Pernikahan Di Atas Kertas

Pernikahan Di Atas Kertas
Perfect Marriage - Bab 29


__ADS_3

Setelah selesai dengan pekerjaannya, Damas memutuskan untuk pergi menemui Gerry. Karena sejak peristiwa sore kemarin, Gerry belum juga mengembalikan ponsel miliknya.


Sesampainya di lobby apartemen milik Gerry, Damas meminta info kepada petugas mengenai Gerry.


"Oh, Bang Gerry yang di unit 212 itu biasa pulang nanti sekitar jam sembilan," ujar pak satpam.


Damas pun mengangguk, dilihatnya jam di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul 20.00 ia pun memutuskan untuk menunggu Gerry meskipun ia harus menunggu sekitar 1jam.


Setelah menunggu cukup lama, akhirnya orang yang dinanti pun datang.


Gerry berjalan dengan tatapan sinis sambil tersenyum sinis melihat kedatangan Damas di tempatnya.


"Kita perlu berbicara," tegas Damas, dengan memasang wajah yang tak ramah.


"Oh ... ikuti aku." Gerry berjalan dengan santai, seolah ia tak memedulikan keberadaan Damas.


Mereka pun sampai tepat di depan unit apartemen milik Gerry. Gerry mengajak Damas untuk masuk ke dalam apartemennya itu.


"Aku tak ingin berlama-lama, kemarikan ponselku," ujar Damas tak sabar.


"Kalem dong! Nih ...." Gerry melemparkan ponsel milik Damas yang baru saja ia ambil dari atas meja di ruang tengah. Dan Damas pun dengan tanggap menangkapnya.


"Bagaimana? Lega bukan kalau semuanya sudah terungkap?" Gerry mendudukkan tubuhnya di atas sofa dengan begitu santainya.


Mendengar perkataan Gerry, cukup membuat telinga Damas seakan sakit. Damas menarik nafasnya begitu panjang sambil sejenak membuang muka ke embarang arah.


"Benar yang kau katakan itu, sungguh melegakan," ujar Damas seolah semuanya baik-baik saja.


Sontak hal itu membuat Gerry mengernyit heran, ia berdiri dari duduknya dan berjalan menghampiri Damas.


"Apa? ... Kau kira setelah kejadian hari kemarin, semuanya akan kacau begitu? ... Ha ha, aku tahu permainanmu Gerry," ujar Damas menatap sinis.


Gerry semakin dibuat terkejut dengan yang ia dengar barusan dari Damas. Biasanya Damas lebih gampang terpancing emosi, tapi kenapa hari ini terasa ada yang beda.


"Ada apa dengannya?" batin Gerry.


"Kenapa? Kau terkejut bukan dengan sikapku ini?" lanjut Damas sambil menghirup udara dalam-dalam. "Kau, Selly dan Dinda. Ingatlah ... kalian tidak akan pernah bisa hidup tenang, setelah apa yang kalian lakukan kepadaku.'


"Oh ya satu lagi, meskipun kau bisa menggagalkan pernikahanku, tapi untuk masalah Dinda ... kau tak akan pernah bisa merebut dia dariku. Dan kau jangan pernah berharap bahwa khayalanmu itu akan terwujud!" tegas Damas menatap tajam kedua bola mata Gerry, yang sudah tegas berbinar menampakkan api emosi.


"Kau! ...." Gerry mengeratkan gigi gerahamnya menahan emosi.


"Sudahlah, aku mau pulang. Oh ya, kau tenanglah, kita masih bisa melanjutkan permainan kita nanti." Seringai senyuman licik terpancar dari kedua sudut bibir Damas, lelaki itu melenggangkan kakinya meninggalkan apartemen Gerry.


***


"Oh iya, aku akan menelepon Kak Selly dulu untuk menanyakan ruangannya di mana," ujar Mayang sambil merogoh tas kecil yang ada di pangkuannya, mencari-cari benda pipih kesayangannya.


Sementara Andre ia masih fokus mengendarai mobil. Mengamati jalanan malam yang cukup ramai itu.


Kini mereka berdua sudah sampai di rumah sakit swasta tempat bapaknya Selly dirawat.


"Tadi, kata kak Selly, di ruang VIP Edelweis 1," ujar Mayang sambil berjalan menyusuri koridor rumah sakit, dan mencari-cari ruangan yang dimaksud.


"Nah itu," ujar Mayang begitu mendapati ruang yang akan ditujunya. Ia segera menarik lengan Andre untuk masuk ke dalam sana.

__ADS_1


Perasaan berdebar pun mulai Andre rasakan. Jantungnya berdegup kencang dengan hati dan perasaan yang tak karuan.


