Pernikahan Di Atas Kertas

Pernikahan Di Atas Kertas
Tamu Tak Terduga


__ADS_3

Jam kantor sudah berlalu, sejak tadi siang Fira beristirahat di kamar khusus di ruang kerja Bara. Dan kini mereka berdua pun segera bersiap untuk pulang.


Di lobby, Fira melihat Adit yang tengah berbicara dengan resepsionis. Bara dan Fira yang melihatnya, segera menghampiri Adit.


"Kak Adit," panggil Fira. Adit pun menoleh, dan melebarkan senyumannya kepada Bara dan Fira. Meskipun Bara tetap menatapnya dengan tatapan dingin, seolah tak suka melihat senyuman lelaki itu.


"Pak Bara, Fira," ucap Adit menyapa.


"Ada apa kemari sore-sore?" tanya Fira.


Adit pun segera menyodorkan dua kartu undangan kepada Fira. Yaitu khusus untuk Bara dan satu lagi khusus untuk Dion. Dilihatnya kartu undangan pernikahan itu, yang bertuliskan Messy dan Aditya.


"Wah, selamat ya Kak Adit, akhirnya menikah juga dengan Messy, semoga nanti acaranya lancar ya," ucap Fira, sambil tersenyum lebar.


"Iya, makasih. Jangan lupa nanti datang ya."


"Pasti, nanti akan aku siapkan hadiah terbaik untuk kalian," ujar Fira. Sedangkan Bara ia hanya diam tak menanggapi.


"Terima kasih undangannya. Ayo sayang kita pulang," ajak Bara berlalu begitu saja meninggalkan Adit.


***


Hari berlalu begitu saja. Sinar mentari pagi ini sudah menerangi setiap belahan bumi. Kicauan burung gareja yang bertengger di atas pohon mangga di depan rumah terdengar begitu menenangkan.


"Mas... ayo cepat siap-siap," ucap Fira sambil menggoyangkan tubuh Bara yang masih meringkuk di atas kasur.


"Sepuluh menit lagi," jawab Bara yang malah semakin mengeratkan selimut di tubuhnya.


"Mas ini sudah siang. Nanti kalau kita telat bagaimana?" tanya Fira, namun Bara masih tak merespons. Fira pun mendengus kesal.


"Lihatlah Nak, Ayah kalian sepertinya tidak merindukan kalian." Fira berbicara kepada janin yang ada di perutnya. Sambil mencebikkan bibirnya, yang merasa kesal kepada Bara. Padahal jadwal pertemuan dengan dokter hanya tersisa satu jam lagi.


"Siapa bilang! Aku juga merindukan anak-anakku," ucap Bara yang kini sudah terbangun dari tidurnya. Dan segera berlalu menuju kamar mandi untuk segera bersiap.


***


Setelah kurang lebih 15 menit mereka menunggu untuk di panggil. Kini giliran Fira lah yang dipanggil dokter untuk masuk ke dalam ruangan pemeriksaan.


Seperti biasa setiap satu bulan sekali Fira dan Bara akan mengatur jadwal pemeriksaan kehamilan sekaligus melakukan USG.


Dan tepat di usia kehamilan Fira yang sudah menginjak 6 bulan ini, kini mereka sudah bisa mengetahui jenis kelamin bayi yang di kandung Fira.


"Kedua bayinya sehat ya Bu, apalagi yang cowok, ini aktif sekali," ujar sang dokter sambil fokus melihat layar monitor.


"Wah... putri dan raja Ayah, di dalam baik-baik ya... jangan berantem," ucap Bara begitu melihat kedua calon anaknya di layar monitor. Begitu pun Fira yang begitu bahagia melihat kedua calon anaknya. Mau laki-laki ataupun perempuan, Fira dan Bara akan menyayanginya tanpa membeda-bedakannya.


Setelah selesai pemeriksaan kini mereka berdua pergi terlebih dahulu ke sebuah Mall ternama di daerah Jakarta.

__ADS_1


"Mas, aku ingin teteokbokki itu," pinta Fira sambil menunjuk, saat melewati stand penjual teteokbokki di lantai dasar Mall. bara pun dengan senang hati menuruti kemauan istrinya itu.


"Mas, aku juga mau es krim turki Mas," pinta Fira kembali, Bara pun membelikannya.


"Mas aku mau ice cream roll."


"Mas beli chicken ball ya."


"Mas beli ice bubble ya."


"Mas beli itu ya."


"Mas mau beli itu Mas."


Begitulah Fira saat melewati setiap stand penjual makanan. Bahkan kedua tangan Bara sudah menenteng begitu banyak kantung dan paper bag, yang berisi makanan yang diinginkan istrinya itu. Meskipun keinginan Fira begitu banyak, tapi Bara dengan senang hati menurutinya. baginya kebahagiaan Fira adalah segalanya. Dan Bara termasuk orang yang mempercayai, kalau apa pun yang diinginkan istrinya itu, termasuk keinginan anak yang dikandungnya juga. Lagi pula membeli makanan sebanyak itu tidak apa-apa baginya, selagi Fira menyukainya.


"Sudah kita istirahat dulu," ucap Bara sesaat setelah mereka berdua memasuki salah satu restoran jepang yang ada di sana. Bara pun memesan beberapa makanan berat.


Dan selagi menunggu makanan yang dipesan. Fira terlebih dahulu mencicipi semua makanan yang sempat dibelinya tadi. Ia tidak menghabiskannya, namun hanya mencicipi sedikit atau setengah dari setiap porsi makanan yang di belinya.


