
"Hah? Bagaimana kau tahu?" tanya Dinda melongo.
"Jadi ... sebenarnya waktu itu ...." Gerry menarik nafas panjang, dan bersiap untuk menceritakan kejadian waktu itu.
***
Flash back on
Jadi, sore itu ... Gerry tengah menunggu Mamanya yang tengah mengambil belanjaan yang tertinggal. Gerry menunggunya di dalam mobil miliknya, yang terparkir di basemen mall.
Ia tak sengaja melihat Damas dengan seorang wanita yang ia tahu, bahwa wanita itu adalah wanita yang pernah menolong Dinda kapan hari lalu.
Gerry melihat mereka masuk ke dalam mobil Damas, yang terparkir tepat di sebrang mobilnya, dengan posisi parkir saling berhadapan.
Gerry sengaja agak menenggelamkan tubuhnya dari balik setir mobil, agar Damas tak melihatnya. Cukup lama Gerry melihat mereka seperti sedang beradu argumen. Namun, hal yang tak disangka, haru Gerry lihat. Yaitu, ketika Damas mencium wanita itu secara paksa.
Gerry begitu tercengang. "Apa wanita itu adalah calon istri Damas?" gumamnya, sambil terus memperhatikan mereka. Namun, tak lama kemudian Gerry melihat, wanita itu keluar dari mobil Damas, dengan air mata yang berurai di wajahnya. Gerry seakan tak tega, melihatnya. Namun, ia sadar betul. Bahwa itu semua bukanlah urusannya.
Lalu Gerry pun memilih untuk tidak memedulikan hal itu. Namun ada satu hal yang mengganjal di pikirannya, yaitu mengenai Dinda.
"Apa aku harus memberitahu Dinda, kalau ternyata wanita yang menolongnya waktu itu, dia adalah calon istrinya Damas," pikirnya "ah, tapi ... biarlah. Aku tak ingin ikut campur terlalu dalam urusan mereka, biar Dinda sendiri yang mengetahuinya."
Flash back off.
***
"Apa? Jadi ... kamu sudah mengetahuinya sejak waktu itu?" tanya Dinda semakin tak percaya. Gerry pun menganggukkan kepalanya pelan.
Tiba-tiba, air buliran air mata kembali jatuh membasahi kedua pipi Dinda. Gerry yang melihat, ia seolah tak enak hati.
"Dinda, kenapa kau menangis?" tanya Gerry, seraya mencondongkan tubuhnya ke dekat Dinda.
__ADS_1
Dinda hanya menggelengkan kepalanya pelan, sambil terisak menangis. "Kenapa? Kenapa semua orang harus selalu menyembunyikan sesuatu dari ku? Kenapa selalu saja, aku tak diberi tahu apa-apa."
"Keluargaku, menyembunyikan status diriku sejak kecil, bahkan sekarang aku hamil pun mereka menutup-nutupinya. Damas ... dia menyembunyikan mengenai keberadaan keluarganya, bahkan saat aku ingin memintai pertanggung jawaban pun, dia menyuruhku untuk menyembunyikan masalah ini, terlebih dia juga menyembunyikan siapa sosok wanita yang akan menjadi istrinya. Dan sekarang kau, sahabatku sendiri, kau tega menyembunyikan fakta ini dari ku! ... Kenapa! Kenapa semua orang harus bersembunyi dariku, kenapa semua orang harus menyuruhku bersembunyi pula!" ujarnya penuh emosi dengan nafas yang tersengal-sengal karena di iringi isakan tangis.
Gerry semakin merasa bersalah. Ia paham betul akan hati Dinda yang saat ini sedang tidak baik-baik saja.
"Dinda, maafkan aku. Aku tak bermaksud untuk menyembunyikan semua ini darimu. Aku hanya ingin kau mengetahui semua kebenarannya oleh dirimu sendiri, bukan karena aku," tutur Gerry begitu lembut. Ia beralih duduk tepat di samping Dinda. Mencoba untuk menenangkan wanita itu.
"Gerry, apa semua orang memang malu menerima kehadiranku di dunia ini? Kenapa orang-orang yang paling aku sayangi, mereka seakan tak menginginkan kehadiranku. Apakah aku ini hanya beban untuk mereka Gerry?" tanya Dinda yang masih menangis sesenggukan.
