
Fira berjalan keluar dari dapur. Ia sedikit tercengang saat melihat, sesosok wanita yang sedang berdiri di dekat etalase. Membuat dirinya menghentikan langkah kakinya, dan diam berdiri di dekat pintu dapur.
Wanita itu terlihat menatap Fira dengan begitu serius. Mereka berdua hanya saling beradu pandang. Hening, tak ada yang menyapa terlebih dahulu.
"Itu kan, neneknya Raina, ada urusan apa datang kemari?" batin Fira.
"Nak Fira," ucap Nenek Raina, menyapa tersenyum, berdiri di dekat etalase.
"Oh, nenek." Fira berjalan, mendekati nenek Raina. Dan mengajaknya untuk duduk di salah satu kursi yang terdapat di situ.
Mereka berdua duduk saling berhadapan, dengan perasaan canggung, bahkan Fira dibuat terheran-heran dengan kedatangan neneknya Raina itu.
"Nak Fira, maafkan Raina ya...." ucap Nenek dengan memasang wajah sendu nya.
"Maaf?"
"Maaf untuk apa nek?" tanya Fira.
"Maafkan Raina, atas kejadian tadi malam," ucap Nenek, sambil memegang kedua tangan Fira di atas meja.
"Sebenarnya semua itu terjadi akibat ulah saya. Saya terlalu khawatir akan keadaan cucu saya, Raina. Dan kekhawatiran saya ini, malah membuat saya melakukan kesalahan besar. Gara-gara saya, Bara menjadi marah sama Raina, dan sepertinya Bara benar-benar akan membenci cucu saya," tuturnya, dengan mata yang berkaca-kaca.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Aku tidak paham dengan ucapan Neneknya Raina ini," batin Fira.
"Nak Fira, maukah kamu menjelaskan semuanya kepada suamimu Bara?" tanya Nenek.
"Menjelaskan apa Nek?" tanya Fira, yang masih terlihat bingung.
"Tolong jelaskan padanya, kalau apa yang terjadi semalam di rumah sakit, itu bukanlah kesalahan Raina, melainkan kesalahan Nenek," tuturnya, memohon..
Fira terdiam. "Kenapa Nenek tidak langsung menjelaskannya kepada Bara saja?"
Nenek terdiam, menarik nafasnya begitu dalam, menghembuskannya perlahan. "Nenek tidak bisa melakukannya, bahkan kalaupun, Nenek datang menemui Nak Bara, dia pasti akan mengusir Nenek."
"Saya mohon Nak Fira, bantu saya untuk menjelaskan semuanya. Bilang pada Nak Bara, jangan membenci cucu saya, dia tidak salah apa-apa. Yang salah adalah Nenek."
Nenek Raina, terus memohon kepada Fira. Namun Fira sendiri masih merasa bingung akan semuanya.
"Semalam Mas Bara tidak menceritakan apa-apa. Bahkan saat di mobilpun dia malah marah-marah. Sebenarnya apa yang sudah terjadi di anatara mereka? Kenapa aku tidak tahu?" pikir Fira, menggerutu di dalam hati.
Di sisi lain, dari jauh, Lisa memperhatikan Fira yang tengah duduk mengobrol dengan wanita paruh baya itu.
"Siapa ibu-ibu itu? Kenapa mereka terlihat serius sekali," gumam Lisa.
"Mbak Fenny," panggil Lisa, pelan. Fenny yang berdiri tak jauh darinya, ia segera mendekati Lisa.
"Ada apa Dek Lisa?" tanya Fenny.
"Mbak, wanita yang sedang duduk mengobrol bersama Kak Fira itu siapa ya?"
Fenny, sejenak melirik ke arah yang di tunjukkan oleh Lisa. Ia menggelengkan kepalanya pelan. "Enggak tahu, saya juga baru melihatnya," jawab Fenny.
Lisa membulatkan bibirnya dengan begitu sempurna. Ia masih mengawasi mereka berdua, dengan rasa penasaran yang sudah memuncak di kepalanya. Rasanya ia ingin menghampiri kakak iparnya itu, tapi ia juga harus menjaga etikanya. Akhirnya Lisa hanya bisa mengawasi mereka, hingga wanita tua itu pergi meninggalkan toko ini.
***
Di kantor Cleon Compeny.
Sejak pagi, Bara di sibukkan dengan beberapa meeting, bersama para kliennya. Terlebih sebentar lagi ia akan melaunchingkan beberapa perhiasan terbaru, yang di design secara khusus dan limitied edition oleh perusahaannya.
Bara duduk di meja kerjanya, sambil menikmati secangkir kopi, yang sudah di belikan oleh Dion, dari kafe sebelumnya.
