
Sudah beberapa hari ini Fira sering meminta hal-hal aneh, bahkan ia pun sekarang menjadi seorang yang perasa. Maka dari itu, sekarang Bara harus lebih ekstra berhati-hati dalam tingkah laku maupun berbicara.
Pasalnya, kemarin malam, saat Bara selesai menghidangkan sup bayam untuk Fira, Bara kembali ke kamarnya, dan ia tak sengaja menutup pintunya terlalu keras. Dan hal itu membuat Fira, bersedih semalam. Bahkan membuat Bara, bingung untuk menenangkannya.
Dan sore ini, seperti biasa, Bara menjemput Fira di tokonya. Kini mereka berdua sudah berada di dalam mobil.
"Mas," panggil Fira.
"Hm...."
"Mas."
"Hm... apa?"
"Kau ini, aku panggil saja seperti malas," gerutu Fira, menyilangkan kedua tangannya di dada, sambil menatap ke depan jalanan.
Bara menarik nafasnya begitu dalam, dan menghembuskannya perlahan. Ia lupa, kalau akhir-akhir ini Fira sedang sensi.
"Maaf, ada apa sayang...." Bara, berbicara dengan begitu lembut, sambil terus fokus menyetir.
Tiba-tiba Fira mengembangkan senyumannya. "Mas, kita menginap di rumah Ayah yuk," ucap Fira. Sepertinya kali ini ia sedang merindukan ayah dan adiknya. Rasanya Fira begitu rindu akan suasana di rumah ayahnya, makanya ia mengajak Bara untuk pergi ke sana.
"Sekarang?" tanya Bara.
"Iya, sekarang saja, kau tidak keberatan kan?" tanya Fira. Bara tak langsung menjawab, sebenarnya besok pagi, ia harus berangkat kerja lebih awal, karena ada pengecekan beberapa bahan baku di perusahaannya. Namun di sisi lain, ia tak ingin mengecewakan istrinya, ia harus tetap bisa menuruti permintaan Fira.
"Baiklah, sekarang kita ke rumah ayah," ucap Bara. Fira seketika berteriak, dengan begitu gembira. Karena, suaminya menyetujui permintaannya.
***
Sesampainya di rumah Ayah Alex, Fira dan Bara segera turun dari mobil, dan berjalan menuju teras rumah.
Fira mengetuk pintu beberapa kali, namun tak ada sahutan dari dalam. Bara pun mencoba menghubungi nomor ponsel Bima, tapi tidak di angkat juga.
"Huh, setiap ke sini, pasti tidak ada orang," gerutu Fira, sambil mendudukkan tubuhnya di atas kursi yang terdapat di teras. Begitu pun dengan Bara, yang ikut mendudukkan tubuhnya di kursi yang tak jauh dari Fira.
"Ya sudah, kita tunggu saja dulu, siapa tahu sebentar lagi Ayah dan Bima pulang," ujar Bara. Fira menganggukkan kepalanya pelan.
10 menit, mereka menunggu dan akhirnya Bima dan Alex pun datang. Bima menghentikan motornya tepat di halaman rumah. Alex dan Bima segera turun dari motor dan menghampiri Bara dan Fira, yang tengah duduk di kursi teras.
"Apa kalian sudah menunggu lama? Kenapa tidak memberitahu Ayah dulu kalau mau kemari?" tanya Alex, sambil memeluk Fira dan Bara secara bergantian.
"Tidak Ayah, kami juga baru sampai, tadi ... Fira mendadak ingin menginap di sini," jawab Bara.
Alex, terlihat begitu senang saat mendengar ucapan Bara. "Wah, Kak Fira dan Kak Bara akan menginap di sini?" tanya Bima, begitu antusias. Bara tersenyum simpul, menganggukkan kepalanya.
"Syukurlah, kalo begitu ayo kita masuk," ajak Alex. Mereka semua pun masuk ke dalam rumah.
***
Malam harinya, Fira tengah sibuk menyiapkan masakan untuk makan malam, tak lupa di bantu oleh Tante Moly, yang kebetulan memang sedang berkunjung ke rumah.
Kini mereka semua tengah makan bersama di meja makan. Bara sedari tadi memperhatikan Fira yang hanya mengaduk-aduk makanannya.
"Fira, kenapa belum di makan?" tanya Bara, yang duduk di samping Fira.
