Pernikahan Di Atas Kertas

Pernikahan Di Atas Kertas
Tenanglah Dulu


__ADS_3

Pagi harinya, sekitar jam 07.00 pagi. Setelah selesai sarapan pagi bersama, Fira dan Bara, bergegas untuk segera pergi ke rumah sakit menggunakan mobil Dion.


Dan sesampainya di rumah sakit, Fira dan Bara, segera berjalan menuju ruangan dimana Raina di rawat.


Dan ketika mereka masuk ke dalam ruangan, disana sudah terlihat Dion dan Nenek Raina yang sedang sarapan pagi.


"Pagi Nek," sapa Bara, sambil menyalami punggung tangan nenek Raina. Dan di ikuti oleh Fira, secara bergantian.


"Kak Dion, bagaimana keadaan Nona Raina?" tanya Fira.


"Kau tenang saja Fira, semalam Raina sudah sadar, dan dokter yang memeriksanya pun sudah mengatakan kalau Raina akan segera pulih," ucap Dion, sambil mengakhiri sarapannya, karena sudah habis.


"Syukurlah kalau begitu," ucap Fira, tersenyum.


Kemudian Fira dan Bara, mendudukkan tubuh mereka di atas sofa, yang berada di ruangan itu.


"Bara... Bara... Bara...." lirih Raina, memanggil nama Bara berulang kali. Hingga membuat Neneknya segera menghampiri cucu kesayangannya itu.


"Rain sayang...." ucap Nenek pelan. Tiba-tiba, Raina membuka matanya seolah terkejut dan takut.


"Tenanglah sayang, ada nenek disini."


Tiba-tiba, Raina mengingat kembali kejadian terakhirnya saat bersama dengan Bara.


"Bara! Nenek, aku harus bertemu dengan Bara Nek," pinta Raina, menatap cemas ke wajah Neneknya.


"Kau tenanglah dulu sayang...."


"Nona Raina," panggil Fira, mencoba mendekati. Dan di ikuti oleh Bara, yang berdiri dua langkah di belakang Fira.


"Kau!" ucap Raina, seakan kesal saat melihat keberadaan Fira. Namun kini matanya teralihkah kepada sesosok lelaki yang berdiri di belakang Fira.


"Bara... kau, kau ada di sini," ucap Raina, tersenyum senang, saat melihat Bara.


Neneknya kemudian melirik ke arah Bara. Dan menatap Fira secara bergantian, hingga membuat Fira merasa tidak enak, di perhatikan seperti itu.

__ADS_1


Pintu ruangan kembali terbuka, dan muncullah Messy dan Adit yang datang, karena mereka menerima kabar dari Neneknya Raina, kalau Raina kecelakaan dan di rawat di rumah sakit.


"Kak Raina, kau sudah sadar kak? Kenapa kau bisa seperti ini?" tanya Messy, penuh khawatir. Sambil berjalan mendekati Raina.


Adit yang berada satu langkah di belakang Messy, ia menatap ke arah Bara, dengan tatapan tak suka. Terlebih Adit juga ikut menatap ke arah Fira secara bergantian.


"Kaka apa yang terjadi padamu, kenapa kau bisa seperti ini?" tanya Messy, sambil memegang sebelah tangan Raina.


Mata Raina kini tertuju ke arah Fira, yang berdiri tak jauh darinya. Mata Messy ikut menuturkan ke mana Raina menatap.


"Semua ini terjadi gara-gara dia," ucap Raina menatap tak suka ke arah Fira, sehingga membuat Fira takut.


"Heh! Upik Abu! Apa yang kau lakukan dengan Kak Raina, sampai Kak Rain, harus dirawat seperti ini!" seru Messy, membentak Fira.


"Ti-ti-tidak, Messy, ... aku tidak melakukan apa pun padanya," ucap Fira gugup dan takut, bahkan matanya kini sudah terlihat berkaca-kaca.


"Pembohong! Sudah jelas Kak Rain bilang kau penyebabnya! Masih saja mengelak!" seru Messy kembali membentak Fira.