"Oh ya Bar, untuk launching produk kali ini, sama saja seperti biasanya. Namun kali ini ada salah satu program TV, yang ingin meliput acara kita, sekaligus ingin mengadakan acara tanya jawab bersamamu. ... Bagaimana, apa kau setuju?" tanya Dion, yang duduk di sofa.
"Kenapa harus ada acara wawancara segala?" tanya Bara, seakan enggan menyetujui hal itu.
"Mungkin karena bisnismu ini semakin terkenal dimana-mana. Bahkan kalau kau masuk ke acara TV mereka, itu akan membuat tayangan mereka mendapat rating tinggi."
__ADS_1
Bara tersenyum kecut. "Haha, aku ini bukan aktor ataupun aktris terkenal. Untuk apa ikut-ikutan acara seperti itu. Hanya menghabiskan waktu saja," ucap Bara, kemudian menyeruput kopinya dengan santai.
Dion terdiam, rasanya sulit sekali mengajak sahabat sekaligus atasannya itu untuk berkontribusi dengan acara media TV.
"Bar, ini bukan masalah menghabiskan waktu. Tapi kau bisa berbagi bersama mereka, memberikan motivasi untuk anak-anak milenial. Agar bisa menjadi pebisnis sukses di usia muda sepertimu," tutur Dion.
Bara terdiam sejenak, memikirkan kembali tawaran itu. "Hm... baiklah, kalau begitu nanti kau atur saja jadwalnya," jawab Bara. Dion pun tersenyum, senang.
"Baiklah, untuk acara makan malam bersama klien kita, yang dari Pt. XXX, kau saja yang datang mewakiliku," ucap Bara, sambil membenarkan jasnya, seakan hendak bersiap pergi.
"Loh, kenapa hanya aku? Kau tidak akan datang?" tanya Dion, berdiri dari duduknya.
"Acaranya hanya makan malam saja. Tidak ada hal penting yang harus di bahas bersamaku. Aku yakin, kau bisa menangani klien kita malam ini."
"Memangnya kau mau ke mana? Kenapa tidak mau menghadiri acara nanti malam?"
Setelah selesai merapikan jasnya, Bara segera meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja kerjanya.
"Heh, sudahlah jangan banyak bertanya. Hari ini rasanya aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengan istriku. Kau uruslah semuanya, aku akan pulang. Oke, bye...." ucap Bara, menepuk salah satu pundak Dion, dan berlalu meninggalkan ruangannya begitu saja.
Dion menggelengkan kepalanya. "Hadeh, baru jam segini sudah pulang." Tepat jam kantor menunjukkan pukul 14.30 siang, namun karena rasa yang menggebu-gebu di hati Bara, membuat ia ingin segera menemui istrinya itu kembali.
***
Bara memarkirkan mobilnya tepat di depan toko Zupa Cake. Ia segera masuk ke dalam toko mencari keberadaan Fira. Ia langsung masuk ke dalam ruangan kerja Fira.
Dilihatnya, Fira, Lisa dan Bima yang sedang bermain tebak gambar, lewat ponsel Bima. Bahkan terlihat jelas beberapa coretan berwarna merah di wajah mereka.
"Fira," panggil Bara, sambil berjalan mendekati mereka. Fira, Lisa dan Bima langsung menengok ke arah Bara.
"Mas, kau kemari?" tanya Fira.
Bara menganggukkan kepalanya pelan.
"Apa yang kalian lakukan? Dan kenapa wajah kalian di coret seperti itu hah?" tanya Bara.
"Oh, i-ini, kita sedang bermain tebak gambar Kak," tutur Bima, menjawab.
"Mas, kau mau apa?"
"Kau ini seperti anak kecil saja! Bermain dengan coretan wajah seperti ini," gerutu Bara.
Bara, segera menyalakan keran wastafel, dan mengambil sapu tangan yang ada di saku celananya. Ia segera membasahi sapu tangan itu, dan segera membersihkan wajah Fira menggunakan sapu tangan yang sudah di basahi terlebih dahulu.
Bara menghapus coretan lipstik di wajah Fira dengan begitu lembut, perlahan ia menggosoknya dengan, mulut yang terus menggerutu, kesal kepada istrinya itu.
"Sudah Mas, tidak apa-apa. Biar aku yang menghapusnya," ucap Fira, mencoba menghentikan Bara.
"Tidak! Aku ini suamimu, kalau ada apa-apa yang terjadi padamu, aku harus ikut bertanggung jawab akan hal itu."
Fira terkekeh, "Mas, ini hanya masalah coretan lipstik, bukan masalah apa-apa. Lagi pula, bagiku ini tidak bermasalah," tutur Fira.
"Sudah diamlah! Kau ini banyak bicara sekali!" seru Bara.
