas seolah tersulut. Lebih tepatnya bukan emosi, tapi takut dan cemas.


"Gak bisa lah Mas, aku udah bayar setengahnya! Aku juga sudah memesan design-nya. Gak bisa lah aku membatalkannya begitu saja," protes Selly sambil melempar garpu di tangannya ke atas piring dengan begitu keras.


"Masalah uang nanti aku ganti," ujar Damas sambil membuang muka. "Lagian kenapa bisa-bisanya sih kamu mesan gaun di butique itu!"


"Lah memangnya kenapa kalau aku pesan gaun di situ, lagi pula gaun-gaun di sana kualitasnya bagus. Dan ini bukan masalah ganti rugi uangnya Mas. Aku hanya ingin menghargai perancangnya, kasihan kan dia kalau pesanan ku tiba-tiba dibatalkan!"


"Terserah kau saja, yang pasti aku tidak ingin fiting baju di sana!" Damas pun berdiri dan berlalu begitu saja meninggalkan Selly.


"Astagfirullah!" Selly menyenderkan punggungnya di bahu kursi, ia begitu kesal ketika melihat sikap Damas, yang terkadang membuat dirinya begitu emosi. "Heran deh! Apa sih maunya dia itu! ... Dasar! Tak bisa menghargai usaha orang!" gerutu Selly, sambil mengusap wajahnya dengan kasar.


Waktu sudah menunjukkan pukul 17.00 sore. Mayang masih setia menanti akan keluarnya Dinda dari butique.


"Kalo aku samperin langsung gak enak, nanti yang ada dia curiga lagi," gumam Mayang sambil menyender di dekat pohon besar yang ada di sekitar sana.


"Aku harus tahu, kak Dinda tinggalnya di mana, kalau perlu aku buntuti dia," ucapnya penuh tekad.


Kini matanya masih mengawasi, berharap Dinda keluar. Dan benar saja, harapan itu seketika terwujud. Tapi, sepertinya ada yang aneh.


Dinda keluar dengan membawa satu kantung keresek hitam yang berisi sampah. Dinda berjalan mendekati tong sampah. Namun, sebelum Dinda kembali, ia melihat ke arah Mayang yang kepergok sedang memperhatikannya.


Mayang langsung berbalik badan, sambil berpura-pura tidak melihat. Namun, tiba-tiba ... "Dek," panggil Dinda sambil menepuk sebelah bahunya.


Sontak membuat Mayang terperanjat kaget. "Ah ... iya Kak, ada apa?"


"Kamu ... ngapain malam-malam di sini?"


Mayang membulatkan matanya, ia bingung harus menjawab apa. "Em... sa--saya, lagi nunggu teman saya jemput," ucapnya.


"Masih lama gak?" tanya Dinda.


Mayang semakin bingung menjawabnya, karena sebenarnya ia berbohong.

__ADS_1


"Em... gak tahu, katanya lagi OTW mau ke sini," jawabnya gugup.


"Kalau begitu, tunggu di dalam aja, gak baik malam-malam di luar sendirian, apalagi perempuan." Dinda pun menarik lengan Mayang dan membawanya masuk ke dalam butique.


Keadaan butique jelas sudah sepi, hanya ada dirinya dan Dinda berdua saja. Bahkan sebagian ruangan sudah dimatikan lampunya. Mereka duduk di atas sofa, di ruang tunggu lantai bawah.


"Em, Kakak gak pulang?" tanya Mayang, penasaran. Sambil celingukan memperhatikan keadaan di sekitar yang terasa begitu sunyi.


"Engga, aku menginap di sini," jawabnya.


"Menginap?" batin Mayang, sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, seolah mengerti. "Apa Kakak gak takut tinggal di butique ini sendirian?"


"Takut sih, tapi ... ya mau bagaimana lagi. Aku gak punya tempat tinggal," jawab Dinda dengan mimik wajah yang tiba-tiba terlihat mendung.


"Orang tua Kakak emang gak tinggal di sini?" tanya Mayang.


"Orang tua ku tinggal di Yogyakarta, sebenarnya aku punya saudara sih di sini, tapi karena aku melakukan kesalahan, orang tua ku malu, termasuk saudaraku, mereka malu mempunyai anggota keluarga sepertiku," jawabnya sambil menghela nafas panjang.


"Em... apa karena masalah kehamilan Kakak?" tanya Mayang, begitu hati-hati dan pelan. Dinda pun menganggukkan kepalanya.


"Tapi, sudahlah tidak apa-apa, besok juga saya akan pindah ke apartemen baru," jawab Dinda begitu semangat.


"Apartemen?"


"Iya, apartemen biasa sih, gak jauh kok dari sini. Kebetulan pacar saya mau nyewa apartemen buat saya," jawabnya.


"Apartemen mana?"


"Green Leave, yang berdekatan dengan R.S Ibu dan Anak."


"Oh... syukurlah," jawab Mayang tersenyum.


"Yah, jadi curhat deh. Maaf ya, saya emang orangnya suka bocor begini," ujar Dinda terkekeh.


Mayang pun ikut tertawa kecil. "Tidak apa-apa, saya selalu jadi pendengar yang baik kok," jawabnya.


Tiba-tiba dering ponsel milik Mayang berbunyi. Satu panggilan masuk dari kontak yang bernama -Abang Nyebelin-.


Mayang pun segera menerima panggilan telepon itu. Dan mengobrol dengan Andre lewat ponsel.

__ADS_1


"Iya, iya, ini pulang kok." Begitu suara Mayang yang terdengar di telinga Dinda.


Bersambung...


__ADS_2