"Em... sepertinya aku tidak berselera," ucapnya pelan.
"Bukannya tadi kau yang menginginkan makanan ini?"
"Iya, tapi setelah selesai memasaknya, mencium wanginya saja sudah enek. Aku jadi tidak berselera."
"Terus ... kau mau makan apa?"
"Em... entahlah," ucapnya pelan.
Alex dan Moly sejenak memperhatikan Bara dan Fira, yang sedari tadi berbicara dengan pelan.
"Fira sayang, kenapa tidak di makan?" tanya Alex, yang sedang mengunyah makanannya.
"Iya Kak, kenapa dari tadi Kakak tidak memakan makanannya?" tanya Bima, ikut bertanya.
"Sejenak Fira memperhatikan piring makan milik Bima, terlihat di atas piring itu ada udang goreng yang sudah di baluri saus dan kecap oleh Bima.
"Em... Bima, apa Kakak boleh mencoba udang punyamu?" tanya Fira, sedikit menyengir kan giginya.
Bima sejenak terdiam, menatap ke arah Bara, yang sedang memandanginya penuh selidik. Kemudian ia menatap udang yang terlihat sedikit acak-acakan di atas piringnya. Bima pun menganggukkan kepalanya. Memberi tanda bahwa ia memperbolehkannya.
__ADS_1
Fira begitu senang, ia langsung menarik piring milik Bima, dan segera mengambil satu sendok udang saos kecap itu, dan ia segera melahapnya.
"Wah, udang ini lezat sekali," ucap Fira.
"Bima, apa udang ini boleh buat Kakak?" tanya Fira. Bara sedikit melirik ke arah piring Bima yang sedang di pegang oleh Fira.
"Sayang, udang ini milik Bima, kau kan bisa mengambil udang yang lain," ujar Bara, agar Fira tak memakan makanan bekas Bima.
"Tapi udang itu, tidak ada saus kecapnya," jawab Fira.
"Fira, sayang, benar kata suamimu, lebih baik kau mengambil udang yang baru, itu kan milik Bima, lagi pula, masa kamu makan bekas makanan Bima," timpal Moly.
"Iya Fira, kalau kau mau, kau tinggal beri saus dan kecap saja di atas udangnya, seperti Bima," ujar Bara.
"Baiklah, ini." Fira kembali menyodorkan piring itu kepada Bima. Dan Bara pun mengambilkan beberapa udang ke piring Fira, dan menambahkan sedikit saus dan kecap di atasnya. Fira pun segera melahapnya. Namun entah kenapa, rasanya sangat berbeda sekali dengan udang milik Bima.
Fira tak melanjutkan makannya, ia masih menatapi Bima yang tengah melahap makanannya.
"Kenapa berhenti?" tanya Bara, yang tengah melahap makanannya, sejenak melihat ke arah Fira. Namun Fira tak menghiraukan pertanyaannya.
"Bima, apa kau bisa membuatkan Kakak udang saus kecap sepertimu?" tanya Fira. Bima langsung menghentikan makannya. Ia pun mengangguk dan segera membuatkan udang saus kecap untuk Fira, di piring baru.
"Ini, Kak." Bima menyodorkan pirinv itu kepada Fira, sejenak Bara menatap Bima seakan tak suka. Namun Bima tak memedulikannya, dan menganggapnya biasa-biasa saja.
Fira langsung melahap satu sendok udang yang sudah di buat oleh Bima, dan ia terlihat sangat begitu menikmatinya. Entah kepada udang yang di sajikan oleh Bima, terasa lebih nikmat di banding yang di buatkan Bara sebelumnya.
"Mas cobalah, udangnya lezat sekali," ucap Fira, menyodorkan satu sendok udang kepada Bara. Namun Bara menolaknya karena ia alergi udang.
"Oh iya, aku lupa, kau kan alergi udang," ucap Fira, kembali menyantap udang goreng miliknya.
"Apa rasanya seenak itu?" tanya Bara, berbisik. Fira dengan semangat mengiyakan, bahkan memuji Bima, yang begitu hebat membuatkan udang saus kecap yang begitu lezat.
Bara segera menghabiskan makanannya, kemudian ia segera pamit untuk pergi terlebih dahulu ke kamar.
Alex dan Moly, sejenak beradu pandang, mereka berdua tentu dapat melihat, raut wajah seperti orang cemburu di wajah Bara.
