
"Raina, lepaskan!" seru Bara, menatap tajam ke arah tangan Raina, yang memegang lengannya.
"Tapi Bara." Kedua mata wanita ini, kini sudah tampak memerah dan berair, sekuat tenaga ia menahan agar air mata itu tak lolos dari kedua matanya.
"Raina!" seru Bara, menaikkan suaranya. Kemudian ia segera berbalik, karena hujan yang sudah semakin deras, membasahi tubuhnya. Tapi, tiba-tiba dari belakang Raina dengan cepat memeluk Bara, mencoba menahannya.
"Bara, aku mohon, biarkan aku memelukmu sebentar saja. Setelah ini aku akan benar-benar pergi dari hidupmu. Tolong, sebentar saja," lirihnya, sambil membenamkan wajahnya di punggung Bara.
Bara mendengus kesal, ia mengeratkan gigi gerahamnya, karena merasa semakin kesal, akan perbuatan yang dilakukan oleh mantan kekasihnya itu. Ia mengingat, bahwa dirinya haruslah segera kembali untuk menemui Fira. Satu kantung makanan yang dibelinya setengah jam yang lalu, kini terlihat basah, terkena kucuran air hujan, yang masuk ke dalam kantung itu. Dan bisa jadi, makanan yang ada di dalamnya pun hancur terkena air hujan.
Bara mendengus kesal. "Raina, lepaskan pelukanmu!" seru Bara, dengan nada suara yang sudah tak ramah lagi.
Namun Raina, malah semakin mengeratkan pelukannya. Isak tangis wanita itu mulai terdengar, ia sudah tak tahan menahan rasa rindu yang menyakiti hatinya sendiri. Air mata itu jatuh, bersamaan dengan air hujan yang membasahi wajahnya.
Dan dari jauh, ada seseorang yang sudah tak tahan menahan sesak didadanya. Hatinya seakan ditikam oleh anak panah. Ia tahu, suaminya tak mungkin memulai semua itu. Tapi entah kenapa Fira begitu merasa kecewa, bahkan hatinya terasa begitu sakit, melihat suaminya dipeluk oleh wanita lain. Dan kini, perasaan ragu mulai merundungi pikirannya.
"Bahkan Mas Bara tak menghindarinya," gumamnya tersenyum getir, sambil membuang muka ke sembarang arah. Dengan sebelah tangan yang melipat di atas perut dan sebelahnya lagi, mengusap-usap lengannya, mencoba untuk tidak mengambil hati akan apa yang dilihatnya. Namun, rasanya ia tak tahan jika harus melihat sang suami dipeluk oleh wanita lain, yang ia ketahui, bahwa itu mantan kekasih Bara.
Kini kedua mata Bara, membulat dengan sempurna, saat ia mendapati Fira tengah berada di bawah saung bambu, yang jaraknya sekitar 20 meter darinya.
"Fira." Ia benar-benar terkejut, dan dengan paksa Bara, melepaskan tangan Raina yang melingkar diperutnya.
"Lepaskan!" Bara berbalik, kedua mata Bara, kini melotot ke arah Raina, dengan tatapan penuh amarah ia berikan kepada gadis, yang ada di hadapannya itu.
Fira segera memalingkan pandangannya, saat Bara menyadari kehadirannya. Fira pun berlari, dengan perasaan kalut di hatinya.
"Mas Bara benar-benar tega, bahkan ketika dia sudah mengetahui aku mengandung anaknya pun, ia masih bisa berduaan dengan wanita lain," lirihnya, berlari meninggalkan saung bambu itu. Ia berlari di bawah derasnya air hujan. Di hamparan pasir putih, yang kini sudah mengotori kaki dan rok yang di pakainya.
"Fira...." Bara berlari sekencang mungkin untuk mengejar istrinya itu. Dengan terus berteriak memanggil nama Fira berulang kali.
Raina semakin dibuat sedih akan kepergian Bara. Ia hanya bisa memandangi punggung kekar lelaki yang masih di cintainya itu. Hingga kini ia bisa menyaksikan sendiri, betapa Bara, mengkhawatirkan istrinya, dengan terus berlari mengejar Fira.
Deraian air matanya kini sudah bercampur dengan air hujan. Rasanya ia bisa sebebas mungkin untuk menangis. Karena dengan begini tidak akan ada orang yang tahu bahwa dirinya sedang menangis. Menangisi betapa bodohnya ia yang tak bisa melupakan Bara.
^
"Fira, tunggu!" Bara terus berlari, mencoba mengejar langkah kaki Fira. Namun, Fira semakin mempercepat langkah kakinya, berlari sekencang mungkin agar ia bisa terlebih dahulu untuk sampai di vila.