Fira memutar kedua bola matanya, "Bukannya kau yang sedari tadi terus menggerutu menasihati ku! " batin Fira.
"Kenapa susah sekali!" gerutu Bara, saat membersihkan coretan lipstik di bagian dahi Fira, dirasa begitu sulit. Karena tidak bisa bersih dengan sempurna.
"Kan aku sudah bilang, biar aku saja! Kalau pake air biasa akan susah bersihinnya."
"Terus harus pakai air apa?" sungut Bara.
Fira berdecak kesal, "Air keras!" jawabnya.
"Kau yang benar saja?" kejut Bara.
Fira menarik tangan Bara, untuk keluar dari kamar mandi. Fira berjalan mendekati meja kerjanya, mengambil satu botol cairan dari dalam tasnya.
__ADS_1
"Apa itu?" tanya Bara, mendekati Fira.
"Ini micellar water," jawab Fira, sambil mengambil selembar kapas, dari dalam laci meja kerjanya. Lalu menuangkan cairan itu ke kapas yang di pegangnya. Dan mulai membersihkan coretan lipstik di wajahnya.
"Wah, benar-benar luntur," tutur Bara, saat melihat coretan lipstik yang ada di wajah Fira, terhapus dengan begitu mudahnya.
Bara kemudian mengambil alih kapas itu, dan ikut membantu sebagian coretan yang masih menempel di wajah istrinya itu.
"Kenapa kau tidak bilang kalau membersihkannya pakai ini?" tanya Bara.
"Bagaimana aku mau bilang, kau dari tadi nyerocos saja!" keluh Fira, sambil memanyunkan bibirnya, karena kesal.
Bara tak menanggapi, ia hanya terkekeh, sambil fokus membersihkan wajah cantik istrinya itu.
Di sisi lain, Bima dan Lisa memperhatikan mereka berdua, yang sedang kesal namun tetap terlihat romantis.
"Lihatlah, Kak Bara semakin kesini semakin protektif kepada Kak Fira," ucap Lisa pelan.
"Iya, benar, tapi aku lega, melihat mereka berdua seperti itu. Bahkan sekarang aku dapat melihat kalau Kak Bara, begitu menyayangi Kak Fira," tutur Bima.
"Ayo kita keluar, biarkan mereka beduaan di sini," ajak Lisa, berbisik. Bima tersenyum menganggukkan kepalanya.
Lalu mereka berjalan, hendak keluar. Namun Fira menghentikannya.
"Kalian mau ke mana?"
"Keluar lah, kalau ada di sini terus bisa-bisa kita terserang diabetes," jawab Lisa.
"Diabetes?" ucap Fira, bingung.
"Diabetes, akibat melihat kalian berdua yang begitu manis, ea...." sambung Lisa, terkekeh. Sambil berjalan keluar bersama Bima.
Bara tersenyum miring, melihat ekspresi menggemaskan dari wajah istrinya itu.
"Kenapa kau tersenyum seperti itu?" tanya Fira, memelototkan kedua bola matanya.
"Bukankah, sekarang di sini hanya ada kita berdua," jawab Bara, sambil membuang kapas yang di pegangnya ke sembarang arah. Kemudian menarik pinggul Fira, mendekatkannya dengan tubuhnya.
Fira menjauhkan kepalanya dari jangkauan wajah Bara. Mencoba menghindar, dari niat suaminya.
Bara menarik tengkuk kepala Fira, kemudian mendekatkan bibirnya dengan daun telinga Fira. "Hanya ada kita berdua di sini, dan kau tak akan bisa menghindar dariku," bisik Bara, sambil memberi sedikit gigitan di telinga Fira, yang masih terhalang oleh hijab yang digunakannya. Sehingga membuat Fira, mengerang karena geli.
Seketika Bara, ******* habis bibir manis Fira, menikmatinya dengan begitu lembut. Bahkan mereka melakukan ciuman yang begitu lama. Menikmati sambil saling berbalas satu sama lain.
.
.
.
Bersambung.
*بِسْــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــم*
*السَّلاَمُ. عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه*
Dengan segala kerendahan hati, Dela ingin mengucapkan...
*تَقَبَّلَ اللّهُ مِنَّا وَ مِنْكُمْ صِيَمَنَا وَ صِيَمَكُمْ كُلُّ عَامٍ وَ أَنْتُمْ بِخَيْرٍ*
*Taqabballahu minna wa minkum, Shiyaamana wa shiyamakum. Kullu’aamiin wa antum bikhair*
*SELAMAT HARI RAYA IDULFITRI 1441H*
*وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه*
Delia dan kelurga 😊
__ADS_1
Maaf ya baru upload lagi hehe.
Jangan lupa tebar like, komen dan votenya ya...