"Sepertinya Bara tidak suka jika Fira memuji lelaki lain di depannya, sekalipun lelaki itu adalah adik Fira sendiri," ucap Moly, pelan, namun masih terdengar oleh Alex.
Alex pun mengangguk, membenarkan perkataan Moly. "Terkadang cinta itu bisa membutakan mata," gumam Alex.
Sementara itu, Bara di kamar sedang duduk di tepi kasur, sambil meremas sprei yang di dudukinya. Entah kenapa ia begitu kesal, ketika Fira terus memuji-muji Bima di depannya. Apalagi ia tak suka, saat Fira lebih menyukai makanan yang di buat oleh Bima di banding makanan yang di buat oleh dirinya.
Bara berdecak, ia bingung harus meluapkan emosinya. Karena pada dasarnya ia pun tahu, seharusnya ia tak perlu cemburu, karena yang Fira puji hanyalah adiknya, bukan orang lain. Tapi tetap saja, hatinya menolak akan kebenaran itu, ia tetap merasa kesal dengan hal tadi.
Tak lama kemudian Fira masuk mendekati Bara yang tengah duduk di tepi ranjang.
"Mas, kukira kau sudah tidur," ucap Fira, menyimpan segelas air di atas nakas. Kemudian ia mendekati Bara.
"Mas, apa besok kau sibuk?" tanya Fira.
Bara tak merespons, ia masih diam dan memasang wajahnya yang di tekuk.
"Mas, apa kau baik-baik saja?" tanya Fira, ia segera menempelkan punggung tangannya di atas dahi Bara, mengecek suhu tubuhnya panas atau tidak.
"Tidak panas," gumam Fira, menurunkan kembali tangannya.
"Aku tidak suka," ucap Bara, dengan kesal.
Fira sedikit mengerutkan dahinya, "Tidak suka? ... Tidak suka apa Mas?" tanya Fira dengan polosnya.
Bara berdecak. "Bima," ketus Bara.
"Bima? ... Ada apa dengan Bima?" tanya Fira yang masih belum mengerti.
"Bukankah dulu, aku pernah melarangmu, agar kau tidak terlalu dekat dengan Bima," ucap Bara, mulai kesal.
"Kenapa? ... Aku dari tadi duduk di dekatmu, tidak dengan Bima," kilah Fira.
"Fira, kenapa kau masih tidak mengerti sih!" Bara berdecak kesal, ia beranjak pergi masuk ke kamar mandi untuk mencuci wajah. Kemudian Bara kembali, dan segera naik ke atas ranjang, bersiap untuk tidur.
"Mas," panggil Fira, dengan suara lembutnya.
"Apa yang terjadi? ... Perasaan aku tadi, tidak dekat-dekat dengan Bima, kenapa dengan Mas Bara ini," batin Fira, memandangi suaminya yang tidur membelakanginya.
"Mas, apa kau sudah tidur?" tanya Fira lagi, namun tak ada sahutan dari Bara.
Bara memejamkan matanya berpura-pura tidur. Entah kenapa rasanya ia masih kesal, apalagi dengan Fira yang tak bisa mengertikannya.
__ADS_1
Tiba-tiba, sebuah tangan melingkar di dada Bara. Ia sudah mengetahui, bahwa Fira mencoba untuk merayunya agar tidak marah. Namun tetap, Bara mempertahankan keegoisannya. Kali ini, ia tak ingin memberitahunya, yang Bara inginkan, Fira lah yang harus mengertikannya.
Mungkin hal ini bisa di katakan terlalu egois, atau mungkin terlalu lebay, tapi namanya juga hati, tak ada yang tahu.
"Mas," panggil Fira, menenggelamkan wajahnya, di dekat leher Bara.
"Mas...." Fira berbisik lembut, tepat di dekat daun telinga Bara, sehingga membuat Bara sedikit bergidik, karena geli.
"Maafkan aku, jika aku melakukan kesalahan," ucapnya, dengan suara manjanya yang seakan meminta di maafkan.
"Mas, kau benar-benar marah kepadaku ya?" tanya Fira, yang masih memeluk Bara, mencoba melihat wajah suaminya, namun Bara, dengan sengaja, mengumpatkan wajahnya ke bawah menghadap bantal.