Namun, karena Fira kurang hati-hati akhirnya ia jatuh tersungkur, akibat roknya, tersangkut ranting pohon, yang di lewatinya.
"Aw..." Fira memekik kesakitan. Bara semakin terkejut saat mengetahui, Fira yang jatuh tersungkur.
"Fira, sayang, kamu gak apa-apa kan?" Bara hendak menggendong Fira dalam pangkuannya. Namun Fira dengan sekuat tenaga, mendorong tubuh Bara, agar menjauh darinya. Sehingga membuat Bara, tersungkur ke belakang, akibat dari dorongan istrinya itu.
"Berhenti! Jangan menyentuhku!" teriak Fira berusaha berdiri, dengan rasa sakit diperutnya yang ia tahan. Namun, rasanya ia masih belum kuat untuk berdiri.
"Fira, maafkan aku, ini semua salah paham, a-aku tadi tak sengaja bertemu dengannya, a-”
"Tak sengaja? ... Lalu, kenapa kau tidak menghidarinya, hah?" potong Fira. Kedua mata Fira, kini seakan memerah, luapan emosi yang seakan menggebu-gebu dihatinya, rasanya sudah tak bisa ia tahan lagi.
__ADS_1
"Fira, a-aku minta maaf, ayo kita pulang terlebih dahulu, tak baik jika kau kehujanan seperti ini, terlebih kau sekarang sedang hamil."
Fira mendengus, sambil tersenyum sinis. "Kalau kau masih ingat istrimu yang sedang hamil ini, lalu kenapa kau tadi malah membiarkan wanita itu memelukmu hah?"
"Fira, aku–"
"Sudahlah, aku tidak ingin berbicara denganmu!" Fira segera berdiri, namun tiba-tiba perutnya merasakan sakit yanh cukup hebat, rasa sakitnya seperti sakit keram.
"Ah... perutku," Fira memegang perut bagian bawah dengan kedua tangannya.
Tanpa berpikir lama, Bara langsung memangku Fira, dan memboyongnya untuk pulang ke villa.
Sepanjang Bara berjalan, Fira terus memejamkan matanya dan berulang kali mengucapkan kata "Sakit." Karena ia benar-benar merasakan keram diperutnya yang cukup hebat.
"Sayang, bertahanlah, kau akan baik-baik saja," ucap Bara dengan perasaan berdebar, takut terjadi apa-apa, terlebih Fira merasakan sakit di bagian perutnya, hal itu membuat Bara semakin cemas, sambil terus mempercepat langkahnya, memboyong Fira.
Derasnya air hujan, terus membasahi tubuh mereka, bahkan linangan air mata yang keluar dari kedua sudut mata Fira, seakan tak terlihat, akibat bercampur dengan tetesan air hujan, yang membasahi wajahnya.
Fira benar-benar merasakan kesakitan. "Mas, perutku sakit Mas," lirihnya sambil terus memejamkan mata.
Kini Bara sudah sampai di villa, ketika ia memasuki ruang utama, ia segera menyuruh Dion, untuk menelpon dokter Andre.
Merry dan Selly pun ikut khawatir ketika melihat keadaan Fira dan Bara, yang sudah basah kuyup. Bahkan mereka lebih khawatir saat melihat Fira, yang tengah diboyong oleh suaminya itu.
"Fira, kau kenapa?" tanya Merry dan Selly, segera menghampiri.
Bara tak menggubris pertanyaan kedua wanita itu, ia segera melangkahkan kakinya, menuju lantai kedua, membawa Fira ke kamar mereka dan segera membaringkannya.
"Tuan Bara, apa yang terjadi dengan Fira?" tanya Selly.
Bara sejenak menoleh ke arah dua wanita itu. "Fira terjatuh," jawabnya dengan wajah memelas.
"Apa! Terjatuh? Kenapa bisa terjatuh?" tanya Merry begitu panik.
Bara, mendekati mereka berdua. "Beritahu saya jika dokter sudah datang, saya akan mengganti pakain Fira terlebih dahulu," ucap Bara, seraya menutup pintu kamar. Dan kembali menghampiri Fira.
Bara mendudukkan tubuhnya tepat di tepi ranjang di samping Fira. Ia menatap sendu wajah istrinya yang terlihat sedikit memucat.
"Fira, maafkan aku," tutur Bara, sambil mengusap pelan kepala Fira.
Cairan bening tiba-tiba lolos begitu saja dari kedua sudut mata Fira. Ia seakan tak tega melihat wajah Bara yang memelas.
"Fira dengarkan aku, aku bersumpah, aku tidak berniat menemuinya, tadi, dia yang menahanku. Bahkan aku pun terkejut saat dia memelukku," tutur Bara dengan jujur. Namun, Fira masih terdiam tak menanggapi ucapan suaminya itu.