"Hey jantung jangan terlalu cepat berdetak, kau ingin aku mendadak pingsan di saat seperti ini," gumam Andre dalam hati.


Dan sesampainya mereka di depan pintu, Mayang segera mengetuk pintu itu cukup pelan.


Dan seorang wanita cantik yang mengenakan phasmina berwarna hazelnut, muncul dari balik pintu. Dengan senyuman manis yang terkembang di wajahnya. Membuat Andre seolah semakin terpana melihatnya.


"Pak dokter, Mayang," ujar Selly begitu melihat tamu yang datang malam ini. "Ayo masuk," ajaknya.


Mayang pun kembali menarik lengan Abangnya itu untuk masuk ke dalam ruangan.


"Assalamualaikum," ucap Mayang dan Andre, sambil berjalan masuk menghampiri seorang wanita paruh baya yang tengah duduk di samping brankar.


"Wa’alaikumussalam," jawab Ningsih dan Selly, begitu pun dengan Pak Setyo, yang hanya bisa menjawab salam dengan lirih.


"Bu, Pak, ini teman Selly ... Mayang dan Pak dokter, eh maksudnya Andre," ujar Selly memperkenalkan mereka.


Andre dan Mayang pun bersalaman kepada Ningsih. Lalu tak lupa Andre memberikan satu parsel buah yang sempat dia beli tadi dari supermarket.


"Maa Syaa Allah, terima kasih ... padahal gak usah repot-repot, pake bawa parsel segala," ujar Ningsih saat menerima parsel itu dari tangan Andre.


"Bagaimana keadaan Bapak?" tanya Andre sambil melihat Setyo yang masih terbaring lemah di atas brankar.


"Ya, seperti yang terlihat. Masih belum pulih sepenuhnya, tapi alhamdulillahnya sudah mulai lebih baik dari pada kemarin," jawab Selly. Andre dan Mayang pun mengangguk.


Mereka berbincang-bincang mengenai kesehatan dan kondisi pak Setyo. Selly juga tak lupa menanyakan kabar sang Nenek kepada Mayang. Lalu, topik pembicaraan pun semakin lama semakin berubah, apalagi ketika Bu Ningsih mengeluh soal pembatalan pernikahan antara Damas dan Selly.


"Ya... gimana gak banyak pikiran Bapakmu ini Sell, setelah kejadian kemarin, kita masih belum bisa tenang," ujar Ningsih, Selly yang mendengar hanya bisa diam dengan raut wajah yang mulai mendung.


"Udah Bu, kita masih harus bersyukur, putri kita satu-satunya ini gak jadi nikah dengan lelaki macam Damas," tutur Setyo pelan.


"Bu, sudahlah," ujar Selly merasa tak enak, keluhan Ibunya didengar oleh Mayang dan Andre.


"Loh, Ibu ini gimana ... ya masih syukur cuma keluarga dan kerabat yang baru di kasih undangan, kalau udah disebar ke tetangga, baru kita repot," ujar Setyo, yang sebenarnya ia pun bingung memikirkan masalah ini.


"Ibu makin stres kalau begini."


"Bu." Selly bersuara agar Ibunya itu tak mengeluh terus.


Mayang dan Andre pun sedikit merasa canggung dengan keadaan saat ini, yang cukup memanas antara Bu Ningsih dan Pak Setyo.


"Coba kalau kamu punya pacar, gak mungkin Ibu dan Bapak jodoh-jodohin kamu sama si Damas berandal itu." Ningsih melipatkan kedua tangannya di dada, dengan raut wajah yang begitu masam.


"Jangan menyalahkan Selly Bu, dulu kita yang minta dia buat gak pacaran, dan masalah perjodohan pun itu salah kita, kita yang terlalu ceroboh sampai gak tahu seluk beluk baiknya si Damas itu," timpal Setyo.


"Em... Nak Andre, Nak Mayang ... maaf ya, jadi malah lihat kita bertengkar," ujar Setyo sambil mengembangkan senyuman di wajahnya yang masih pucat itu.


"Gak apa-apa Om," ujar Andre sambil tersenyum kaku.


"Oh ya, kalian ini teman kerja ya?" tanya Setyo kembali.


"Em, ... iya, eh tapi sebenarnya enggak juga, soalnya saya dan Selly bekerja di rumah sakit yang berbeda."


"Oh... begitu, lalu kenapa bisa kenal?" Andre hendak menjawab. Namun, ia sedikit kebingungan harus memulai pembicaraan dari mana.

