Pernikahan Di Atas Kertas

Pernikahan Di Atas Kertas
Perfect Marriage - bab 19


__ADS_3

Di sisi lain, Mayang terlihat begitu gelisah. Semenjak kepulangannya tadi siang dari apartemen Dinda. Ia seolah tak tenang. Pikirannya begitu kacau demi mengingat kejadian tadi, saat di kafe ia sarapan.


"Ya Allah... bagaimana ini? Bagaimana kalau lelaki itu berniat mencelakai Kak Selly?" gumamnya, dengan gelisah.


"Argh... maafkan aku Ya Allah...." Mayang terus mondar-mandir merengek dalam hati. Kesal akan dirinya sendiri.


"Dasar bodoh! Bisa-bisanya sih aku ketahuan begitu. Lenyap sudah semuanya... aku harus bagaimana untuk meyakinkan Kak Selly? Aku takut, aku takut orang itu menyalah gunakan video itu," gumamnya sambil merutuki kebodohan dirinya.


"Apa aku harus meminta bantuan Abangku? ... Tapi bagaimana kalau dia malah memarahiku, dia kan gak tahu kalau selama ini aku sedang mengumpulkan bukti-bukti antara dokter itu dan Kak Dinda," ujarnya lagi pada diri sendiri.


Suara sang nenek yang terus memanggil namanya untuk makan malam, terdengar beberapa kali. Mayang pun menyahutinya. Lalu perlahan membuka pintu kamarnya sedikit demi sedikit, demi melihat apakah abangnya itu ada di ruang makan atau di kamarnya. Dan kini matanya menangkap sosok lelaki yang tiba-tiba muncul dari balik pintu kamarnya.


"Ayang, kau sedang apa? Ayo cepat makan," ajak Andre sambil menatap heran kepada Mayang.


Mayang pun seketika membuka pintu kamarnya begitu lebar, lalu tersenyum kaku kepada Abangnya itu. "He he, iya Bang," jawabnya. Mereka pun segera pergi ke meja makan.


***


Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 22.00 malam. Namun, Mayang masih merasa gelisah. Ia sudah mencoba untuk tidur dan memejamkan matanya, namun tetap saja tidak bisa.


Akhirnya Mayang pun bangun, dan keluar dari kamarnya. Ternyata ada Andre yang masih asyik menonton siaran bola live anatara Manchester United VS Arsenal.


Mayang menarik nafasnya begitu dalam, mencoba mengaturnya terlebih dahulu. "Bismillah, aku harus mengatakan semuanya kepada Abang, ayo semangat Mayang, semangat, jangan takut," gumamnya dalam hati.


"Abang," panggil Mayang begitu ia mendaratkan tubuhnya di atas sofa di samping Andre.


"Hm...."


"Abang, aku ingin ngomong sesuatu," ujarnya hati-hati.


"Apa?" Andre masih fokus memusatkan kedua matanya ke arah TV.


"Gol...." Begitu teriakan Andre, begitu team bola MU kesayangannya itu berhasil mencetak gol.


"Aduh Abang! Serius, dengerin aku dulu dong!" gerutu Mayang.


Andre pun terkekeh. "Iya, iya apa? Lagi pula, sudah malam begini kenapa belum tidur sih! Besok kamu kuliah Ayang," ujar Andre tanpa memberi jeda bicara untuk Mayang.


"Besok aku izin bolos," jawab Mayang.

__ADS_1


Andre tiba-tiba mengernyit heran, menatap kedua bola mata adik kesayangannya itu. "Kenapa?"


"Abang, dengarkan aku, em... sebenarnya tadi ... t-tadi ...."


"Tadi apa?" Andre seolah tak sabar mendengar kalimat selanjutnya yang akan di ucapkan mayang.


"Abang, a-aku." Mayang begitu gugup, entah dari mana ia harus memulai semua ceritanya.


"Apa kau ini, bicara yang jelas dong Yang."


"Abang aku membuat kesalahan," ucap Mayang begitu cepat dan sedikit takut.


"Kesalahan?" Andre mengernyit heran.


"Iya Abang, aku melakukan kesalahan. Dan ini ada hubungannya dengan Kak Selly."


"Apa? Kau membuat Selly marah?"


"Bukan, bukan itu. Tapi ...."


"Tapi apa?"


"Jadi ...."