"Sayang, aku benar-benar minta maaf, mohon maafkan aku." Bara memegang kedua tangan Fira, dan menciuminya berkali-kali, dengan perasaan yang teramat sangat bersalah, ia terus menerus mengucapkan kata maaf kepada istrinya itu.
"Sudahlah, lagi pula kau mau bertemu dengan siapa pun itu hakmu," ucap Fira, seakan lelah.
Bara seketika, memeluk tubuh Fira yang masih terbaring di atas tempat tidur itu.
__ADS_1
"Tidak, kau juga berhak untuk melarangku. Fira, kumohon maafkan aku, aku benar-benar meminta maaf kepadamu," tutur Bara.
Entah kenapa Fira begitu mual, mencium aroma baju basah yang masih menempel ditubuhnya dan ditubuh suaminya itu.
"Mas, lepaskan! Aku ingin muntah." Bara segera menjauhkan tubuhnya, begitu pun dengan Fira yang segera bangun. Fira hendak berdiri namun, lagi-lagi ia merasakan perutnya yang kembali terasa keram.
"Uek...." Fira segera membungkam mulutnya, mencoba menahan agar ia tak muntah. Bara yang melihatnya ia sedikit bingung, dan tanpa pikir panjang Bara melepaskan kaos biru yang melekat di tubuhnya itu.
"Ini, muntahkan di sini saja," Bara menyodorkan bajunya yang sudah di libat, membentuk sebuah lingkaran kantung, untuk menahan muntahan dari istrinya itu.
Dan ketika Bara menyodorkan baju itu tepat dihadapan Fira, Fira semakin dibuat mual saat mencium baunya. Dan tanpa segan Fira pun memuntahkan cairan kuning bercampur salivanya itu, ke atas baju Bara.
"Mas, jauhkan ini dariku, aku benar-benar mual mencium aromanya." Bara langsung pergi ke kamar mandi, untuk membuang bajunya itu. Kemudian kembali lagi menghampiri Fira.
"Sekarang kamu ganti baju dulu ya," pinta Bara, Fira pun mengiyakannya.
***
"Mas... kenapa dokternya lama sekali?" tanya Fira, dengan suaranya yang mulai melemah. Semenjak sore tadi, ia terus-terusan memuntahkan cairan dari mulutnya. Bahkan Bara semakin tak tega melihat keadaan istrinya itu yang sudah terkulai lemas.
Dilihatnya jam didinding sudah menunjukkan pukul 20.00 malam. Namun dokter Andre pun belum kunjung datang.
Bara, dengan kesal keluar dari kamarnya, hendak menemui Dion, untuk menanyakan perihal dokter Andre. Namun di saat yang bersamaan, dokter Andre terlihat baru saja datang, menaiki anak tangga. Bara pun mengurungkan niatnya. dan kembali ke dalam kamar.
^
Kini dokter Andre segera memeriksa keadaan Fira, sambil mengajukan beberapa pertanyaan kepadanya.
"Ke depannya harus berhati-hati, dan lebih baik satu minggu ke depan Nyonya harus bedrest total, jangan kecapek-an, dan jaga pola tidur dan makan juga. Terus, jangan banyak pikiran. Karena usia kehamilan di bawah 3 bulan itu, masih rawan keguguran. Jadi sebisa mungkin harus bisa menjaga diri baik-baik," tutur dokter Andre. Sambil membuatkan beberapa obat dan vitamin yang harus Fira minum untuk 3 hari ke depan.
"Tuan, apa kalian berencana untuk segera pulang?" tanya Andre, sambil menoleh ke arah Bara, yang ada di sampingnya.
Bara menganggukkan kepalanya pelan. "Iya, rencana besok siang kami akan pulang," jawab Bara.
Dokter Andre menganggukkan kepalanya pelan. Ia menarik kacamata yang melekat di wajahnya, dengan gaya nya yang begitu dingin.
"Saran saya, jangan dulu pulang, tunggu keadaan istri Nyonya Fira membaik itu lebih bagus."
"Memangnya kenapa dok?" tanya Bara, mengerutkan dahinya, heran.
Sang dokter pun sejenak melirik ke arah Fira, kemudian ia berdiri dan mengajak Bara, untuk berbicara di luar kamar. Mereka berdua pun berlalu begitu saja meninggalkan Fira sendirian di kamar.
"Apa yang mau mereka bicarakan? Apa harus ya, berbicara sembunyi-sembunyi seperti itu," gerutu Fira mengerucutkan bibirnya. Ia masih terbaring lemah di atas tempat tidur. Dengan perasaan sedikit lega, karena ia mengetahui bahwa ia dan janinnya baik-baik saja.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung.
Kalau kalian suka cerita ini jangan lupa bantu like, komen dan votenya ya. 😊