
Setelah selesai dengan pekerjaannya, Selly segera bergegas merapikan meja kerjanya. Ini adalah hari pertamanya ia bekerja di rumah sakit. Selagi merapikan buku-buku administrasi. Tiba-tiba ponsel di sakunya bergetar. Ia pun segera meraih ponsel yang ada di saku bajunya itu.
[Selly, maaf saya masih ada pasien. Kamu gak apa-apa kan pulang sendiri?"] - Damas.
[Iya tidak apa-apa, aku naik taksi saja.] - Selly.
Selly pun segera memesan taksi online. Dan bergegas pulang.
Sementara itu, di kediaman rumah Fira, suasananya sangatlah ramai. Seluruh keluarga termasuk ayah Alex dan papa Hito pun ada di sana. Hari ini mereka semua berencana untuk menginap di rumah baru anaknya ini.
Terlihat di bagian dapur, Molly, Lisa dan Wina tengah sibuk menyiapkan beberapa menu hidangan untuk menyuguhi para tamu nanti.
Sedangkan di ruang tengah, Bara, Hito dan Alex tengah sibuk menggelar karpet untuk acara pengajian nanti.
Dan Fira, ia bagikan ratu yang tak diperbolehkan untuk melakukan sesuatu, kecuali makan dan duduk sambil mengawasi situasi sekitar.
"Huh... sungguh membosankan. Mau apa-apa mesti dilarang," gumamnya, sambil menggigit sepotong buah apel.
"Gimana kamu senang gak?" tanya Bara, yang tiba-tiba sudah berada di belakangnya. Bara pun segera mendaratkan tubuhnya di atas sofa di samping Fira.
Fira menganggukkan kepalanya sambil tersenyum senang. "Tentu saja Mas, sebentar lagi semua hal manis dan indah akan segera dimulai di rumah ini. Terima kasih ya Mas, sudah membuatku menjadi wanita paling bahagia di dunia ini," ucap Fira, sambil memeluk sebelah lengan Bara, dan menyenderkan kepalanya di bahu suaminya itu.
Bara ikut tersenyum mendengarnya. "Seharusnya aku yang berterima kasih padamu. Fira, maafkan aku, jika ... selama ini aku telat membahagiakanmu," tutur Bara, seakan menerawang penyesalan perilakunya dulu kepada Fira.
"Jangan berbicara seperti itu. Tidak ada yang namanya telat, semua hanya perlu proses. Dan aku sangat bahagia karena kita bisa melalui masa-masa itu bersama-sama. Terima kasih juga, karena kamu lah yang menjadi ayah dari anak-anakku nanti," ucap Fira, mendongakkan kepalanya menatap wajah Bara.
Bara pun menganggukkan kepalanya, lalu menciumi puncak kepala Fira berkali-kali.
"Sayang-sayangnya Ayah lagi apa di dalam? Sehat-sehat terus ya nak, di sini Ayah sama Bunda sudah menyiapkan rumah yang nyaman dan indah untuk kita semua," ucap Bara, sambil mengelus perut Fira yang membuncit besar. Sambil terus mengelus-elus pelan. Bahkan, ketika Bara atau Fira mengajak mengobrol, perut Fira terlihat sering bergerak. Menandakan bayi di dalam seakan merespons.
Suara bel rumah pun terdengar begitu nyaring di telinga Fira dan Bara.
"Sepertinya para tamu sudah datang Mas," tutur Fira. Bara pun bergegas ke depan untuk membukakan pintu.
Dan benar saja, para tamu pengajian sudah datang. Karena memang dari awal Bara meminta kalau untuk acara pengajian di lakukan sore hari saja ba'da solat ashar.
Semua orang berkumpul di ruang tengah, yang sudah di rapikan. Mereka duduk melingkar dengan berbagai jamuan di tengahnya yang sudah di sediakan sebelumnya.
Alex pun meminta Pak Ustaz untuk segera memulai pengajiannya. Pengajian kali ini di ikuti oleh para lelaki saja, khusus pengajian bapak-bapak.
^
Sementara itu, Merry tengah bersiap untuk pergi. Seperti biasa Dion menjemput Merry di rumah tantenya. Mereka berdua pun bergegas pergi setelah mendapat izin dari Om dan Tantenya Merry.