Mayang pun mulia menceritakan, tentang ambisinya yang ingin membongkar keburukan Damas di belakang Selly. Mulai dari merekam diam-diam, pembicaraannya waktu mengobrol di butique dengan Dinda. Merekam obrolannya waktu malam yang saat ia kepergok menunggu di depan butique. Dan merekam video tadi pagi saat Damas mencium Dinda di tempat parkir mobil.


Ia juga menceritakan mengenai seorang pria yang ternyata sedari pagi ikut menguntitnya. Dan ketika Mayang sedang asyik menikmati sepiring roti bakar di kafe yang tak jauh dari apartemen Green Leave itu, sambil menonton rekaman Dinda dan Damas di ponselnya.


Tanpa di duga, ada seorang pria yang tak dikenalnya, tiba-tiba sudah duduk tepat di bangku kosong satu meja dengannya.


Mayang cukup terkesiap, apalagi ketika lelaki itu berkata. "Kemarikan videonya, dasar bocah kecil main ambil video orang saja," ujar lelaki yang tak di kenalnya itu sedikit penuh emosi.


"Apa maksudmu!" Mayang terkejut, dan sedikit memberontak ketakutan.


"Kau merekam Damas dan Dinda secara diam-diam kan?" ucap lelaki itu. Membuat Mayang tak bergeming dari tempat duduknya. Bahkan roti yang masih dikunyahnya pun, cepat-cepat ia telan.


"Kemarikan video itu, atau aku akan menyakiti wanita yang kau sayangi berinisial S," ujarnya dengan tatapan tajam, menyeramkan.


Karena terlalu takut, Mayang pun akhirnya menyerahkan ponselnya itu kepada lelaki misterius itu. Bahkan lelaki itu juga sempat menyimpan nomor Selly dan Andre.

__ADS_1


Mayang masih tercengang tak bergeming, saat lelaki itu pergi meninggalkannya, ketika ia sudah berhasil mendapat video dan nomor ponsel yang mungkin juga diincarnya.


^


Andre begitu terkesiap mendengar cerita adiknya itu. Pikirannya tiba-tiba jadi tak tenang.


"Ayang, bagaimana bisa kau melakukan semua ini sendirian. Ayang, hal seperti ini itu bisa berbahaya buat kamu tahu gak! Bagaimana kalau saat itu, kau  ..." Andre seketika terhenti, tak melanjutkan ucapannya.


"Abang... jangan marahi aku. Aku minta maaf Abang," ujar Mayang sambil memegang kedua tangan Andre, dengan wajahnya yanh sudah memelas ketakutan. Menggenggamnya erat sebagai tanda meminta maaf.


Andre pun mendengus kesal. Ia tak habis pikir bahwa adiknya itu ternyata nekat melakukan semuanya sendirian, bahkan tanpa sepengetahuan dirinya.


"Abang, bicara lah, jangan mendiamkanku seperti ini," ujar Mayang merengek.


Andre pun kembali mendengus. "Sudahlah, kau sekarang sebaiknya tidur. Abang besok akan menemui Selly untuk memastikan dirinya baik-baik saja," ujar Andre khawatir.


"Aku juga ikut ya Abang," ucap Mayang.


"Tidak! Kau besok kuliah!" tegas Andre


"Abang... please sehari besok saja ya, biar aku sekalian meminta maaf kepada Kak Selly," ujar Mayang terus memohon.


Akhirnya mau tak mau Andre pun mengiyakan permintaan adiknya itu.


"Iya iya!" Andre berdecak kesal.


"Yeay... makasih Abang." Mayang memeluk erat tubuh Abangnya itu yang cukup besar. Akhirnya pikirannya sedikit tenang setelah menceritakan semuanya kepada saudaranya itu. Dan ternyata, Abangnya pun tidak terlalu marah padanya.


Lalu Mayang pun bergegas kembali ke kamarnya, karena berhubung waktu pun sudah malam. Sedangkan Andre ia masih duduk terdiam di atas sofa, sambil menonton TV.


"Siapa lelaki itu, dan apa hubungannya dengan Damas dan Dinda?" gumam Andre dalam hati, hatinya kian merasa tak tenang. Dengan apa yang ia dengar dari cerita adiknya itu, sedikit membuat Andre waswas, karena takut terjadi sesuatu yang tak diinginkan kepada Selly.


"Ku harap Selly baik-baik saja, jangan sampai sesuatu terjadi padanya," gumamnya lagi.


.


.


.

__ADS_1


Lanjut gak?


__ADS_2