__ADS_1


"Aku dan Pak dokter kenal saat liburan di vila Mawar punya Pak Dori, saat perayaan kelulusan waktu itu ... bareng Fira dan Merry," jawab Selly.


"Oh, yang katanya kamu ketumpahan sup panas itu?" tanya Ningsih campur kepo.


Andre mengusap tengkuk kepalanya, merasa canggung dan semakin grogi saat mengingat kejadian waktu itu.


"Ibu." Selly memberikan kode kepada Ibunya itu agar tidak berbicara sembarangan.


"Oh ini dokter tampan yang gendong kamu waktu itu," timpal Ningsih yang bicaranya semakin bocor.


"Ibu." Selly membulatkan kedua matanya.


"Astagfirullah Ibu ini, gimana sih!" batin Selly, merasa malu mendengar ucapan Ibunya.


"Em ... oh ya, Bapak harus istirahat lagi kan ya, udah jam sembilan lebih. Bapak sebaiknya tidur aja," ujar Selly mengalihkan pembicaraan.


"Oh iya, sudah malam, kalau begitu kami pamit pulang ya Bu, Pak. Semoga Bapak cepat sembuh ya," ujar Andre sedikit gugup, begitu tahu kode yang ada dibalik perkataan Selly.


Andre dan Mayang pun keluar dari ruangan itu diantar oleh Selly.


"Wah ... wah ... wah, sepertinya ada yang berdebar-debar nih perasaannya,” gumam Mayang dalam hati, saat melihat senyuman tertahan di wajah Abangnya itu.


Mayang sudah bisa menebak, seberapa senangnya Andre saat di bilang tampan seperti tadi.


"Terima kasih ya, kalian sudah repot-repot jenguk Bapakku," ujar Selly begitu mereka sampai di parkiran mobil.


"Iya, Kak Selly jaga kesehatan ya, jangan sampai sakit. Dan semoga masalah Kak Selly bisa secepatnya teratasi," ujar Mayang sebelum wanita itu masuk ke dalam mobil.


"Iya, hati-hati ya kalian." Selly melambaikan tangannya begitu melihat mobil yang dikendarai Andre mulai melaju meninggalkan area parkiran itu.


"Cie cie...." Mayang menatap raut wajah Andre yang sedang menahan senyuman, ketika lelaki itu memperhatikan Selly dari pantulan kaca spion mobilnya.


Bayangan wanita itu pun kian menghilang saat ia membelokkan mobilnya menuju jalan utama.


"Gimana, senang ya dibilang tampan sama —calon mama mertua— ha ha," ujar Mayang sambil terkekeh puas.


"Kau ini! Dasar anak kecil!" Wajah Andre semakin memerah begitu mendapat godaan dari adik centilnya itu.


"Semangat Abang, selangkah lagi menuju pelaminan." Mayang semakin bersemangat menantikan sebuah keajaiban akan kisah asmara Abang kesayangannya itu.


Andre hanya menggelengkan kepalanya pelan, dengan senyuman yang terkembang di kedua sudut bibirnya, ia hanya bisa memalingkan wajah dari tatapan Adiknya yang bisa-bisa malah mengejeknya nanti.


"Ya Allah, lancarkan semuanya Ya Allah lancarkan ... jangan biarkan Abangku gagal untuk yang kedua kalinya dalam urusan cinta ini Ya Allah." Mayang berdoa dengan sungguh-sungguh bahkan suaranya yang begitu bersemangat itu, terdengar begitu nyaring di kedua telinga Andre. Mayang menengadahkan kedua tangannya ke atas. Lalu mengusapkannya pelan ke wajah.


"Aih, dasar bocah ini, masih saja ingat akan kegagalanku yang dulu." Tiba-tiba pikiran Andre teringat akan bayangan sesosok wanita yang dulu pernah ada dalam hatinya. Namun, dengan cepat Andre menepis bayangan wanita itu dari dalam pikirannya.


Dan lagi-lagi senyumannya terkembang ketika ia mengingat ucapan, 'Oh ini dokter tampan yang gendong kamu itu.' perkataan Bu Ningsih itu seolah-olah memenuhi seluruh otak dan pikirannya. Ah, entahlah hatinya pun terasa begitu berbunga-bunga, padahal itu hanya sebuah kiasan kata yang biasa dan sangat biasa. Namun, bagi Andre itu adalah kata-kata yang luar biasa. Seolah mampu meluluh lantahkan perasaannya.


.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


Mana nih star gift dan reviewnya 😍 ayo dukung author biar masuk 5 besar di NTW Inovative.


follow juga ig author @dela.delia25


__ADS_2