Fira mendengus pelan. "Baiklah, kalau kau tak mau berbicara padaku, aku akan melakukan hal tak terduga padamu," ancam Fira, sambil menjauhkan tubuhnya dari Bara. Namun, sampai detik ini pun, Bara tetap tak bersuara, ia seolah mendadak tuli, tak mendengar setiap perkataan Fira.
Fira tersenyum licik, kemudian ia mulai menghitung. Berharap suaminya akan meresponsnya.
"Satu ... dua ... dua setengah," ucap Fira, berharap Bara menyahutinya.
"Kalau tidak, aku akan melakukan sesuatu kepadamu," ucap Fira cepat. "Tiga!" Seketika Fira menggelitik, pinggang dan ketiak Bara. Sehingga membuat Bara tertawa geli, dan segera bangun dari tidurnya. Memohon ampun kepada Fira agar menghentikannya.
"Cukup Fira!" seru Bara, menahan lengan Fira, yang hendak menggelitik lehernya.
Cup, tiba-tiba Fira mencium bibir Bara bahkan sedikit menahannya cukup lama. Sudah tak bisa di pungkiri, Bara sedikit terkejut dan begitu senang, saat tahu kalau istrinya mengambil inisiatif sendiri untuk meredakan amarahnya, dengan cara baru.
"Apa masih marah?" tanya Fira, melepaskan ciumannya.
"Tentu, ... satu kecupan saja tak cukup untuk meredakan amarahku," ujar Bara, sambil memasang wajah datarnya.
Fira berdecak, ia seolah akan pergi dari ranjang, namun Bara menarik lengannya, hingga kini tubuhnya sudah terbaring dan di impit oleh tubuh kekar Bara.
"Mau ke mana?" tanya Bara. Kini wajah mereka sudah begitu dekat, bahkan hanya berjarak 5cm saja.
"Tidak ke mana-mana," jawab Fira, memasang wajah menggemaskannya.
"Sudahlah, cepat katakan, kenapa kau tadi marah kepadaku?" tanya Fira dengan polosnya.
"Apa kau masih belum mengerti!"
Fira menatap heran wajah Bara, ia mengerutkan kedua dahinya, karena masih belum mengerti akan kesalahannya.
Sepertinya Bara sudah tak bisa marah, ia hanya mendengus pelan, apalagi saat ia menatap kedua bola mata coklat, Fira. Rasanya begitu teduh memandangnya.
"Baiklah."
"Dengarkan aku ... Jangan pernah memuji lelaki lain di hadapanku, sekalipun itu Bima."
"Kau cemburu dengan Bima?" tanya Fira.
"Kenapa kau masih bertanya! Sudahlah, jangan bahas lelaki lain denganku. Kedepannya, kalau ingin sesuatu suruh aku ... jangan menyuruh Bima. Apalagi memujinya seperti tadi!" ucap Bara begitu kesal.
Fira hanya tersenyum, melihat ekspresi wajah Bara, ia semakin yakin akan perasaan Bara padanya.
"Jika memang sudah secemburu ini, bukankah ini pertanda bahwa Mas Bara, benar-benar sangat mencintaiku," batin Fira, memandang wajah Bara.
"Hey! Apa kau mendengarkanku? Kenapa kau malah senyum-senyum seperti itu!" Bara, mencubit pelan hidung Fira, namun Fira masih diam tersenyum memandangi wajah tampan suaminya.
"Fira!" panggil Bara, mulai heran.
"Kau tampan Mas," gumam Fira, begitu pelan namun terdengar oleh kedua telinga Bara.
Dan cup, Bara seketika melum*t habis bibir manis Fira, mencium dan memeluknya dengan begitu erat. Begitu pun dengan Fira, yang sudah pasrah akan perlakuan suaminya yang sudah tidak bisa terkendali lagi. Hingga pada akhirnya mereka berdua pun saling memadu kasih satu sama lain, di keheningan malam yang sejuk ini.
.
.
.
Bersambung.
Hai semuanya, maaf Dela baru bisa upload lagi, kemarin tangan dela sakit, jadi gak bisa di ajak buat nulis.
Maaf ya, buat kalian menunggu lama, semoga kalian masih tetap setia dan suka dengan kelanjutan cerita ini.
Jangan lupa untuk like, komen dan vote pake poin atau koinnya ya. Biar Dela makin semangat up ceritanya.
2ribu kata, di episode ini, semoga bisa mengobati rindu kalian kepada Fira dan Bara. 🥰 Love you, my reader's
__ADS_1