Gerry hanya terdiam, ia tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun, karena entah kenapa hatinya ikut merasakan rasa sakit yang luar biasa ketika mendengar ucapan wanita yang kini tengah berada di sampingnya. Tenggorokannya terasa tercekat, bahkan sekedar untuk menelan salivanya saja ia merasa sulit.
"Gerry, kenapa kau diam? Jawablah Gerry," ujar Dinda semakin tak bisa mengontrol emosi sedihnya.
"Dinda, tenanglah ...."
"Gerry, aku juga ingin seperti wanita-wanita di luaran sana yang bebas memamerkan status, bebas untuk melakukan ini itu, bebas untuk menunjukkan kebahagiaanku. Tapi, kenapa semua orang selalu menyuruhku untuk bersembunyi, kenapa semua orang selalu melarangku ini dan itu. Aku juga ingin di cintai dengan hati yang begitu lepas, tanpa ada beban sedikit pun." Dinda semakin tak bisa mengontrol tangisannya.
Gerry pun perlahan menarik tubuh Dinda dan mendekapnya ke dalam pelukannya. Wanita itu kini hanya menangis sesenggukan sambil menenggelamkan wajahnya di dada bidang Gerry.
"Dinda, seandainya kau bisa membuka mata hatimu, kau bisa mendapatkan cinta yang mampu melepaskanmu dari beban yang selama ini kau tanggung sendiri. Lihatlah hatiku Dinda," gumam Gerry dalam hati, sambil mengeratkan pelukannya.
***
Setelah sekitar 30 menit mereka saling berpelukan, diiringi tangisan Dinda yang mulai menyurut dan pelan. Kini mereka berdua pun saling melepaskan pelukannya.
Gerry dapat melihat dengan begitu jelas, kedua mata Dinda yang sedikit membengkak, dengan hidung meler yang memerah.
Dinda pun mengambil beberapa helai tisu yang tersedia di atas meja. Ia segera mengeringkan sisa-sisa air mata di wajahnya. Kini matanya menyorot ke kaus oblong yang di gunakan oleh Gerry, bagian dada kaus itu terlihat basah, akibat ulahnya.
"Gerry, bajumu basah," ujar Dinda, dengan suara manja khas anak kecil yang merasa bersalah.
__ADS_1
Gerry hanya tersenyum, ketika mendengar kembali suara manja Dinda. "Sudah tidak apa-apa?" ucap Gerry sambil mengembangkan senyumannya. "Apa kau sudah merasa baikkan?" tanyanya. Dinda pun menganggukkan kepalanya, sambil kembali membersihkan hidungnya yang terasa mampat itu menggunakan tisu.
Untuk beberapa saat suasana di antara mereka begitu hening ....
"Dinda," panggil Gerry, dengan suara lembutnya. Dinda menoleh ke arahnya.
"Apa kau benar-benar begitu mencintai Damas?" tanya Gerry pelan. Dinda pun mengangguk.
"Dasar, kau ini seperti lalat!" ujar Gerry terkekeh, mencoba mencairkan suasana.
"Lalat? Maksudnya bagaimana?" Dinda mengernyit heran, sambil memasang wajah polosnya itu.
"Iya, menasihatimu itu sulit sekali, sama sulitnya dengan meyakinkan seekor lalat, bahwa bunga jauh lebih indah dari pada sampah," ucap Gerry, memberi sindiran halus.
Namun, otak Dinda sepertinya sedang nge-hang. Ia hanya mengerutkan dahinya, tanda tak mengerti dengan ucapan Gerry.
"Aih kau ini, sudahlah." Gerry mengacak pelan pucuk kepala Dinda karena merasa gemas.
"Dinda, ku tanya sekali lagi, apa kau masih mengharapkan untuk bisa bersama dengan Damas?"
Sejenak Dinda terdiam, ia menghela nafasnya seakan berat. "Sekarang aku tak tahu ... jika kemarin aku masih selalu berharap untuk bisa hidup bersamanya. Tapi, entahlah ... harapanku sekarang rasanya semakin sirna setelah mengetahui semuanya, aku bingung dengan semua ini," ujarnya sambil mendengus pelan.
"Baiklah, kalau begitu, aku akan membantumu," ujar Gerry.
"Membantu? ... Membantu apa?"
"Membantumu agar engkau tidak bingung ... dan sadar, apakah dia pantas untuk engkau harapkan atau tidak," jawabnya tegas.
.
.
__ADS_1
Bersambung
Komen apa aja deh yang penting ramaikan haha