Merry tampak menggunakan selendang berwarna dusty, dengan baju berwarna peach bertangan seperempat dan rok tutu berwarna senada dengan selendang yang di gunakannya. Ia menggunakan selendang polos yang berukuran seperti jilbab phasmina itu untuk menutupi kepalanya. Meskipun ia bukan muslim, tapi sebagai rasa hormat kepada keluarga Fira, tentunya ia menggunakan pakaian yang lebih sopan dari biasanya. Jika biasanya ia sering menggunakan baju dan celana atau rok pendek. Sekarang ia tampil berbeda sekali.
Suasana di antara keduanya begitu hening, hanya ada deru suara mobil dan motor dari luar yang terdengar.
Dion sesekali melirik ke arah Merry, begitu pun dengan Merry yang sesekali melirik ke arah Dion. Dan ketika mereka berdua secara tak sengaja bertemu pandang akibat saling lirik, keduanya langsung membuang wajah mereka.
"Kenapa melirikku seperti itu?" tanya Merry, yang masih enggan melihat ke arah Dion.
"Memastikan kau masih bernafas atau tidak. Dari tadi diam aja."
"Kamu kira aku mati!"
"Eh, jangan berbicara seperti itu!" tegur Dion.
"Ya, barusan kamu bilang memastikan aku masih bernafas atau tidak!" gerutu Merry, yang akhirnya kembali menatap Dion dengan tatapan tak suka.
"Ya bisa aja kamu lagi latihan tahan nafas gitu," ucap Dion terkekeh. Namun Merry hanya memutar kedua bola matanya.
Hening lagi ....
"Merry, apa kamu yakin akan memberitahu mereka hari ini?" tanya Dion, yang kembali mengingat ucapan Merry kemarin.
"Hm, iya ... nanti biar aku yang memberitahu mereka. Kau nanti di sana jangan terlalu banyak bercerita mengenai hubungan kita!" tegas Merry.
"Iya, iya!"
Kini mereka berdua pun telah sampai tepat di halaman rumah Bara. Rumahnya terlihat cukup besar dan mewah. Bahkan terlihat lebih unik karena menerapkan model bangunan seperti rumah Princes.
Baru saja mereka keluar dari mobil, Wina yang kebetulan berada di luar, segera menyambut kedatangan Dion dan Merry. Wina pun mengajak mereka masuk lewat pintu samping, karena acara pengajian sudah di mulai.
"Duduklah di sini, Tante ambil minuman dulu untuk kalian ya," ucap Wina sambil berlalu menuju dapur. Sementara mereka duduk di ruang santai, yang berdekatan dengan dapur. Dan datanglah Fira dari arah dapur.
__ADS_1
Fira pun menyambut Dion dan Merry dengan begitu senang. "Makasih ya sudah mau datang," ucap Fira. Merry pun mengangguk.
"Selamat ya Fir, semoga betah dan bahagia kalian tinggal di sini. Rumahnya bagus banget, bikin betah kalo aku main ke sini," ujar Merry sambil tertawa kecil.
"Tentu saja, rumah ini dekat dengan kantor kalau kalian mau main kesini mampir-mampir pas pulang kantor boleh banget kok," jawab Fira.
"Eh iya, Selly kok belum ke sini ya?" tanya Fira.
"Tadi katanya baru mau berangkat ya," ucap Dion, kepada Merry. Merry pun mengangguk mengiyakan. Karena tadi saat di mobil Merry sempat menelepon Selly terlebih dahulu.
^
Hari sudah semakin sore, bahkan mungkin sebentar lagi akan segera magrib. Selly tengah berada di perjalanan bersama tukang ojek online yang ia pesan dari tempat kost nya. Dan ketika mereka hendak memasuki wilayah perumahan yang di tujunya. Tiba-tiba ban motor depan kempis. Terpaksa tukang ojek pun menghentikan motornya itu. Dilihatnya ban depan ternyata bocor akibat tertusuk paku.
"Gimana Pak motornya?" tanya Selly yang berdiri di belakang tukang ojek itu.
"Bannya bocor Non, harus di tambal ke bengkel," ujar Bapak ojek yang terlihat sudah berumur itu.
"Oh... gitu ya. Ya sudah Pak gak apa-apa saya pesan ojek lain saja."