Bara yang melihat Messy, seakan geram dan rasanya ingin meninju mulut gadis songong, yang ada di depannya itu. Namun ia harus bisa mengontrol emosinya.


"Bara, ... tenanglah," ucap Dion sambil mengusap bahu Bara, mencoba menenangkannya. Bara membuang muka ke sembarang arah sambil mengusap wajahnya dengan kasar.


"Aku tidak rela jika ada yang berani membentak Fira, di depanku!" serunya.


Kemudian Bara menarik lengan Fira, dan mengajaknya keluar meninggalkan ruangan ini. Hingga membuat Raina, memanggil-manggil nama Bara berulang kali. Namun Bara tak menghiraukannya. Dion pun ikut keluar untuk mengejar Bara dan Fira.


Setelah itu, kehebohan terjadi saat Raina menjerit merasakan sakit di kepalanya. Dan itu membuat semua orang yang berada di ruangan itu panik, termasuk Messy yang segera keluar memanggil-manggil nama dokter.


Dan hal itu tentu langsung di ketahui oleh Bara, Fira dan Dion. Kemudian Fira mengajak Bara agar kembali melihat keadaan Raina, namun Bara seperti enggan, dan tak ingin kembali ke sana. Tapi Fira terus memaksanya. Karena ia takut jika hal buruk terjadi pada Raina. Akhirnya mereka pun kembali ke ruangan dimana Raina di rawat.


Disana sudah terlihat ada dokter dan kedua suster yang sedang sibuk menenangkan Raina.


"Dimana lelaki yang bernama Bara itu?" tanya Dokter, yang semalam memeriksa keadaan Raina.


Messy bingung menjawabnya. Namun saat ia melihat kehadiran Bara, Fira dan Dion, yang berada di ambang pintu, Messy segera menunjuk ke arah Bara.

__ADS_1


"Itu dia dok," ucapnya menunjuk ke arah Bara.


Bara yang tidak tahu apa-apa, ia hanya mengerutkan dahinya. Dan dokter itu meminta Bara untuk membantunya. Bara pun mau tak mau menuruti perintah dokter itu.


"Nona Raina, tenanglah, Baramu sudah ada di sini," ucap Dokter itu.


Raina masih memejamkan matanya, menahan rasa sakit yang menyeruak di kepalanya.


"Nona Raina, tenangkan pikiranmu, Tuan Bara sudah ada di sini," ucap dokter itu kembali.


Namun Raina masih menjerit merasakan sakit di kepalanya.


"Raina, kau tenanglah. Jangan seperti ini!" ucap Bara, yang tak ramah. Namun suara itu mampu, membuat Raina membuka matanya. Dan seketika Raina langsung memeluk Bara, mendekapnya dengan begitu erat.


Fira yang menyaksikan kejadian ini, ia langsung membuang wajahnya ke sembarang arah, dengan tangannya yang meremas erat tali sling bag yang menggantung di bahunya. Ia mencoba menenangkan hatinya yang terasa begitu sesak saat melihat kejadian ini.


Bara mencoba melepaskan pelukan Raina. Namun dokter yang ada di sampingnya, menahan Bara agar membiarkan Raina tenang terlebih dahulu. Bara pun sangat tidak tega, melihat Fira yang berdiri di dekat pintu, sendirian, sambil membelakanginya.


Dion yang melihat Fira, ia segera mengajak Fira untuk pergi keluar ruangan. Dan Adit yang sedari tadi ingin berbicara kepada Fira, akhirnya ia menggunakan kesempatan ini untuk menemuinya.


Dion menyuruh Fira untuk duduk di kursi tunggu, di luar ruangan. Kemudian muncullah Adit, yang baru keluar dari ruangan itu.


"Fira, kau tenanglah dulu. Aku akan membelikan minum untukmu ya," ucap Dion. Fira yang menunduk, hanya bisa menganggukkan kepalanya.


Rasanya ia tidak kuat melihat kejadian tadi. Dadanya terasa begitu sesak, hingga membuat air matanya lolos begitu saja, jatuh membasahi rok yang di pakainya.


"Fira," panggil Adit, yang kini sudah berdiri di dekatnya.


.


.


.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2