Memang semenjak satu bulan yang lalu, nafsu makan Fira berubah begitu drastis. Jika pada awal masa kehamilan Fira jarang menyantap makanan. Kalau di usia kehamilannya yang mau menginjak tri semester ke tiga ini, ia malah jadi lebih banyak makan. Bahkan pipinya pun terlihat lebih chubby. Namun meskipun terlihat chubby seperti itu, justru Bara semakin menyukainya. Membuat Fira terlihat semakin imut dan menggemaskan.


Fokus Fira kini beralih ke arah dua sejoli yang baru memasuki area restoran ini. Siapa lagi kalau bukan Merry dan Dion.


"Mas bukankah itu Merry dan Dion ya?" tunjuk Fira ke salah satu meja yang tak jauh dari tempat duduknya. Bara pun mengedarkan pandangannya, ke arah yang ditunjuk oleh Fira.


Fira pun melambaikan tangannya ke arah Merry, di saat wanita itu tak sengaja melihatnya.


"Fira! Kenapa dia ada di sini?" gumam Merry sedikit terkejut mendapati Fira. Begitu pun dengan Dion yang ikut terkejut mendapati Fira dan Bara di restoran yang sama. Akhirnya mau tak mau, mereka berdua pun ikut gabung di meja makan Bara. Karena sedari tadi Fira melambaikan tangannya, memberi kode kepada Merry untuk gabung dengannya.


"Wah jadi udah resmi pacaran nih?" goda Fira kepada Merry. Merry hanya merengut memasang wajah kesalnya.


"Tidak! Siapa yang pacaran!" bantah Merry.


"Lalu, kalau tidak pacaran kenap bisa nge-date?" tanya Fira, sambil melemparkan senyuman penuh maksud.


"Fira! Aku tidak pacaran dengan Dion! Aku ke sini karena mau membeli gaun," ucap Merry yang masih memasang wajah kesalnya.


"Wah gaun apa nih?"


"Gaun pengantin!" timpal Dion sembarangan. Membuat Fira semakin melebarkan senyuman penuh maksudnya itu.


"Keren berjalan cepat nih," seloroh Bara.


"Bukan! Bukan gaun pengantin. Hanya gaun pesta saja," bantah Merry, membenarkan.


"Buat apa?" tanya Fira penasaran.

__ADS_1


"Buat ke acara pernikahan Adit besok. kebetulan papaku di undang juga oleh keluarga mempelai wanitanya, jadi mau tak mau aku harus mengajak Merry untuk ikut," tutur Dion menjelaskan.


"Masih berlanjut nih, dramanya? Kenapa gak serius aja sih?" tutur Fira.


"Iya, ya kenapa gak serius aja," timpal Dion yang seolah keceplosan. Langsung mendapat tatapan tajam dari Merry.


"Haha, bercanda. Jangan serius gitu dong! Kalo serius nanti aku nikahi lagi."


"Dion!" Merry semakin menatap tajam ke arah Dion. Sedangkan Fira dan Bara hanya terkekeh melihat kelakuan dua sejoli yang ada di hadapannya itu.


***


Sepulang dari kantor, Merry beristirahat terlebih dahulu, merebahkan punggungnya yang terasa kaku itu di atas kasur. Dilihatnya jam di dinding sudah menunjukkan pukul 18.30 petang.


Tiba-tiba sebuah notif pesan masuk terdengar dari ponsel yang ada di sampingnya itu. Merry pun melihat pesan masuk yang tak lain ialah dari Dion.


Jam setengah delapan aku jemput. Pastikan kamu harus sudah siap. Mama dan Papaku juga akan ikut satu mobil dengan kita. ~ Dion.


Seketika kedua bola mata Merry membulat. "Apa! Satu mobil dengan Mama dan Papanya?" Merry mengusap wajahnya kesal. Sambil bergulang guling tak karuan di atas tempat tidurnya. "Argh... kenapa jadi serumit ini sih!" gumamnya frustrasi.


Dan setelah selesai berdandan, Merry memperhatikan pantulan dirinya di cermin. Melihat penampilannya yang jauh berbeda dari biasnya. Dengan balutan gaun panjang berwarna silver, dengan butiran-butiran glitter yang menghias gaun itu, sangat cocok sekali dipakai olehnya. Tentunya gaun itu adalah gaun yang sengaja Dion belikan untuk Merry. Karena Dion tahu, keluarganya itu sangat apik dalam hal tampilan. Makanya ia berinisiatif untuk membelikan Merry gaun.


Suara ketukan pintu kamar terdengar jelas. Merry segera beranjak untuk membukakan pintu kamarnya itu. Dan kini Tantenya sudah berdiri tepat di luar kamarnya.


"Merry, temanmu sudah datang," ucap sang Tante. Merry pun mengiyakan, dan hendak masuk kembali ke kamarnya untuk mengambil tas. Namun sebelum masuk tangan Merry terlebih dahulu ditahan oleh Tantenya.


"Merry, apa kamu tahu? Temanmu itu membawa kedua orang tuannya kemari!" pekik sang Tante memberi tahu.


Sontak membuat kedua mata Merry melebar tak percaya. "Yang benar?" sang Tante menganggukkan kepalanya.


"Terus, sekarang mereka di mana?"


"Ada di ruang tamu, sedang mengobrol dengan pamanmu."


"Ya ampun, kenapa harus di bawa juga sih orang tuanya kesini," geurut Merry dan hati.


.


.


.


Bersambung.


Jangan lupa like, komen dan vote-nya ya 😊


Mampir ke cerita baru author yg berjudul BOS-KU SUAMIKU

__ADS_1



__ADS_2