"Tapi Non, itu bayarannya gimana kelebihan dong, saya gak amanah buat nganterin Non," tutur tukang ojek.
"Gak apa-apa Pak. Tapi, Bapak gak apa-apa kan kalo nanti saya tinggal di sini? Lagian di sini kayaknya jauh dari bengkel deh," tutur Selly.
"Wah... kalo saya mah gak apa-apa Non. Nanti bisa minta bantuan teman buat datang ke sini."
"Oh begitu ya, ya sudah kalau begitu saya mau pesan ojek lain aja." Selly pun segera membuka aplikasi untuk mencari ojek online di ponselnya.
Namun ternyata di kawasan ini sama sekali tidak ada ojek online yang tersedia. Ia pun kebingungan. Sambil terus berpikir.
"Ah iya, apa aku minta bantuan Merry dan Dion saja ya buat jemput aku ke sini." gumam Selly. Ia pun segera menelepon nomor Merry namun tak juga di angkat.
"Ah ya ampun, anak ini. Ke mana sih dia! Kenapa tidak diangkat," gerutu Selly, sambil mencoba kembali menelepon Merry, namun tetap saja Merry tak menjawab panggilannya.
"Gimana Non, udah dapat?" tanya tukang ojek seolah khawatir dan tak enak hati. Selly yang merasa tak tega, ia pun menganggukkan kepalanya pelan.
"Iya, sebentar lagi datang kok Pak, tenang saja."
Selly terus berpikir kepada siapa ia harus meminta bantuan. "Oh iya, apa ke Mas Damas aja ya," gumamnya.
"Ah... ya Allah... bantulah aku. Aku mohon," batin Selly. "Mana udah magrib lagi."
Namun tiba-tiba, sebuah BMW berwarna hitam berhenti tepat di depannya. Lalu keluarlah seorang lelaki dari mobil, dan datang menghampiri Selly.
Selly pun mengerutkan alisnya, ketika melihat lelaki itu ternyata lelaki yang dikenalnya.
"Pak dokter," ucap Selly, heran.
"Hai, Nona Selly," ucap Andre menyapa. "Sedang apa di sini?" tanya Andre.
"Hah? Oh ini, sedang mencari tumpangan, eh maksudnya sedang menunggu ojek," jawabnya. Andre pun melirik ke arah tukang ojek yang sedang duduk di pinggiran trotoar di dekat motornya.
"Motornya mogok Pak?" tanya Andre kepada Bapak ojek.
"Iya, bannya pecah," jawab tukang ojek. "Tapi, sebentar lagi teman saya datang kok buat bantuin bawa ke bengkel."
"Oh...." Andre mengangguk. "Kamu mau ke mana?" tanya Andre kepada Selly.
"Ma-mau ke rumah Fira," jawab Selly.
"Wah samaan dong, kalo gitu kita bareng aja," ajak Andre.
"Pak dokter di undang juga?" Selly membelalakkan matanya, heran.
"Iya, kemarin pas ketemu di supermarket. Ya udah ayo kita jalan," ajak Andre, segera membukakan pintu mobilnya untuk Selly. Mau tidak mau akhirnya Selly pun ikut dengan dokter Andre.
Sambil menyetir sesekali Andre melemparkan beberapa pertanyaan kepada Selly, menanyai kabarnya, bahkan tak lupa ia menanyai kabar kaki Selly, yang dulu pernah terluka olehnya.
"Jangan panggil saya Pak dong, saya juga kan masih muda," tutur Andre sambil terkekeh.
Selly hanya tersenyum malu, sambil mengedarkan pandangannya ke luar jendela mobil.
"Panggil saya Andre saja," sambung Andre.
"I-iya baik, Pak Andre ... eh, maksudnya An-dre," ucapnya sedikit malu.
__ADS_1
Dan kini mereka pun sudah sampai di kediaman rumah Fira. Suasana rumahnya tidak terlalu rame. Karena memang para tamu pengajian sedari tadi sudah pulang.
"Wah ada Pak dokter juga," pekik Merry saat Selly dan Andre masuk sambil mengucapkan salam.
Merry pun bergegas menyambut Selly dan Andre. "Ayo masuk Pak dokter," ucap Bara, saat mengetahui kedatangan mereka.
