
Setelah selesai membuat makanan Jepang sesuai dengan apa yang Ayah katakan. Tiara memutuskan untuk bersiap siap, ia tidak mungkin menyambut calon suaminya dengan wajah dan pakaian yang tidak rapi, ia harus memberikan kesan yang baik pada calon suaminya.
Pukul 7 malam seseorang pria tampan bermata biru berjalan masuk ke dalam rumah Tiara, ia datang seorang diri dengan pakaian yang begitu rapi, aura wajahnya terlihat sangat kuat yang membuat orang sedang pada dirinya. Apalagi ditambah dengan kekuasaan kekayaannya pria ini miliki, hal itu membuat ia tidak tertandingi.
"Tuan Hans.." Ayah Tiara menyambut nya dengan sangat baik.
"Aku tidak menemukan sambutan dari mu, aku memerlukan sambutan dari calon istri ku," ucap Hans dengan tatapan mata tajam setajam mata Elang.
"Tatapan mata ini seperti mata Evans." Ayah Tiara hanya bisa membatin saja.
Dari lantai atas Tiara turun secara perlahan, ia sangat sudah sangat penasaran dengan calon suaminya. Walaupun usianya masih 17 tahun Tiara sudah siap untuk menikah, ya walaupun pernikahan ini Perjodohan dari sang Ayah.
"Itu dia tuan."
Mata Hans langsung tertuju pada Tiara yang turun dari lantai atas. Wajah cantik dan polos Tiara membuat Hans mengigit bibirnya, rasanya ia ingin segera menikahi gadis ini
"Tiara cepat."
"Iya yah." Tiara mempercepat langkah kakinya.
__ADS_1
"Selamat malam." Tiara tersenyum manis pada Hans. Ia terkejut melihat wajah hans begitu tampan dengan mata biru yang begitu indah.
"Tiara langsung ajak tuan Hans makan, kamu kan sudah membuat hidangan spesial untuk tuan Hans."
"Iya yah, mari tuan," ucap Tiara
"Jangan yang ada menganggu ku." Hans menarik tangan Tiara sambil memberikan tatapan tajam ke arah Ayah Tiara.
Tiara begitu terkejut Hans langsung mengandeng tangan nya. Ia jadi yakin kalau Hans bukan pria sembarangan, ia jadi takut sekali pada Hans apalagi Hans memiliki Auara yang begitu mengintimidasi.
Di ruang makan, Tiara langsung menyajikan makanan yang sudah ia buat dengan penuh perasaan, tangan nya sampai gemetar menyajikan makanan itu di depan Hans.
Sontak Tiara langsung duduk di samping Hans, ia tidak mau membuat Hans marah karena begini saja sudah terlihat sangat menyeramkan apalagi jika sampai Hans marah sudah pasti jauh lebih menyeramkan.
"Berapa usia mu," tanya Hans.
"17 tahun," jawab Tiara dengan gugup.
"Sudah pernah berpacaran," tanya Hans.
__ADS_1
"Sudah, tapi di selingkuhin," jawab Tiara.
"Ah kasihan sekali diri mu," ucap Hans sambil mengusap rambut Tiara.
"Tuan silahkan makan," ucap Tiara.
"Aku ingin memakan mu," kata Hans.
"Tuan.." Tiara semakin ketakutan.
"Kita akan menikah Minggu depan, secara private tanpa ada yang tau kecuali ayah mu," ucap Hans.
"Kenapa harus private tuan. Saya mempunyai Abang, pasti Abang saya ingin datang di pernikahan kita," kata Tiara.
"Aku tidak meminta mu untuk memberikan pertanyaan, menikah dengan ku sebuah keseharusan, aku sudah membayar begitu banyak uang untuk dirimu," ucap Hans sambil memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
Tiara hanya diam sambil menundukkan kepalanya, ternyata dirinya di tukar dengan uang, sebenarnya ia sudah menduga hal ini tidak mungkin tidak ada api tanpa asap. Sang ayah tidak mungkin menyianyiakan dirinya begitu saja.
Hans memegang wajah Tiara kembali, ia menaikan wajah Tiara agar menatap dirinya. Perlahan Hans mendekati wajah Tiara dan mencium bibir Tiara dengan lembut, ini pertama kalinya Tiara di cium dan rasanya begitu kacau, ia tidak pernah mau di cium seperti ini.
__ADS_1