Mereka pun duduk di ruang keluarga. "Wah, Selly kok bisa barengan sama Pak dokter?" tanya Merry heboh.
"Iya, kebetulan tadi gak sengaja ketemu di jalan," jawab Selly.
"Kebetulan apa betulan?" goda Merry. Namun Dion terlebih dahulu, mengepak lengan Merry menggunakan sikutnya.
Merry pun menoleh ke arah Dion, yang berdiri di dekatnya. "Apa sih!" gerutunya pelan.
"Eh, tapi kok Pak dokter bisa ada di sini ya?" tanya Merry, kemudian ia ikut mendudukkan tubuhnya di samping Fira dan di ikuti oleh Dion.
"Pak dokter udah tinggal sebulan di daerah sini," ucap Fira, menjelaskan. Dokter Andre pun membenarkan.
Kemudian datanglah Wina, dan dengan hebohnya ia menyambut kedatangan dokter Andre. Entah kenapa Wina begitu antusias ketika melihat dokter Andre.
"Lisa kemarilah, ambilkan minuman untuk kami," teriak Wina kepada Lisa yang tengah ada di dapur.
Lisa pun membawakan banyak minuman dan di suguhkan untuk mereka semua.
Dan ketika Lisa hendak pergi, Mama Wina menahannya sejenak. "Eh Lisa, ambilkan juga kue buatanmu untuk pak dokter ya," bisik Wina.
"Kue buatanku kan biasa saja, kenapa tidak kue yang kita pesan dari katering saja?"
"Sudah cepat ambilkan dan suguhkan." Lisa pun akhirnya kembali ke dapur, dan mencari-cari kue tart yang sempat ia buat tadi siang.
"Tante Moly lihat kue tart bikinan aku gak?" tanya Lisa.
"Oh, tadi di beresin sama Bi Iyam, coba tanya Bi Iyam," jawab Moly.
Lisa pun segera menanyakannya kepada Bi Iyam, dan setelah tahu, ia pun segera memotong-motong kue tart itu.
"Kenapa Mama menyuruhku mengambil ini untuk Pak dokter saja? ... Ah sebaiknya aku mengambilnya untuk Kak Bara dan Kak Dion juga, kalau yang cewek-cewek udah pasti gak bakalan suka," gumam Lisa. Kini Lisa pun menyuguhkan semua kue itu di atas meja.
"Pak dokter, cobalah kuenya, itu Lisa yang bikin. Coba aja dulu," ujar Wina tersenyum lebar kepada dokter Andre.
Andre pun segera meraih kue di atas piring kecil itu. Dan mencobanya.
"Gimana enak?" tanya Wina begitu antusias ingin mendengar jawabannya.
Andre pun menganggukkan kepalanya. "Enak."
"Syukurlah kalau begitu, anak mama akan menjadi calon istri yang baik," ucap Wina. Sontak membuat semua orang yang ada di sana bengong terheran-heran. Termasuk Lisa.
"Mama ini ada-ada saja!" ucap Lisa.
"Apa kau mau mencobanya?" tanya Andre menawari Selly yang duduk di sebelahnya.
Selly sedikit terkejut mendapat penawaran dari Andre. "Tidak, kau saja yang makan," tolaknya.
"Kenapa? Apa kamu tidak suka kue?" tanya Andre. Selly pun menggelengkan kepalanya pelan.
"Wah... Pak dokter baik banget sih. Eh Sell, terima aja, gak baik loh.. kalo nolak," ujar Merry.
Dion yang melihat tingkah Merry, ia pun meraih satu piring kecil yang berisi sepotong kue tart. Dan menyodorkannya kepada Merry.
"Ini kamu coba juga," ujar Dion, hendak menyuapi Merry.
"Hah?" Merry mengedarkan pandangannya ke arah semua orang.
"Terima aja Mer, gak baik nolak pemberian orang, apalagi orang yang dekat," timpal Selly, seakan menyudutkan Merry.
Merry berdecak kesal melihat Dion. "Aih... kau ini. Kemarikan, aku bisa makan sendiri," ujar Merry sambil mengambil alih kue tart itu, lalu memakannya.
"Kau ini, tak bisa romantis sama sekali," bisik Dion kepada Merry. Merry hanya mendelikkan matanya saja, merasa sebal.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung.